BAB 8: PEMBUNUHAN PERTAMA

1550 Kata
Kyoto, Kisaragi Manor. 2 April 1931. “Hei, kau! Aku lupa, siapa namamu?” “J... Jae-Hwa, tuan.” “Kau mengantar makan malam untuk Kenji? Ini, sekalian berikan surat ini kepadanya.” Takio menyodorkan sepucuk amplop besar berwarna cokelat. Jae-Hwa menerima amplop itu, setelah membungkukkan tubuhnya kepada Takio maka Ia pun meninggalkan ruangan itu. Kedua tangannya menggenggam erat tangkai troli, Ia berjalan melintasi suasana pekarangan yang gelap dan hening. Sesekali terdengar dentingan nampan logam yang diketuk oleh tudung saji ketika salah satu roda troli itu mengenai sebuah kerikil. Selain beberapa lampu taman yang berbaris mengikuti jalur patio, di kejauhan tampak sebuah bangunan besar yang bersinar di balik rimbunan pohon oak. Itulah gedung perpustakaan milik Takio. Di gedung itu Nishio Kenji – sang kurator – menghabiskan waktunya merawat dan mempelajari berbagai barang dan buku antik koleksi Takio. Sudah hampir sebulan Ia menjadi pelayan di manor itu, sehingga aktivitas malam ini pun sudah tidak asing baginya. Jae-Hwa membuka pintu utama dan membawa masuk troli itu ke dalam sebuah atrium kecil. Ia teringat bahwa Takio tidak memperbolehkan seorang pun masuk ke ruangan perpustakaan dengan mengenakan sepatu atau apa pun yang bisa menggores lantai, sehingga Ia melepaskan sepatunya dan membawa nampan tadi. Terdengar suara pintu berderit ketika Jae-Hwa membuka pintu perpustakaan, ruangan itu cukup besar dan menampung rak-rak buku yang menjulang dan berbaris mengikuti sebuah jalan yang terbentang di tengah-tengah, dan lantainya dilapisi papan pohon walnut dengan sentuhan gelap yang elegan. Di ujung ruangan tampak bagian yang terbuka di mana Nishio sedang berada di meja kerja dengan setumpuk buku usang di hadapannya. Terdengar suara pria tua itu terbatuk, Ia menyeka bibirnya yang diselimuti janggut tipis ubanan dengan sehelai sapu tangan. Jae-Hwa akhirnya menyadari bahwa pria itu sedang duduk di antara buku-buku yang menggunung dan sebagian lagi berserakan begitu saja. “Tuan Nishio, makanannya...,” ucap Jae-Hwa sambil memandang sekelilingnya. Nishio masih tampak serius membaca buku yang Ia hamparkan di meja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Ia memberikan isyarat dengan tangannya agar Jae-Hwa meletakkan makanan itu di sebuah meja lain. Sesudah meninggalkan nampan tersebut, gadis itu kemudian menghampiri Nishio dan menyodorkan amplop titipan Takio. “Tuan Kisaragi tadi menitipkan ini.” Pandangan mata sang kurator tua itu tetap terpaku pada bukunya, lensa kacamatanya mengkilap diterpa cahaya. Ia berdeham singkat yang menandakan kalau Ia mendengar perkataan Jae-Hwa lalu menyuruh gadis itu agar segera pergi dari ruangan tersebut. Jae-Hwa pun memberi salam dan berlalu dari hadapan Nishio. Tiba-tiba saja ketika Ia sudah hendak meninggalkan ruangan itu, Jae-Hwa mendengar suara Nishio memanggilnya dari ujung ruangan. Jae-Hwa dengan terburu-buru menghampiri Nishio yang tampak beranjak dari tempat duduknya. “Kalau kau kembali ke rumah, tolong ambilkan kotak obatku di dalam mantel yang kubawa tadi,” ujar pria tua itu kepada Jae-Hwa, “Mantelnya aku gantungkan di ruang tamu,” lanjutnya sambil mengacungkan telunjuk kanannya. “Ada lagi yang harus saya lakukan, tuan?” tanya pelayan itu. “Pokoknya cepat ambilkan obat itu dulu!” Nishio menyahut dengan kening berkerut, kulit wajahnya mulai memerah sementara tangan kirinya memegangi pelipis kepalanya. “Ah, sial! Migrainku kambuh lagi,” ucap pria tua itu bersungut-sungut ketika Jae-Hwa berjalan menjauh. Si pelayan memelesat menuju rumah itu, kemudian Ia mencari-cari mantel yang dimaksud oleh Nishio. Jae-Hwa pun kembali ke gedung perpustakaan sambil membawa tabung kecil yang terbuat dari kaleng, benda itu Ia berikan kepada Nishio yang sudah terduduk tidak berdaya di sebuah kursi. Pria itu segera meneguk obat itu bersama air minum yang tadi diantarkan oleh Jae-Hwa, lalu Ia menyuruh Jae-Hwa untuk menghubungi supirnya untuk segera menjemputnya setelah jam makan malam. Sekitar jam 8 malam Nishio meninggalkan kediaman Takio. Sementara itu Jae-Hwa yang sedang merapikan bekas makan malam Nishio pun termenung sejenak setelah mengetahui penyakit yang diderita pria itu.   3 April 1931. Pagi itu Jae-Hwa dan seorang pelayan bernama Kurumi pergi belanja berbagai kebutuhan rumah tangga dan dapur serta beberapa botol cat minyak yang dipesan oleh nyonya rumah. Setiap kali diberikan tugas untuk berbelanja, para pelayan wanita melakukan undian dan pemenangnya yang pergi berbelanja. Hal itu disebabkan suasana manor yang kelam dan kaku terutama ketika Takio sedang berada di rumah, sehingga berbelanja seolah memberikan suntikan semangat tersendiri bagi mereka. Ketika dalam perjalanan pulang, perhatian Jae-Hwa tertuju pada sebuah jalan yang jarang mereka lewati. “Kurumi, apakah kau tahu mengarah ke mana jalan itu?” tanyanya sembari menunjuk. “Mana? Mana?” Kurumi menengok mengikuti arah telunjuk Jae-Hwa, “Ah, sebenarnya jalan itu juga menuju ke arah manor tetapi rutenya lebih jauh dan sangat sepi pada malam hari.” “Kita masih punya banyak waktu, ‘kan? Pak supir, kita lewat jalan itu saja!” seru Jae-Hwa setelah menepuk pundak pria itu. Mobil itu berbelok dan memasuki jalan tersebut. Ternyata di pagi hari pun jalanan itu agak sepi karena terletak di pinggiran kota, tampak bentangan Sungai Uji menggandeng jalanan yang berkelok-kelok. Sejenak Jae-Hwa merasa heran karena jalan dengan pemandangan seelok itu justru jarang dilalui oleh orang. Kemudian perhatiannya kembali tersita oleh sebuah bangunan seperti toko yang berada agak jauh dari jalan. “Kau tahu itu bangunan apa?” Pertanyaannya kembali terlontar pada temannya. “Hmm... Kalau tidak salah, itu toko obat.” Mendengar hal tersebut, tiba-tiba terlintas sesuatu di benak Jae-Hwa. Ia terus memandang wajah Kurumi dan bertanya, “Kurumi, kau pernah sakit migrain?” “Tidak, tapi ibuku pernah. Kenapa?” Kurumi balik bertanya. “Kira-kira apa penyebabnya?” ujar Jae-Hwa sambil melirikkan matanya ke atas, telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya. Kurumi memandang Jae-Hwa sambil menaikkan sebelah alisnya, “Banyak sih, biasanya karena makanan dan stres. Ngomong-ngomong, tumben kau banyak tanya?” Jae-Hwa melirik kepada Kurumi, alisnya terangkat sambil pipinya menarik sebuah senyuman yang penuh teka-teki. ===================================================================================== Tiga hari kemudian, 6 April 1931. Jam 7 malam, seperti biasa Jae-Hwa membawakan makan malam bagi Nishio yang masih bekerja di gedung perpustakaan. Pelayan itu meletakkan senampan hidangan malam untuk sang kurator tua, tetapi tampak raut wajah Nishio berbeda malam itu; Ia terlihat lebih ceria. “Tolong sampaikan komplimenku untuk juru masak. Hidangan siang dan kudapan sore tadi sungguh luar biasa, meskipun sebagian terasa agak hambar. Setelah memakannya, perasaanku entah kenapa menjadi lebih ringan,” seru Nishio seraya bangkit dari tempat kerjanya, “bahkan sekarang selera makanku sudah terbit lagi, hahaha.” Jae-Hwa mengangguk dan tersenyum. Sejenak Ia melirik kepada pria itu yang tampak menyantap makan malam itu dengan lahap. Maka pelayan itu pun pamit dari situ. Kira-kira jam 8 kurang Jae-Hwa kembali ke perpustakaan untuk merapikan peralatan makan. Ketika Ia memasuki ruang kerja Nishio, Ia dikagetkan oleh kemunculan sang kurator yang mendadak mencengkeram bahunya; wajah dan matanya merah karena menahan sakit, Ia segera menyuruh Jae-Hwa untuk memanggil supirnya. Gadis itu menyambar telepon yang berada di meja dan segera menghubungi supir yang dimaksud, sementara itu Nishio yang kembali ke tempat duduknya dengan kesal melemparkan mantelnya. Ia tidak dapat menemukan kotak obatnya di mana pun. Tidak lama kemudian supir itu datang dan membawa Nishio yang memegangi kepalanya dengan sengit. Sebelum mereka meninggalkan tempat itu Jae-Hwa memberitahukan lokasi toko obat terdekat agar mereka bisa membeli obat yang diperlukan oleh Nishio. Sesudah kedua orang itu pergi, Jae-Hwa melihat piring bekas makan yang digunakan tadi. Tidak heran penyakit Nishio kambuh sebab Jae-Hwa menyuruh koki untuk membuatkan makanan yang diolah dari keju tua, daging salami asin, dan kombucha untuk pria itu sebab kandungan garam tinggi dan alkohol mampu memicu migrain. Selain itu untuk makan siang, Nishio juga disuguhi olahan ikan tuna dengan sayur-sayuran serta kudapan sorenya olahan daging tiram. Jae-Hwa juga meletakkan sebuah lilin terapi yang mengandung lavender di ruangan – semuanya mengandung antidepresan alami – yang ampuh mengurangi kepekaan lidah Nishio yang sudah tua. Ditambah lagi Ia mengetahui bahwa Nishio adalah seorang perokok, maka Jae-Hwa menyadari sudah terjadi kerusakaan pada indra perasanya dan mengalami kesulitan makan sehingga Ia pun sengaja membangkitkan selera makan Nishio. Pria itu pun dengan lahapnya menyantap perangkap itu. Seni yang sudah Ia pelajari sejak bekerja untuk Chae-Song; dengan tambahan informasi baru Ia tinggal berimprovisasi. Di perjalanan, Nishio begitu kesakitan sampai-sampai melingkarkan tubuhnya di kursi penumpang sambil memegangi kepalanya. Sesekali jeritan tertahan terlontar dari mulutnya. Dengan panik supir itu mengikuti arahan yang tadi diberikan oleh Jae-Hwa hingga mereka menjumpai sebuah toko obat yang berada di pinggir jalan yang sepi. “Kita sudah sampai di toko obat, tuan. Apa nama obatnya?” tanya supir dengan tergesa-gesa. “Bilang saja obat migrain, aku tidak peduli apa yang penting sakit ini hilang!” Nishio berteriak dari kursinya. Supir itu pun keluar. Tidak lama kemudian Nishio mendengar suara pintu mobilnya dibuka, tiba-tiba mulutnya disumbat dengan sehelai kain dan tangannya ditarik paksa sementara ada orang lain yang menahan tubuhnya. Nishio merasakan sehelai jarum menembus nadinya, kesadarannya pun berangsur hilang. Supir kembali dengan sekotak obat, tetapi ketika baru saja duduk di kursi pengemudi Ia ditodong dari belakang. Si penodong menyuruh supir itu untuk pindah ke kursi sebelah, Ia pun kemudian menyuntikkan obat bius kepadanya. Mobil itu dibawa menjauh dari tempat tersebut hingga mereka sampai di tepi Sungai Uji yang sepi. Si penodong bersama seorang rekannya keluar dan mendudukkan supir itu di kursi pengemudi, lalu mereka menenggelamkan mobil bersama 2 penumpangnya itu ke dasar sungai. Seraya memandang ke tempat tenggelamnya mobil tadi, salah satu dari mereka kemudian memantik sebuah geretan untuk menyalakan rokok sehingga tampak bahwa itu adalah Kyung-Sun. Sekepulan asap berhamburan dari pucuk bibirnya. “Satu pekerjaan beres, tinggal selangkah lagi dan tiba waktumu untuk beraksi,” ucapnya sambil menepuk punggung rekannya, Beom-Seok. Pemuda itu masih melihat ke arah di mana mereka menenggelamkan mobil Nishio tadi. Ia pun berbalik dan bertanya, “Kenapa kita membunuhnya? Walaupun dia orang Jepang, kita tidak harus membunuh warga yang tidak bersalah.” “Bukannya kau ini mantan anggota partai anarkis?” pria itu balik bertanya dengan wajah heran. “Kami hanya mengincar para pejabat yang menekan bangsa kita.” “Kalau begitu biasakan dirimu, atau setiap ilmu yang diajarkan Kwang-Sun padamu akan sia-sia. Lagipula di dunia kita tidak ada benar-salah dan baik-buruk; yang ada hanya kesesuaian; maka sesuaikanlah dirimu sampai tujuan operasi ini tercapai. Ayo!” Kyung-Sun kembali menepuk punggung Beom-Seok sembari mengajaknya pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN