BAB 13: DILEMA DI OSAKA

2131 Kata
Osaka, 14 April 1931. Dentingan sepasang cangkir anggur yang saling bertemu disusul guncangan ombak kecil yang merajai cairan berwarna ungu gelap, hanyalah sedikit dari kesemarakan malam yang tengah melingkupi sebuah restoran mewah di pusat kota. Sepasang insan yang sedang diselubungi oleh rona asmara menenggak minuman itu tanpa melunturkan senyumannya. Walaupun nyaris tidak seorang pun menyadarinya, alunan piano nan lirih diam-diam juga melengkapi sukacita tamu-tamu di ruangan itu. Dari balik keramaian, sepasang mata memperhatikan gerak-gerik sang maestro malam di takhtanya, b******u mesra dengan piano berlapiskan kayu mahoni. Seakan-akan membalas ketidakacuhan yang Ia terima, pria itu pun tidak menahan dirinya untuk melenggak-lenggokkan tubuh, mengikuti tarian jemarinya pada bilah-bilah gading hitam-putih. Sebagaimana orang-orang “menutup mata” mereka, pria itu juga menutup matanya terhadap mereka. Hal sederhana yang senantiasa terluput dari penglihatan orang-orang, namun itu semua tidak lepas dari pengamatan seorang wanita yang sedang duduk seorang diri di antara keramaian. Hatinya tergelitik sehingga membuat senyumnya merekah. Wanita itu senang bermain-main dengan naluri dan khayalannya, oleh sebab itu hari-harinya sangat jarang terasa membosankan; tetapi sekali saja rasa bosan melandanya, bisa dipastikan kalau akalnya akan sangat tersiksa.  “Kenapa kau tersenyum begitu? Tidak sabar untuk besok?” kedatangan seorang pria membuyarkan pikiran wanita itu. Penampilannya menawan, wajahnya yang elok tampak begitu terawat, rambutnya tersisir rapi dengan berhiaskan kilatan dari minyak rambutnya yang beraroma lembut. Wanita itu memaksakan senyumnya, “Bisa dibilang begitu.” “Maaf kalau agak lama tadi, kamar mandinya penuh. Yah, sejujurnya aku enggan membuatmu menunggu sendirian.” “Tidak masalah kok. Kita nikmati saja malam ini berdua,” wanita itu pun menaikkan cangkir anggurnya. “Demi malam kita berdua.” Kedua cangkir itu pun bertemu, berdenting dalam sebuah kecupan yang menggantikan bibir mereka. Tatapan mata sang wanita tidak lagi terpaku pada pianis tadi, dibiarkannya pria itu tetap terbuai dalam penghayatan yang masa bodoh. Saat ini sang pria rupawan yang menjadi pusat perhatiannya. Setiap gerakan tidak lepas dari penglihatan wanita itu; lekuk jemarinya yang bergerak memainkan sendok perak, sepasang bibir kemerahan yang menghiasai bingkai mulutnya, bahkan gerakan bahunya yang turun-naik. Wanita itu menggerayangi sang pria dengan tatapannya. Sepasang pupil itu seolah-olah mampu menangkap berkas-berkas napas sang pria – yang mengalun keluar dari garis hidungnya yang tegas. Tatapan itu semakin tidak terkendali sehingga pria itu pun menyadarinya. Seketika rona merah timbul dari kedua pipi wanita itu karena berusaha menahan sengatan rasa malu. “Fumiko,” pria itu melepaskan sendoknya lalu menggenggam tangan sang wanita dengan lembut, “aku tidak akan pernah menyesali pertemuan ini.” Wanita itu tersenyum, meskipun bukan karena tersipu, “Apa yang membuatmu yakin begitu?” tanyanya dengan nada menggoda. “Semua yang aku inginkan dalam hidupku, ada padamu. Aku langsung menyadarinya saat pertama kali mata kita bertemu.” “Aku tidak tahu kalau ternyata dunia kerjamu juga mengajarkan cara menggoda seorang wanita.” Jawaban Fumiko mengundang tawa kecil dari pria itu. “Memang kau pikir usiamu berapa? Berlakulah seperti seorang pria dewasa, toh kata-kata seperti itu sudah tidak ada pengaruhnya denganku. Kuping ini sudah kebal dengan yang seperti itu,” jemari sang wanita mengetuk-ngetuk cuping telinganya dengan lembut. “Hahaha. Iya, aku paham, kok. Kau memang tidak berubah sejak dulu.” Fumiko menaikkan sebelah alisnya, “Dulu? Tidak perlu berlebihan, ah. Setahun saja belum.” “Tidak perlu waktu setahun ‘kan untuk lebih mengenalmu?” “Memangnya sudah seberapa jauh kau mengenalku?” tanya wanita itu seraya memilin seiris kecil brokoli ke dalam saus berwarna cokelat pekat. Pria itu mengelus jemarinya yang terus bertaut dengan jemari Fumiko, “Sejauh pertemuan kita sekarang. Ini sudah kali yang keenam, di kota yang keenam. Bukankah pertemuan ini mewakili keinginan hati kita masing-masing?” Kali ini Fumiko memilih untuk menjawab dengan disertai sebuah senyuman. “Sudahlah, Hisato, lama-lama makananmu nanti terlanjur dingin,” lanjutnya lagi. Ia pun membalas genggaman tangan itu dengan usapan halus dari punca jarinya. ================================================================================== Di sela-sela selimut kapas di awang-awang yang kelam, candra dalam pelayarannya yang semakin menjulang bak memandangi bumi yang bersimpuh pada tumpuan langit. Entah sudah berapa lama ain Fumiko terjalin dengan sang rembulan, semburat lembut itu pun menelanjangi pupil matanya dan memperlihatkan guratan-guratan halus yang menghiasi lensa berwarna cokelat cerah. Wanita itu menghela napas seraya menarik kedua lututnya hingga lekat pada d**a yang hanya berselimutkan udara. Matanya yang jenuh memandang langit kini menyapu keramaian kota Osaka dengan hingar-bingarnya. Pemandangan itu menggelitik akalnya; sekarang Ia mulai membandingkan rembulan yang angkuh dalam buaian takhtanya, dengan bentala yang tidak ingin kalah dengan kemegahannya. Sekali lagi wanita itu tersenyum lepas, persis seperti yang tersirat ketika merenungkan sang pianis dengan para tamu restoran tadi. Perlahan Fumiko menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela besar di hadapannya lalu mengetuk-ngetuknya dengan lembut. Tiba-tiba saja sang wanita dikagetkan oleh sebuah sentuhan erat yang menudunginya, sepasang lengan membalut badannya menggantikan ketiadaan yang membalut tubuh wanita itu. “Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, sayang?” seutas kalimat mengalun dari sosok yang melingkupi tubuh Fumiko. “Maaf kalau aku membangunkanmu.” Hisato menyelisik untaian rambut yang menaungi telinga Fumiko, “Aku sempat panik karena kau tiba-tiba menghilang dari sampingku,” ucapnya seraya mencium pipi wanita itu. “Aku belum bisa tidur.” “Kenapa?” “Entahlah, mungkin tanpa sadar aku benci jika pikiranku beristirahat.” Kali ini pria tersebut tidak menyahut perkataan Fumiko, Ia memilih untuk tenggelam dalam keheningan tanpa melepaskan dekapannya dari tubuh sang kekasih. Sengaja Ia bertingkah seperti itu karena – dari sedikit yang diketahuinya tentang Fumiko – wanita itu sangat senang ketika dirinya sengaja membagi kehangatan tubuh tanpa berkata apa-apa. Menurut Fumiko, itu menyuguhkan rasa nyaman yang unik. Fumiko menundukkan wajahnya sembari menempelkan birai bibirnya pada lengan Hisato, aroma lembut bernuansa manis vanilla seketika meliputi penciuman wanita itu. “Kembalilah tidur, sebentar lagi aku menyusul.” Perlahan Fumiko meregangkan pelukan Hisato. Fumiko tersenyum. Batin Fumiko sadar benar kalau Ia tidak mencintai pria di hadapannya itu – setidaknya untuk saat ini. Kendati demikian, laki-laki ini mampu menyuguhkan sedikit rasa kenyang bagi pailan yang sudah sejak lama merayapi kalbunya; perasaan yang tidak pernah Ia terima dari sang suami yang terlahir dari bongkahan es dan berhati laba-laba. Malam itu Fumiko membiarkan pikirannya terbuai, membius nalurinya sendiri dengan kehangatan yang ditawarkan oleh sang kekasih nan rupawan. ================================================================================== Plak! Plak! Fumiko menempelkan kedua telapak tangannya dan membisu selama beberapa saat. Kelopak matanya mengatup seiring dengan ditinggalkannya hirup-pikuk yang mengerumuni pendengarannya. Wanita itu lalu menarik napas perlahan. Selama beberapa saat Ia tenggelam dalam kebisuan. Lalu Ia membungkukkan tubuhnya sekali pada sebuah altar dan meninggalkan tempat itu dengan langkahnya yang lembut, menuruni anak tangga batu menuju halaman yang dipenuhi keramaian. Di kejauhan Hisato yang menyadari kehadiran kekasihnya itu pun berbalik, pandangan matanya lekat pada ayunan tubuh Fumiko dan lenggak-lenggok punca mantelnya yang menjuntai. Bibir wanita itu menampilkan seutas senyuman hingga tampuk mulutnya menyentuh pipi yang putih bersih, menampilkan setarik busur manis berwarna merah di wajahnya. “Mana omikuji dan omamori-mu?” Fumiko memiringkan kepalanya sedikit, “Aku tidak membelinya.” “Lho?” Hisato pun terheran-heran. “Tidak apa-apa. Aku bukan penganut yang taat, kok. Ayo!” ajaknya yang disertai sebuah gaetan pada lengan pria itu. “Terus kenapa kau sering meluangkan waktumu untuk berdoa di altar?” Kali ini Fumiko sedikit mendongakkan kepala seraya menarik bibirnya ke sisi wajah, “Hmm... Tidak ada alasan spesifik, sih! Ada beberapa hal yang kusukai hanya berdasarkan naluri.” Hisato mendengus pelan dan memalingkan wajah, “Seperti biasa.” “Apanya?” “Kau ini wanita yang dipenuhi berbagai misteri. Andai saja semua itu bisa dilucuti dan dikelompokkan dengan apik, lalu dicetak sedemikian rupa ke dalam sebuah wadah, aku pasti sudah bisa membuat sebuah museum yang khusus menampilkan sifat-sifat misteriusmu.” Perkataan itu membuat tawa Fumiko tergelitik. “Bukankah sudah tidak terhitung banyaknya kau melucutiku? Belum cukupkah?” goda wanita itu mengikuti ide jahil yang terlintas di kepalanya. “Hei, sejak kapan kau berani berkata seperti itu di tempat umum? Terlebih lagi di lingkungan kuil. Aku saja tidak berani!” “Sudah kubilang, ‘kan? Aku bukan orang yang taat, tidak ada sisi religius dalam diriku.” “Bagaimana kau bisa menyimpan begitu banyak hal untuk dirimu sendiri? Kau tidak pernah merasakan luapan emosi yang membuat kepalamu seakan-akan ingin meledak?” “Siapa bilang aku menyimpannya sendiri? Akalku pasti sudah lama rusak kalau harus menanggung semua itu sendirian.” Hisato tersentak, sesaat Ia merasakan sesuatu meremas dadanya. Tidak ingin membiarkan prasangka menguasai pikirannya, tanpa ragu Ia pun bertanya, “Dengan siapa kau menceritakannya?” “Tidak dengan siapa-siapa,” jawab wanita itu singkat. Fumiko menyadari perubahan nada bicara dan gerakan tubuh kekasihnya itu, dan Ia tahu kalau itu semua akibat dari jawabannya tadi. Jauh di dalam batinnya timbul sedikit kepuasan ketika mengetahui guncangan perasaan yang menerpa sang kekasih. “Aku benar-benar tidak paham.” “Semuanya aku bagikan dengan alam – cukup sesederhana itu. Aku berdoa bukan untuk benar-benar menerima pengampunan ataupun mendapat berkat dari Tuhan. Paling tidak setiap kali aku membiarkan pikiranku terlepas sesaat dan menyerahkannya kepada alam, aku sudah mengampuni dan memberkati diriku sendiri. Itu sudah cukup untuk membuatku tetap waras sampai saat ini.” Hisato mengusap kepala kekasihnya itu, “Fumiko, kau wanita yang cerdas dan memiliki kekuatan yang cukup untuk berdiri sendiri. Tapi kenapa kau memilih untuk terus bersembunyi di balik bayang-bayang suamimu?” Kali ini sang wanita memilih untuk diam. Puluhan jawaban berkecamuk dalam kepalanya. Dengan susah payah direksi nalar memilah jawaban terbaik yang harus segera disetorkan pada batang lidahnya. Sesungguhnya bukan jawaban seperti apa yang membuatnya membisu, tetapi bagaimana cara untuk menyampaikan jawaban itu. Semua itu diproses dalam sepersekian detik, seolah-olah waktu dengan sengaja beristirahat sejenak untuk memberi kesempatan bagi Fumiko. Sederet perkataan akhirnya terbit di ujung lidahnya, Ia pun menarik napas dalam-dalam. “Tidak, aku belum cukup kuat. Kalau sendirian, aku tidak mampu,” jawaban itu terlontar datar. Baginya jawaban itu cukup mewakili puluhan kata yang seharusnya Ia ucapkan. “Sebentar lagi,” sahut Hisato seraya membawa tubuh wanita itu semakin lekat padanya, “Sebentar lagi aku membebaskanmu darinya, Fumiko.” Fumiko memaksakan sebuah senyuman kendatipun hatinya kecewa dengan jawaban itu. Kata-kata tersebut sebenarnya mampu menguatkan perasaan Fumiko dan membuatnya benar-benar jatuh hati pada pria itu, seandainya saja tidak ada seuntai frasa sederhana yang alhasil memporak-porandakan seluruh makna perkataan itu. “Kali ini dua kali Ia mengucapkannya,” wanita itu membatin, secercah rasa takut dalam perkataan Hisato tidak lepas dari sensor nalar Fumiko. “Sekarang kita ke mana?” tanya pria tersebut seraya membalas senyuman Fumiko. “Aku mau ke kawasan Sennichimae Doguyasuji,” wanita itu menjawab dengan wajah ceria. “Siap!” Hisato menjulurkan lengan kanan ke depan, ”Mari meluncur!” serunya seraya menyeret tubuh Fumiko yang berada dalam pelukan lengan kirinya. Meskipun sempat dibuat panik oleh gerakan mendadak itu, Fumiko segera menyesuaikan ayunan tungkainya dan berlari mengiringi Hisato. Kulit mukanya yang putih pun memerah karena luapan tawa yang memenuhi rona wajah itu. Tanpa mempedulikan pandangan orang-orang yang bingung dengan tingkah kekanak-kanakan yang mereka lakukan, sepasang insan itu terus memelesat hingga menyeberangi kawasan jalan yang sepi.   ===================================================================================== “Tidak ada yang lebih serasi daripada seorang wanita cantik dan sebatang bunga segar di pagi hari!” seru seorang pedagang bunga yang berdiri di dekat pintu masuk stasiun. Perkataan itu ditujukan pada seorang wanita muda yang kebetulan lewat di depannya. Fumiko pun menoleh dan memandang wajah pedagang itu dari sela jaring-jaring topinya, di hadapannya teracung sebatang bunga tsubaki merah. “Terima kasih,” sahutnya, “tapi, apakah kau menjual bunga kaneshon kuning?” “Tentu saja ada, nona. Tapi... Emm... Bukankah bunga kaneshon kuning bukan sesuatu yang cocok untuk mengawali hari, nona?” “Tidak apa-apa. Aku suka, ‘kok,” jawabnya lagi tanpa memudarkan senyuman. Pedagang itu memberikan sebatang kaneshon dengan mahkota berwarna kuning kelam. Memang bukan hal yang lumrah, namun dari balik jaring-jaring tampak sebuah senyuman merekah ketika Fumiko memandangi bunga itu. Fumiko menyandarkan punggungnya pada bangku stasiun, diliriknya sebuah jam besar yang terpasang kokoh di dinding peron. Ia masih memiliki cukup waktu sebelum kedatangan kereta selanjutnya. Saat itu Fumiko membuka sepucuk surat yang ditujukan untuknya, yang ditemukan tergeletak di atas kabinet ranjang hotel. Surat itu ditulis dan diletakkan oleh Hisato yang menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menemani Fumiko sampai keberangkatan. “Aku akan selalu mencintaimu, dan aku sangat berharap akan pertemuan kita selanjutnya,” ucap wanita itu ketika membaca kalimat terakhir pada pesan tersebut, ditulis tanpa nama. Untuk sejenak wanita itu termenung. Lalu diambilnya bunga yang Ia beli tadi dan memilin batangnya serta mengikatkannya pada lembar surat itu. Gulungan itu Ia campakkan ke dalam sebuah kotak sampah, kemudian wanita itu pun kembali ke tempat duduknya. Beberapa orang yang melihat itu tampak kebingungan, tetapi Fumiko tidak mengacuhkan tatapan-tatapan itu. Bahkan batinnya menghormati dan berterima kasih atas kebaikan hati mereka, untuk tetap menjaga mulutnya terkunci rapat tanpa mengajukan sedikit saja omong kosong yang tidak perlu. Fumiko terus memandang ke awang-awang sembari menenangkan napasnya yang menggebu-gebu. Ditariknya napas dalam-dalam dan mengatupkan kelopak matanya. “Saatnya berdoa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN