BAB 14: SENIMAN & MATA-MATA

2049 Kata
Kyoto, Kisaragi Manor. 16 April 1931. Jam menunjukkan pukul 3 sore, berkas-berkas cahaya dari sosok matahari yang sudah melewati masa emasnya mengintip dari rimbunan daun oak, sehingga tampak siluet-siluet abstrak yang terlukis pada lantai kayu atrium perpustakaan. Sesosok laki-laki duduk di hadapan jendela besar yang menjembatani pemandangan dari atrium menuju pekarangan Kisaragi Manor yang senantiasa sepi, tubuhnya bermandikan bayang-bayang dedaunan oak dan menampilkan corak-corak bergelombang hitam-putih pada jasnya. Seraya memainkan sebatang pensil usang dengan jemarinya, sosok itu memandang lekat pada pekarangan rumah, kelopak matanya menempeli tabung besi yang dipasangi lensa rangkap. Di sana tampak dua orang pria yang sedang membicarakan sesuatu. Salah satunya adalah Kisaragi Takio sang tuan rumah. “Kali ini seorang perwira lain,” gumam Isaku dari tempat duduknya. Pemuda itu menilik beberapa lembar kertas yang setiapnya berisi foto orang-orang yang patut dicurigai, lengkap dengan informasi pendamping sebagai pegangan. “Bukan salah satu dari orang-orang ini.” Isaku kembali mengarahkan teropongnya pada pria yang sedang bersama Takio. Pengamatannya terpaku pada setiap atribut yang terpampang di seragam, ciri fisik, dan fitur wajah orang itu lalu membenamkannya dalam-dalam pada ingatan. “Kalau orang ini juga berasal dari pasukan Kwantung, berarti ini sudah kunjungan yang ketiga. Ada kemungkinan Takio akan dilibatkan dalam tugas ke Manchuria. Kalau tidak mungkin untuk mengadakan pertemuan dengan Jung-Jae di Kyoto, apakah mungkin mereka akan bertemu di Manchuria?” Isaku pun mulai menulis memo kecil pada secarik kertas. “Si-Nae dan Kyung-Sun sepertinya harus lebih mengawasi para perwira yang terlibat dengan kawasan jalur rel selatan dan timur Cina.” Setelah dirasa jika pengamatan yang dilakukan sudah cukup, Isaku melipat dan menyimpan teropongnya dalam saku jas lalu menghimpun berkas-berkas kecilnya tadi. Bertepatan dengan itu sang tamu pun tampak meninggalkan halaman Kisaragi Manor dengan menggunakan sebuah mobil. Isaku kembali ke dalam ruang utama gedung perpustakaan, setiap perlengkapan pengintaian Ia sembunyikan di dalam kantong rahasia pada tas kerjanya. Kemudian pemuda itu kembali ke meja kerja yang disediakan untuknya dan mulai berkutat dengan dokumen-dokumen lain, yang menjadi tanggung jawabnya kepada sang tuan rumah. Di tengah-tengah ruang terbuka yang berbentuk panggung lebar itu tergeletak sebuah kabinet kayu rendah. Kabinet itu berbentuk balok dengan berhiaskan ukiran burung fenghuang pada pintu utamanya. Furnitur antik tersebut baru saja ditawarkan kepada Takio, yang langsung membebankan Isaku dengan tanggung jawab untuk memeriksa keasliannya. “Hm... Dari zaman Dinasti Ming, ya?” Isaku pun mengeluarkan sejilid dokumen tebal dari leca meja kerja, telunjuknya menyapu barisan huruf yang tertera pada salah satu halaman buku tersebut. Di dalam ruang utama yang senyap dan redup – sebab cahaya matahari adalah musuh alami bagi perabot dan buku-buku tua – terdengar gema yang tercipta dari suara gesekan kertas saat Isaku menelusuri dokumen itu. Sorot matanya menyerap setiap baris kata yang disuguhkan di hadapannya, meskipun sesekali jemarinya menggaruk-garuk ubun-ubunnya saat harus memompa nalar untuk bekerja lebih keras. Isaku mengambil sebuah kotak kayu kecil dari laci meja lalu bangkit dari tempat duduknya. Kotak itu memiliki rongga-rongga berisi beberapa sampel kayu yang sudah dilabeli dengan nama dan tahun – buah tangan yang sempat ditinggalkan oleh Nishio Kenji selama masa kerjanya kepada Takio. Isaku mencocokkan sampel itu dengan tekstrur yang dipamerkan oleh kabinet itu, lalu Ia menghampiri perabot tersebut seraya mengeluskan punca jari-jarinya pada permukaan kayu yang teramplas halus. Setiap bagiannya menjadi makanan bagi bola mata Isaku, yang seolah-olah menelanjangi bahkan bagian terkecil yang bisa ditangkap oleh sepasang netranya. Sang kurator pun membungkukkan tubuh hingga wajahnya nyaris menyentuh lantai, dengan ibu jarinya Ia meraba permukaan bingkai kaki kabinet tersebut, lalu sejenak Ia kembali terdiam seraya menggosok-gosok dagunya. Kemudian Isaku mendekatkan hidungnya serta membaui segala sisi dari kabinet itu, sehingga membuatnya terlihat seperti seekor anjing pelacak yang handal. “Uhuk! Uhuk!” serangan batuk menerpa tenggorokannya yang serta merta membuyarkan proses nalar pemuda itu. “Sialan!” gerutunya pelan. Sesudah menggosok-gosok batang hidungnya, Isaku kembali berkutat dengan perabot kayu yang disuguhkan di hadapannya. Pupilnya – yang berwarna cokelat kelam dengan berhiaskan halo berwarna biru samar – menyoroti pertemuan sendi-sendi kayu yang terpasang. Pemuda itu pun kembali berdiri di atas kedua kakinya, ada sedikit rasa tidak puas dan ragu pada air mukanya. Namun suatu rasa enggan akhirnya  membuat Isaku memaksakan diri untuk menampik perasaan itu; tugas selanjutnya Ia serahkan kepada akalnya untuk menyusun kepingan-kepingan informasi menjadi sebuah citra utuh yang harus segera Ia laporkan kepada sang majikan. “Bagaimana hasilnya, Isaku?” tegur Takio dari balik pintu perpustakaan disertai kemunculannya yang tiba-tiba. Perkataan itu sejatinya membuat Isaku sedikit kesal, sebab itu sudah kali kedua konsentrasinya dipecahkan oleh hal-hal yang tidak terduga. Kendati demikian pemuda itu pun menghampiri Takio serta menjawab. “Aku sudah memeriksanya, tuan. Jujur saja masih ada yang harus aku pastikan, oleh sebab itu aku perlu memanggil beberapa pelayang pria untuk membantuku.” Takio mempersilakan pemuda itu untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara itu Ia sendiri mendekati perabot antik yang sejak tadi menjadi lawan beradu cumbu bagi pikiran sang kurator. Pria itu mengitari perabot tersebut, dengan raut wajah yang tidak menyembunyikan rasa kagumnya atas keindahan yang terukir pada guratan-guratan kayu itu. Tidak lama kemudian Isaku kembali dengan dua orang laki-laki menyusul di belakang. Pemuda itu meminta mereka untuk memiringkan badan kabinet dengan hati-hati, sementara Ia memeriksa setiap bingkai tubuh barang antik tersebut. Masing-masing sisinya dimiringkan secara bergantian. Tidak jauh dari situ Takio hanya mengamati bagaimana kurator muda itu melakukan pekerjaannya. Pemeriksaan terakhir pun selesai dan kedua orang itu meninggalkan ruang perpustakaan, menyisakan Isaku dan Takio. Sang tuan rumah tetap memperhatikan air muka pemuda itu sembari berusaha menebak-nebak jawaban yang akan diberikan. “Jadi bagaimana menurutmu?” tanyanya lagi, terdengar secercah harapan pada nada bicaranya. Sayangnya Isaku justru menggeleng-gelengkan kepalanya, “Maaf, tuan. Barang ini palsu.” Jawaban itu tentu saja membuat Takio kecewa. “Kenapa?” “Kalau kita kita lihat sekilas memang tampak seperti asli, tuan. Bahkan ketika aku membandingkan warna dan meraba serat-serat kayunya pun tidak diragukan lagi kalau kabinet ini terbuat dari kayu rosewood – bahan yang lumrah digunakan untuk membuat furnitur pada masa Dinasti Ming,” jelas Isaku sambil menunjuk-nunjuk perabot itu. “Lalu apa yang membuatmu yakin kalau ini palsu?” sela sang tuan rumah tidak sabaran. Isaku merendahkan tubuhnya lalu menggosok-gosok sisi bingkai kaki perabot tersebut, “Kalau tuan perhatikan lebih teliti, serat kayu pada bagian ini tampak agak rancu. Jika tuan belum yakin, aku bisa meminjamkan kaca pembesar.” “Tidak perlu, teruskan saja.” “Setelah menyadari kecacatan itu aku meraba-raba bagian ini dan menyadari bahwa ada perubahan tekstur dan sedikit perbedaan warna kayu. Hal ini menunjukkan adanya bekas tambalan di bagian tersebut, meskipun aku akui hasil kerjanya luar biasa rapi. Aku yakin tuan mengetahui salah satu ciri khas perabot Dinasti Ming.” “Sambungan konstruksinya tidak menggunakan paku, melainkan menggunakan sambungan purus dan lubang – seperti sebuah puzzle kayu yang disatukan.” Isaku menganggukkan kepalanya, “Bekas tambalan ini untuk menutupi bekas paku; hal ini sudah mematahkan satu prinsip, yang sekaligus mematahkan semuanya. Apakah sudah cukup untuk pertimbanganmu, tuan? Sebenarnya masih ada beberapa kejanggalan lagi, itu juga jika tuan ingin mendengarnya.” “Ah! Sudah kepalang basah! Lanjutkan penjelasanmu, biar aku tahu semua kebobrokannya,” tampak Takio begitu kecewa dan kesal sehingga membuatnya terlihat seperti anak kecil yang ingin merajuk. Jauh di dalam batin Isaku, pemandangan itu membuatnya merasa geli. “Kedua, silakan tuan menghirup aroma kayunya dengan saksama. Tapi aku sarankan untuk berhati-hati, sebab debunya luar biasa. Pada dasarnya kayu rosewood mengeluarkan aroma wangi seperti mawar, namun aroma itu hanya bisa tercium dari papan yang masih relatif baru. Perabot antik berusia ratusan tahun tidak mungkin masih menghasilkan aroma yang sama. Jika diperhatikan, samar-samar tercium aroma rosewood pada sedikit bagian dari kabinet ini. Sebenarnya aroma itu bisa dilemahkan menggunakan cuka atau arang, tapi sepertinya terjadi sedikit kelalaian dalam proses reproduksinya.” Takio mengatupkan matanya seraya mengangguk-angguk. “Yang ketiga ada pada bagian konstruksi bingkai yang tidak sesuai. Kalau kita tekan pada ujung yang ini, maka akan terasa sedikit berjungkat-jungkit. Perabot Dinasti Ming dibuat tidak sekadar menekankan pada sisi estetik; sebaliknya perabot di zaman itu justru memiliki ciri dekorasi yang sederhana dan mengedepankan fungsi serta kenyamanan. Meskipun begitu sebuah kecacatan mungkin saja terjadi saat proses pembuatan, selain itu hasil kerja yang terlalu ‘sempurna’ – dalam praktik reproduksi barang antik – justru akan menimbulkan kecurigaan. Makanya aku perlu bantuan untuk memeriksa lebih teliti bagian-bagian penyangganya. Alasan dibuatnya sambungan menggunakan purus dan lubang adalah agar memudahkan pemilik di masa itu membongkar-pasang perabotnya supaya gampang dipindah-pindah. Ketika aku memeriksa sambungan sendinya, ada ketidaksesuaian yang cukup kentara dan meninggalkan bekas sambungan kayu yang agak kasar. Aku menyimpulkan jika sebenarnya penggalan itu sejak awal bukan bagian asli kabinet. Aroma khas kayu yang samar-samar juga menunjukkan reproduksi pada beberapa bagian lainnya; dengan kata lain seseorang sudah merakit ulang kabinet ini menggunakan bahan yang sama tetapi – tentu saja – dari lintas waktu yang jauh berbeda, atau bisa disebut perabot ini ‘setengah’ antik. Seandainya saja lemari kecil ini tidak dilabeli sebagai barang antik, nilainya akan tetap sangat tinggi mengingat teknik dan bahan-bahannya yang terpaut jauh dibandingkan barang-barang di kelasnya.” Isaku menarik napas dalam, lalu menghembuskan napasnya perlahan setelah berbicara panjang lebar. Wajahnya memandang pada Takio dengan alis terangkat seolah mempersilakan majikannya itu untuk merenungkan jawaban tadi. “Kurang ajar, padahal sejak pertama kali melihatnya aku langsung ‘naksir,” ucap pria itu seraya menahan marah hingga tampak tonjolan otot pada sudut rahangnya. Pemuda itu menyadari kalau sang tuan rumah terjebak dilema. “Maaf kalau jawabanku mengecewakanmu, tuan. Aku tidak menyangkal kalau desain dan konstruksinya benar-benar elok dipandang, keindahan kabinet ini tidak bisa disangsikan. Namun mengingat si dealer menawarkan benda ini sebagai barang antik, jika tuan tetap membelinya maka dia akan menganggap tuan berhasil ditipu. Sebagai seorang kolektor veteran dan pejabat militer, kesan seperti itu akan membuat tuan menjadi bahan gunjingan orang-orang di luar.” Pria itu memejamkan mata sejenak lalu mengatur napasnya. Perlahan matanya terbuka kemudian menatap langsung ke dalam pupil Isaku, sesaat pemuda itu merasakan sentakan aura yang mematikan dari tatapan itu. “Aku mengerti. Terima kasih atas kerja kerasmu, setelah meresapi setiap penjelasanmu tadi kini perabot ini tampak seperti rongsokan biasa bagiku. Aku akan membuat surat penolakan atas tawaran yang ini, juga tawaran ke depannya untuk dealer yang tidak tahu terima kasih ini,” Takio berlalu dari ruangan itu sambil melipat lengannya ke belakang, memperlihatkan punggungnya yang lebar dan kokoh. Setelah tuan rumah itu menghilang dari penglihatannya, Isaku membanting pantatnya pada bantalan kursi kerjanya sembari menghembuskan napas lega. Untung saja semasa kuliah dulu Ia tidak pernah membolos sehingga tidak ketinggalan materi literatur Cina, ditambah pengetahuan dan pengalaman yang diajarkan oleh Kwang-Sun mengenai berbagai teknik pemalsuan barang antik. Isaku sudah menduga kalau pekerjaan gandanya ini tidak mudah, namun tetap saja Ia tidak menyangka akan jauh lebih rumit untuk mengintai dan menjaga kepercayaan majikannya di saat yang bersamaan. Hal ini bisa diibaratkan dengan menikam rusuk seseorang sambil memberikan penghiburan dan mengobati luka di bahunya, sampai-sampai si korban tidak menyadari tikaman tersebut. Begitu selesai dengan urusan barang tua ini Isaku seketika berniat untuk menulis surat untuk Si-Nae. Tetapi rasa lapar tiba-tiba menyerang lambungnya yang niscaya melumpuhkan akalnya, akhirnya Isaku memutuskan kembali ke gedung utama untuk sekadar meminta kudapan di dapur. Juru masak tua yang baik hati memberikan beberapa potong kue kepada kurator muda yang kelaparan itu. Entah karena kelaparan atau memang cocok dengan seleranya, potongan-potongan kue itu Ia lahap tanpa sisa. Sebelum meninggalkan dapur tidak lupa Ia meminta sepotong lemon segar dan segelas air minum dengan alasan tenggorokannya yang sakit. Baru saja Isaku memasuki ruang tengah, terdengar beberapa suara langkah kaki dari tangga yang mengarah ke lantai atas. Tampak sekilas seorang pelayan berjalan mengikuti seorang wanita yang sedang membawa sebuah tas perjalanan sebelum akhirnya menghilang di balik langit-langit. “Itu istrinya Takio, ya?” pikir pemuda itu sejenak. Ketika hendak melanjutkan langkahnya, Isaku berpapasan dengan Jae-Hwa yang baru saja muncul dari ruang depan. Sekilas gadis itu terlihat kaget lalu segera menundukkan kepala selayaknya seorang pelayan kepada pegawai yang lebih tinggi. “Temui aku di perpustakaan jam 10 nanti,” bisik Isaku pada daun telinga gadis itu saat Ia melintas di samping Isaku. Tanpa menjawab, Jae-Hwa tetap melanjutkan langkahnya menuju arah yang berlawanan. Suara berderit mengiringi suara berdentam yang diredam oleh bantalan busa pada kursi kerja Isaku, guncangan itu menimbulkan riak kecil dalam gelas yang berada di genggamannya. Lemon tadi Ia belah dan cairannya diteteskan ke dalam segelas air. Isaku menyiapkan selembar surat yang sudah Ia tulis sebelumnya, berisikan berbagai informasi trivial yang hanya membuat pembacanya terkantuk-kantuk. Lalu diambilnya setangkai kuas yang sangat kecil dan mencelup-celupkannya pada campuran air lemon tadi. Jemarinya mengoleskan rambut-rambut kuas itu pada bagian belakang surat yang kosong, menuliskan beberapa pesan singkat hasil pengintaiannya selama beberapa hari ini. Begitu kering bekas-bekas sapuan itu menghilang tanpa jejak, membuatnya menjadi sebuah pesan rahasia yang sempurna, nan tersembunyi di balik pesan sepele yang sudah disiapkan sebelumnya. Isaku melipat surat itu dengan rapi, memasukkannya ke sebuah amplop kecil, dan menuliskan sebuah alamat atas nama seseorang yang beralamat di kota Ōtsu – yang bertetangga dengan kota Kyoto. “Yap! Waktunya mengirim ‘surat cinta’!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN