9

1126 Kata
EPISODE 9   Di sudut sana sekerumunan Geng HardRide, segera melapor ke ketuanya karena Rahel didekati oleh seorang pria. Sontak Jack langsung berlarian kesana dengan amarah yang meluap. Dia menarik tangan Darel dengan kasar, lalu mencengkram kerah baju Darel. "Sudah kubilang jangan mendekati Rahel!" Darel tak terima, ia menepis tangan Jack dan membuatnya sedikit tersungkur. "Punya apa kau bisa-bisa nya mengatur CEO ErikLusi?" Tegas Martin yang baru datang mendekati mereka. Semua orang menganga karena mereka hanya mendengar rumor tentang kesuksesan keluarga dari ErikLusi bahkan mereka tak percaya penerus keluarga terkenal kini ada dihadapan mereka. "Oh? Jadi kau anak papa Erik dan mama Lusi?" Ejeknya dengan senyuman melecehkan Rahang Darel mengeras, ia sama sekali tak bisa menerima. "Jika kau masih ingin hidup! Pergilah" tegas Darel Jack tersenyum "Mau membunuhku? Pasti kau menyuruh orang-orang sewaan mu kan? Bukan dengan tanganmu yang biasa menulis laba dan rugi perusahaan?" Ejeknya lagi membuat sekerumunan geng nya tertawa Rahel sama sekali tak bergeming, dia muak dengan drama yang ada dihadapannya saat ini. "Balapan mulai sekarang!" Tegas Rahel Jack menatapi Darel dalam "Lihatlah, dia tak ingin bersama mu!" Tegasnya Kesabaran Darel sudah habis "Memangnya dia ingin bersamamu? Dengan seorang preman? p*****r pun akan memikirkan nya sampai ribuan kali untuk hidup bersamamu" "Mulai balapannya" tegas Rahel kemudian balapan dimulai sesuai apa yang Rahel harapkan, siapa yang tak takut dengan Rahel? Semua orang sangat menakutinya karena kekuasaan Gengnya. Jack hendak membogem wajah Darel namun tak kena sasaran "Mungkin disebut premanpun, tak pantas" ujarnya dengan senyuman menyungging Rahang Jack mengeras, dia sangat terpancing oleh ucapan Darel barusan. Pertama kalinya ada seseorang yang menghinanya didepan umum. Semua anggota HardRide datang dengan membawa beberapa s*****a, seperti kayu balok yang besar, celurit dan alat tajam lainnya. Hal itu membuat Martin dan Jee kaget "Cepat telpon polisi! Kita tak akan bisa melawan mereka semua" bisik Martin pada Jee yang segera membuka ponselnya Darel tersenyum pada Jack setelah melihat teman-teman Jack sudah hampir sampai mendekati Darel. "Inikah yang disebut s****h jalanan?" Tegasnya bangga Jack terdiam kaku, jujur saja dia tak bisa beradu argument dengan Darel yang sudah jelas notabenya sebagai penerus ErikLusi. Martin dan Jee membawa Darel sesegera mungkin meskipun jagoan sekalipun mereka tak akan bisa menghadapi musuh sebanyak itu, yang hampir 20 orang. Namun Jack tak tinggal diam, ia menarik tubuh Darel sehingga membuat Darel semakin emosi. "Apa mau anda? Saya gak punya waktu untuk ngehadapi orang-orang gak berguna seperti-" Bugh satu pukulan mendarat di punggung Darel. Martin dan Jee hendak menghentikan mereka semua, namun mereka di halangi oleh teman-teman Jack yang lain. Terlihat Darel yang terus-terusan dipukuli oleh beberapa benda tajam, meski Darel melawan tetap saja tak akan bisa. Hingga beberapa menit berlalu, Darel tersungkur karena sudah tidak kuat lagi, tubuh Darel sudah sangat lemah, darah mengalir dari kepalanya sedikit. Martin dan Jee terus memberontak tapi mereka tak akan mampu. Diikuti itu, semua pembalap telah kembali dengan hasil yang lagi-lagi Rahel yang memimpin. Semua pembalap langsung melihat kejadian pengeroyokan itu, semua  pembalap memisahkan teman-teman Jack dan berusaha untuk bersikap tenang. Berbeda dengan rahel yang masih berada di motor sportnya dengan tatapan yang kosong, antara panik dan kaget melihat Darel yang sudah terlentang di kerumunan sana dengan tubuhnya yang sudah melemah hatinya ingin sekali membantu, tapi entah dorongan dari mana sehingga ia tak bisa melakukan itu. Suara mobil polisi nyaring terdengar membuat semua yang ada disana berbaur untuk lari menyelamatkan diri. Tidak untuk Martin, Jee, Marsha dan Kirana yang langsung mendekati Darel yang sudah pingsan. Polisi berhasil menangkap Jack dan beberapa anak yang lainnya. Rahel dan teman-temannya berhasil selamat. Darel segera dibawa oleh Martin dan kawan-kawan ke rumah sakit terdekat, Kepala Darel terluka sedikit hanya bagian punggungnya saja yang memar-memar. Setelah di obati oleh dokter keadaan Darel membaik dan mulai sadar dari pingsannya, meski tubuhnya masih terasa begitu sakit. "Akhirnya kau sadar" kekeh Martin sambil tersenyum bersama dengan Jee Darel nampak kebingungan dengan apa yang terjadi padanya "Kau tadi pingsan karena orang-orang bodoh Jack" setelah dari perkataan Jee barusan Darel tersadar yang terakhir kali diingatnya saat ia berusaha melawan sekerumunan orang yang tak dia kenali. "Kalian tak papa?" Ujar Darel terbata-bata, Martin dan Jee segera menggelengkan kepalanya. Marsha dan Kirana datang, Marsha yang tersenyum sambil memengang ponselnya. "Sudah?" Tanya Jee "Dia bilang akan segera kesini" jawabnya pasti Darel terlihat kebingungan "Siapa yang akan kesini? Apa Rahel?" "Halo Rahel?" "Halo, ada apa?" "Apa lo tahu Darel saat ini tidak sadarkan diri? Sebelum dia pingsan dia terus terusan memanggil nama lo" Rahel tiba-tiba terdiam beberapa saat "Terus?" "Kami mohon, datanglah kemari untuk menjenguknya sebentar saja" "Gue gak ada waktu lo tau kan gue sibuk ngurusin Geng, lagian gue gak punya hubungan apapun sama dia" "Rahel, please mengertilah! Bagaimana kalau kau takkan bisa bertemu dengannya lagi? Seenggaknya buat dia senyum sekali aja dulu" Rahel kembali terdiam cukup lama "Rahel?" "Iya? Yasudah gue akan kesana sekalian lewat, lagian gue mau bayar helm yang tadi dia bayar. Gak lebih" Begitulah percakapan Marsha dengan Rahel, apakah hati rahel sekarang mulai terbuka untuk Darel? Atau ia mempunyai tujuan tertentu dari keputusannya untuk menemui Darel? Selanjutnya Kirana minta ijin untuk pulang pada Martin, Martin pun mengantarkannya untuk mencarikan taksi karena kirana enggan untuk diantar pulang, berhubungan dengan keadaan Darel saat ini. Setelah Kirana menaiki taksinya, sebuah motor sport berhenti didepan Martin membuat martin mengerutkan keningnya. Orang itu membuka helm miliknya dan ternyata dia Rahel. "Rahel? Kau benar-benar kesini?" Tanya Martin tak percaya Rahel tak bergeming, ia turun dari motornya. "Antar gue ke ruangannya" tambahnya lagi tanpa menatapi wajahnya, Rahel memimpin di depan dengan langkah yang sangat percaya diri. Rahel dan Martin memasuki ruangan Darel, sontak itu membuat semuanya kaget bukan main setelah cukup lama Darel berusaha memperbaiki hubungannya dengan Rahel? Apakah keinginan Darel akan terjadi? "Rahel?" Seru semuanya Rahel hanya fokus kesatu arah, dia hanya menatap Marsha. "Marsha? Loe masih disini?" Marsha mengangguk cepat "Bukannya loe bilang dia-" ucapannya tergantung "Oh gue lupa" Rahel mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. "Nah, berikan ini sama orang yang sudah membayar helm gue. Dan gue gak bisa lama-lama disini! Gue cabut" ujarnya secepat mungkin sambil memberikan beberapa lembar uang merah pada marsha Sungguh, membuat hati Darel lagi-lagi hancur menjadi beberapa bagian. Tanpa ada rasa iba sedikitpun pada Darel yang terbaring lemah, Rahel justru ingin cepat-cepat pergi.   Rahel hendak melangkahkan kakinya "Rahel?" Ujar Darel Rahel menghentikan langkahnya "Apa gak ada hal yang ingin kamu bicarakan sama aku?" "Gak ada" jawabnya simpel dan sangat jelas, Rahel kembali berjalan dengan langkah cepat dan keluar dari ruangan Darel. Darel menunduk, apa sekeji ini kah perlakuan Rahel pada Darel? Apa salah Darel dihidup Rahel? Air mata perlahan menetes di pipi Darel, memang bukan mudah untuk mengembalikan Rahel yang dulu. Harus memakan waktu yang lama. "Darel, tenang! Semuanya masih bisa direncakan!" Tegas Martin Jee menggelengkan kepalanya "Apa dia sekeras itu?" Gumamnya "Dia memang seperti itu sayang" jawab Marsha cepat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN