Pusan, 10 Maret 1931.
Kepulan asap panas menghambur keluar bersamaan dengan suara desisan yang melengking dari sebuah lokomotif hitam legam. Untaian barisan kamar-kamar besi yang mengekori lokomotif itu memasuki peron stasiun, hingga akhirnya menetap mantap di atas sepasang rel baja yang kokoh. Peron stasiun yang tadinya kosong seketika dipenuhi oleh tumpahan penumpang yang berjejal satu sama lain. Di antara orang-orang itu Beom-Seok berjalan seraya membopong tas ransel panjang, sebuah topi safari berbahan katun bertengger di kepalanya, dan batang hidungnya menyangga sepasang kacamata bulat mengkilap. Di depannya terlihat berjejer portal-portal sensor pemerintah Jepang. Satu per satu penumpang kereta yang ditumpanginya tadi berbaris sembari memperlihatkan paspor dan dokumen perjalanan mereka.
“Orang Tokyo? Apa yang kau lakukan di Gyeongseong?” tanya seorang petugas berbahasa Jepang.
“Universitas mengirimku atas permintaan dari Jōdai untuk memeriksa barang galian,” Beom-Seok menjawab dengan mantap.
"Apa kepentinganmu di sini?"
"Tentu saja kembali ke Tokyo. Aku akan menumpang kapal yang berlayar dari pelabuhan Pusan."
Petugas itu mengamati berkas yang disodorkan oleh Beom-Seok, lalu matanya menatap lekat wajah pemuda itu sambil tetap membisu; akhirnya Ia memberi isyarat agar melanjutkan perjalanan.
Di luar stasiun Beom-Seok menyempatkan diri untuk singgah di sebuah kedai kecil penjaja makanan hangat. Meskipun musim semi sudah menyongsong kota itu, tetap saja Ia merasakan sentilan hawa dingin yang akhirnya menggugah rasa laparnya. Sambil terus menikmati kudapannya, kedua bola mata pemuda itu dengan awas memperhatikan orang-orang yang keluar dari stasiun; akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu muncul. Beom-Seok menyodorkan selembar uang dan bergegas meninggalkan tempat itu.
Dengan hati-hati Ia menjaga jarak dan langkahnya, membuntuti seorang pria dengan setelan formal yang berjalan beberapa belas meter di depan. Tanpa rasa curiga pria itu tetap berjalan dengan santai sambil sesekali melayangkan pandangannya pada keramaian kota. Akhirnya mereka pun sampai di kompleks padat bangunan yang sepi. Pria tersebut memasuki sebuah bangunan kayu, sementara itu Beom-Seok menyusulnya dengan sikap waspada. Beom-Seok mengamati sekelilingnya lalu membuka pintu bangunan tersebut dengan hati-hati.
“Kau tidak membeli makanan untuk kami?” tegur pria itu saat Beom-Seok mengatupkan daun pintu.
“Nih!” sahutnya sambil meletakkan bungkusan kertas berisikan beberapa potong roti hangat.
Pria itu – alias Kyung-Sun –melepaskan topinya dan menyambar bungkusan tersebut, “Terima kasih, Seok!”
“Janji temunya setengah jam lagi, ‘kan?” tanya Si-Nae yang muncul dan segera mencomot roti itu. Sekilas Ia terkejut karena sengatan rasa panas yang menyentuh jemarinya.
“Kau mau ke mana?”
“Mau bertemu ibu sebentar. Jae-Hwa, kau di sini saja?”
“Aku ikut,” sahut gadis itu singkat sembari mengenakan jaketnya dan berjalan mengikuti Si-Nae yang keluar melalui pintu di sisi berlawanan. Terdengar suara berdentam pelan seiring kepergian dua orang itu.
Masih memandang ke arah hilangnya sosok kedua wanita tadi, Beom-Seok menghampiri Kyung-Sun yang tengah sibuk mengisi perutnya, “Ibu?” tanyanya.
“Kau masih ingat tentang pekerjaan lamanya Si-Nae?”
“Ya? Kenapa?”
“Sang 'ibu' itu dulunya seorang informan Chae-Song dan dialah yang membantu Si-Nae kabur dari rumah bordil lalu merawatnya. Setelah Si-Nae beranjak lebih dewasa, Ia memperkenalkannya dengan Chae-Song. Seperti yang kau tahu kalau laki-laki itu sangat suka ‘menilik’ orang lain, sehingga akhirnya Ia menyadari potensi Si-Nae.”
“Dia langsung diperkerjakan sebagai mata-mata oleh Chae-Song?”
Kyung-Sun terdiam sesaat sambil berusaha menelan isi mulutnya, jari telunjuknya teracung ke arah Beom-Seok. “Enggak dong! Awalnya dia hanya diajak ‘ngobrol biasa. Dari situlah Chae-Song menyadari kalau selama dipaksa bekerja di sana, Si-Nae terlatih untuk menyerap informasi secara mendalam – yang akhrinya dia manfaatkan untuk melarikan diri. itulah sebabnya Chae-Song merekrutnya.”
“Dengan sikapnya yang masa bodoh begitu, siapa yang sangka wanita itu agennya Chae-Song – sosok paling berpengaruh di Taegu,” Beom-Seok menimpali.
“Di antara kita berempat, Si-Nae yang paling lama bekerja untuk Chae-Song. Dia memulai pekerjaan lapangannya ketika berusia 18. Saat itu aku masih seorang prajurit yang dibutakan oleh fanatisme, hahaha. Ah, tenggorokanku seret!" seru Kyung-Sun beranjak dari tempat duduk, "Kau mau minum, Seok? Di ruang bawah tanah ada tungku untuk membuat minuman.”
“Teh saja,” sahutnya. Kyung-Sun pun menyahut dengan mengacungkan jempol ke atas.
Setengah jam kemudian seorang pria berkacamata dan berjanggut tebal memasuki bangunan itu, kedatangannya disambut oleh dua orang laki-laki yang sejak tadi asyik berbincang-bincang. Tidak lama kemudian Si-Nae dan Jae-Hwa muncul dari balik pintu yang sama. Pria itu menyerahkan selembar tiket kapal dan kereta api masing-masing kepada keempat orang itu. Tidak lupa Ia mengingatkan mereka agar memeriksa jadwal keberangkatan kereta tersebut, karena keberangkatan setiap orang diatur dalam waktu yang berbeda untuk mencegah penjaringan dari agen musuh di Kyoto. Terakhir sebelum undur diri, Ia memberikan sebuah catatan berisi alamat lokasi temu di Kyoto – yang harus segera dimusnahkan jika mereka merasa terancam.
“Nah, Seok. Carilah sesuatu yang bakal membuatmu betah, kita akan berlayar selama setengah hari lebih. Sampai bertemu di Kyoto, baik-baik di jalan!” seru Kyung-Sun, lalu berangkat meninggalkan ruangan itu.
“Kau suka baca?” tanya Jae-Hwa ketika membereskan barang-barangnya.
Pertanyaan itu sejenak membuat Beom-Seok tertegun karena gadis itu jarang mengajaknya bicara. “Suka, tapi aku meninggalkan buku-buku bacaanku.”
Gadis itu melempar sebuah buku kecil tebal yang diambil dari tasnya, “Aku harap itu bisa membantu,” ujarnya dengan santai, “Untuk orang yang mudah bosan sepertiku, aku suka menulis beberapa cerita ringan. Berikan aku ulasannya begitu sampai di Kyoto.”
“Sip!” jawab pemuda itu tersenyum sambil menggenggam buku tersebut.
Gadis itu balas tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pintu yang dituju Kyung-Sun tadi.
“Kazue,” gumam Beom-Seok ketika membaca sebuah nama pena yang tertulis di halaman depan.
Sosok Si-Nae muncul dari ruang belakang, ”Oh! Jae-Hwa meminjamkanmu bukunya?” serunya sehingga membuat Beom-Seok terkejut sampai hampir menjatuhkan buku yang dimaksud. “Maklum saja kalau dia jarang mengajakmu bicara, orangnya memang begitu. Sampai ketemu di Kyoto, jangan sampai terkena masalah!” Si-Nae menepuk punggungnya dan berangkat, kini tinggal Beom-Seok seorang diri.
“Kenapa mereka menganggapku anak-anak? Padahal umur kita tidak beda jauh,” keluhnya dengan diri sendiri. Setelah membereskan barang-barang bawaannya dan memasukkan buku Jae-Hwa ke saku mantelnya yang dalam, Ia pun beranjak dari tempat itu menuju pelabuhan.
=====================================================================================
Sebuah terpaan dari riak nan boyas menghempas lambung kapal besi yang tengah melintasi lautan Jepang. Guncangan itu membuat seisi kapal bergoyang dan membangunkan sebagian awak kapal yang tengah pulas, beberapa orang bahkan terguling dan menimpa penumpang yang berada di dekatnya sehingga terdengar hiruk-pikuk di antara orang-orang tersebut. Beom-Seok juga ikut terbangun akibat suara bising dari ember kayu yang terjatuh di dekatnya. Diusap-usapnya matanya yang sayu, lalu Ia memeriksa barang-barang bawaannya. Pemuda itu tidak suka berbicara dengan orang lain jika baru bangun tidur, sebab Ia tidak ingin bau mulut membuat lawan bicaranya menjadi tidak kerasan; oleh karena itu Ia selalu membawa sekaleng kecil permen jahe-mint. Beom-Seok bangkit sambil mengunyah bongkahan permen di mulutnya, ransel panjang itu Ia panggul seraya menaiki anak tangga menuju geladak.
Di ujung laut selebu tampak semburat cahaya jingga, “Sebentar lagi pagi,” ucapnya dalam hati. Pemuda itu bersandar pada pagar-pagar besi yang mulai digerogoti karat dan menghirup napas dalam-dalam seraya merentangkan kedua lengannya; kepalanya sudah muak dengan kericuhan dan bebauan yang sedikit demi sedikit menggerogoti kewarasannya.
Sontak Beom-Seok dikejutkan oleh seseorang yang berlari menuju sisi geladak yang berlawanan, seorang gadis berwajah pucat pasi. Begitu sampai di pagar pembatas Ia segera mencemari lautan dengan cairan berwarna kekuningan yang keluar dari mulutnya. Gadis itu terlihat sangat menderita; wajahnya yang pucat berubah menjadi sangat merah seperti tercekik, sehingga Beom-Seok yang iba menghampiri dan menepuk-nepuk punggungnya. Si gadis pun memberi isyarat kalau kondisinya sudah membaik.
“Maaf sudah merepotkan,” sebuah senyuman yang lesu tersungging di wajahnya.
Tanpa berkata-kata pemuda itu menyodorkan kaleng kecil di tangannya yang berisi permen jahe tadi.
Jari-jemari mungil menjumput bongkahan permen itu dan memasukkannya ke sela-sela bibirnya yang tipis, “Terima kasih,” sahut pemilik bibir itu.
“Tidak masalah. Pertama kali naik kapal?”
“Aku memang mudah mabuk perjalanan; naik kendaraan apa pun pasti teler! Ini saja sudah muntah yang keenam kalinya,” jawabnya malu-malu.
“Wow! Parah sekali!” seru Beom-Seok dalam hati. “Tidak usah cemas, sebentar lagi sampai tuh!” Beom-Seok menunjuk dengan telapak tangannya terjulur sopan ke arah belakang gadis itu.
Suara dengungan panjang meledak keluar dari klakson kapal uap itu, membuat sepasang manusia itu terkejut bukan main. Kendati demikian mereka justru menertawakan kekonyolan tersebut. Si gadis pun berlari menuju pinggiran kapal seraya memperhatikan pelabuhan yang menyongsong dari kejauhan. Terlihat perasaan lega menghiasi wajahnya yang kini terlihat normal, ujung matanya menyempit mengikuti senyuman yang lebar sehingga membuatnya terlihat semakin sipit.
“Beberapa menit lagi kita tiba di Kokura,” tegur Beom-Seok sembari berdiri di sebelah kenalan barunya itu.
“Hm!” gumamnya singkat disertai dengan anggukkan yang antusias. “Ah! Maaf aku bahkan belum memperkenalkan diri! Namaku Tsu!” gadis itu membungkukkan tubuhnya.
“Namaku Suishou,” jawab pemuda itu berbohong, “Kau dari Chūgoku (Tiongkok)?”
“Tidak, orang tuaku saja; aku besar di Gyeongseong. Aku sedang dalam perjalanan menemui kerabat ayahku di Jepang karena mereka ingin aku bekerja pada mereka.”
“Mudah-mudahan perjalananmu selanjutnya lancar. Dan yang lebih penting, semoga tidak mabuk lagi, ya!”
Gurauan itu berhasil memancing tawa sang gadis, namun Beom-Seok hanya tersenyum selagi memandang wajah yang mungil itu.
“Ngomong-ngomong permenmu manjur sekali, rasa mualku seketika hilang.”
Beom-Seok merogoh kaleng permen dari sakunya namun tanpa sengaja menjatuhkan buku yang diberikan Jae-Hwa, “Terima kasih,” ucapnya ketika Tsu mengembalikan buku tersebut. Lalu Ia lagi-lagi menyodorkan kaleng permen itu, “Ambillah, aku masih punya banyak.”
Sekaleng permen itu diterima oleh Tsu tanpa melunturkan senyuman di wajahnya. Ia pun undur diri dan kembali ke dalam lambung kapal setelah mengucapkan salam perpisahan.
=====================================================================================
Cahaya jingga kemerahan tertumpah di antara selubung-selubung awan yang bertengger di hamparan langit biru gelap ketika Beom-Seok menginjakkan kakinya di aspal jalanan kota Kyoto. Ia mengangkut bawaannya dari bak angkong, yang langsung memelesat setelah penumpangnya itu selesai menurunkan barang-barang. Kini di hadapannya menjulang sebuah bar sederhana. Jarum arlojinya memberitahukan bahwa hari sudah menjelang malam, Beom-Seok mendaratkan bokongnya di sebuah kursi yang berada di depan meja pelayan. Matanya memperhatikan keramaian orang-orang yang diselingi alunan jazz bertempo cepat yang dipopulerkan oleh Hattori Ryōichi, ujung sepatunya mengetuk-ngetuk mengikuti irama hentakan musik itu.
“Selamat datang, tuan. Ada yang perlu dibantu?” sapa seorang pelayan berwajah gempal, senyuman di pipinya nyaris menutupi kedua bola matanya sehingga terlihat seperti sepasang busur hitam.
“Aku baru saja tiba dari perjalanan jauh,” sahutnya seraya menunjukkan barang-barangnya, “Apakah ada tempat untuk bermalam?”
“Kamar seperti apa yang anda inginkan, tuan?”
“Hm... Mungkin sebuah kamar yang bisa digunakan untuk melihat bunga krisan.”
“Baiklah, tuan. Silakan ikuti saya.”
Pelayan itu menuntun Beom-Seok menaiki tangga ke ruangan atas yang cukup luas dan terbagi-bagi menjadi beberapa kamar. Dengan kunci yang berada di pinggangnya, pelayan itu membukakan salah satu kamar dan mempersilakan pemuda itu untuk masuk.
“Pertemuan akan diadakan jam 11 nanti di ruangan yang berada di ujung. Silakan beristirahat dan manfaatkan waktumu untuk bersantai, kalau mau kau bisa bergabung di bawah,” ucap pelayan itu dalam bahasa Joseon sebelum berlalu dari hadapan Beom-Seok.
Barang-barang bawaan diturunkan di sebelah lemari kayu kecil di seberang ranjang, Beom-Seok menggantungkan mantel dan topinya lalu membaringkan diri di ranjang kayu itu. Tubuhnya kelelahan namun matanya belum mengantuk sehingga sangat sulit baginya untuk tidur, sedangkan pertemuan yang dimaksud masih beberapa jam lagi. Akhirnya Ia pun teringat dengan buku yang diberikan Jae-Hwa, diambilnya buku itu dari saku mantelnya dan mulai membuka halaman yang tadi Ia tandai.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, kini keempat orang itu sudah berkumpul disertai seorang wanita muda yang terlihat sedikit lebih tua dari Si-Nae. Mereka duduk di jejeran bangku yang mengitari sebuah meja pendek di tengah ruangan. Sang wanita pun membuka pertemuan itu.
“Namaku Ho-Seok, meskipun sebagian dari kalian sudah mengenalku. Aku dan rekan-rekanku akan membantu kalian selama operasi di Kyoto. Kami sudah mengumpulkan berbagai informasi tentang Kolonel Kisaragi; bernama lengkap Kisaragi Takio, perwira pasukan Dai Jūroku Shidan dan memiliki kerja sama rahasia dengan Choi Jung-Jae – target utama operasi, memiliki ketertarikan dengan barang-barang antik dan literatur tua yang dikelola dalam gedung perpustakaan pribadi di kediamaannya, Kisaragi Manor. Untuk itu Ia memperkerjakan seorang kurator bernama Nishio Kenji, yang akan kita singkirkan untuk menyusupkan Beom-Seok. Kami juga sudah mengurus penyusupan Jae-Hwa ke kediaman itu sebagai pelayan. Dua hari lagi seorang petugas akan menjemputmu.”
“Ada informasi tentang Nishio Kenji?” Kyung-Sun menyela.
Ho-Seok menyerahkan selembar dokumen padanya, “Pria berusia 57 tahun, penampilan dan ciri-cirinya tertera pada dokumen. Selain kepada Takio, Ia juga bekerja di museum kekaisaran di Kyoto dan memiliki kediaman sendiri Nishikyō sehingga tidak menetap di Kisaragi Manor.”
“Kita bisa memanfaatkan hal tersebut,” Kyung-Sun mengambil sebuah peta yang menyertai dokumen itu, “Tinggal kita arahkan rute perjalanannya melalui beberapa jalan yang sepi,” sambungnya sambil menandai beberapa jalan di peta.
“Kisaragi Manor tersambung dengan belasan rute jalan, selain itu di kawasan tersebut tidak ada bengkel perbaikan atau stasiun pengisian bahan bakar, ditambah lagi Nishio memiliki beberapa kesibukan sehingga rute tempuhnya bervariasi; sangat sulit menyingkirkannya tanpa ketahuan.”
“Kita tidak perlu menutup jalan atau menyabotase kendaraannya, cukup memancingnya ke salah satu dari rute-rute potensial ini. Oleh sebab itu kita memerlukan Jae-Hwa. Prioritaskan kegiatanmu untuk mencari tahu berbagai informasi penting agar membawa orang ini ke tempat penyergapan. Kita tidak bisa memulai operasi ini tanpa peranmu,” ucap pria itu.
Jae-Hwa pun menganggukkan kepalanya mantap, “Baiklah, serahkan padaku. Sekarang silakan jelaskan apa saja yang perlu aku persiapkan sebelum masuk ke Kisaragi Manor.”
Diskusi malam itu berlanjut dengan berbagai penjelasan dan arahan yang diberikan oleh Ho-Seok. Selain memaparkan tugas-tugas dan wilayah operasi masing-masing bagi keempat agen itu, Ia juga memberikan informasi tentang lokasi-lokasi potensial yang bisa digunakan untuk mengorek keberadaan Jung-Jae. Terlebih lagi Ia memberikan akses pada berbagai titik temu rahasia yang bisa digunakan untuk bertukar informasi, bersembunyi, atau sekadar beristirahat sehingga mempermudah pekerjaan mereka. Pertemuan itu ditutup ketika menjelang subuh, lalu mereka pun kembali ke tempatnya masing-masing.