BAB 11: DI KISARAGI MANOR

1898 Kata
Kyoto, Kisaragi Manor. 10 April 1931. Plung! Percikan itu menjulang dan membentuk sebuah tombak air kecil, ujungnya memecah lalu menghamburkan titik-titik air yang menghujani permukaan kolam yang mengalasinya. Sebutir kerikil kasar perlahan menyongsong dasar kolam yang dipenuhi oleh lumut sementara ikan-ikan kecil dengan sisik warna-warni berenang menjauh karena terusik kehadiran benda asing itu. Seorang wanita muda duduk membisu, tubuhnya membungkuk ke depan seraya telapak tangannya bertumpu pada dagunya yang kecil, kedua ainnya terpaku pada tarian gelombang kecil yang meliuk-liuk di sekeliling kolam. Sekonyong-konyong wanita itu mengayunkan lengan kanannya ke depan. Plung! Secercah senyuman tersungging di bibirnya saat menyaksikan kepanikan yang melanda ikan-ikan yang menghuni kolam tersebut. Namun di saat bersamaan Ia pun jenuh dengan permainan kecilnya itu dan menyandarkan punggung pada bangku taman. Dari kejauhan, seorang gadis berjalan sembari menggendong sebidang kanvas dan tiang penyangga. “Aku bosan sekali, Kurumi. Kayaknya aku enggak jadi melukis pagi ini; taruh saja peralatan itu di sana,” Wanita itu pun bangkit dan berjalan ke arah yang berlawanan, sementara itu si pelayan meletakkan peralatan lukis tersebut di tempat yang dimaksudkan tadi lalu segera menyusul. Punca gaun berlengan pendek mengayun-ayun mengiringi gerakan tungkai si wanita yang melangkah mantap menuju sebuah bangunan rumah mewah bernuansa campuran Jepang dan eropa, namun langkahnya mendadak terputus ketika dilihatnya seorang pria keluar dari rumah tersebut. Dari sela-sela belukar bunga peoni Ia mengintip sosok itu, yang tengah berjalan menuju sebuah mobil di pekarangan. Terlihat seorang pria berseragam lainnya mengiringi dan membukakan pintu mobil, lalu kendaraan itu pun melaju serta menghilang di balik gerbang pagar besi. Tanpa berucap apa-apa, kedua wanita itu melanjutkan perjalanannya; suara gemeretak dari jalanan kerikil yang berantukkan mengiringi kebisuan mereka. Dengan terburu-buru seorang gadis lain menghampiri kedua orang itu. “Nyonya Fumiko,” ucapnya seraya memberi hormat, “surat balasannya sudah sampai.” Wanita yang dimaksud mengambil sepucuk surat yang disodorkan padanya. Dibukanya amplop kecil itu, kedua matanya bergerak menyapu barisan tulisan yang tertera pada sehelai kertas tersebut. “Terima kasih,” sahut Fumiko setelah menyimpan surat itu, “Kurumi, kau boleh ke dapur untuk membantu pelayan di sana. Kau, bantu aku menyiapkan barang-barang,” lanjutnya seraya menunjuk pelayan yang baru datang. Pelayan bernama Kurumi itu pun meninggalkan keduanya melintasi pekarangan ke arah sayap bangunan. Fumiko memasuki bangunan utama bersama pelayan tadi. Tanpa melambatkan langkahnya wanita itu berjalan menuju barisan anak tangga, hingga mereka tiba di sebuah kamar tidur mewah dengan berbagai perabot mahal yang memikat. Dengan dibantu oleh si pelayan wanita, Fumiko memilah-milah dan mengeluarkan beberapa setel pakaian dan gaun dari lemari-lemari kayu yang berjejer. Sesekali pelayan wanita itu menaiki sebuah kursi kayu untuk mengambil kotak kayu besar yang diletakkan di atas lemari, di dalamnya tersimpan beberapa topi kain dengan beragam ukuran dan bentuk yang indah-indah. “Hmm... Terlalu mencolok,” gumamnya sembari mengitari pelayan yang sedang berdiri di tengah ruangan, sehelai topi lebar bertengger di kepala pelayan itu. Topi tersebut Ia gantikan dengan topi yang satu, terus begitu selama berulang kali hingga Ia menemukan yang sesuai dengan seleranya. “Nyonya memangnya mau pergi berapa hari?” tanya si pelayan. “Mungkin 3-4 hari, tergantung suasananya saja nanti,” wanita itu menjawab seraya mengalungkan sehelai syal berbahan chiffon yang lembut. Pelayan itu tersenyum menggoda, “Kalau dari foto yang nyonya perlihatkan, menurutku wajahnya lumayan. Nyonya juga ber-“ “Jangan gerak-gerak dulu!” seru Fumiko sehingga membuat pelayan itu terdiam dan membenarkan posisi berdirinya. Sambil sesekali menyeka keringatnya, Fumiko memasang sebuah perhiasan berbentuk bunga shakunage yang tadi Ia keluarkan dari sebuah kotak kecil. “Nah, sudah selesai. Kau mau bilang apa tadi?” tanyanya kemudian. “Nyonya juga langsung terpincut saat dulu pertama kali bertemu, ‘kan?” pelayan itu kembali tersenyum. “Biasa ‘aja sih. Kalau cuma tampan, di mana-mana banyak. Makanya aku bilang tergantung suasana saja nanti.” “Bagaimana dengan Tuan Takio?” “Ah, enggak usah diambil pusing!” tukasnya sambil mengemas barang-barang yang sudah mereka pilah sejak tadi. Dengan setia pelayan itu mengembalikan berbagai helai pakaian dan kotak-kotak perhiasan yang berserakan di seluruh bagian ruangan, sementara itu nyonya rumah membaringkan tubuhnya di ranjang nan membal. “Jae-Hwa.” “Iya, nyonya?” “Temani aku keluar nanti, ya. Ada yang harus aku cari, selain itu aku harus bertemu dengan seseorang.” “Baik, nyonya.” Sambil masih berbaring, Fumiko melirik ke arah sebuah lemari kecil hingga mendongakkan kepalanya. Badannya merangkak menghampiri lemari tersebut dan membuka salah satu laci geser yang letaknya paling atas, masih dalam posisi tubuh telentang tangannya menggerayangi setiap sudut laci itu. Dari situ Fumiko mengambil sebuah kotak kayu kecil berbentuk capung lalu menggeser tutupnya seraya mengguncang-guncangkannya; dari dalam kotak itu keluar sebutir permen berwarna cerah yang segera mendarat pada permukaan lidah Fumiko, bantalan bibirnya berlenggak-lenggok saat Ia mengemut bongkahan manis tersebut. “Kapan kita keluar, nyonya?” tanya Jae-Hwa melepas keheningan. “Satu jam lagi.” “Baiklah, nyonya.” “Ngomong-ngomong, kau sudah dengar tentang kabar kematian Nishio Kenji?” kali ini Fumiko yang bertanya meskipun matanya tetap memandang langit-langit. “S... Sudah, nyonya. Beritanya diterbitkan di berbagai surat kabar,” sahutnya sambil mendudukkan diri di sebuah kursi, “Padahal Tuan Nishio orang yang baik. Aku tidak menyangka nasibnya akan naas seperti itu.” Fumiko melirik ke arah Jae-Hwa, “Pikirmu dia orang yang baik? Kenapa?” Jae-Hwa menilik ke atas seraya bertafakur, “Setidaknya, seingatku beliau tidak pernah memarahiku walaupun sikapnya sangat dingin,” jawabnya disusul dengan senyuman lebar yang memperlihatkan deretan giginya. Jawaban itu mampu membuat Fumiko tersenyum sinis disertai dengusan napas yang terdengar meremehkan, “Kau serius dengan jawab itu?” Dengan tatapan polos Jae-Hwa menganggukkan kepalanya. “Hei, Jae-Hwa. Menurutmu Nishio itu benar-benar kecelakaan?” “Maksudmu, nyonya?” “Tidak. Hanya saja aku ragu kalau kejadian itu murni kecelakaan – Yah... Meskipun aku tidak punya bukti, selain itu bukan kepentinganku mencari tahu hal tersebut – menurutku bisa saja dia dibunuh,” Fumiko menaikkan kedua bahunya. Jae-Hwa terbelalak, “Kenapa nyonya berpikir seperti itu?” “Kau baru sebulan di sini tapi sudah menilai dia orang baik. Di antara orang-orang yang berada di jajaran atas tidak berlaku adanya baik-buruk; untuk bisa berbuat baik seseorang harus berbuat jahat dulu, untuk berbuat jahat seseorang harus berbuat baik dulu, sebab hanya yang sanggup menjadi abu-abu yang bisa bertahan. Kau mengerti?” “Maafkan aku, nyonya.” “Ada kemungkinan Nishio dibunuh oleh pesaing-pesaing bisnisnya, tetapi lebih besar peluangnya oleh oknum yang pernah Ia tipu. Dengan kedudukan dan kemampuannya, dia sudah beberapa kali bekerja sama dengan pihak tertentu untuk memalsukan proyek penggalian situs sejarah, menjual barang-barang palsu, atau menyelundupkan benda antik dari beberapa museum. Hanya saja kasus-kasusnya tidak pernah timbul ke permukaan sebab Ia juga menjalin kerja sama dengan lembaga amal dan menjadi salah satu penyumbang terbesar, oleh karena itu sisi baik dan jahat saling bergantung satu sama lain.” Penjelasan itu membuat perasaan Jae-Hwa lebih tenang, sebab di kediaman itu hanya Ia yang tahu kebenaran atas kematian Nishio Kenji; akan menjadi sebuah pekerjaan ekstra baginya jika sampai ada orang selain komplotannya yang mengetahui tentang pembunuhan itu. Sambil masih pura-pura tidak tahu, gadis itu membenarkan perkataan Fumiko. “Aku dengar Tuan Takio mendatangkan seorang kurator baru untuk menggantikan Tuan Nishio.” “Oh, ya? 'Kok aku baru tahu, ya?” Fumiko melirik sambil menaikkan alisnya, “Yah... Walaupun bukan urusanku juga,” sambungnya lagi dengan nada bicara menurun. “Soalnya aku dengar ketika menyuguhkan minuman untuk Tuan Sano kemarin. Ternyata setelah mengetahui kalau Tuan Nishio ditemukan meninggal akibat kecelakaan, Tuan Sano berinisiatif untuk merekomendasikan salah seorang ahli arkeologi dari Tokyo yang Ia rekrut sendiri.” “Sano Kunimatsu? Kalau enggak salah dulu mereka pernah akrab, tetapi karena suatu masalah Takio menjauhinya. Apakah Ia ingin mendapatkan kepercayaan dari Takio lagi?” gumam Fumiko dari pembaringannya sembari menggosok-gosok dagunya. “Memang Tuan Sano itu siapa?” “Seorang pengusaha tambang, teman masa mudanya Takio – setidaknya itu yang aku ketahui dari suami yang kurang ajar itu. Kegiatan ekspansi Jepang sangat menguntungkan perusahaannya sehingga belakangan ini namanya semakin naik, mungkin dia ingin memperkuat kerja sama melalui Takio. Eh, kita malah keasyikkan bicara. Ayo! Aku ada janji!” seru Fumiko dengan kaki membungkas, wanita itu terbit dari ranjang dan bergegas mengambil pakaian. Jae-Hwa pun membantu nyonya itu untuk mengenakan pakaian serta beberapa perhiasan sederhana di tubuhnya, sementara itu Fumiko yang diam di tempat terus memperhatikan gerak-gerik pelayannya tersebut. Begitu selesai, Fumiko mengambil sebuah topi kain dengan berhiaskan pita miliknya lalu memasangkannya pada kepala Jae-Hwa. “Kau suka ini? Nih, aku pinjamkan untuk hari ini,” ucap wanita itu lalu berjalan keluar dari kamar. Setelah berkali-kali mengucapkan terima kasih, sejenak gadis itu berpose di depan cermin sambil memperhatikan topi yang bertengger di kepalanya. Senyumnya merekah hingga menggembungkan buah pipinya, kemudian Ia pun bergegas menyusul Fumiko ke bawah.   ===================================================================================== Dua hari kemudian. Pusat kota Kyoto, 12 April 1931. Sambil menikmati sarapan paginya yang sederhana di sebuah kafe kecil, Beom-Seok membaca sepucuk surat yang Ia terima sehari sebelumnya. Surat itu dikirimkan langsung oleh Chae-Song yang berisikan beberapa petunjuk dan instruksi tambahan yang harus Ia laksanakan selama menyusup ke Kisaragi Manor – kediaman Kolonel Takio. Hari ini adalah hari yang sudah mereka nanti-nantikan, sebab operasi pencarian dan pembunuhan Choi Jung-Jae secara resmi dimulai ketika Beom-Seok memasuki kediaman kolonel tersebut. Seperti yang sudah mereka rencanakan, Beom-Seok disusupkan sebagai seorang ahli arkeologi dari Tokyo bernama Mizumachi Isaku – orang aslinya sudah dilenyapkan oleh para agen yang ditugaskan di Kyoto – dan bekerja kepada Kisaragi Takio sebagai kurator pengganti Nishio Kenji yang juga sudah mereka bunuh. Beom-Seok kembali memeriksa berkas-berkas milik Mizumachi Isaku untuk memastikan tidak ada jejak yang tertinggal; foto pada paspor dan tanda pengenalnya sudah dipalsukan dengan foto Beom-Seok, dokumen-dokumen kerjanya sudah dipelajari beberapa hari sebelumnya, dan barang-barang sisa yang tidak penting sudah mereka musnahkan. Beom-Seok menatap arlojinya sejenak lalu membereskan barang-barang bawaannya. Ketika hendak membuka pintu kafe tersebut, Ia berpapasan dengan seorang wanita yang hendak masuk. Dari balik kaca pintu tampak wanita itu tersentak, begitu juga dengan Beom-Seok. Namun pemuda itu segera menarik gagang kayu yang terpasang mati pada pintu tersebut dan mempersilakan si wanita untuk masuk. “Maaf sudah mengagetkanmu, nona.” “Tidak masalah. Maaf sudah merepotkanmu, tuan,” sahut wanita itu sembari melangkah masuk. Tangannya membopong sebuah koper yang tidak terlalu besar, di dadanya tergantung sebuah hiasan bunga shakunage. “Sejam lagi kereta berangkat, mungkin dia ingin bepergian,” pikir Beom-Seok iseng seraya memperhatikan wanita itu sekilas. Ia pun menutup pintu dan berjalan melintasi keramaian kota Kyoto di pagi hari. Sesudah berjalan agak jauh, pemuda itu sampai di kawasan bangunan yang luar biasa luas. Dari kejauhan tampak sebuah gedung yang megah dengan arsitektur baroque ala Prancis berwarna bata cerah, Museum Kekaisaran di Kyoto. Beom-Seok berdiri di dekat jejeran pagar tembok yang tinggi dengan gaya bangunan selaras dengan gedung museum tersebut. Tidak lama kemudian yang ditunggu-tunggu pun datang, sebuah mobil berhenti tepat di pinggir jalan yang berhadapan dengan bangunan itu, dari situ seorang pria keluar dan berjalan menghampiri Beom-Seok. “Tuan Mizumachi Isaku?” sapanya. “Benar, tuan.” ”Namaku Asanuma Gorō, Tuan Kisaragi Takio memintaku untuk menjemput anda. Semuanya sudah siap?” “Semuanya siap, Tuan Asanuma.” Asanuma mempersilakan Beom-Seok untuk berjalan mengiringinya menuju mobil jemputan. Kontras dari rupanya yang kasar dan tegas, ternyata Asanuma adalah seorang pria yang supel dan dapat dengan mudah membawa Beom-Seok ke dalam percakapan ringan di sepanjang perjalanan. Meskipun tidak menetap di Kisaragi Manor, Asanuma dipercayakan sebagai asisten pribadi untuk mengurus beberapa urusan ketika Takio sedang berhalangan – atau sekadar enggan berurusan. Akhirnya mereka tiba di Kisaragi Manor, mobil diparkirkan di pekarangan berhampar lautan rumput hijau yang dipangkas pendek. Asanuma mengantarkan Beom-Seok melintasi halaman menuju bangunan utama. Beom-Seok yang tegang menarik napas dalam-dalam sehingga membuat perasaan Asanuma tergelitik. “Hahaha, santai saja,” tegur pria itu. Tanpa berucap, Beom-Seok hanya tersenyum lalu merapikan kerah bajunya seraya melangkah memasuki koridor rumah yang beralaskan kain wol hangat dan lembut. Di sebuah ruang kerja yang tidak terlalu besar, seorang pria bertubuh gagah menyambut kedatangan mereka. Postur pria itu tidak tinggi, tetapi corak-corak uban pada rambut dan kumisnya serta tatapan tegas dari matanya yang sipit memancarkan karisma – yang hanya bisa didapatkan dari tempaan pengalaman yang berlimpah – sehingga membuat Beom-Seok merasa sedang berhadapan dengan seorang raksasa. Tanpa diberitahu pun Ia langsung sadar kalau itulah sang tuan rumah, Kolonel Kisaragi Takio, rekan dekat Choi Jung-Jae. Sekarang pemuda itu paham kenapa Ia terus merasa gelisah; menyusup ke dalam Kisaragi Manor memang bukan pekerjaan sederhana, tetapi naluri Beom-Seok seketika mengatakan bahwa pria di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN