BAB 9: SANO KUNIMATSU YANG MALANG

1862 Kata
Kyoto, Sano Manor. 8 April 1931. Sebuah mobil Ford Model A dengan bodi berwarna hitam-merah mengkilap memasuki lintasan jalan sepi yang diapit oleh kawasan pepohonan cedar, semburat cahaya mentari meneroka dari sela-sela lambaian daun yang berbentuk jarum dan terpantul pada lapisan badan kendaraan mewah itu. Di ujung jalan, dari kejauhan tampak sedikit demi sedikit menyembul sebuah rumah mewah dengan arsitektur Jepang modern. Rumah itu dikelilingi oleh bentangan tembok batu yang bermuara pada sebuah gerbang. Gerbang tersebut ditudungi atap yosemune-zukuri yang bersisi empat dengan sepasang pintu kayu besar menjadi pembatas antara pekarangan rumah dengan jalan. Pintu itu terbuka perlahan setelah penjaga gerbang mendengar suara klakson yang menyalak di siang bolong. Dari mobil yang diparkirkan tepat di depan bangunan utama rumah itu, keluarlah seorang pria tua dan satu orang pemuda yang membawa sebuah bingkisan kain berwarna ungu kelam. Keduanya berjalan menyusuri koridor rumah dengan dituntun oleh seorang pelayan wanita, hingga sampai di sebuah ruang keluarga yang luas dan tersambung langsung dengan halaman terbuka. Seorang pria bertubuh gempal berdiri dan menyambut kedatangan kedua tamu itu. “Aku tidak menyangka Tuan Masaki akan repot-repot datang ke Kyoto untuk menemuiku, silakan! Silakan!” “Tidak ada salahnya jauh-jauh ke sini untuk menemui seorang rekan kerja, anggap saja sebuah kunjungan dari keluarga jauh,” Tuan Masaki tersenyum seraya mendudukkan dirinya di sebuah bantal zabuton, Kyung-Sun yang menyertainya pun duduk di sebelah pria tua itu. “Aku sudah membaca suratmu, Tuan Masaki. Jujur saja saat ini aku sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat Masa Depresi Showa yang besar-besaran, bahkan aku harus menghentikan sementara beberapa kegiatan di pertambangan dan pabrikku. Namun, karena kali ini kau sendiri yang merekomendasi dan mengantarnya maka aku tidak keberatan melihatnya dahulu,” ucap tuan rumah itu tanpa basa-basi, Ia menyandarkan diri pada penyangga zabuton-nya. Tuan Masaki mengisyaratkan pada Kyung-Sun agar membuka bingkisan itu dan menyodorkannya pada si tuan rumah, “Silakan kau perhatikan sendiri, Tuan Sano.” Bingkisan itu berisi sebuah kotak kayu kecil berukuran lebar, yang ketika dibuka ternyata terdapat setumpuk berkas. Tuan Sano mengambil berkas-berkas itu dan membacanya dengan saksama; semakin Ia membolak-balikkan halaman berkas itu, rona wajahnya semakin terkejut hingga Ia pun bersuara, “Surat-surat ini, bagaimana kau bisa mendapatkannya, Tuan Masaki?” “Ah! Seperti tidak tahu saja! Orang-orang seperti kita ini pasti memiliki relasi di mana-mana. Hanya saja, Tuan Sano, surat berharga dari bank yang di hadapanmu itu benar-benar sebuah kesempatan yang sangat terbatas. Oleh karena itu aku sampai repot-repot mengantarnya sendiri ke sini. Apakah kau perlu waktu lebih untuk memeriksanya?” “Tidak, aku yakin ini asli. Jika kau mempercayakan berkas-berkas ini padaku maka aku pun tidak keberatan menerimanya,” sahut Tuan Sano dengan wajah bersemangat. Ia berbalik lalu membuka satu kabinet kayu yang disembunyikan di balik selembar hiasan dinding, di dalam kabinet terdapat sebuah brankas besi kecil. Pria gempal itu mengeluarkan selembar cek yang kemudian Ia tulis menggunakan sebatang pena lalu menyodorkannya pada Kyung-Sun. Kyung-Sun menyerahkan cek tersebut pada Tuan Masaki, seketika senyumnya mengembang setelah membaca tulisan pada sehelai kertas itu. “Sebagai tanda terima yang sah, bagaimana kalau kita sekalian makan siang?” ucap tuan rumah dengan bersemangat sembari memanggil nama seorang pelayan wanita dan menyuruhnya untuk menyuguhkan hidangan siang. Beberapa lama kemudian ketika kedua pria tua itu sedang berbincang-bincang, para pelayan pun datang dan segera menghidangkan jamuan untuk ketiga orang itu. Namun sebelum menyantap makan siang tersebut, Tuan Masaki yang ditemani Kyung-Sun mohon izin untuk keluar sejenak. Mereka pun diam-diam keluar dari rumah itu. Selagi Tuan Masaki memantik pipa rokoknya, Kyung-Sun berjalan menuju gerbang depan dan memberi isyarat agar penjaga tadi membukakan pintu. Beberapa saat kemudian, begitu pintu terbuka maka masuklah dua buah mobil mewah lainnya yang segera diparkirkan tidak jauh dari mobil yang ditumpangi oleh Tuan Masaki tadi. Dari dalamnya keluar seorang pria berpakaian formal – itu adalah Chae-Song – disertai beberapa orang dengan pakaian seadanya sambil menenteng beberapa bawaan. Tuan Masaki memberi isyarat dengan gerakan kepalanya, lalu orang-orang itu pun memasuki bangunan utama menuju kamar di mana tuan rumah berada. Tuan Sano tentu luar biasa terkejut ketika tiba-tiba saja Chae-Song muncul dari balik pintu geser dan memasuki ruangan itu. Orang-orang yang menyertai sang pemimpin kelompok ‘Katalis’ itu pun menyerbu masuk dan meletakkan barang-barang bawaan mereka. “K... K... Kau... Apa yang kau lakukan di sini!?” serunya dengan susah payah setelah agak lama ternganga saking tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Chae-Song dengan tenang duduk di hadapan tuan rumah, “Tuan Sano, aku hanya ingin berkunjung dan berbincang sedikit. Silakan tenangkan dirimu dan duduklah dengan nyaman,”  lanjut pria itu sembari melayangkan tangannya dengan sopan. “Ak... Aku akan memanggil pen... penjaga!” seru si tuan rumah lagi seraya beranjak dari bantalan duduknya, namun gerakannya terhenti ketika mendengar suara kokangan senjata dari salah satu anak buah Chae-Song. “Tuan Sano, aku harap kau tetap tenang agar kita sama-sama nyaman dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Aku yakin hidangan ini merupakan menu favoritmu, maka silakan dinikmati!” Orang-orang tadi pun menutup pintu geser lebar yang tersambung ke halaman terbuka, sehingga ruangan menjadi temaram karena penerangan hanya berasal dari terpaan cahaya yang menembus pintu geser. Mereka lalu menyiapkan kamera dan berbagai perlengkapan fotografi, yang tentu saja membuat Tuan Sano semakin panik. “Tunggu! Tunggu! Kalian mau apa!?” Seruan parau itu tidak digubris, orang-orang itu tetap pada pekerjaannya. Dengan pasrah Tuan Sano – yang tidak berkutik di hadapan todongan laras senjata – membiarkan dirinya difoto bersama salah satu pemimpin pemberontak paling berpengaruh seantero Gyeongsang, dalam sebuah jamuan makan yang luar biasa pula. Setelah itu para anak buah Chae-Song menggantungkan sehelai bendera Joseon yang membentang menutupi dinding. Tuan Sano kemudian dipaksa berdiri sebelah-menyebelah bersama Chae-Song dan beberapa orang lainnya dengan bendera tersebut sebagai latar belakang. Seiring dengan kilatan cahaya dari kamera, air muka si tuan rumah semakin pucat dan nestapa di balik senyumannya yang dipaksakan, sebab Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh kelompok pemberontak ini atas kehidupannya. “Nah, Tuan Sano. Maafkan ketidaksopananku yang mengganggu makan siangmu. Sejujurnya aku ingin minta tolong sesuatu. Supaya sama-sama enak, apakah kau ingin memakan hidangan ini dahulu sebelum terlanjur dingin? Atau langsung saja?" tegur Chae-Song setelah mereka kembali ke tempat duduknya dan kondisi ruangan dikembalikan seperti semula. Sambil terus tertunduk tuan rumah menjawab, “Cepat katakan apa yang kau inginkan, aku tidak mau kalian lama-lama di sini. Bisa gila aku!” Chae-Song tertawa mendengar jawaban dari pria itu, Ia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyerahkan sebuah berkas pada Tuan Sano; berkas itu dirampasnya dengan sikap jengkel, lalu Ia mengenakan kacamata bacanya seraya menilik berkas tersebut. “Kami ingin kau menuliskan sebuah surat rekomendasi untuk Kolonel Kisaragi Takio berdasarkan dokumen yang kau pegang itu. Rekomendasi itu harus menyertakan stempel resmimu dan dikirimkan besok! Aku percaya kau bisa melakukannya dengan mudah dan tanpa melakukan kekeliruan.” “Aku tidak perlu kepercayaanmu, tapi jangan sertakan keluargaku,” sahutnya sambil terus membaca berkas itu. Sontak Ia pun terkejut, “I... Ini... Berita kematian Nishio Kenji yang sempat menghilang bahkan belum diterbitkan di surat kabar. Bagaimana kalian bisa tahu!? Berarti... kematian si tua Nishio Kenji... ulah kalian juga!? Apa rencana kalian atas Tuan Kisaragi!?” nada suaranya kembali gemetaran. Sang tamu bangkit dari tempat duduknya, “Kau tidak perlu tahu hal lainnya. Toh kendati pun sempat akrab dengan Kisaragi, sekarang kalian diam-diam bersaing bisnis ‘kan? Lakukan saja seperti yang kami inginkan, maka pemerintah Jepang tidak akan menerima foto-foto barusan. Lagipula sekarang kau sedang memegang surat berharga ilegal. Aku yakin kau tidak ingin bisnismu bermasalah karena hal-hal tersebut,” kemudian Ia dan orang-orangnya meninggalkan tempat itu. “Masaki si b*****h tua!” gerutu Tuan Sano yang saking marahnya membuat bibirnya terlipat-lipat. Rombongan mobil itu pun meninggalkan halaman Sano Manor dan berpisah di pertigaan jalan setelah keluar dari kawasan hutan cedar. Kyung-Sun diturunkan di bagian kota Kyoto yang ramai, dari sana Ia berjalan menuju kantor pos dan mengirimkan pesan telegram kepada seorang informan yang ditugaskan di Tokyo. Kemudian pria itu berkeliling mencari makanan – sebab tidak dipungkiri kalau hidangan di Sano Manor tadi sesungguhnya menggetarkan selera makannya. Beberapa jam kemudian barulah Ia kembali ke penginapan yang dikelola oleh Ho-Seok dan kelompoknya. Hari sudah sore ketika pria itu tiba di sana. Kedatangannya disambut oleh Si-Nae yang sedang duduk mengobrol dengan pelayan pria yang bertugas di meja bar. “Beres?” sapa wanita itu. Kyung-Sun duduk di kursi sebelah, “Sudah. Pesan juga sudah aku kirim ke Tokyo. Ada kabar dari Jae-Hwa?” Si-Nae menggelengkan kepalanya. “Mana Beom-Seok?” Wanita itu menunjuk ke arah ruang utama yang dipenuhi barisan meja dan kursi di hadapan sebidang panggung kecil. Di sana tampak sesosok pemuda yang sedang berkutat dengan perlengkapan pembersih. “Seperti biasa. Orang itu kalau enggak belajar ya beres-beres.” Kyung-Sun pun duduk dan memandang ke arah Beom-Seok, yang sedang melambai-lambai kepadanya. “Sejujurnya agak disayangkan kalau sebentar lagi kalian pergi dari sini, pekerjaanku jadi lebih ringan selama dia di sini,” sela si pelayan dari balik meja bar. Mendengar perkataan itu Si-Nae pun berdengus ringan, “Ya ampun! Sewa saja tenaga baru.” “Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?” tukas pria itu yang disertai dengan suara tawa dari mereka bertiga. Keriuhan itu menarik perhatian Beom-Seok yang baru selesai bersih-bersih sehingga Ia pun menghampiri mereka, untaian rambutnya yang terikat ke belakang terayun-ayun ringan mengikuti gerak tubuhnya. Ketika hari sudah gelap, beberapa tamu pun mulai berdatangan dan menandakan kalau ketiga orang tersebut harus membubarkan diri dari situ. Pukul 9 malam, Beom-Seok masih berkutat dengan buku yang dipinjamkan Jae-Hwa padanya. Meskipun awalnya Ia kurang tertarik dengan cerita yang disuguhkan dalam buku itu, lama-kelamaan batinnya mulai terpaut dengan para tokoh dan suasana dalam cerita itu hingga tanpa sadar Ia tidak bisa melewatkan satu hari saja tanpa mengikuti kelanjutan cerita tersebut. Dengan sengaja Ia membaca buku itu sedikit demi sedikit per bagiannya karena khawatir cepat-cepat cerita itu berakhir. Tiba-tiba saja suara ketukan di pintu kamar memecah konsentrasinya. “Aku dan Kyung-Sun akan turun. Mumpung pekerjaan kami baru saja selesai, jadinya mau santai dulu. Yuk!” ajak wanita itu dari celah pintu kamar yang terbuka selebar bahu. “Aku di sini saja,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. Dengan kesal Si-Nae menerobos masuk, direbutnya buku itu dan meletakkannya di atas kasur, lalu menarik lengan Beom-Seok, “Aku yang sahabatnya saja enggak pernah membaca buku itu. Santailah sedikit!” Suara dentaman mengiringi langkah buru-buru kedua orang itu ketika mereka menuruni anak tangga. Bertepatan dengan kedatangan mereka, para tamu sedang berdansa mengikuti irama musik yang mengalun memenuhi ruang dansa. Irama musik yang sama, yang tadi terdengar lirih dari dalam kamar Beom-Seok. Ternyata Ho-Seok dan Kyung-Sun sudah mendahului mereka, tampak sepasang insan itu berlenggak-lenggok di antara kerumunan orang-orang. Si-Nae pun menarik tangan pemuda itu ke tengah keramaian tersebut. “Aku tidak bisa berdansa,” seru Beom-Seok setengah berteriak. “Yang penting goyangkan saja badanmu sesuai irama musik, masa kau membiarkan seorang wanita dansa sendirian?” “Kau ingin... berdansa denganku?” tanya pemuda itu tersipu-sipu, sebab sebelumnya Ia tidak pernah berdansa dengan seorang wanita. “Memang ada masalah? Ikuti gerakanku!” Si-Nae menggenggam lembut ujung-ujung jemari tangan Beom-Seok, dengan gerakannya yang piawai Ia memainkan ayunan tubuh Beom-Seok yang seakan-akan kehilangan kendali atas tubuhnya. Seiring berjalannya waktu air muka Beom-Seok yang grogi mulai berubah menjadi ceria dan bersemangat. Tanpa harus dituntun oleh Si-Nae, kini Ia berajojing dengan sendirinya mengikuti lenggokkan tubuh wanita di hadapannya itu. Kesemarakan malam pun berlanjut hingga hampir lewat tengah malam. Kyung-Sun dan Ho-Seok memapah Si-Nae yang sudah teler akibat terlalu banyak minum dan membawanya kembali ke kamar. Sesudah selesai membereskan sisa-sisa pesta dengan dibantu oleh Beom-Seok, si pelayan pria menutup bar tersebut dan memadamkan penerangan di ruang dasar. Bangunan itu pun menjadi hening dan berbaur dengan kegelapan malam. Beom-Seok melepaskan ikat rambutnya lalu menjatuhkan diri pada permukaan kasur hingga membuatnya berderit, tetapi seketika Ia terlonjak karena rangka buku yang keras menghantam punggungnya. Buku itu Ia letakkan di atas lemari kecil di samping ranjang lalu Ia pun mulai mengatupkan kelopak matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN