BAB 16: SEPASANG JAKAL DARI QINGDAO - 1

2147 Kata
43 hari yang lalu. Qingdao, 4 Maret 1931. “Berhenti di dekat kotak pos di depan sana, pak!” “Baik..., *Huft! Huft! ...tuan!” Beberapa puluh meter kemudian angkong itu pun berhenti di tempat yang dimaksud tadi, seraya meregangkan tubuhnya sang juru angkong mengelap wajah dan lehernya menggunakan sehelai handuk usang yang sudah agak menghitam. Sang penumpang turun dengan perlahan, tangannya menggenggam sebuah payung kertas berlukiskan bunga plum, sementara itu tangan kanannya menumpahkan beberapa keping logam perak di atas telapak tangan juru angkong. Sontak pria paruh baya itu dibuat ternganga-nganga, “Ini... terlalu banyak, tuan,” tegurnya. “Ambil saja, pak,” sahut penumpang itu datar seraya menggerakkan tangannya dengan sopan. “Terima kasih banyak, tuan!” Tanpa menyahut, pria itu menyibakkan tuniknya yang berwarna hijau tua lalu menghampiri sebuah kedai minum bergaya eropa, di belakangnya terdengar suara putaran roda angkong yang melaju menjauh dari persimpangan itu. Bunyi gemerincing lonceng kecil yang terpasang pada rangka pintu menyambut langkahnya. Seorang pelayan yang menyadari kedatangan pria itu sontak tersenyum dan memberi salam. “Selamat datang, Tuan Chen.” Pria itu duduk di depan meja bar, “Yang seperti biasa segelas, ya,” sahutnya sambil melepaskan kacamata hitam dari batang hidungnya. “Mereka sudah berkumpul?” Si pelayan menuangkan minuman berwarna keemasan ke dalam sebuah sloki kaca disertai beberapa balok es yang berdenting. “Semuanya sedang menunggu di bawah, tuan.” Tamu yang dipanggil Tuan Chen itu seketika menghabiskan minuman itu dalam satu tegukan besar. Tak! Alas gelas mengetuk meja bar, tampak wajah Tuan Chen yang mengerut kencang menggambarkan pergelutan indranya dengan kandungan alkohol yang menerobos kerongkongan. Serta-merta Ia beranjak dari tempat duduk sesudah menyodorkan sehelai uang kertas dan berjalan menuju sebuah pintu yang berada di sudut ruangan. Sederet anak tangga menurun menuntun langkah pria tersebut melalui lorong sempit yang remang-remang. Sayup-sayup terdengar dari ujung koridor kayu itu beberapa orang tengah bercakap-cakap, disertai kemunculan aroma tembakau yang kental. Tuan Chen mengulurkan lengannya menyibak tirai yang terbuat dari untaian manik-manik kayu berwarna merah kecoklatan. Kini di hadapannya tampak sekelompok pria yang tengah duduk mengelilingi sebuah meja bundar, kepulan awan tipis beraroma menyengat menari-nari di sepanjang langit-langit ruangan. “Bagaimana? Ada kabar dari kelompok Dōngbu?” tanya salah satu dari pria itu dengan antusias. “Sudah,” sahut Tuan Chen seraya duduk di antara orang-orang itu, “Tiga hari lagi mereka bertemu di Zhanshan. Besok lusa kita berangkat ke Zhanshan dan menunggu di persembunyiannya Dōngbu, begitu mereka berkumpul maka kita langsung serbu.” Seorang laki-laki muda memajukan tubuhnya, “Terus bagaimana kalau misalnya warga sekitar menahan kita? Serangan besar seperti itu tidak bisa disembunyikan begitu saja, ‘kan? Apalagi kelompok mereka mendapat dukungan dari masyarakat Zhanshan.” “Beberapa orang kita sudah bergerak ke sana. Saat ini – dengan bantuan dari orang-orang Dōngbu – mereka sedang menyebarkan fitnah yang membuat warga mengira kalau pertemuan itu diadakan untuk berkomplot dengan Jepang. Dengan begitu warga akan merasa dikhianati dan kita bisa melakukan penyerangan secara leluasa.” “Bagus!” timpal pria lainnya yang duduk berseberangan dari Tuan Chen, “Aku sudah muak dengan orang-orang kolot itu. Bisa-bisanya mereka dengan tidak tahu diri mempertahankan pemikiran usang yang nyatanya membuat Cina semakin merosot! Kalau kita tidak bisa mengadopsi dan menyesuaikan diri dengan pengetahuan negeri barat, lambat laun kita akan dijajah lagi!” Pernyataan tersebut disahut oleh rekan-rekannya sehingga seketika ruangan itu menjadi riuh. Laki-laki muda tadi pun menawarkan sebatang rokok dan menyulutkannya untuk Tuan Chen. “Terima kasih, Hanxu,” ucapnya setelah meniupkan asap ke langit-langit. Meskipun begitu ada satu orang hadirin yang sejak tadi tidak menanggapi pembicaraan mereka, pria itu tetap bergeming seraya mengamati hadirin yang lain. Beberapa saat kemudian Ia pun memutuskan untuk unjuk suara. “Setelah penyerangan itu, terus apa?” tanya pria itu singkat, namun kata-kata tersebut berhasil membuyarkan kericuhan orang-orang itu dan menyeret mereka kembali pada keheningan. Tuan Chen menyandarkan sikunya pada meja, “Apa maksudmu, Wuyang?” tegur laki-laki itu sambil menunjuk dengan rokoknya. “Apa rencana kita setelahnya jika penyerangan itu berhasil? Memburu anggotanya yang lain?” “Kenapa kau seakan tidak senang dengan pekerjaan ini? Apakah kau ingin membelot? Tawaran apa yang mereka janjikan untukmu?” Wuyang menghela napasnya, tampak rambut-rambut kasar pada orengnya bergerak-gerak diterpa udara yang meluncur dari hidung pria itu, matanya yang sangat sipit menilik wajah Tuan Chen, “Apa yang bisa ditawarkan oleh orang-orang seperti mereka? Untuk berkumpul saja sudah kucing-kucingan seperti itu. Yang menjadi pikiranku adalah nasib bawahan seperti kita.” “Memang apa rencanamu?” “Coba kalian pikirkan lagi, mereka yang berada di atas saja sedang berkecamuk satu sama lain. Semenjak gugurnya Marshal Zhang yang disusul kejatuhan sisa-sisa pemerintahannya, barisan aliansi di Manchuria pun tunduk pada Kuomintang – pihak yang saat ini kita pandang sebagai lawan. Yang kita kejar sekarang hanya ekor-ekor yang dilepas oleh pemimpin mereka. Saat ini gerakan modernisme sedang tertekan, sebaliknya gerakan nasionalis dan konservatif mulai bangkit; pada akhirnya kita akan diperlakukan sama. Selain itu bukankah kita ini organisasi lepas, sejak kapan kita benar-benar menjadi simpatisan modernisme?” Jawaban Wuyang membuat salah satu dari mereka bangkit dan meluapkan kemarahannya. “Kau pengkhianat bangsa! Bisa-bisanya kau berencana menyelamatkan diri sendiri padahal negara sedang berjuang untuk kesejahteraan kita!” “Sebagai rekan seperjuangan, aku menyarankan agar kita segera meninggalkan gerakan ini begitu tugas terakhir ini selesai,” Wuyang berdiri dari tempat duduknya seraya mengenakan topinya, “Aku ingin Cina jaya dan sejahtera, tetapi aku juga tidak akan membiarkan diriku dipermainkan lagi oleh para pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Sampai bertemu di Zhanshan.” Pria itu meninggalkan rekan-rekannya dan menghilang di balik gemerincing tirai manik-manik.   ===================================================================================== Qingdao, Zhanshan. 7 Maret 1931. Hujan salju ringan lagi-lagi menyelimuti kota itu, terlihat berjejer kedai-kedai makan yang menyajikan hidangan hangat dan siap menawarkan kenyamanan bagi setiap pelanggannya. Pada salah satu kedai itu berkumpul beberapa orang pria dalam balutan tunik musim dingin, tampaknya mereka sedang terbuai dalam perbincangan yang tidak ada ujung-pangkalnya. Sang pemilik kedai mengantarkan beberapa gelas teh hangat bagi tamu-tamu tersebut lalu berjalan ke depan dan menelisik kain pendek penutup kedai. Seketika udara dingin menusuk sum-sum tulangnya. Pria bertubuh kurus itu menggosok-gosok lengannya sambil mengamati lingkungan di sekitar, agak lama Ia berdiri di situ hingga sesuatu menangkap perhatiannya. Dari kejauhan matanya menangkap sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapan salah satu gedung tua di kawasan tersebut. Dua orang pria tergesa-gesa keluar dari mobil itu dan masuk melalui pintu depan. Si pemilik kedai pun masuk dan memberitahukan hal tersebut pada para tamunya. Raut wajah orang-orang itu pun berubah serius lalu mereka beranjak keluar serta menyusuri trotoar jalan; dari beberapa kedai lainnya pun tampak sekelompok orang keluar dan berjalan ke arah yang sama. Mereka berpencar melalui gang-gang kecil, kemudian kembali berkumpul di halaman gedung yang dituju dan mengepungnya dari segala arah. Dari balik mantel kain masing-masing yang berkibar diterpa angin musim dingin mereka mengeluarkan sepucuk senjata api genggam, pada lengan kiri mereka terikat pita berwarna merah. Gerombolan itu membagi diri; sebagian menerobos masuk, sebagian lagi menunggu di luar. Mereka yang menerobos masuk segera menghabisi siapa pun yang berada di dalam gedung itu, proyektil-proyektil panas mencabik tubuh orang-orang yang tidak memiliki pita merah pada lengan kirinya. Pagi yang sunyi seketika berubah menjadi berkecamuk ketika dentuman-dentuman mesiu memenuhi udara kawasan Zhanshan. Para penerobos membagi kelompok mereka menjadi dua, sebagiannya segera menyerbu ruangan-ruangan yang berada di lantai atas. Di sana mereka mendapat perlawanan, butiran timah panas beterbangan menembus dinding dan pintu kayu yang membatasi ruangan itu. Beberapa dari penyerang itu terkapar dengan luka di sekujur tubuh. Namun orang-orang itu tidak habis akal; salah satu dari mereka turun dan memberitahukan rekan-rekannya di luar. Orang-orang itu pun melempari jendela atas dengan batu lalu melemparkan bom asap yang sudah mereka siapkan – terbuat dari campuran gula, bubuk soda, dan bubuk pewarna. Asap pekat berwarna hitam membubung dari lantai atas, tidak ada sedikit pun celah ruangan itu yang luput dari kepulan awan tebal tersebut. Perlahan-lahan asap itu menyeruak ke dalam kelopak mata dan saluran pernapasan orang-orang yang bertahan di lantai atas. Seorang pria yang sudah tidak tahan dengan pengepungan itu menjulurkan kepalanya melalui jendela untuk sekadar menyelamatkan paru-parunya yang mulai terbakar; seketika Ia ditembaki dari bawah dan tewas di tempat. Mereka yang tersisa akhirnya memutuskan untuk menyerah dan keluar dari ruangan seraya mengangkat tangan mereka. Para penyerang yang menunggu di depan kamar pun memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang tersisa dalam ruangan tersebut, kemudian tanpa berpikir dua kali mereka menghabisi orang-orang itu. Cairan merah pekat merembes melalui celah lantai kayu, tetesan-tetesan darah menghiasi permukaan lantai di dasar gedung dengan pola-pola bintik. Sementara itu regu yang satu lagi menyerbu ke arah ruang bawah tanah. Mereka mendobrak sebuah pintu kayu tua yang membatasi ruangan, namun orang-orang itu mendapati ruangan tersebut gelap dan kosong. Suasana mencekam seketika menyelimuti setiap orang yang berada di situ sehingga tidak ada seorang pun yang berani bertindak sembarangan; selama beberapa saat mereka bersiaga di tempat masing-masing seraya menajamkan indra-indra pada tubuh mereka, namun hanya terdengar bunyi desingan angin musim dingin yang menyusup melalui lubang di langit-langit. Akhirnya seorang pria berinisiatif untuk menyelinap menuju sebuah meja di tengah ruangan, tangannya menyalakan sebatang korek api yang kemudian Ia gunakan untuk menyulut lampu minyak di atas meja. Semburat cahaya temaram menyuguhkan sedikit gambaran suasana ruangan; seiring jelasnya keadaan di sekeliling, kewaspadaan orang-orang itu justru semakin luntur. Tiba-tiba dari balik meja muncul seseorang dengan menggenggam sebilah pisau, ditariknya kerah mantel pria tadi hingga tubuh mereka berlekatan. Lengannya mencuat dari balik tubuh pria tersebut lalu menghunjamkan pisau pada genggamannya berkali-kali pada rusuk pria itu. Pemandangan tersebut melahirkan kengerian yang menjalari tubuh orang-orang yang melihatnya. Kengerian itu diikuti oleh serangan-serangan susulan dari segala penjuru; para penyergap bermunculan dari persembunyiannya dan menumpas setiap orang yang memiliki pita merah pada lengan kirinya, pintu kembali ditutup untuk mencegah orang-orang itu kabur. Di tengah serbuan itu orang-orang menembakkan pistolnya dengan membabi-buta namun tindakan itu tidak menyelamatkan mereka dari desingan besi dingin yang membelah kulit dan daging mereka. Kericuhan itu sampai ke telinga orang-orang yang berada di lantai atas sehingga mereka pun menyantroni ruang bawah tanah tersebut, mendobrak pintu, dan melakukan serangan balasan. Keadaan berbalik, para penyergap terkepung di antara orang-orang yang sudah siap untuk membunuh mereka; hujan peluru menumpahkan percikan darah dan daging ke sekujur ruangan dan tidak seorang pun dibiarkan tersisa. Suasana kembali hening, satu-satunya sumber cahaya di tengah ruangan menampilkan kondisi ruangan yang mengerikan disertai bau amis dan mesiu yang menggagahi penciuman setiap orang yang masuk. Satu per satu mereka memeriksa tubuh-tubuh yang tergeletak tidak berdaya dengan bantuan penerangan yang seadanya, tetapi mereka menemukan orang yang mereka cari. Dengan panik orang-orang itu menyusuri ruangan itu, kalau-kalau mereka melewatkan sesuatu yang penting. Akhirnya seorang pria muda berseru dari salah satu sudut ruangan sambil menunjuk ke sebuah celah yang berada di lantai. Orang-orang itu membongkar celah tersebut dan menemukan sebuah jalur pelarian darurat berupa lorong bawah tanah. Sebagian dari mereka langsung turun dan menyusuri lorong itu sementara yang lain membawa regu yang menunggu di luar untuk mencari tahu ujung rute pelarian tersebut. Genangan air sebatas mata kaki membasahi langkah regu penyergap yang menyusuri lorong bawah tanah, suara kecipak yang menggaung membuat telinga mereka mendengung dan seolah-olah melumpuhkan keseimbangan tubuh mereka. Alhasih orang-orang itu tiba di ujung lorong dan memanjat naik, kemudian mereka menemukan lubang bekas pembobolan pada sebuah dinding kayu dan merangkak masuk melalui celah tersebut yang menuntun mereka ke sebuah ruang bawah tanah yang sempit. Kali ini mereka bertindak dengan lebih berhati-hati; perlahan orang-orang itu membuka pintu ruangan lalu menyusup masuk. Alangkah kagetnya mereka ketika melihat sekeliling ruangan tersebut. Ternyata rute pelarian itu tersambung dengan tempat persembunyian kelompok Dōngbu – yang mereka gunakan untuk bermalam dan menyusun rencana penyerangan ini. Sekarang mereka sadar kalau kelompok itu sudah menipu sekaligus menjebak mereka. Orang-orang itu memutuskan untuk segera keluar dari rumah itu, namun semua pintu dan jendela di lantai dasar yang menuju keluar sudah dihalangi sedemikian rupa dari luar sehingga tidak bisa didobrak. Panik, mereka bergegas untuk kembali melalui ruang bawah tanah. Tetapi pintu itu juga sudah tertutup dan dihalangi dari sisi yang berlawanan. Akhirnya mereka memilih untuk berkumpul di lantai dasar dan berdiam diri seraya memikirkan tindakan selanjutnya. Di tengah keheningan itu samar-samar terdengar suara yang tidak diketahui asalnya. Bunyi itu begitu singkat namun berhasil menarik perhatian setiap orang yang berada di tempat itu. Untuk sesaat suasana kembali hening. Tiba-tiba terdengar lagi suara ketukan, yang ternyata berasal dari lantai atas. Di tengah suasana yang membingungkan sekaligus mencekam, orang-orang itu saling menengok satu sama lain, lalu kembali membisu. Seorang pria pun berdiri – Tuan Chen – dan mengajak rekan-rekannya itu untuk memeriksa lantai atas, sebab hanya itu satu-satunya jalur yang bisa mereka gunakan untuk keluar dari bangunan tersebut. Pria itu memeriksa senjatanya. “Hei, Ying-Shi! Pistolmu masih penuh, ‘kan?” serunya setengah berbisik. Pemuda yang dipanggil pun mengangguk polos. “Berikan padaku!” Tuan Chen menukarkan pistol di genggamannya dengan milik Ying-Shi, kemudian dengan hati-hati Ia memberikan aba-aba agar orang-orang itu mengikutinya ke lantai atas. Mereka mengendap-endap melalui anak tangga kayu, suara ketukan itu tetap saja terdengar dan semakin jelas dari mana asalnya: sebuah ruangan tertutup yang berada tepat di ujung anak tangga. Keringat dingin membasahi kumis yang memagari bibir Tuan Chen, anak matanya melebar seiring dengan detak jantung yang semakin tidak sabaran. Telapak tangannya yang kasar menyentuh gagang pintu. Tidak terkunci. Didorongnya pintu tersebut sehingga menimbulkan suara berderit. Seketika bau yang mengerikan menghambur keluar bagaikan seolah-olah pria itu membuka sebuah pintu yang tersambung ke neraka. Tuan Chen terpaku di tempatnya dengan wajah sepucat mayat; bukan karena terpaan bau anyir ataupun pemandangan permadani merah pekat yang mengalir di atas lantai kayu, melainkan sosok yang tengah menatap lurus ke arahnya dari dalam kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN