BAB 17: SEPASANG JAKAL DARI QINGDAO (2)

1737 Kata
“Han... xu!?” “Apa? Kenapa Hanxu ada di sini?” sekelompok orang itu mulai bertanya-tanya sehingga samar-samar terdengar kegaduhan di antara mereka. Sosok bernama Hanxu – pemuda yang ditemui Tuan Chen tempo hari – memandang lurus dari tempat duduknya yang berhadapan langsung dengan pintu yang sedikit terbuka. Beberapa lama Tuan Chen dan pemuda itu saling pandang. Tetapi pria bertubuh tinggi itu akhirnya menyadari kalau ada yang salah dengan tatapan itu; pupil mata sang pemuda begitu kosong, tidak tampak sedikit pun tanda-tanda kehidupan dari sorot ainnya. Hanxu terduduk tidak bernyawa. Dengan tergesa-gesa Tuan Chen menerobos masuk, menghampiri pemuda yang dikenalnya itu, dan memeriksa keadaannya. Kekhawatiran Tuan Chen menjadi kenyataan. Seakan belum cukup dikagetkan oleh kehadiran mayat Hanxu di tengah ruangan, orang-orang yang masuk ke kamar itu kembali dibuat tercekam. Seketika kengerian menyeringai lebar kepada sekumpulan orang itu seolah-olah berniat memperlihatkan taring-taringnya yang mencuat; di dalam ruangan atas yang tidak begitu luas itu mereka disajikan dengan pemandangan yang tidak mungkin mereka lupakan – kalaupun mereka masih diberikan kesempatan untuk mengingatnya. Suara ketukan yang mereka dengar di ruangan bawah berasal dari tetesan cairan kental yang jatuh dari langit-langit rendah dan menghantam lantai. Tetesan tersebut mengalir dari kain tunik yang menjuntai di langit-langit, membalut tubuh sesosok pria dengan kondisi mengenaskan serta wajah yang sudah tidak bisa dikenali, akibat dibasuh dengan cairan merah pekat yang mengalir ke punca mantelnya. Sehelai kain melingkari lehernya dan terikat pada bubungan yang melintangi awang-awang gedung. Pada lengan kirinya terdapat pita berwarna merah. Orang-orang itu hanya bisa membisu melihatnya. Sesudah berhasil mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, salah satu dari mereka bergerak melintasi ruangan dan menguak kain-kain usang yang menutupi jendela. Cahaya dari luar menerpa seisi ruangan dan menelanjangi setiap bagiannya, namun tindakan itu tidak membuat keadaan lebih baik. Mereka mendapati tubuh-tubuh tidak bernyawa berserakan di sepanjang ruangan, sebagian bertumpuk satu sama lain. Semuanya dihabisi dengan sangat kejam. Semua bebauan dan penampakan tersebut sudah tidak terlalu mengerikan untuk diterima oleh akal orang-orang itu serta mengguncang kewarasan mereka, sebagian besar dari mereka tersungkur di lantai seraya menumpahkan isi perutnya; kali ini mereka benar-benar sudah membuka pintu yang tersambung dengan neraka. Tuan Chen sendiri masih berdiri tegak di tempatnya seolah-olah tidak terpengaruh dengan semua itu. Tidak. Dengan sisa kewarasannya pria itu sadar kalau masih ada hal ganjil yang menunggu mereka di dalam ruangan itu. Neraka tidak bisa disebut sebagai neraka jika tanpa iblis. Suara berderit membuyarkan kebisuan yang menyelimuti semua kengerian itu, warna kulit wajah Tuan Chen sudah serupa dengan salju yang menerpa kaca jendela dari luar. Perlahan Ia memalingkan wajah menuju asal suara untuk memastikan iblis seperti apa yang menunggu mereka. Akhirnya tatapan mereka bertemu; sepasang mata sipit yang dingin menembus ain Tuan Chen, rambutnya yang terikat ke belakang menampilkan bercak-bercak kecoklatan kering pada kulit pipinya yang seputih bulu domba, sosok itu membungkuk di kursinya di antara kepungan mayat-mayat yang tergeletak. “Lama sekali, Tuan Chen,” suaranya mengalun lembut. Mulut pria yang dimaksud pun bergetar dan menjalar ke ujung kakinya. Berhadapan dengan iblis bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan, namun bagaimana jika pengalaman itu dibumbui lagi dengan rasa menyengat bagaikan tersambar petir di siang bolong? Perasaan itulah yang tengah melanda sekujur tubuh Tuan Chen. “A.. A-A... Aoyun!?” Perhatian orang-orang yang menyertai Tuan Chen ikut tertuju pada nama tersebut, sebab mereka juga mengenalnya. Wanita itu menarik tubuhnya perlahan seraya mendongakkan wajah, sorot matanya saja sudah bisa menggambarkan seberapa berbahayanya sosok dalam balutan mantel cokelat itu. Percikan darah pada wajah itu tidak mengurangi keelokan parasnya dan seketika mengingatkan orang-orang itu dengan sekuntum bunga dari negeri Jepang – Manjushage, bunga kematian. Tuan Chen mengepalkan tinjunya, “Kenapa kau mengkhianati organisasi kita!?” membentak pria itu setelah berhasil bergelut dengan rasa takutnya. “Apa? Aku tidak salah dengar?” wanita itu menggosok telinganya dengan telunjuk, “Bukannya kau yang berniat menjual kami?” “Dari mana kau mendapatkan kebohongan seperti itu!? Aku tidak pernah berniat mengkhianati organisasi yang kita bangun dari nol!” Aoyun mengacungkan telunjuknya, “Bocah yang duduk di sana dan teman-temannya yang sedang terbaring, mereka yang mengakuinya. Mereka dijanjikan pembagian hasil dari rencanamu. Kau sudah sadar kalau pihak nasionalis dan konservatif semakin kuat, agar bisa menjilat p****t orang-orang itu kau mengatur penyerangan yang membuat organisasi kita terlihat mencolok. Dengan begitu keterlibatan pendukung modernisme tersamarkan sehingga mereka tidak berpikir kalau kau berkhianat; kau ingin memanfaatkan keuntungan dari dua pihak yang berlawanan dengan mengorbankan rekan-rekanmu sendiri.” Wanita itu pun bangkit dari tempat duduknya, bersama dengan sosok-sosok yang sejak tadi menyertai di kiri-kanannya, bagaikan sesosok iblis yang mengembangkan sayapnya. Tanpa sadar Tuan Chen memundurkan langkahnya, Ia sadar kalau tidak ada gunanya lagi mengelak. “Saudara-saudaraku, apa yang dikatakan oleh iblis itu adalah fitnah. Sesungguhnya dialah yang berniat menghabisi kita dan menjual kematian kita kepada pihak konservatif! Mereka adalah pengkhianat bangsa!” pekiknya sembari menggantungkan sedikit harapan yang tersisa. Dengan kesadaran dan tekad yang nyaris padam, orang-orang itu terpengaruh oleh perkataan Tuan Chen. Laras-laras senjata genggam teracung kepada Aoyun dengan sedikit rekannya. Wanita itu menendang seonggok mayat yang berada di dekatnya, yang ternyata dimanfaatkan untuk menahan sebilah pisau yang terikat pada sehelai benang. Pisau itu tercabut dari lantai dan sebuah gaya menariknya ke atas menuju bubungan atap. Tiba-tiba saja mayat yang tergantung di dekat orang-orang itu terjatuh menghantam lantai dan menimbulkan bunyi berdentam yang nyaring sehingga membuat orang-orang itu terkejut. Hal tersebut kemudian disusul oleh bau menyengat yang mengerikan – berasal dari tabung kaca berisi campuran amonia dan fosfor yang dipasang tubuh mayat, tabung yang pecah setelah menghantam lantai membuat gas itu keluar. Mereka pun sontak menutup hidung dan mata mereka yang terbakar akibat sengatan gas, sementara itu Tuan Chen yang berdiri agak jauh dari situ tidak begitu terpengaruh. Di tengah kepanikan itu, salah satu dari mereka mengacungkan pistolnya ke sembarang arah dan menembak dengan membabi-buta. Dengan panik Tuan Chen berusaha mencegah orang itu sembari menghindari desingan peluru yang mengancam nyawanya, “Hentikan! Berhenti menembak! Janga-“ Bunga api yang memercik dari laras pistol menyulut gas yang menyebar di antara orang-orang itu, menciptakan sebuah bola api yang menjalari tubuh mereka dengan brutal. Pekikan yang memilukan membahana di seluruh ruangan disertai aroma-aroma yang akhirnya membuat Tuan Chen memuntahkan isi lambungnya. Ia benar-benar sudah diseret ke dalam liang neraka. Orang-orang yang selamat melarikan diri melalui anak tangga, begitu tergesa-gesanya mereka hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang sudah menunggu di bawah. Terpaan timah panas menyambut kemunculan mereka, satu per satu tubuh tanpa nyawa terguling hingga ke dasar tangga. Aroma mesiu yang dari senjata genggaman seorang pria berkumis lentik memenuhi ruangan. Perlahan pria itu menaiki anak tangga hingga memasuki pintu yang membawanya pada neraka kecil di mana Tuan Chen masih tersungkur di atas lututnya. “Aku sudah memperingatkanmu untuk melarikan diri selagi bisa,” sapa pria yang baru datang. “Harusnya aku habisi kau saat itu juga!” Wuyang merendahkan tubuhnya, “Silakan menyesal selagi bisa. Aku beri satu menit.” Dengan sisa tenaganya Tuan Chen melontarkan sekepal tinju yang seketika mendarat di wajah Wuyang, tubuh pria itu terjungkal ke belakang dan kacamatanya pun remuk. Tanpa menunggu lawannya itu bangkit, Tuan Chen menerjang dan siap melancarkan serangan selanjutnya. Tungkai Wuyang terjulur menyambut kedatangan pria itu. Alas sepatunya mendarat kokoh di perut Tuan Chen, kemudian Wuyang mengayunkan kakinya ke atas mengikuti arah kedatangan sang lawan. Terbawa oleh gaya geraknya sendiri membuat tubuh pria itu terpental ke sisi ruangan dengan suara berdentam; Tuan Chen meringis kesakitan akibat hantaman tersebut. Kali ini Wuyang yang sudah bangkit menghampiri Tuan Chen seraya mengibaskan serpihan kacamatanya dari mantel. Masih tersungkur di tempatnya, jemari pria itu menyentuh sesuatu yang akrab di ingatannya – sebilah pisau yang tersambung dengan mayat tadi dan terlempar ke ujung ruangan. Dengan pisau di genggamannya Tuan Chen menyerbu Wuyang dan mengayunkan sabetan-sabetan yang dibubuhi dengan keinginan membunuh yang murni. Meskipun begitu ternyata pria itu bukan tandingan Wuyang; kepanikan tidak menyelesaikan masalah. Serangan yang ceroboh itu dilumpuhkan oleh Wuyang, pisau tersebut direbut dari tangan Tuan Chen. Pergelangan tangannya seketika dipelintir hingga menimbulkan suara gemeretak nan membuat merinding. Sepasang tendangan melumpuhkan kedua sendi lutut Tuan Chen. Sembari menjerit kesakitan, pria itu berakhir dengan tersungkur membelakangi Wuyang. Wuyang menyayat telapak tangannya dengan pisau lalu menjambak rambut Tuan Chen hingga wajahnya terdongak. “Kau musang tua yang haus akan darah rekan-rekanmu sendiri, minumlah sampai puas,” ucap Wuyang sembari meneteskan darah yang mengalir dari tangannya ke dalam mulut Tuan Chen. Sontak pria itu mengatupkan mulutnya. Kemudian Wuyang membenturkan kepala lawannya itu ke lantai dan merogoh sakunya, dari sana Ia mengambil sepasang kacamata bulat berlensa hitam yang persis seperti miliknya. “Sebagai ganti yang kau pecahkan tadi.” Pria itu lalu berjalan menghampiri Aoyun. “Dia sudah tidak berdaya, kenapa tidak kau habisi?” tanya sang wanita. Cahaya kekuningan menyinari wajah Wuyang saat Ia menyalakan rokoknya, “Selesaikan saja sebagaimana yang menurutmu baik.” Aoyun mengeluarkan sepucuk surat dan memberikannya pada pria di sampingnya, “Patahkan kaki dan tangan orang itu lalu sandarkan dia di kursi itu. Pastikan jejak kita bersih, lalu panggil wartawan agar segera ke sini. Aku dan Wuyang menunggu di Huangtai.” Orang-orang itu pun bergegas menunaikan perintah tersebut. Aoyun dan Wuyang meninggalkan bangunan itu disertai pekikan yang membahana dari lantai atas. Wanita itu mengembangkan kerah mantelnya hingga menutup sebagian parasnya yang menawan, sebuah topi lebar bertengger di kepalanya. Angin bersalju meniup mantel kedua orang itu sehingga berkibar-kibar ketika mereka berjalan menyusuri trotoar jalan yang sepi, tidak satu pun dari mereka yang tampak berniat untuk membuka mulutnya. Wuyang memanggil taksi dan mereka pun melaju menuju tempat yang dijanjikan tadi. “Setelah ini apa?” Aoyun membuka percakapan begitu mereka turun dari taksi. “Kita kuras habis tabungan pengkhianat itu.” “Setelah itu?” Wuyang merogoh sakunya lalu memberikan secarik kertas kepada Aoyun. Sepotong tiket pelayaran dari Qingdao menuju ke Incheon. “Ada tawaran pekerjaan dari seseorang di Korea. Besok kita berangkat ke Incheon dan melanjutkan ke Gyeongseong. Urusan kita di sini sudah selesai, tidak ada gunanya menghabiskan waktu dengan politik omong kosong. Selama uangnya jelas, kita tidak perlu khawatir.” “Memangnya siapa?” tanyanya setelah menyimpan tiket tersebut ke dalam saku mantel. “Orang Joseon, sepertinya termasuk jajaran orang penting dan pemimpin perkumpulan yang entah apa namanya. Kita bakal sibuk dibuatnya karena orang-orang seperti itu akan terus tergantung dengan jasa yang kita tawarkan.” Namun Aoyun justru mendecakkan lidahnya serta menggerutu, “Ah, sialan!” “Kau tidak suka dengan pekerjaan ini?” Wuyang pun terheran-heran. “Bukan!” sahut Aoyun, “Aku hanya kesal kenapa harus di tempat sejauh itu. 15 jam perjalanan, di atas kapal lagi!” Wuyang mendenguskan napas. “Kau lihat toko itu?” Ia mengacungkan telunjuknya. “Kenapa memangnya?” “Itu toko obat. Borong saja semua obat mual yang ada di sana! Dikasih kerjaan malah enggak bersyukur,” gerutu Wuyang, kumisnya bergoyang-goyang. “Mabuk perjalananku ini akut dan sudah diturunkan dari para leluhur. Tidak ada obat yang bisa mencegahnya,” Aoyun menimpali tidak mau kalah. “Aku heran, kenapa bisa ada garis keturunan yang menyedihkan seperti itu?” “Sudahlah tutup mulutmu! Tidak ada yang membantu sama sekali.” Akhirnya kedua orang itu pun kembali membisu. Aoyun membenamkan dirinya semakin lekat ke dalam mantel, sementara Wuyang semakin sibuk dengan gulungan tembakau di mulutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN