7

986 Kata
EPISODE 7   Basecamp AngelRide. Martin dan darel memarkirkan mobilnya di tempat sepi, jauh dari orang-orang. "Apa kau yakin ini tempatnya?" Martin melihat-lihat sekeliling "Mungkin, tapi marsha bilang ini tempatnya" "Oke" darel pun keluar dari mobil, diikuti martin. Darel memasuki sebuah bangunan yang kusam dan penuh coretan AngelRide. Apa seperti ini karaktermu sekarang? Perlahan mereka semakin kepusatnya, Martin dan Darel melihat beberapa orang cewe sexi yang sedang duduk santai dan mengemil. "Wow" ujar martin menganga Mereka mengetahui keberadaan martin dan darel "Eh, kalian siapa?" Tanyanya menggoda Semua cewe itu mendekati mereka berdua dan mengelus-elus tubuh martin dan darel. Martin menikmati, sementara darel merasa risih. "Kami ingin bertemu dengan rahel" tegas martin Mereka semua menjauh seketika "Oh, ketua ya?" "Dia ada didalam" Darel dan martin langsung melangkah pergi dan menuju tempat yang ditunjuk oleh cewe-cewe itu. "Apa menurutmu rahel juga begitu?" Tanya darel Martin langsung menggelengkan kepala "Menurut ku tidak" Darel dan Martin semakin mendekati tempat Rahel. Hingga saatnya mereka sampai di depan rahel yang sedang duduk santai ditemani ke dua teman gengnya yang berpenampilan trendy dan kekinian berbeda dengan rahel yang berpenampilan tomboi. Sontak membuat pandangan martin terkunci disatu arah, ia melihat kirana. "Baby?" Kirana menoleh lalu tersenyum mengembang "Martin? Ko kamu ada disini?" "Heum kalo kamu kenapa disini?" Kirana tertawa "Oh iya aku lupa belum ceritain soal ini ke kamu" ucapnya sambil mendekati martin Martin menatapi kekasihnya itu dalam "Apa?" "Aku masuk AngelRide kemarin rahel yang ajak karena dia itu temen baru ku" lugasnya Martin dan Darel tersentak "Teman?" Serunya berbarengan Kirana melihat aneh keduanya "Emang ada apa sih?" Darel melangkahkan kakinya mendekati rahel, dengan waktu yang bersamaan rahel segera mengenakan jaket kulitnya dan pura-pura tak mendengar apapun. Darel memegangi tangan rahel "Kemana?" Tanya nya dingin namun terlihat jelas dimata nya ia penuh ambisi untuk memiliki rahel Rahel lagi-lagi tak memandang mata darel dengan kasar ia melepaskan genggaman tangan darel lalu segera pergi. Darel tak sampai di sana, ia segera berlari dan mengejar rahel diikuti dengan Martin dan kirana dibelakangnya. Namun langkah rahel terlalu cepat, ia segera mengendarai motor sportnya dan pergi dari darel. "Kenapa rahel?" Tanyanya lemah lembut Martin dan kirana datang tergesa-gesa "Kemana rahel?" Tanya martin "Pergi" Darel sekarang berbalik badan dan memandangi kirana serius "Kau tau dimana rumahnya?" Kirana mengangguk "Antar aku kesana" Setelahnya mereka bertiga menuju rumah rahel dengan kecepatan mobil yang diatas rata-rata. Beberapa menit berlalu mereka akhirnya sampai. "Rahel, ternyata sekarang rumahmu tak begitu jauh. Tapi mengapa kau tak menghubungi ku?" Mereka memarkirkan mobilnya didepan rumah sederhana dan terlihat asri. Sesegera mungkin darel menuju kedepan rumah. "Asalamualaikum" Martin dan kirana datang tepat di belakangnya. "Asalamualaikum" Setelah sekian lama tak ada jawaban dari dalam sana, namun terdengar suara langkah kaki yang menghampiri mereka. Seorang wanita paruh baya datang di samping mereka. "Eh, cari siapa ya?" Tanyanya Membuat ketiga remaja itu segera mengarah ke sumber suara. "Ini bu, kami sedang mencari pemilik rumah ini" "Oh bu reni? Heum rumah ini jarang dipenghuni, rahel juga jarang tidur disini. Bu reni sedang koma, sudah lama. Makannya rahel gak pulang-pulang kesini" Degg, entah kenapa hati darel terasa sakit. Kini rumor tentang rahel yang berubah sedikit demi sedikit ia sudah mengetahui faktornya. "Kalau boleh tahu, rumah sakit mana ya bu?" Tanya darel Ibu itu nampak berfikir "Heum saya lupa namanya, cari saja rumah sakit terdekat dari sini!" "Baiklah, terimakasih banyak bu" ucap darel "Sama-sama" Darel melangkahkan kakinya lagi, lalu pergi kedalam mobil. Martin menatapi ibu itu penuh senyuman "Mari bu" ujarnya sambil pergi menggandeng kirana Ibu itu tersenyum dan menatapi kepergian ketiga remaja itu. "Rumah sakit terdekat itu dimana?" Martin nampak berfikir "Sepertinya, rumah sakit yang dekat gedung papa!" "Oke" Kirana terlihat masih bingung dengan tingkah mereka "Sayang sebenarnya ada apa sih?" "Rahel itu temen kecilnya darel" Kirana ber Oh ria. "Kenapa kamu gak kasih tau mau masuk AngelRide?" "Hehe, abisnya aku kesepian sih ngerasa kurang kerjaan gituh jadi deh masuk AR aja lumayan kan udah gitu kalo menang balapan ada uang buat belanja" Martin tersenyum nakal "Cewe ini" ujarnya sambil memeluknya Beberapa menit berlalu mereka berhenti didepan rumah sakit terdekat. Martin dan kirana mengikuti langkah darel yang sangat tergesa-gesa, mereka mulai menanyakan tentang bu reni dan langsung mendapat informasi. Mereka kembali berjalan mencari ruang bu reni, sampai disatu sudut sana terlihat rahel yang sedang duduk di samping seseorang yang sedang berbaring. Darel hendak masuk, namun sebaiknya ia tidak tergesa-gesa karena rahel yang nampak berbicara dengan menunduk. "Bu, dia datang lagi. Rahel bingung harus bersikap seperti apa padanya, ibu kan tahu dia teman semasa kecil rahel tapi kebencian rahel kepada semua lelaki tidak bisa dibuang bu, semuanya karena ayah" ucapnya dengan tersedu-sedu "Oh begitu" tanggap kirana "Sampai kapan ibu mau seperti ini? Rahel kangen, rahel gak mau terus-terusan kesepian bu. Kenapa ayah setega ini" lirihnya dengan isak tangis Darel membuka pintu dan segera masuk ke dalam, membuat rahel tersentak dan segera menghapus airmatanya kasar. "Rahel? Jangan menangis" perintah darel Rahel menatapi darel benci "Kenapa sih terus-terusan ngejar? Anda akan menyesal jika terus berusaha mendekati saya!" Darel menenangkan rahel, ia tahu betul bagaimana hancurnya hati rahel. Namun rahel melepaskannya dengan kasar "Ingat! Saya tidak akan segan-segan melukai anda!" "Rahel, kamu taukan aku teman baik mu? Ingatkan bagaimana dulu kita berinteraksi!" Rahel mengelak "Saya peringatkan lagi! Saya bisa melakukan apapun untuk cowo berengsek" Darel menatapi rahel dalam "Aku gak peduli, selamanya aku akan mengejarmu. Meski tahu kau takkan lagi kembali"   Rahel menunduk dan mulai kesal "Bu, rahel pulang dulu ya?" Kemudian ia mengambil jaket kulit di kursi tanpa berfikir panjang lagi ia meninggalkan semuanya. "Rahel memang begitu, dia selalu sensitif terhadap cowo!" Tambah kirana Darel hanya menunduk "Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya martin "Pulang!" Jawabnya cepat Kirana menatapi martin takut "Kenapa?" "Ucapan rahel barusan bukan main-main, aku takut dia akan menyakiti kalian jika terus-terusan mendekatinya. Kemarin ketua HardRide babak belur olehnya, karena ya dia selalu mendekati rahel, ilmu bela diri rahel sangat baik. Jadi aku harap kalian menghentikan semuanya saja" Darel nampak berfikir "Tenang saja, dia takkan bisa melukaiku"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN