BAB 12: SEORANG RAKSASA KECIL

1377 Kata
                                                                      *Catatan: mulai dari bab ini nama Beom-Seok digantikan oleh Isaku.   “Tuan Mizumachi, silakan,” Takio mengulurkan lengannya ke arah sebuah sofa. “Anda bisa memanggilku Isaku, Tuan Kisaragi.” “Baiklah, Isaku. Bagaimana perjalanan dari Tokyo? Ah, terima kasih banyak Asanuma. Kau boleh kembali ke pekerjaanmu.” Asanuma membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan ruangan tersebut. Kini Isaku hanya berdua dengan sang tuan rumah, sehingga membuatnya semakin bersusah payah mengendalikan rasa gelisahnya. “Sangat nyaman, tuan,” Isaku tersenyum seraya mengeluarkan dokumen-dokumen yang Ia bawa dan meletakkannya di meja yang memisahkan mereka, “Tuan Sano menyampaikan salam hangatnya." Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Takio mengambil dokumen yang disodorkan oleh Isaku. Ia membuka sebuah amplop pipih, namun dipinggirkannya begitu mengetahui kalau itu adalah surat rekomendasi – yang disiapkan oleh Isaku untuk sekadar formalitas. Dari balik kilatan kacamatanya tampak bola mata pria itu menilik setiap dokumen dengan saksama. “Sepertinya kau cukup mengesankan, Isaku,” tegurnya memutus keheningan begitu selesai berurusan dengan berkas-berkas tadi, raut wajahnya yang dingin tidak berubah kendati pun kata-katanya memuji. “Kau siap langsung bekerja hari ini? Aku bisa jelaskan pekerjaan pokokmu.” “Silakan, Tuan Kisaragi.” “Kalau begitu mari kita langsung menuju gedung perpustakaan, barang-barangmu ditinggal di sini saja. Rumahku ini seaman penjara dan senyaman istana.” Takio berjalan mendahului pemuda itu menuju ruang depan. Ketika sedang berjalan mengikuti tuan rumah dari belakang, saat melintasi ruang tengah Isaku tanpa sengaja melihat ke bagian rumah lain dan di sana Ia melihat Jae-Hwa. Gadis itu sedang sibuk membersihkan beberapa perabotan. Di saat yang bersamaan dari posisinya yang sedikit membungkuk, Ia melirik ke arah pandangan pemuda itu. Sejenak sorot mata mereka bertaut. Sudah lebih dari sebulan sejak kedua rekan kerja itu terakhir bertatap muka. Langkah kaki Isaku menyusul Takio yang terus berjalan di depan, mengikuti jalur patio yang mengarah pada sebuah gedung yang menjulang di antara pepohonan oak. Atap bergaya irimoya-zukuri khas Jepang dengan desain rangkap mencuat dari balik puncak-puncak pohon dan menudungi bangunan beton berbentuk persegi itu, bangunan tersebut tersambung dengan ruangan yang lebih kecil dan menjorok ke depan yang berfungsi sebagai atrium. Sepasang pintu ganda dari kayu menyambut kedatangan dua orang itu. Takio membuka pintu tersebut, “Sebelum bekerja di sini, perlu kau ingat kalau aku sangat menjaga kebersihan gedung perpustakaan ini. Pada ruang depan sudah disiapkan rak untuk menyimpan sepatu, selain itu benda apa pun yang beresiko menggores lantai sangat dilarang. Jadi aku sangat mengharapkan kehati-hatian dari siapa saja yang memasuki bangunan ini,” ucapnya sembari mempersilakan pemuda itu masuk. Atrium kecil itu tersambung dengan tiga ruangan terpisah, tetapi Takio segera melangkah menghampiri pintu yang berada di tengah; suara berderit dari pintu itu seakan-akan mengucapkan salam selamat datang pada si pemilik. Bangunan itu memang terlihat megah dari luar, namun Isaku kembali dibuat kagum oleh interiornya yang luar biasa. Ruangan yang Ia masuki itu dibagi menjadi dua bagian utama; saat baru saja masuk Ia disambut oleh pajangan-pajangan yang menampilkan berbagai barang antik, yang dikelompokkan secara khusus pada undak-undak yang agak mencuat dari lantai utama. Sementara itu bagian ruangan yang menjauhi pintu masuk dipenuhi oleh barisan lemari kayu berhiaskan deretan buku-buku tua dan langka. Di ujung ruangan terdapat tiga buah meja kayu yang diletakkan secara terpisah di bagian lantai yang menurun, sehingga jika diperhatikan ruangan tersebut dibagi menjadi tiga tingkat. “Pekerjaan pokokmu akan cukup sederhana, yaitu merawat koleksi-koleksi ini dan mencatat kondisinya pada pembukuan yang sudah aku siapkan. Kau sudah melihat koleksi pajangan di depan, ‘kan? Sepertinya tidak perlu aku jelaskan tentang prosedur perawatannya, sebab aku percaya kau adalah ahlinya. Ada yang perlu ditanyakan dulu?” “Sederhana bukan berarti mudah, ya? Tuan Kisaragi?” sahut Isaku dengan nada bergurau, Ia tersenyum sambil memandang pada tuan rumah. Tetapi sang tuan rumah memandang balik dengan tatapan dingin dan wajah yang datar; pandangan mereka bertemu dalam suasana yang benar-benar canggung dan pelan-pelan melunturkan senyuman di wajah Isaku. “Sepertinya tidak ada, ya,” ucap Takio seraya memalingkan wajahnya, “Namun beberapa pedagang barang antik sering menghubungiku dan menawarkan berbagai koleksi baru. Jujur saja, Isaku, sebagai kolektor aku lumayan tahu bagaimana membedakan barang palsu atau tidak. Meskipun begitu tidak sedikit juga penipu yang sangat pandai di luar sana, oleh karena itu setiap penawaran barang koleksi akan aku konsultasikan langsung denganmu.” Isaku menganggukkan kepalanya mantap. “Ada berapa jumlah buku koleksimu, tuan?” “Kira-kira 8.000 buku, tetapi buku-buku yang perlu kau berikan perhatian khusus ada pada rak yang di sebelah situ,” Takio menunjuk pada rak kayu yang berdiri dekat meja kerja, “Di situ koleksi literatur tua dari berbagai zaman buah karya penulis-penulis terdahulu – dan sepertinya aku juga tidak perlu menjelaskan prosedur perawatannya padamu. Semuanya yang tersimpan dalam perpustakaan ini adalah tanggung jawabmu, Isaku. Tetapi kau perlu memperhatikan prioritasnya.” “Aku mengerti, tuan.” “Sebelum Nishio Kenji ditemukan meninggal, aku berencana membeli beberapa literatur tua yang masih disimpan dalam laci meja itu. Meskipun sudah kami pastikan keasliannya, ada beberapa hal yang masih harus diperiksa secara terperinci. Naasnya Kenji meninggal sebelum pekerjaan itu selesai, oleh sebab itu tanggung jawab tersebut akan aku serahkan padamu.” “Baiklah, tuan. Aku tidak akan mengecewakanmu.” “Mengenai kenyamananmu selama di sini, aku sudah mengakomodasinya; kamarmu sudah disiapkan dan makananmu pun ditanggung. Hanya saja aku akan sangat tersinggung jika kau tanpa seizinku masuk ke dalam ruang keluarga – yang akan kau ketahui begitu memasuki rumah. Tolong jangan diambil hati; seperti yang kita ketahui kalau setiap orang memiliki ‘ruang’ privasi.” “Tidak masalah, Tuan Kisaragi. Aku paham benar. Nah, apakah aku bisa memulai pekerjaanku hari ini, tuan?” “Itulah yang ingin aku pastikan tadi; Sepertinya kau sudah siap, mari ikut aku kembali ke ruanganku. Seorang pelayan akan mengantarmu ke kamar. Silakan beristirahat dan buatlah dirimu nyaman selama berada di sini,” Takio kembali berjalan mendahului Isaku. “Tampaknya pria tua itu tidak ingin seorang pun berjalan di depannya,” gumam Isaku membatin. Tetapi ada satu hal lagi yang Ia sadari ketika bertatap muka dengan sang tuan rumah; kata-katanya yang dipaksakan sesopan mungkin justru memperkuat karakternya, ditambah dengan tatapan yang berdarah dingin seakan-akan memastikan supremasinya sebagai seorang penguasa yang tidak tergoyahkan di kerajaan kecilnya ini. Takio juga tidak menutup-nutupi kesombongannya, namun alih-alih membuatnya terlihat bobrok dan kampungan, dengan cakap pria itu menampilkan arogansinya sehingga tampak seperti sebuah benteng kokoh yang tidak tertembus. Tiba-tiba saja Isaku menyadari pergelangan jasnya mulai basah karena keringat; entah karena cuaca hari itu atau karena intimidasi yang tidak bisa ditangani oleh batinnya. “Sial!” bentak pemuda itu pada diri sendiri. ================================================================================== Blam! Barang bawaan memenuhi tangannya sehingga pemuda itu terpaksa menutup pintu dengan tumit kaki. Sekarang secara resmi menjadi penghuni Kisaragi Manor, Isaku menata barang-barangnya dan memenuhi meja kerja yang tersedia dengan dokumen-dokumen yang sejak tadi memberatkan lengannya. Dilepasnya sepasang kaca pipih yang terus bertengger pada punggung hidungnya, Ia membanting tubuh hingga pinggulnya beradu dengan bantalan kursi. Sejenak Isaku memandangi kacamata dan tumpukan berkas tersebut. Akalnya melanglang buana menyeret kesadaran pemuda itu pada lintasan berbagai peristiwa yang tidak bisa lepas dari ingatannya. Kacamata itu Ia bawa dari rumah sang nenek, di malam ketika berhasil melarikan diri dari Penjara Keijō; satu-satunya memento yang tersisa yang mengingatkannya pada kedua mendiang sahabatnya. Hyun-Woo ‘si profesor’, yang pertama kali membawanya masuk ke dalam dunia kelam para aktivis bawah tanah. Isaku tidak pernah menyesali hari di mana Ia bergabung dengan kelompok itu, rasa cinta terhadap bangsa ibunya – Joseon – terlalu kuat sehingga mampu membunuh penyesalan yang sempat menggerayangi nuraninya. Begitu juga Yun-Won tidak akan pernah Ia lupakan, sosok karismatik yang mampu menggantikan keberadaan sosok kakak dan ayah baginya yang yatim-piatu. Namun di antara semua orang yang paling layak menempati takhta hatinya, sang nenek adalah yang tidak tergantikan. Wanita itu tidak pernah menahan dirinya untuk mencintai Isaku dengan ketulusan hatinya; bukan dengan senyuman atau belaian kasih sayang belaka, sejak masa kecilnya hanya sang nenek yang berani membuka mata pemuda itu untuk tidak terbuai oleh ilusi kehidupan. Rasa panas menjalari ainnya, tanpa Ia sadari butiran kristal tirta dengan lancangnya mengaburkan penglihatan pemuda itu. Lengan nan kasar menyapu tabir air yang membanjiri kelopak matanya, beberapa tetes berhasil lolos dari sapuan itu dan membasahi lantai kayu. Isaku akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan bersiap melaksanakan tugas pertama di hari pertamanya. Pintu kembali ditutup, kali ini suara dentamannya lebih pelan dan teratur. Sesungguhnya Isaku bukanlah seorang pemuda yang dengan mudah terpancing sentimennya, alih-alih menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk sekadar memompa air matanya keluar. Hanya saja batinnya menjadi lebih lega jika air mata masih bisa membasahi netranya, sebab melalui itu Ia memastikan kalau masih ada sedikit kemanusiaan pada dirinya, yang tersisa di balik pekerjaannya yang lebih kelam daripada malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN