Tokyo, 8 April 1931.
“Krrsssk... krrsssk... Selamat... krsk... ore...”
“Waduh! Radio tua ini berulah lagi.”
“Sini, coba aku betulkan,” sahut seorang pria lalu mengambil radio itu ke pangkuannya dan memukul-mukul punggung radio.
“Kembali... krsk.. ngan berita nasional Jepang. Menyusul Konflik Sino-Soviet dua tahun yang lalu, ketegangan antara militer Jepang dengan pasukan Soviet di kawasan jalur rel timur Cina semakin meningkat. Menyusul kekalahan pasukan Tiongkok yang dipimpin oleh Zhang Xueliang, pengambilalihan kawasan jalur rel timur Cina oleh pasukan Soviet memunculkan ancaman terhadap pemerintahan Jepang di kawasan Manchuria. Menanggapi situasi tersebut, di bawah pengawasan Jepang maka Chiang Kaishek dan Zhang Xueliang akan mengadakan konferensi dalam waktu dekat di kota Nanking.”
Sekelompok pria separuh baya dengan penampilan agak lusuh duduk mengerumuni radio itu, tampak air muka mereka serius mendengarkan berita pada siaran tersebut. Kemudian para pria itu pun mulai mengobrol antara sesama mereka. Di sisi lain kedai terbuka itu, seorang pria muda sedang duduk serta menikmati secangkir teh dan kudapan yang tersedia tanpa menggubris obrolan orang-orang tersebut. Ia pun bangkit dan merogoh saku jasnya kemudian menghampiri mereka.
“Hei, anak muda! Uangnya kelebihan!” seru si pemilik kedai.
“Ambil saja, pak. Terima kasih makanannya,” pria itu berlalu seraya melambaikan tangannya.
Dari situ Ia terus saja berjalan hingga keluar dari kompleks tersebut menuju kawasan jalan raya yang besar. Pria itu pun menyeberangi jalan hingga tiba di sebuah restoran yang cukup mewah. Dari balik jendela lebar yang terpampang di depan bangunan tersebut, Ia melirik seorang wanita yang sedang duduk sendirian. Dentingan lonceng menyambut kedatangan pria muda itu, sambil tersenyum Ia menghampiri wanita yang dilihatnya tadi.
“Nona Miura Kana?” sapanya.
Wanita itu pun mengangguk dengan senyum tertahan.
“Namaku Mizumachi Isaku,” pria itu membungkukkan tubuhnya, “Nona Miura Kana dari Perusahaan Tambang Sano?” tanyanya lagi memastikan.
Wanita itu pun bangkit dengan sikap terkejut, “Maafkan sikapku, Tuan Mizumachi. Silakan duduk!”
Mizumachi duduk berhadapan dengan wanita itu, seorang pelayan wanita berkemeja putih mendatangi kedua orang itu dan mencatat pesanan mereka. “Apakah anda sudah menunggu lama, Nona Miura?” sapa pria itu seraya merapikan penampilannya.
“Tidak, aku juga baru tiba sesaat sebelum anda datang,” Miura menggeleng lembut, “Jadi bagaimana pertimbangan anda mengenai tawaran yang diberikan oleh Tuan Sano?”
“Menurutku sangat menjanjikan, bahkan pihak universitas memberikan dukungan yang luar biasa," ujar Mizumachi dengan tegas.
“Aku turut senang jika Tuan Mizumachi bersedia bergabung dengan kami,” jawab Miura dengan senyumannya yang manis.
"Penemuan situs galian dan barang-barang peninggalan zaman Jōmon di sebuah kawasan tambang, bukankah itu sebuah kebetulan yang luar biasa? Tentu saja aku sangat senang jika bisa bekerja sama dengan Tuan Sano."
Wanita itu kembali menganggukkan kepalanya, "Begitulah, tuan."
“Kapan aku bisa mulai bekerja?”
“Paling cepat besok siang kita segera menuju Kyoto, di sana kita akan menemui Tuan Sano terlebih dahulu untuk membicarakan kesepakatan lebih lanjut.”
“Hmm... Baik, tidak masalah.”
Keduanya melanjutkan pertemuan itu dengan perbincangan ringan; mulai dari topik yang bersangkutan dengan segala hal yang terkait dengan bakal pekerjaan Mizumachi di situs galian di wilayah Niigata, hingga pembahasan-pembahasan kasual untuk sekadar menghidupkan suasana. Pertemuan mereka berlangsung selama kira-kira satu jam, setelah mencapai kesepakatan mengenai tawaran dan kontrak yang disampaikan oleh Miura, maka wanita itu pun undur diri. Mizumachi juga beranjak dari tempat duduknya dan membayar biaya makan malam itu kendati pun beberapa kali ditolak secara halus oleh kenalan bisnisnya tersebut
.
“Nona Miura, apakah anda ada kesibukan setelah ini?” tegur pria itu setelah membukakan pintu restoran.
“Aku harus menyiapkan beberapa berkas dan mengemas barang-barang untuk keberangkatan besok, selebihnya tidak ada sih,” Miura menjawab dengan jujur.
“Kalau aku tidak salah ingat kau baru saja datang dari Kyoto kemarin lusa, bagaimana kalau malam ini aku temani melihat-lihat kota Tokyo sambil menyegarkan pikiran? Apakah anda tertarik dengan barang-barang bernilai seni, Nona Miura?”
Untuk sejenak wanita itu termenung sembari matanya melirik ke atas, bibirnya yang tadi dimanyunkan pun membuka, “Sebenarnya aku suka dengan barang-barang antik dan lukisan tua.”
"Kalau begitu aku bisa menemanimu ke sebuah pameran seni, yang kebetulan sedang berlangsung di Museum Tokyo. Mari! Aku akan panggilkan taksi,” Mizumachi berjalan menuju pinggir jalan raya dan melambaikan tangannya sementara Miura menyusul di belakang. Sebuah mobil berwarna hitam pun menepi dan membawa kedua penumpang itu menuju tempat yang dimaksud.
Mizumachi dan Miura menghadiri pergelaran pameran seni di sebuah museum yang berdekatan dengan Stasiun Ueno di jantung kota Tokyo. Meskipun datang agak terlambat dan hanya memiliki sedikit waktu untuk menikmati pameran tersebut, mereka tetap memanfaatkan momen sebaik-baiknya untuk mengamati dan mengagumi berbagai kerajinan seni tradisional Jepang serta lukisan-lukisan barat hasil koleksi seorang pengusaha Jepang ternama. Miura yang memang menemukan minatnya pun tanpa menahan diri berjalan kian kemari menelusuri setiap bagian ruangan yang memamerkan barang-barang seni tersebut. Lagi pula Mizumachi sendiri dengan latar belakangnya yang berkaitan dengan bidang itu juga tetap bisa menikmatinya sebagaimana Miura menikmati pameran itu; di sisi lain, Mizumachi juga mulai tertarik dengan wanita yang baru Ia dikenal itu sehingga tidak keberatan menemaninya.
Jalan-jalan malam pun berakhir pukul 9 malam lewat saat pameran hari itu akhirnya ditutup. Tidak ada sedikit pun penyesalan atau kekecawaan yang terpancar dari wajah Miura, di sampingnya Mizumachi berjalan mengiringi seraya membenamkan diri dalam balutan mantelnya. Selagi dalam perjalanan itu pun mereka terus saja berbincang-bincang seakan tidak pernah kehabisan topik pembicaraan, karena ternyata semakin sering mereka berbicara maka semakin mereka menemukan kecocokan satu sama lain. Mizumachi akhirnya diam-diam yakin kalau wanita itu setidaknya juga tertarik dengannya.
Mereka sampai di depan bangunan hotel tempat Miura bermalam. Setelah mengantarkan Miura hingga ke depan pintu masuk, Mizumachi segera undur diri dan mengayunkan langkahnya menuruni anak tangga. Namun baru beberapa langkah saja, Ia dikejutkan oleh suara wanita yang terus menghiasi pendengarannya malam ini.
“Tuan Mizumachi,” tegurnya.
Mizumachi pun berbalik dan menatap dengan heran.
Miura membungkukkan tubuhnya, “Terima kasih banyak untuk malam ini.”
Pria itu tersenyum seraya ikut merendahkan badannya ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Apakah kau langsung pulang?”
“Aku harus mengejar kereta sebelum keberangkatan terakhir, ada apa Nona Miura?”
“Kalau kau tidak keberatan, bisa temani aku sedikit lebih lama lagi?”
Kali ini pandangan wajah Mizumachi semakin terlihat keheranan. Ia bimbang; sesungguhnya Ia sangat senang jika bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan wanita itu namun di saat bersamaan Ia harus bergegas agar sempat mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan besok. “Hm... Baiklah, sebentar lagi saja,” sahutnya dalam hati. Mizumachi berjalan menghampiri Miura yang segera berbalik dan memasuki lobi hotel. Wanita itu dengan tenang menuntunnya menuju kamar tempatnya menginap lalu mempersilakan sang tamu untuk masuk. Di sebuah kursi berlapis beludru, Mizumachi mendudukkan dirinya sembari bersandar. Tanpa Ia sadari sebelumnya, pergelangan kakinya mulai sakit akibat terus-terusan berdiri.
Miura menyuguhkan secawan sake yang sudah berada di dalam kamar itu kepada Mizumachi, yang menenggaknya habis tanpa basa-basi. Kemudian wanita itu pun duduk di kursi yang berhadapan dengan si tamu. Untuk kesekian kalinya mereka pun larut dalam cengkerama yang tiada ujung-pangkalnya. Tiba-tiba saja Miura mulai menceritakan berbagai tekanan dari lingkungan kerja dan keluarganya, terlebih lagi di usianya yang hampir mencapai 30 tahun. Untuk sesaat Mizumachi kembali terheran-heran sebab penampilan dan paras wanita itu jauh lebih muda dari umurnya – yang bahkan lebih tua tiga tahun dari Mizumachi. Meskipun minim pengalaman dalam masalah tersebut, berkat kegemarannya membaca buku maka Mizumachi pun dapat memberikan beberapa saran atau sekadar kata-kata hiburan yang mampu menenangkan wanita itu.
Tanpa terasa waktu mulai mendekati tengah malam ketika mereka masih sibuk mengobrol. Meskipun si tamu terus saja menyembunyikan rasa gelisahnya, Miura dapat dengan mudah mengenali gerak-gerik yang tersirat dari raut wajah Mizumachi.
“Kau tampak sangat khawatir, Tuan Mizumachi?”
“Maafkan aku, Nona Miura, tapi sebentar lagi tengah malam dan aku akan ketinggalan kereta,” Mizumachi akhirnya mengaku dan mulai menghimpun tasnya.
Namun sebelum pria itu bangkit dari tempat duduk, Miura sudah terlebih dahulu mendudukkan dirinya di pangkuan Mizumachi sehingga membuatnya terkejut bukan main. “Aku tidak mengerti kenapa masalah seperti itu saja membuatmu gelisah, Tuan Mizumachi,” bisik wanita itu sambil menatap mata pria tersebut.
“Apa yang kau lakukan Nona Miura? Aku harus bergegas, sekali lagi mohon ma-“
Perkataan itu terputus ketika Miura melekatkan tubuhnya pada Mizumachi, tangannya melingkar hingga bertemu di balik punggung pria itu. Untuk sesaat mereka terdiam, Mizumachi bahkan nyaris tidak berani bernapas. Akhirnya Ia pun memberanikan diri untuk membalas dekapan itu dan mereka kembali terserap dalam keheningan. Miura menarik tubuhnya, menatap wajah pria di hadapannya, lalu tanpa aba-aba Ia pun mendekatkan wajahnya hingga bantalan birai mulut mereka pun bertemu; Mizumachi yang sejak tadi berusaha menahan diri pun alhasil kehilangan kendali dan pasrah pada nalurinya. Wanita itu menarik leher Mizumachi hingga kepala mereka saling bersilangan.
“Aku tidak keberatan kalau kau menginap di sini malam ini, Tuan Mizumachi,” bisiknya lagi pada daun telinga si tamu.
Hari yang panjang itu pun sudah menyongsong kesudahannya, diiringi oleh gerakan jarum jam yang terus berputar dengan angkuh tanpa mengacuhkan sepasang insan itu. Seiring berjalannya waktu, maka keramaian pun berubah menjadi keheningan dan tudung kegelapan pun semakin membentangi langit-langit kota Tokyo; hingga yang tersisa tinggal suara detak jarum jam dan embusan angin musim semi yang menjadi saksi bisu di antara pertemuan sepasang pria dan wanita yang tengah dilanda berangta itu.
====================================================================================
Riuh rendah dari para calon penumpang yang berdatangan mulai merasuki kesenyapan peron stasiun. Mizumachi menarik lengan jasnya, sorot matanya melekat pada jarum arloji di tangan, bertepatan dengan itu terdengar suara lokomotif kereta yang menyongsong dari kejauhan. Ia pun bangkit dan membawa koper serta tas ranselnya, seraya mengajak bergegas Miura yang sejak tadi mendampinginya. Di antara penumpang yang berhamburan keluar mereka berdesak-desakan menerobos hingga berhasil masuk ke gerbong kereta. Di sebuah tempat duduk yang menurutnya sesuai, sang pria muda mempersilakan Miura untuk menempati tempat duduk itu terlebih dahulu, lalu Ia pun membenamkan bokongnya sendiri di bangku tersebut seraya membuka lembaran surat kabar yang tadi Ia beli di stasiun.
“Kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa seorang kurator senior di Kyoto? Aduh, seram sekali! Kenapa bisa-bisanya bertepatan dengan kedatanganku ke Kyoto?” gumamnya.
Miura memilih untuk tidak menanggapi perkataan itu dan tetap sibuk dengan barang-barang bawaannya. Kereta pun berangkat meninggalkan stasiun menuju kota Kyoto.
Suara dengungan rendah yang nyaring dari terompet uap, disusul oleh desisan dari lokomotif yang mengepalai barisan kamar besi membuat Mizumachi tersentak dari tidur. Ia menegakkan tubuh yang tadi bersandar pada dinding gerbong, dikenakannya topi kain dengan pinggir lebar melengkung, lalu mengemas barang bawaannya. Sontak pria itu melihat ke sebelahnya dan tampak Miura yang sedang menahan senyuman ketika melihat tingkahnya itu, wanita itu memberi isyarat dengan jemarinya yang halus agar pria itu merapikan kerah bajunya. Begitu gerbong berhenti dengan mantap mereka pun turun dan melalui portal pemeriksaan tanpa masalah. Seorang pria kurus berhidung mancung menyambut kedatangan mereka. Ia memperkenalkan diri sebagai Yakushi, lalu menuntun tamu tersebut menuju mobil yang diparkirkan tidak jauh dari situ.
Berbeda dengan Miura yang hangat dan mudah diajak mengobrol, pembawaan Yakushi sangat dingin dan Ia sangat jarang berbicara meskipun Mizumachi berkali-kali berusaha menghidupkan suasana. Akhirnya Ia pun menyerah dan memilih untuk ikut diam. Si supir membawa mereka menuju tepian kota nan sepi yang dikelilingi oleh hutan pohon pinus, di bagian jalan yang bercabang mobil itu berbelok menuju kawasan yang diapit oleh pepohonan cedar.
“Kalau dari kabar yang kudengar dari rekan-rekan di Tokyo, Tuan Sano sungguh menyukai pohon cedar sehingga membeli lahan dan membangun rumah di hutan cedar. Orang kaya memang ada-ada saja seleranya,” pikir Mizumachi.
Tidak jauh dari situ tampak beberapa bangunan sederhana yang mengepung kedua sisi jalan, tiba-tiba mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti tepat di antara bangunan tersebut. Hal itu membuat pikiran Mizumachi bertanya-tanya namun Ia tidak menggubrisnya.
“Maafkan aku karena terlambat memberitahukan, Tuan Mizumachi. Kita harus menjemput seorang tamu terlebih dahulu, mohon tunggu sebentar,” ujar Miura sembari membuka pintu mobil lalu berjalan menuju bangunan yang berada di kanan jalan.
Mizumachi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, pandangannya pun terpaku pada ayunan tubuh Miura. Wanita itu lalu menghilang di balik sepasang pintu geser kayu. Tidak lama kemudian tamu itu dikagetkan oleh suara ketukan pada kaca mobil di sebelah kiri, seorang pria dengan penampilan sederhana memintanya untuk membuka pintu mobil. Bingung dengan keadaan itu, Mizumachi melihat ke arah Yakushi yang ternyata juga sedang melihat balik padanya, tanpa bersuara si supir menyuruhnya untuk membuka pintu tersebut.
“Maaf mengagetkanmu. Apakah benar anda Tuan Mizumachi Isaku dari Tokyo?” tanya pria itu seraya melepaskan topinya dengan sopan saat si tamu keluar dari mobil.
Mizumachi yang masih keheranan pun hanya mengangguk dengan gerakan yang terbata-bata.
“Bisa aku memeriksa tanda pengenal dan kelengkapan berkasmu? Sebentar lagi kalian tiba di Sano Manor sehingga pemeriksaan seperti ini sangat wajar.”
Sembari tetap membisu Mizumachi mengeluarkan dokumen-dokumen yang sudah Ia siapkan untuk diserahkan pada Tuan Sano disertai tanda pengenal lengkap dengan cap dari pemerintah Jepang. Pria itu mengenakan kacamatanya dan memeriksa berkas-berkas itu dengan saksama, sementara itu Mizumachi melayangkan pandangan ke sekeliling rimbunan pepohonan yang seakan-akan melingkupi hingga ke atas kepala mereka. Sambil masih menggenggam berkas tadi si pria kembali tersenyum lalu meminta tamu itu untuk mengikutinya menuju bangunan yang tadi dimasuki oleh Miura. Mulai dari situ Mizumachi merasa kalau tubuhnya mulai diterpa oleh firasat-firasat yang memaksanya untuk segera melarikan diri, namun disangkalnya perasaan itu seraya berusaha menjernihkan pikiran.
Miura membukakan pintu geser saat kedua orang itu tiba di bangunan tersebut; kali ini tatapan wanita itu terlihat begitu dingin dan bibirnya terkatup rapat. Melihat tatapan itu sontak membuat langkah Mizumachi terhenti sehingga tubuhnya bertubrukan dengan pria yang mengikuti dari belakang. Sang tamu menjatuhkan kopernya, sehingga Ia pun berbalik untuk merapikannya. Dengan sopan pria tadi memungut koper tersebut yang disusul oleh permintaan maaf dari Mizumachi seraya membungkukkan tubuhnya.
“Maafkan aku, Mizumachi.”
Sekilas Mizumachi mendengar bisikan wanita yang sangat akrab di telinganya. Tetapi tanpa sempat berpikir lebih lama, seketika kepalanya dibekap dengan sebuah kantong yang terbuat dari kain goni dan pada ujungnya yang melingkari leher pria itu diikatkan seutas tali tipis yang ditarik hingga terikat kencang. Pria itu berontak dengan sekuat tenaga, namun sepasang tangan dengan kokoh menahan pergelangan tangannya. Di tengah kepanikan itu Mizumachi kehilangan keseimbangannya dan terjatuh, tetapi belitan tali itu justru semakin kencang seakan-akan Ia bisa merasakan tali itu menyentuh tulang lehernya. Gerakan tubuhnya yang liar membuat kegaduhan yang terdengar hingga ke pinggir jalan. Yakushi yang sedang menikmati segulung tembakau hanya memandang dengan masa bodoh. Pria itu menghembuskan asap dari sela-sela bibirnya seraya bersandar pada kap mobil. Alhasil kegaduhan itu pun lenyap tanpa jejak sebagaimana kedatangannya tadi, pada akhirnya hanya menyisakan suara gemerisik daun cedar yang melambai-lambai. Yakushi pun kembali menyalakan mobil sembari mengamati bangunan tersebut; tiga yang masuk, dua yang keluar.
==================================================================================
Di saat bersamaan. Pusat kota Kyoto, 9 April 1931.
“Selamat datang, tuan. Silakan duduk,” sapa seorang tukang cukur, senyumannya yang lebar memperlihatkan beberapa giginya yang sudah tanggal.
“Ah, terima kasih, pak!”
“Mau dipotong seperti apa?” tanya tukang cukur itu sambil melingkarkan kain pada leher si pelanggan dengan gerakan yang lembut.
“Tolong dirapikan saja agar mudah disisir. Sebentar lagi aku harus bekerja di sebuah kantor pemerintah, jadi harus tampak rapi dan meyakinkan.”
“Tidak masalah! Aku sudah biasa melayani para pegawai dan pejabat lokal, dan aku yakin kalau salah satu dari mereka merekomendasikan tempat ini padamu, tuan.”
“Kau bisa saja, pak. Hahaha,” sahut pelanggan tersebut.
“Mohon jangan tersinggung, tuan. Rambutmu panjang sekali!" ucapnya seraya melepaskan ikatan rambut si pelanggan, “Apakah kau berasal dari luar kota? Orang-orang di sini tidak pernah lagi punya gaya rambut seperti ini, mengingatkanku dengan tokoh Miyamoto Musashi!”
“Maklum saja pak, aku orangnya agak eksentrik! Seorang kenalan merekomendasikanku dan akhirnya diterima bekerja di kota ini.”
Dengan kepiawaiannya si tukang cukur memangkas dan menata rambut pelanggannya itu sambil terus melontarkan berbagai topik pembicaraan dari mulutnya. Sedikit demi sedikit penampilan si pelanggan pun berubah; potongan rambutnya yang baru menampilkan kontur wajahnya yang berbentuk segi lima tegas dengan dagunya yang lebar. Begitu selesai, pelanggan itu pun membayar upah cukur dan berjalan keluar.
“Tuan, kalau boleh tahu siapa namamu? Sebuah kehormatan tersendiri untuk bisa mengingat seorang pelanggan yang tidak biasa,” tegur si tukang cukur sebelum pelanggan itu menutup pintu.
Sembari tersenyum, pemuda itu menjawab, “Namaku Mizumachi Isaku. Panggil saja Isaku.”