Aroma secangkir teh putih menuangkan keharuman daun bunga kamelia ke seluruh ruangan, berputar mengikuti belaian angin yang menyusup melalui ventilasi berongga yang mengepalai jendela atrium. Isaku menghirup dalam-dalam uap yang mengepul dari cangkir tehnya dengan raut muka seperti orang mabuk. Semerbak bau manis yang kuat bersanding dengan wangi asam yang samar-samar membuai indra penciumannya.
“Ah... Bukan main!” serunya.
Pemuda itu membenamkan punggungnya pada sandaran kursi, wajahnya mendongak sembari menyesap sesuap cairan manis berwarna kuning bening. Sembir gelas yang bergelombang menyuguhkan sebuah kecupan dingin pada bibir Isaku, mengalirkan air manis kepada batang lidahnya yang terlentang tidak berdaya. Rasa manis persik yang malu-malu memanjakan indra perasanya; Isaku semakin terbuai dalam nuansa yang hanya bisa Ia nikmati bersama diri sendiri. Di sisi lain Ia tidak menyadari sosok yang semakin mendekat ke pintu utama gedung perpustakaan.
Sebuah tangan dengan jemari yang lentik mendorong pintu atrium. Seketika Ia disuguhi oleh sebuah pemandangan aneh, di mana seorang laki-laki sedang berjungkat-jungkit di kursinya sambil menumpukan kakinya di atas meja serta bersenandung tidak keruan. Cangkir di genggaman laki-laki itu pun mencuri perhatiannya.
“Cangkir itu memang pernah aku bubuhi dengan obat bius dan aku berikan pada mendiang Nishio. Masa masih ada sisa-sisanya?” pikirannya berkecamuk.
Tidak ingin bergelut lebih lanjut dengan batinnya, Ia pun menghampiri Isaku yang masih tidak menyadari kehadirannya. Plok! Tepuknya pelan pada bahu orang itu, membuyarkan alunan nada yang mengalir sumbang dari mulut Isaku. “Kau ini kenapa sih!?”
“Akhirnya datang juga,” pemuda itu menyahut dan melirik arlojinya, “Terlambat 20 menit.”
“Harus menunggu pelayan lain tidur dulu, tidak mungkin ‘kan aku terang-terangan menemuimu?” Jae-Hwa menyandarkan pinggulnya pada meja, “Ada yang mau disampaikan?”
“Lebih baik kita masuk dulu,” ajak Isaku sambil mengintip melalui jendela. Dipadamkannya sebagian lampu atrium sehingga terlihat berkas cahaya menyusup dari celah pintu perpustakaan.
Pemuda itu mengambilkan sebuah kursi kayu dari meja yang berseberangan dari meja kerjanya dan mempersilakan Jae-Hwa untuk duduk, sikapnya seolah-olah seorang tuan rumah. Suara dentingan yang melengking pelan bergema dalam ruangan itu saat alas cangkirnya beradu dengan sebilah piring kecil. “Tamu yang tadi siang, kau tahu siapa?” tanya Isaku setelah mendarat di kursinya.
Jae-Hwa memeriksa catatan kecil yang Ia keluarkan dari saku bajunya, “Mayor Hyogo, dari pasukan Kwantung.”
“Berarti dugaanku sesuai! Menurutmu ada kemungkinan Takio terkait dengan para perwira yang bertugas di Manchuria?”
“Selama di sini, aku sudah memperhatikan beberapa anggota militer yang mengunjungi Takio, dua di antaranya berasal dari pasukan Kwantung. Tetapi kita tidak bisa buru-buru menyimpulkan kalau orang ini hanya terkait dengan operasi di jalur rel Cina,” jawab Jae-Hwa sambil memainkan jemarinya di atas meja.
“Memangnya siapa saja tamu penting yang selama ini mengunjungi Takio?”
“Beberapa orang militer dari kesatuan yang dikepalai oleh Takio, di antaranya hanya membicarakan urusan politik dan operasi militer – yang tentu akan sangat berguna jika kita menelusurinya lebih dalam, sayangnya itu melenceng dari tugas kita yang sesungguhnya. Kita bisa kesampingkan yang satu ini karena aku sudah memeriksanya dengan Si-Nae, ketika kalian sibuk membunuh orang, dan hasilnya tidak mengarahkan kita pada Jung-Jae. Namun aku mencatat beberapa kunjungan yang sepertinya tidak relevan dengan jabatan formal Takio; kalau kita menimbang posisinya sebagai seorang perwira tinggi, bukannya lebih aman dan terhormat jika sebuah urusan militer dibicarakan di kantor pusat?”
“Kecuali jika informasi tersebut tidak boleh didengar oleh kantor pusat itu sendiri,” Isaku menyela.
“Nah, maka justru kunjungan seperti itu yang patut kita periksa. Hubungan Takio dengan Jung-Jae sendiri sudah dipastikan terjadi di bawah meja. Dengan begitu ada kemungkinan kunjungan-kunjungan di luar kantor pusat, kecuali yang sudah kita eliminasi tadi, bisa memberikan petunjuk tentang lokasi Jung-Jae,” ucap gadis itu sambil menyelonjorkan kakinya.
“Lalu apa yang kau maksud dengan kunjungan yang tidak relevan?”
Telunjuk Jae-Hwa membolak-balikkan lembar catatan kecilnya, sejenak Ia terdiam sembari memindai informasi yang dimaksud. “Ini dia,” seru gadis itu pelan, “15 Maret, Kolonel Suzuki dari Dai Juyōn Shidan (Divisi ke-14) yang tidak terkait dengan kesatuan di bawah pimpinan Takio, berkunjung ke Kisaragi Manor. Mereka membahas tentang persengkongkolan untuk mengarahkan perhatian pemerintah kepada wilayah pasifik. Begitu juga dalam kunjungan tanggal 27 Maret, kunjungan dari orang yang sama dan melanjutkan rencana yang dibicarakan tanggal 15 Maret silam. Setelah itu ada beberapa kunjungan dari tamu-tamu yang tidak memiliki kedudukan militer: tanggal 20 Maret dan 3 April, pedagang bernama Takasaki berkunjung untuk membahas kerja sama dagang dan jasa di kawasan yang disebut Ranryō Higashi Indo (Hindia Belanda).”
“Jangan bilang kalau kawasan itu juga berada di pasifik.”
Gadis itu menjentikkan telunjuknya membenarkan pernyataan Isaku. “Tanggal 7 April bangsawan bernama Minami mengantarkan dua orang tamu asing datang berkunjung. Tamu-tamu itu berkulit gelap, bermata belok, perawakannya tidak terlalu tinggi, dan fasih berbahasa Jepang. Kalau aku tidak salah dengar – karena kala itu pertama kali aku mendengarnya sehingga tidak bisa mengenali dengan baik – kedua tamu itu bernama Tumenggung dan Raden Mas. Tebak dari mana asal kedua tamu itu.”
“Hindia Belanda.”
“Tamu-tamu asing itu membicarakan rencana untuk membangun sebuah persepakatan antara kekaisaran Jepang dengan Hindia Belanda demi menyingkirkan pendudukan koloni Belanda dari kawasan pasifik. Kira-kira sudah kelihatan benang merahnya?”
“Jujur saja aku masih belum yakin,” Isaku menggaruk-garuk kepalanya, “Aku hanya bisa menduga kalau – misalnya semua informasi itu berkaitan erat dengan operasi yang kita lakukan saat ini – hubungan Takio dengan Jung-Jae dijembatani oleh kerja sama bisnis; Takio memiliki kedudukan yang memungkinkannya untuk melakukan lobi terhadap wilayah-wilayah potensial sehingga Ia bisa membuka dan mengamankan pasar di saat yang bersamaan. Di sisi lain Jung-Jae berperan dengan memanfaatkan pengaruhnya untuk sumber daya manusia atau dalam kata lain menjual orang-orang Joseon, sebab mereka bisa memanipulasi gaji serta tunjangan para pekerja dan prajurit dari sumber daya tersebut. Kalau tidak salah Jung-Jae juga memiliki beberapa aset berupa pabrik gula dan suplai pangan. Jika Takio berhasil membuka pasar di kawasan potensial, bisa dipastikan keuntungan hasil kerja sama mereka akan sangat besar.”
Jae-Hwa menjulurkan badannya dan mengambil sebatang pensil dari meja Isaku, “Aku juga berpikir demikian. Selama ini kita salah mengira kalau Jung-Jae bekerja bagi pemerintah Jepang; kenyataannya Ia cuma memboncengi kedudukan Takio sebagai petinggi militer untuk memperluas jaringan ke luar dan tidak benar-benar terlibat dengan pemerintah. Asumsi yang keliru itu tanpa disadari membuat kita terlalu berkonsentrasi pada pemerintah Jepang, sehingga semakin mengaburkan jejak Jung-Jae,” ucapnya sambil menulis catatan kecilnya.
“Tadi sore aku sudah mengirim surat yang mengimbau Si-Nae dan Kyung-Sun agar menggali informasi tentang hubungan Takio dengan pasukan Kwantung di Manchuria. Ah! Tindakanku terlalu buru-buru! Besok aku harus mengirimkan surat lagi,” seru sang kurator sambil menggosok-gosok pipinya kesal.
Jemari Jae-Hwa berhenti menulis dan membaringkan batang pensil itu di atas meja, “Jadi bagaimana menurutmu sekarang?” tanya gadis itu dengan tatapan menembus pupil Isaku.
Kali ini Isaku yang memilih untuk membisu, bibirnya terlipat ke dalam, kelopak matanya memicing sambil membalas tatapan gadis di hadapannya itu. Pemandangan tersebut menyiratkan otaknya yang sedang memompa berbagai informasi yang berserakan dalam nalarnya. “Untuk saat ini kita tetap berpegang pada informasimu tadi dan asumsi yang kita sepakati barusan. Beberapa hari lagi aku akan memeriksa surat balasan dari Si-Nae. Selama menunggu surat tersebut kita tetap saja memastikan tamu-tamu yang berkunjung, tindakan selanjutnya akan kita putuskan setelah menerima kabar dari mereka.”
Anggukkan ringan dari sang gadis menutup diskusi mereka malam itu. Jae-Hwa melayangkan pandangannya menyapu sekeliling ruangan itu seolah-olah mencari sesuatu yang tersembunyi. Pemandangan itu membuat Isaku menaikkan alisnya serta menatap dengan bingung, namun Ia memutuskan untuk mengatupkan mulutnya dan membiarkan rasa penasaran itu terjawab dengan sendirinya. Akhirnya Jae-Hwa menemukan yang dicari-dicari, sebidang jam dinding yang Ia cari-cari sejak tadi ternyata terpampang tinggi di balik tempat duduknya.
“Kupikir sedang mencari apa,” gerutu pemuda itu karena kecewa, Ia pun melengoskan wajah seraya membenamkan kepalanya hingga ujung dagunya yang tumpul nyaris menyentuh d**a.
Jam menunjukkan pukul 11 malam lewat. Begitu mereka berhenti berbicara, kini giliran bagi kesenyapan dan kekelaman malam memamerkan selubungnya. Ruang perpustakaan itu begitu luas serta minim cahaya dan rongga udara, tetapi arsitektur yang apik mampu membuat keadaan di dalamnya tetap sejuk. Hal ini juga membuat ruangan itu kedap dari kebisingan di luar meskipun alam berkecamuk liar saat udara dingin datang menggagahinya. Keheningan tersebut justru memupuki rasa gelisah dalam batin Jae-Hwa sehingga air mukanya menegang, disertai hawa dingin yang mulai menjalari tengkuknya.
“Kau setiap hari sendirian di sini?”
“Kadang-kadang Takio datang untuk mengamati pekerjaanku, mengajak ngobrol, atau sekadar membaca salah satu koleksi bukunya tanpa mengucapkan apa-apa padaku. Bahkan dia pernah datang hanya untuk memandangi koleksi barang antik di depan sana, lalu pergi begitu saja. Sesekali dealer atau kenalan Takio yang sesama penggemar koleksi tua juga bertamu ke sini, kendati sangat jarang,” jawab Isaku dengan santai seraya menggeleng-gelengkan kursinya dengan ujung kaki. “Kenapa memangnya?”
Jae-Hwa menelan ludah, kristal-kristal peluh dingin tampak berpendar di keningnya. “Kau... *gluk! ...tidak takut?” tanya wanita itu agak tergagap.
Pertanyaan itu tidak seketika dijawab oleh Isaku, sustru Ia merapatkan sela-sela bibirnya hingga sedikit mengerucut maju; sambil kembali memicing, sebelah matanya lebih menyipit dan menatap lekat kepada Jae-Hwa, berusaha menyerap setiap maksud yang tersirat dari rona wajah gadis berwajah bulat telur itu dan tujuannya bertanya tadi. Tiba-tiba Isaku tersentak, gerakan kursi terhenti seketika disertai anak matanya yang membesar, “Bodohnya aku!” sesal pria itu dalam hati atas kelambanan akalnya menangkap maksud Jae-Hwa.
Sebuah ide nakal melintasi kepalanya, begitu cepat bahkan Isaku sendiri nyaris tidak menyadarinya dan membiarkan tubuhnya bereaksi begitu saja. Diam-diam pemuda itu tersenyum di balik jari-jemari yang bertautan menutupi mulutnya. Perlahan sang kurator pun bangkit seraya membetulkan posisi duduknya dan menampilkan air muka yang tidak kalah tegang. Seluruh proses terjadi hanya dalam hitungan detik yang begitu singkat, sehingga Jae-Hwa sendiri tidak menyadarinya.
“Hm... Karena sudah tanggung jawabku, mau tidak mau aku harus menghabiskan waktu di dalam sini. Yah, meskipun – kalau aku harus jujur – tidak jarang aku merasa benar-benar sendirian.”
Selaput pelangi yang menghiasi ain gadis itu mengencang, bibirnya mengatup, tetapi tatapannya pada Isaku seolah-olah memaksa laki-laki itu untuk meneruskan perkataannya.
“Terkadang aku mendengar suara ketukan yang entah dari mana asalnya, sesudah lama sekali aku berusaha melacak asal suara itu namun tetap tidak bisa menemukan lokasi tepatnya, aku menyimpulkan mungkin saja suara tersebut tidak benar-benar berasal dari ruangan ini.”
“Maksudmu?”
“Bisa jadi suara itu berasal dari ‘hal lain’ yang berada dalam ruangan ini.”
“M... M... Maksudmu ‘hal lain’ itu mengeluarkan bunyi yang menyerupai suara ketukan?”
“Begitulah.”
“Waduh!” pekik Jae-Hwa dalam hati, kepanikannya semakin nyata.
Baru saja Isaku menutup mulutnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan beruntun yang nyaring. Bunyi itu menggaung dan memenuhi seluruh bagian ruangan seakan-akan suara tersebut hidup dan memelesat di antara setiap celah ruang perpustakaan itu, melompati setiap permukaan yang menghadang geraknya hingga terserap oleh daun telinga kedua orang itu. Jae-Hwa tidak menyembunyikan rasa takutnya ketika Ia menyapu pandangannya melintasi seluruh bagian ruang perpustakaan. Tepat seperti yang dikatakan oleh Isaku bunyi itu tidak diketahui dari mana asalnya karena seolah berpindah-pindah.
Belum selesai dengan kepanikan itu, Jae-Hwa kembali dikejutkan oleh terpaan hawa dingin pada lengan dan tengkuknya sehingga membuat rambut-rambut halusnya berdiri menegang. Sesaat terpikirkan olehnya kalau itu ulah iseng Isaku. Ia melengos ke arah laki-laki itu, ternyata Isaku masih duduk di kursinya yang berjarak kira-kira 1,5 meter darinya – serta terapit dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat. Tidak lama kemudian terdengar suara siulan, awalnya samar-samar namun semakin jelas. Bunyi melengking itu mengitari langit-langit perpustakaan lalu turun menghampiri gendang telinga Jae-Hwa.
“Sudah hampir tengah malam. Ayo, cepat kita kembali!” ajak gadis itu karena sudah muak dengan ‘gangguan’ yang datang bersusulan, nada bicaranya bergetar.
“Kau duluan saja, tidak mungkin kita kepergok bersama-sama.”
“Tidak bakal ada yang lihat, kok! Ayo!”
Mati-matian Isaku menahan rasa sesak yang terus saja bergelut dalam dadanya, batinnya mulai buyar akibat sejak tadi menahan ledakan tawa saat melihat Jae-Hwa yang ketakutan luar biasa. Di sisi lain Ia berterima kasih kepada beberapa ekor burung yang senang bersarang di plafon rendah, yang tersambung dengan dinding perpustakaan – komponis sesungguhnya yang sesekali menyuguhkan irama ketukan untuk menemani Isaku. Kondisi ruangan perpustakaan yang tertutup dan padat barang-barang menyebabkan pantulan gaung yang tidak beraturan. Meskipun begitu Isaku sadar kalau itu pertanda baginya agar segera memindahkan sarang burung itu sebelum kena omelan dari Takio.
“Baiklah. Aku temani sampai atrium, ya. Setelah itu kau jalan duluan.” Isaku beranjak dari kursi kerja itu, mengemasi tas kerjanya, dan berjalan mengiringi Jae-Hwa yang masih gemetaran menuju atrium depan. Penerangan perpustakaan akhirnya dipadamkan yang seketika mengundang tumpahan udara hitam pekat, namun gadis itu memilih untuk tidak memalingkan wajahnya ke arah ruangan tersebut.
Isaku merogoh sakunya lalu bersiap-siap memasang kunci pintu. Tiba-tiba sebuah suara dentuman terdengar dari bawah lantai disertai suara berdentang yang samar-samar. “Ah, sial! Harus memanggil tukang pipa lagi,” gerutu pemuda itu dalam hati, sehingga dengan tenang Ia menjulurkan kepala kunci ke lubang pintu perpustakaan; berbeda cerita dengan Jae-Hwa, yang seketika panik sampai kehilangan kesabarannya.
“Cepat! Cepat!” serunya sambil menarik punca jas Isaku.
“Eh? Eh? Tunggu sebentar! Pintunya dikunci dulu!” Isaku menyahut dengan kesal.
Sejenak terjadi tarik-menarik yang sengit antara dua orang itu, tubuh sang kurator dibuat maju-mundur akibat tarikan tangan Jae-Hwa sehingga keduanya tampak konyol dalam kepanikan mereka. Air mata mulai menetes keluar dari ujung kelopak mata Jae-Hwa; ketakutannya begitu tulus dan tanpa cacat. Jemari gadis itu mengencang disertai pompaan tenaga dari rasa mamang yang terus-menerus tersulut, akhirnya bantalan kaus kaki Isaku tidak mampu menyangga tubuhnya dan membiarkan tubuh pemuda itu tergelincir. Isaku berputar dan berselancar di udara.
Gubrak!
Tidak terelakkan. Kepala Isaku menghantam benda keras, badannya tertelungkup di permukaan yang halus dan dingin. Di sisi lain ada hal yang terasa janggal: tercium semerbak aroma yang manis seperti gula-gula diselingi wangi lemon dan verbena yang berani. Penglihatannya gelap, padahal matanya terbuka lebar. Isaku menyibak serat-serat hitam yang menutupi wajahnya. “Rasanya rambutku tidak sepanjang ini.” Lalu terdengar suara napas yang terengah-engah dan detak jantung yang sangat cepat. Isaku menahan napasnya, namun suara itu tetap terdengar. Hembusan itu akhirnya disusul oleh sebuah tangisan sehingga membuat Isaku bangkit dan bertumpu pada lututnya. Di hadapannya tampak seorang wanita berbaring telentang, pipi wajahnya memerah hingga menjalari kelopak mata dan garis hidungnya. Segaris kristal air turun hingga menyentuh daun telinganya.
“Aku... takut...” ucapnya lirih, di tengah tangisannya yang sendu.
Rasa iba seketika melingkupi batin Isaku. Ditenangkannya gadis itu lalu membantunya berdiri. Sambil mendekap tubuh Jae-Hwa dan menudunginya dari kekelaman yang mengintai dari luar, Isaku mengunci pintu dan berniat memadamkan penerangan atrium. Sontak Ia merasakan sebuah cengkeraman lemah pada kerah jasnya. Sesaat Isaku terdiam, lalu Ia menarik jemarinya menjauh dari kenop lampu. Laki-laki itu mengambil sehelai sapu tangan dari sakunya dan menyeka bekas tangisan yang tertumpah pada wajah sang gadis tanpa melepaskan tangannya dari pelukan itu. Kemudian mereka berjalan menuju bangunan utama mengikuti patio yang membelah pekarangan berumput hijau.
Di balik belukar bunga peoni, Isaku melepaskan pelukannya perlahan. “Jalanlah duluan, aku awasi dari sini.”
Pupil gadis itu menyoroti wajah Isaku, seolah-olah menyampaikan ungkapan terima kasihnya. Tanpa sepatah kata pun Jae-Hwa berlalu dan memasuki gedung utama. Sementara itu Isaku masih terdiam di tempatnya seraya melirik arloji, napasnya berdengus lesu. Batin laki-laki itu mengutukinya atas perbuatan yang Ia lakukan terhadap Jae-Hwa. Akhirnya Isaku menggelengkan kepalanya seraya melangkahkan kaki menuju bangunan di depannya.