BAB 6: KELOMPOK KATALIS

2608 Kata
Taegu, 10 Februari 1931. Seorang pemuda buru-buru menutup jendela-jendela pabrik dan memeriksa setiap ruangan. Ia juga memastikan bahwa setiap jendela itu terkunci. Beom-Seok si kuncen – juru kunci, tetapi dalam hal ini benar-benar menangani kunci – tampak bergegas meninggalkan bangunan pabrik yang kini gelap gulita menuju gudang belakang. Alur langkah kakinya terpacu melalui jalanan kecil berbatu, sementara seuntai besar anak-anak kunci bergemerincing di pinggangnya, sekilas terdengar menyerupai suara lonceng kecil pada saat pesta malam Natal. Suara-suara itu menggelitik ingatan Beom-Seok, serangkaian rintisan kejadian di masa lalu pun melintasi kepalanya. Di kala itu Beom-Seok kecil masih belum mengerti apa-apa tentang Natal, walaupun begitu orang tuanya selalu memberikan hadiah setiap kali hari itu datang. Begitu Ia tinggal bersama neneknya, bocah kecil yang masih terbawa suasana malam Natal itu pun menanti-nantikan hal yang sama. Namun neneknya – yang agak kolot, sekaligus seorang konfusian yang taat – tidak pernah merayakan Natal. Hal itu akhirnya membuat Beom-Seok kecil kecewa; meskipun berusaha berlapang d**a, kali ini sifat kekanak-kanakannya berhasil menguasai, sehingga Ia pun merajuk dan mengunci diri di kamarnya seharian. Sang nenek yang berkepribadian keras dan disiplin alih-alih memberikan hadiah, Ia justru memarahi dan menghukumnya dengan memberikan porsi belajar tambahan. Kenangan itu membuat Beom-Seok tersenyum sambil mengusap wajahnya karena malu. Begitu memasuki gudang, Ia disambut oleh aroma kopi yang memenuhi bangunan itu. Dengan buru-buru dipadamkannya tungku kecil yang berada di sudut bangunan. Ia pun berjalan menuju kursi kerjanya seraya meniup-niup segelas kopi panas di genggaman, lalu menyesapnya pelahan. Matanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 07.12. “Tiga jam lagi,” gumamnya. Diletakannya gelas tadi di meja dan mulai mengarahkan fokus pada tumpukan buku di hadapannya. Pemuda itu membaur dengan kesenyapan, hanya suara jarum jam yang dengan sombongnya tidak ingin tunduk dengan malam. Beom-Seok menggosok-gosokkan matanya, lalu diregangkannya tubuh ke belakang hingga membuat kursinya berderit, dari mulutnya menggaung suara menguap yang begitu lepas. Sudah beberapa jam Ia bertengger di situ, mata dan kepalanya pun mulai kelelahan. Ia kembali melirik jam, lalu bangkit dan menyambar mantel serta topi yang tergantung di dinding. Setelah memadamkan satu-satunya lampu penerang di tengah ruangan, Ia bergegas keluar hanya dengan tuntunan indranya yang sudah akrab dengan tempat itu. Pemuda itu berjalan menelisik keheningan kota Taegu seorang diri, dengan hanya ditemani suara hentakan dari sepatunya. Ia membawa tungkainya menuju jalanan sepi yang mengarah ke gang-gang sempit dan gelap, tidak lama kemudian sampailah Ia pada sebuah rumah makan yang sudah cukup akrab di penglihatannya. Seraya berjalan melintasi ruangan depan gedung itu, tangannya melambai menyapa seorang pria – entah si pemilik atau pengelola, sebab Beom-Seok belum terlalu mengenalnya. Pria berwajah ramah itu balik menyapa dan memberi isyarat agar naik ke lantai atas. Lantai atas itu terdiri dari sebuah ruangan tertutup yang cukup luas, di sana sudah berkumpul beberapa orang yang serentak memandang kepada Beom-Seok ketika Ia melangkah masuk. Chae-Song segera mempersilakan pemuda itu untuk bergabung, seluruhnya ada enam orang yang berkumpul termasuk Beom-Seok. Chae-Song memberi isyarat pada pria di sebelahnya untuk mulai berbicara, Ia bernama Tae-Jin. “Hari ini aku menerima kabar dari informan di Otsu, Takatsuki, dan Ibaraki; tidak ada tanda-tanda pergerakan target menuju wilayah-wilayah itu. Beberapa informan yang ditempatkan di jalur transportasi Kyoto juga tidak melihat keberadaan target, sehingga kita asumsikan kalau target masih berada di Kyoto.” “Aku dengar ada sebuah organisasi yang mulai menanjak di Kyoto, yang kemungkinan besar menaungi beberapa bisnis ilegal. Ada kemungkinan kalau target melarikan diri melalui jalur itu?” sahut Chae-Song. “Sebenarnya ada kemungkinan seperti demikian, tetapi usaha-usaha seperti itu tersebar di mana-mana dan sangat sulit untuk menyelidikinya satu per satu. Untuk sementara target dikonfirmasi berada di Kyoto, karena tidak ditemukan catatan perjalanan maupun dokumen apa pun di kediaman target di Osaka. Seluruh berkas penting sudah dikosongkan sebelum kita bisa melacak keberadaannya. Satu-satunya informasi yang tersisa dan bisa dijadikan pegangan adalah catatan pemesanan tiket ke Kyoto atas nama Yamada Adachi, yang setelah ditelusuri adalah nama kerabat dari istri target,” Tae-Jin menjelaskan. Chae-Song pun membenamkan tubuhnya pada kursi, “Mengenai posisi Yamada sendiri?” tanyanya lagi. “Sudah dipastikan yang terkait tidak pernah meninggalkan Osaka sampai saat ini.” “Ciri-ciri fisik dan usianya?” “Pria berusia 60 tahun, tinggi sedang dan berperawakan sedikit gempal.” Mendengar itu Chae-Song pun menggosok-gosokkan dua telapak tangannya seraya sebelah alisnya terangkat, “Hm... Cocok,” ucapnya singkat. “Baiklah! Kita tunggu kira-kira sebulan lagi, aku mau kau mengerahkan para informan di Kyoto untuk memastikan keberadaan target sebelum bulan depan.” Tae-Jin hanya menjawab dengan anggukkan, “Selain itu ada informasi baru yang sangat penting. Sebelum ketahuan dan menghilang secara misterius, seorang agen berhasil meloloskan informasi yang menguatkan asumsi kita tentang lokasi target di Kyoto. Ternyata target pernah mengadakan pertemuan singkat dengan perwira Jepang bernama Kolonel Kisaragi.” Chae-Song mengernyitkan alisnya, “Apa yang istimewa dari informasi itu?” “Pertemuan itu berlangsung relatif singkat dan tertutup, bahkan dari pemerintah Jepang sekali pun. Satu-satunya saksi mata yang mengetahui hal itu adalah seorang juru angkong yang mengantarkan target ke lokasi pertemuan, di mana Ia tanpa sengaja melihat Kolonel Kisaragi.”  “Jangan bilang kalau si juru angkong itu juga mata-mata,” Chae-Song menyahut. “Mantan. Dia diberhentikan dari partainya tidak lama sebelum kejadian itu karena menerima suap, dan dia baru mau bicara setelah menerima sogokan dari informan kita.” Chae-Song pun menganggukkan kepalanya, bibir atasnya dimajukan sehingga menampilkan barisan kumis yang bertengger di situ, “Baiklah, kumpulkan berbagai informasi tentang si kolonel itu, sebelum minggu depan kirimkan laporannya padaku. Aku berencana untuk menyusupkan agen-agen kita ini dan mengorek informasi dari orang itu.” Tae-Jin turut menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Nah, bagaimana dengan para rekanku sekalian? Kalian sudah akrab satu sama lain?” ucapnya pada orang-orang itu. “Aku yakin kami dipanggil bukan untuk sekadar menjawab pertanyaan itu, bos,” jawab wanita yang duduk di seberang Beom-Seok. Pria berkumis itu pun tertawa, “Santai, santai. Aku hanya ingin kalian tahu kalau waktu keberangkatan sudah di depan mata. Sudah bisa dipastikan kalian akan ke Kyoto, dan aku sudah menyiapkan beberapa berkas yang kalian perlukan.” Seperti seorang pesulap, Chae-Song mengeluarkan sebuah amplop besar dari balik tubuhnya dan meletakkannya di atas meja, “Paspor, kartu identitas residensial, dan dokumen pegangan tentang orang-orang yang kalian ‘gantikan’ keberadaannya, semua ada di dalam amplop itu.” Beom-Seok, yang berada paling dekat, membuka amplop itu dan mendistribusikan isinya berdasarkan identitas yang tertera kepada masing-masing rekannya. Namun Ia menyadari kalau tidak ada dokumen untuknya. “Bos, punyaku 'kok tidak ada?" “Peran setiap orang dalam operasi kali ini sangat penting, nak. Seperti yang kau dengar tadi, kita baru memiliki satu petunjuk kecil tentang keberadaan si target, oleh sebab itu aku masih mempertimbangkan penempatanmu. Jujur saja, ide pertama yang terlintas di kepalaku tadi adalah menyusupkanmu ke Kolonel Kisaragi; namun aku masih harus mengetahui lebih banyak mengenai orang tersebut. Untuk yang lain, peran kalian semua sudah aku pertimbangkan berdasarkan kemampuan dan kinerja kalian – sebab kalian adalah bagian dari orang-orang terbaikku. Sampai saat ini aku masih berencana untuk menempatkan Beom-Seok bersama dengan Jae-Hwa, sebab aku sudah mengamati kinerja tim Kyung-Sun dan Si-Nae.” Mendengar perkataan itu, Beom-Seok pun mengalihkan pandangannya sejenak pada seorang gadis yang berdiri di dekat sebuah kabinet kecil. Untuk sesaat tatapan mata mereka bertemu, namun gadis itu melayangkan pandangannya dengan dingin. “Nah, anak muda, belajarlah untuk lebih akrab dengan rekanmu itu demi keberhasilan operasi ini!” tegur Chae-Seong seraya menepuk pundaknya mantap. “Sekarang ada beberapa hal yang ingin aku dan Tae-Jin bicarakan; aku tidak bermaksud menutup-nutupi, tapi aku khawatir kalau pembahasan kami ini akan sangat panjang dan membosankan untuk kalian. Silakan kalian turun, siapa tahu Tuan Han di bawah masih bersedia melayani kalian dengan hidangannya,” seru pria itu seraya membentangkan tangannya. Kalimat itu seakan terdengar seperti sebuah dorongan agar mereka meninggalkan ruangan tersebut, sehingga mereka pun segera menurut. “Kalian enggak lapar?” tanya seorang wanita berkemeja biru dengan simpul pita. Orang-orang di organisasi itu mengenalnya sebagai Yeong Si-Nae, seorang mata-mata dan informan yang disegani di antara rekan-rekannya. “Lapar, sih. Padahal sebelum ke sini aku sudah makan,” seorang pria muda menjawab. Latar belakang militer tampak dari tubuh gagahnya; Jang Kyung-Sun, mantan prajurit Chōsen Chusatsugun (pasukan Korea dibawah kekaisaran Jepang) dan juga berpengalaman dalam kegiatan mata-mata. “Kau ‘gimana, Seok?” “Bolehlah, aku juga belum makan malam.” “Okay! Ayo, Jae-Hwa! Dari tadi diam saja!” Si-Nae menarik tangan gadis yang berjalan di belakangnya. Keempat orang itu pun menikmati makan malam bersama, dan seperti pada umumnya, mereka membicarakan banyak hal. Ketika mereka berkumpul, Si-Nae tidak pernah kehabisan cara untuk menghidupkan suasana dan disusul dengan Kyung-Sun yang suka memberi berbagai wejangan sehingga membuatnya terkesan jauh lebih tua. Selama ini hanya Jae-Hwa yang jarang terlibat aktif dalam perbincangan mereka, meskipun sesekali Beom-Seok mendapatinya sedang asyik berbicara ketika berdua dengan Si-Nae. Malam pun semakin larut namun belum terlihat tanda-tanda Chae-Song dan Tae-Jin akan turun dari ruangan atas. Empat sekawan itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediamannya masing-masing. Dalam perjalanannya kembali ke gudang, otak Beom-Seok memutar kembali ingatan-ingatannya selama beberapa bulan ini. Sekarang secara resmi – walaupun sempat memutuskan untuk berhenti sebagai seorang aktivis – Ia pun kembali dan menyusur semakin dalam ke sisi lain dari keinginan hatinya, yang telah membuat Ia terpisah dari sang nenek.   2 bulan yang lalu; Taegu, 4 Desember 1930. Beom-Seok memperhatikan sekelilingnya, kini bersama-sama mereka telah hadir tiga orang yang tidak pernah Ia lihat sebelumnya. Namun Ia yakin kalau mereka adalah orang-orang Chae-Song yang didatangkan bukan untuk urusan yang main-main. “Apa yang kau inginkan dariku, Tuan Park (Chae-Song)?” tanya Beom-Seok sambil berusaha tenang. Sejenak Chae-Song diam dan menyulut rokoknya, “Lee Beom-Seok, aku harap kau tidak berprasangka buruk denganku. Malam semakin larut dan aku akan langsung pada maksudku; aku ingin mengajakmu bergabung dalam partai pembebas Joseon kami, sekaligus menyertakanmu dalam sebuah rencana kecil – dengan pengaruh yang besar.”  “Jujur saja, Tuan Park, aku tidak tertarik. Aku sudah lelah dengan kegiatan-kegiatan itu, dan aku bahkan sudah mengecewakan keluargaku. Sekarang aku ingin hidup sebagai orang Joseon biasa.” Chae-Song mengerutkan wajahnya, “Aku tidak paham dengan maksudmu, Beom Seok. Maksudku, aku tidak mengerti dengan ‘hidup sebagai orang Joseon biasa’ yang kau maksud. Apa yang kau lihat dan lakukan selama ini, anak muda?” “Singkatnya, aku tidak mau bergabung. Aku hanya ingin bekerja, menjadi tua, dan meninggal; seperti selayaknya orang Joseon biasa.” “Tidak, tidak. Kau salah, Beom-Seok. Sekarang aku mengerti maksudmu, tapi sepertinya kau yang tidak mengerti dengan perkataanmu sendiri. Kau tidak ingin hidup sebagai orang Joseon; kau ingin hidup seperti orang Joseon – yang berdasarkan khayalanmu. Cara hidup yang kau sebutkan tadi, benar-benar tidak mencerminkan cara hidup kami.” “Kami?” tampak semburat tatapan bingung dari wajah Beom-Seok. “Iya, kami. ‘Kuharap kau mengerti, aku sudah mencari tahu latar belakang kehidupanmu; 15 tahun yang lalu pertama kali datang ke Korea, dibesarkan oleh keluarga ibumu yang berkebangsaan Joseon, hampir lulus dari Universitas Jōdai sebagai sarjana fakultas hukum dan literatur, namun dikeluarkan setelah ditangkap akibat Peristiwa Hotel Chōsen. Aku sudah membaca beberapa risalahmu dalam majalah Seiryo dan Jōdai Bun gaku, aku suka ulasan dan kritikmu yang mengaitkan Taketori Monogatari dengan kebangkitan gerakan independen Joseon. Sekarang aku tanya padamu, Beom-Seok, apakah kau menganggap kami – para pejuang ini – akan mati sia-sia karena dibodohi oleh impian buta? Apa yang kau pahami tentang perjuangan kami, wahai orang Jepang?” Kendati sindiran itu membuatnya tersentak, Beom-Seok tetap bersikap tenang, “Seperti yang kau baca dalam risalah itu, Tuan Park. Aku mengamati dan bergabung dengan bermacam-macam partai dan patriot Joseon, namun setiap organisasi bergerak dalam satu pola yang serupa: memanfaatkan momentum kebangkitan ini untuk berlomba-lomba mendapatkan kedudukan dan prestise; sebagian ingin disanjung oleh rakyat, sebagian lagi menjilat kekaisaran Jepang. Pada akhirnya, kemenangan Joseon atau Jepang tidak berakhir pada kesejahteraan rakyat.”  “Lee Beom-Seok, aku paham kalau kau memandang dari sudut pandangmu. Tetapi, ada beberapa hal penting yang luput dari pengamatanmu. Pertama, kami orang Joseon tidak selemah yang kau bayangkan. Orang Joseon itu tangguh dan cemerlang, dan bahwasanya kemerdekaan Joseon hanya tinggal menunggu waktu. Terkait itu, apakah kau mengira kami para patriot berjuang agar mengangkat diri dan organisasi kami? Dengan berat hati, aku menjawab sebagian besar ‘iya’. Namun perlu kau ketahui bahwa dalam perlombaan ini, kami semua yang berkumpul di sini, berjuang bukan demi diri sendiri saja. Kami menyadari kalau orang-orang Joseon sangat kuat, tanpa campur tangan kami pun kemerdekaan Joseon sudah dekat. Lalu apa yang kami perjuangkan? Beom-Seok, aku mau kau memahami bahwa tujuan kami tidak hanya melepaskan diri dari cengkeraman Jepang. Saat ini hati setiap negarawan tengah berkobar demi membebaskan Joseon, tapi tidak bisa dipungkiri kalau semangat seperti itu pun tidak bertahan selamanya. Bagaimana kalau ketika Joseon merdeka, generasi yang memegang tampuk pemerintahan tidak memiliki semangat yang sama? Bisakah mereka menjaga kemerdekaan, yang sudah diperoleh dengan pertumpahan darah? Atau justru mengembalikan rakyat kepada keterpurukan? Oleh sebab itu sesungguhnya kami bukan sekadar patriot. Aku lebih suka menyebut diri kami sebagai ‘katalis’ – sebab perjuangan kami adalah untuk membawakan kemerdekaan kepada para negarawan sejati, agar tidak kehilangan momentumnya dalam membimbing Joseon. Singkatnya sebagai seorang visioner aku tidak melihat diriku berdiri di atas, sebagai seorang pemimpin rakyat; melainkan aku berdiri memandang ke atas pada para pemimpin sejati bagi rakyat.” Maksud Chae-Song merasuki akal Beom-Seok sehingga sejenak Ia terdiam dan merenungkan kata-kata itu. Nuraninya mengakui bahwa ini kali pertama Ia bertemu dengan seorang pejuang seperti Chae-Song. Di sisi lain, harga dirinya sebagai keturunan Joseon yang dibesarkan dan dididik menurut adat-istiadat Joseon seakan-akan ditelanjangi oleh perkataan barusan. Beom-Seok menarik napas dalam, kepalanya yang tertunduk akhirnya perlahan terangkat. “Kalau aku bergabung dalam partaimu, apa yang kau ingin agar aku lakukan?” tanya pemuda itu seraya memandang kepada Chae-Song. “Kau tahu tentang peristiwa penembakan 15 tahun lalu di gedung Teater Kabukiza?” Beom-Seok mengangguk, sebab itulah peristiwa yang merenggut nyawa orang tuanya. Namun pemuda itu menyadari kalau Chae-Song tidak mengetahui keterkaitannya dalam peristiwa itu. “Kau tahu penyebab gagalnya Peristiwa Hotel Chōsen?” tanya Chae-Song lagi. “Informasi yang bocor dari seorang pengkhianat.” Chae-Song memajukkan badannya dan menyahut, “Lebih tepatnya akibat pekerjaan mata-mata. Sebelum bergabung dengan kelompokmu, dia sudah bekerja untuk seseorang yang suka menjual informasi pada pemerintah Jepang. Kau tahu siapa dia?” Kali ini Beom-Seok menggelengkan kepalanya. “Choi Jung-Jae.” Nama itu membuat Beom-Seok terlonjak dari kursinya, “Choi Jung-Jae ‘sang pahlawan?’ Bukannya dia justru dianggap sebagai aktivis Joseon paling bersih dan pro terhadap rakyat?” “Begitulah orang-orang memandangnya, tapi kami tahu kebusukan orang itu. 15 tahun yang lalu dia membunuh politikus Jepang yang menolak lobi darinya, penolakan itu sebuah ancaman bagi kedudukannya. Dia lalu muncul di hadapan publik sebagai pejuang keadilan, padahal mendiang Song Il-Hwan adalah orang suruhannya sendiri. Pembantaian kelompok anarkis dalam Peristiwa Hotel Chōsen juga adalah berkat campur tangannya. Dengan menyusupkan mata-mata ke dalam kelompokmu, Jung-jae mengisolasi kalian dari kelompok lainnya. Di saat bersamaan dia menjual berbagai informasi yang diserap oleh mata-mata itu. Setiap potensi dari orang ini adalah ancaman bagi rakyat; jika kebusukannya selama ini ketahuan, maka rakyat akan kecewa dan para pemimpin akan kehilangan kredibilitasnya. Namun jika dia berhasil memboncengi kemerdekaan Joseon, dengan sisa pengaruhnya dia bisa memanipulasi kaum atase.” “Sekarang aku mengerti kenapa hanya satu kelompok yang mau bekerja sama dengan kami,” gumam Beom-Seok, “Lalu apa yang kau rencanakan, Tuan Park?” “Sederhana saja: membunuhnya. Tetapi keberadaan Jung-Jae sangat sulit dilacak. Para agenku yang ditugaskan menemukan si tua itu tidak mendapatkan informasi apa pun. Oleh sebab itu aku menghimpun orang-orang terbaikku – semua yang sekarang bergabung dengan kita di sini – dan menyusun sebuah rencana untuk menemukan ular tua itu. Jujur saja aku memerlukan kecakapan dan keterampilanmu sebab operasi kali ini cukup berat serta memerlukan agen yang sangat fleksibel. Kali ini operasi pembunuhan tidak akan dilaksanakan di Korea, melainkan di Jepang. Terakhir kali agenku melapor kalau Jung-Jae berada di Jepang, tetapi para informan di sana bahkan kesulitan untuk mendekati para elite. Dengan kualifikasimu, aku yakin kalau regu mata-mata ini menjadi lengkap dan siap ditugaskan ke Jepang.” “Berapa lama persiapanku?” “Selama beberapa bulan ini Kwang-Sun akan membantumu mempelajari berbagai hal yang perlu kau ketahui, namun sesekali aku dan Tuan Masaki juga akan membimbingmu. Aku akan mengabarimu setiap kali ada perkembangan supaya kau bisa memusatkan persiapanmu. Nah, sekarang mari kita pulang. Aku yakin kita semua sudah lelah dengan segala pembicaraan ini,” ajak Chae-Song seraya berdiri dari kursinya. Namun Beom-Seok menyela, “Sebelum itu, Tuan Park, aku ingin mengatakan sesuatu.” Chae-Song pun mengangkat alisnya. “Jangan panggil aku ‘orang Jepang.’ Nenekku membesarkanku sebagai seorang Joseon, sehingga hidup atau pun mati aku tetaplah Joseon.” Chae-Song tersenyum seraya mengangkat topinya, “Baiklah, Beom-Seok. Aku minta maaf. Sejujurnya aku sudah melihat ketulusanmu terhadap perjuangan Joseon melalui tulisan-tulisanmu, walaupun begitu aku ingin menyaksikannya dengan mataku sendiri. Mari semuanya, kita kembali dan mempersiapkan yang terbaik demi bangsa kita.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN