EPISODE 8
Rumah Darel.
Darel datang dengan wajah yang kesal, niko dan jee terlihat kaget melihat raut wajah darel yang menunjukan dia lagi-lagi gagal.
Martin dan kirana berada di belakangnya, mereka berdua lalu duduk bersama teman-temannya. Berbeda dengan darel yang memilih berdiri di balkon dengan kesunyiannya.
"Kenapa lagi?" Tanya jee
"Seperti biasa darel gagal" jawab martin
Jee mengambil nafasnya dalam "Semuanya butuh waktu, menurutku rahel akan sulit didapatkan"
"Marsha kamu udah lama disini?" Tanya kirana, marsha mengangguk dan tersenyum. "Iya, bagus deh kalo kamu main kesini tambah seru" jawabnya
Niko melangkahkan kakinya "Kemana?" Tanya martin
"Mandi" jawab niko
Jee dan martin tertawa "Bilang aja iri liat orang pacaran kan?"
"Gak tertarik" jawabnya sinis
"Niko memang seperti itu" kekeuh jee sambil tertawa
Marsha pun tertawa "Padahal dia itu menarik loh beb, banyak cewek-cewek yang mau sama dia juga"
"Heem bener" tambah kirana
"Ah dia nya gak normal kali" ujar jee dengan tertawa keras diikuti oleh martin.
"Gue denger, bangsad!" Teriak niko dari sana membuat tawa semuanya kian pecah
Darel masih fokus membaca buku bisnis, dia memang anak yang rajin dan jenius. Namun jujur saja, perihal Rahel membuatnya kurang minat membaca hari ini.
Ia berencana, hari ini akan kembali mengejar Rahel apapun resiko yang akan dihadapinya. Dia bukan tipe si penyerah, Darel sosok yang kuat.
Aku tahu kau terluka, Aku salah tak bertemu dengan mu lebih dulu, Aku bodoh karena tak bisa menghapus luka hati mu, Maaf Rahel. Tapi lihat, aku akan terus mengembalikan mu yang dulu dan menyelamatkan ibu.
Jangan menangis, sudahi penderitaan mu. Aku tahu betul kau sangat terluka.
Darel melangkah pasti diikuti oleh teman-temannya yang biasa ada dibelakangnya, Jee, Niko dan Martin memandangi Darel heran setelah kemarin ia sangat rapuh, saat ini ia sangat semangat sekali seakan-akan masalah kemarin sudah dilupakannya sangat cepat.
"Apa yang dia temui? Hingga setegar ini?" Bisik Martin pada Jee
"Dia memang pria kuat, pria penyayang pula" Jawab Niko pasti sambil tersenyum memandangi Darel
Martin dan Jee menatapi Niko aneh "Kamu suka Darel?" Tanya Jee cepat
Martin menutup matanya "Udah Martin duga dia gay!"
Niko membelototi keduanya "Amit-amit! Aku ini normal. Mana mungkin gay!"
"Aku mendengar kalian loh" ujar Darel
Mereka bertiga saling menatapi dan berjalan lagi mengikuti Darel. "Hari ini apa rencanamu?"
"Aku akan kembali menemui Rahel, di balapan nanti malam! Apa kalian akan ikut?"
Martin dan Jee langsung mengangguk "Tentu saja" berbeda dengan Niko yang hanya diam
"Apa kau tidak ikut?" Ujar Jee
"Sepertinya tidak bisa untuk malam ini, aku ada janji makan malam" jawabnya malas
Mata Jee terbelalak seperti orang bodoh "OwOw! Apa bersama wanita? Hah sudah kuduga dia juga akan jatuh cinta!" Cengengesnya
Martin pun menatapinya sama dengan tatapan bodoh "Kalian ini bisanya mengomentariku! Aku ada makan malam bersama seluruh keluargaku"
Seketika mereka berdua terdiam "Haahh, gagal PJ nya!" Teriak Jee sebal
"Pantas aku tidak yakin dengan jawabannya!" Tambah Martin
Darel tersenyum tipis "Sudahlah jangan terus mengejek Niko"
"Dia nya sih, pantas untuk diejek" ketus Martin menatapi Niko jijik dan sebal
Niko membelototinya dan langsung mencekik Martin cukup keras meski hanya main-main. "Yaampun Niko sekarang kau sudah bisa mencekik? Syukurlah tuhan. Biasanya dia hanya menggelitikiku, akhirnya dia suda dewasa!" Ujar Jee sambil mengangkat kedua tangannya
Niko dan Martin menatapinya datar "Hey? Kenapa kalian menatapi ku seperti itu?"
"Lepaskan Nik, ada yang lebih penting dari pada mencekikku! Ayo cekik dia!" Teriak Martin bersamaan dengan Niko yang mengikutinya
"Ampun!!" Teriak Jee histeris
Darel kian tersenyum "Niko jadi sama seperti mereka! Dasar orang tua ber roh anak kecil"
Balapan.
Darel melajukan mobilnya, kali ini ia berangkat kesana sendirian. Karena Martin bersama Kirana, dan Jee bersama Marsha.
Ya, beginilah nasib bujangan tampan ini. Darel keluar dari mobilnya, dengan kharisma nya yang luar biasa, ia memakai pakaian sangat rapi seakan-akan ia sudah menjadi CEO di perusahaan keluarganya.
Semua mata kembali terarah padanya, ia selalu menjadi sorotan. Terutama dikaum perempuan.
"Uh si abang ganteng deh"
"Mau aku temenin gak?"
"Heyy? Mau ajak aku gak?"
"Bang? Siapa sih dari kemarin aku perhatiin, abang ganteng banget"
"Bang kenalan yuk?"
Begitulah suara-suara perempuan penggoda itu sambil menatapi Darel dengan wajah butuh belaian. Darel tak bergeming ia hanya fokus kesatu titik, dimana Rahel berdiri disamping motor sportnya. Namun, Rahel masih berusaha menghindari dan pura-pura tak melihat.
Darel mengunci tatapannya, seakan ia adalah patung. Tak lama, kedua motor sport diparkirkan di dekat mobil Darel. Mereka adalah, Martin dan Jee yang membawa pacarnya. "Sudah lama kesini?" Tanya Martin
"Tidak"
Marsha membuka helmnya, dia melihat Rahel yang sudah bersiap-siap untuk balapan. "Sayang, aku kesana ya? Aku kan bawain helm baru Rahel" ujarnya pada Jee
Jee hanya mengangguk dan tersenyum "Tunggu" tambah Darel
Marsha berhenti "Kenapa Darel?"
"Itu belum dibayar?" Marsha nampak berfikir "Belum, ini akan dibayar setelah balapan kata Rahel mungkin hari ini ketua sedang boke"
"Berapa harganya?" Marsha nampak berfikir lagi "Ini sekitar 500-600an, karena helm ini sengaja dipesan oleh Rahel sesuai dengan desainnya sendiri" Darel mengeluarkan dompet yang berada di dalam jasnya. "Ambil ini" Darel memberikan uang pada Marsha.
Marsha terkejut karena ia tahu hubungan Rahel dan Darel saat ini sangat buruk, apa yang harus dikatakannya pada Rahel. "Aku antar kau kesana ya?" Ajak Jee sambil menarik tangan Marsha
"Heum baiklah"
Mereka berdua berjalan menuju Rahel yang tak jauh dari posisi awal mereka berdiri. "Ketua! Aku bawakan helm pesananmu!" Ujarnya
Rahel menolehkan pandangannya "Heum" dan pandangan Rahel beralih pada Jee yang sedang tersenyum padanya
"Dia pacarmu?" Tanya Rahel
Marsha mengangguk "Jangan sampai dia mempengaruhi mu, untuk membantu temannya mendekatiku" jelasnya tepat diwajah marsha
"Heum anu" celoteh marsha takut, jujur saja sikap Rahel sangat tegas jika sudah menyangkut dengan lelaki, sebenarnya dia orang yang asik.
"Darel sudah membayar biaya helm mu!" Tambah Jee secepatnya, Rahel berhenti mengelapi helm barunya itu. "Kenapa? Apa yang sebenarnya dia inginkan?"
Jee mengambil nafas dalam-dalam, karena yang dihadapinya bukan wanita biasa. "Kau" ujar seseorang yang baru saja datang, siapa lagi? Darel.
"Apa balapannya bisa dipercepat?" Teriak Rahel pada panitia "Bisa, jika itu inginmu" jawab panitia cepat
Rahel mengenakan helm barunya itu "Bilang pada teman kalian, aku akan menggantinya" jawabnya cepat
Darel memegangi tangan Rahel, benar saja itu membuat Rahel sedikit kaku karena mengingatkannya dengan masa lalunya. "Rahel, ayo kita pulang" ajaknya lemah lembut
"Lepaskan" tegas Rahel
Darel tersenyum manis "Ayolah Rahel, ikut denganku. Dengan begitu ibu tak akan khawatir karena kelakuanmu yang menjadi seperti ini"
"Kau tak punya hak apapun untuk mengatur ku, cepat pergi" ujarnya tanpa menatapi Darel sedetikpun