BAB 18: SEPASANG JAKAL DARI QINGDAO (3)

2207 Kata
12 tahun yang lalu. Beijing, Bulan Mei 1919. Suasana pagi kota Beijing di kala itu sangat berbeda dari biasanya. Langit yang cerah tanpa tabir awan menudungi kota tersebut, dari segala penjuru terdengar kericuhan dan seruan yang mengguncangkan seisi kota. Gerbang Tienanmen yang mempersatukan kota Beijing mulai dikepung oleh ribuan orang yang datang dari seluruh sisi kota. Orang-orang itu mengangkat kertas-kertas dan papan bertuliskan seruan penentangan mereka terhadap keputusan dunia yang berniat mempermainkan Cina. Seraya mengibarkan panji-panji yang berisi keinginan hati rakyat Cina, para pengunjuk rasa mengumandangkan protes mereka. “Perjuangkan kedaulatan Cina hingga ke seluruh dunia!” “Usir para pengkhianat bangsa!” “Tolak Dua Puluh Satu Tuntutan! (yang diajukan oleh Jepang untuk mengambil alih Manchuria)” “Tolak penandatanganan Perjanjian Versailles!” Lebih dari 4.000 pelajar Cina bersatu di Beijing dan menggerakkan rakyat untuk menyerukan suara hati mereka kepada pemerintah Cina agar menjaga kedaulatan negeri itu dari campur tangan negara-negara asing. Ketidakberdayaan pemerintah dengan menyerahkan Provinsi Shandong dari tangan Jerman kepada Jepang menjadi puncak dari kemarahan para kaum cendekiawan. Tanpa mengenal lelah dan tidak mempedulikan terpaan matahari yang semakin menyengat, mereka dengan setia menggelorakan berbagai penolakan yang dimaksudkan untuk menguatkan hati pemerintah Cina agar mengatasi setiap muslihat yang dipersiapkan untuk melemahkan bangsa itu. Sayangnya semangat yang bergemuruh di antara para pengunjuk rasa itu melampaui batas yang bisa mereka kendalikan, sehingga sebagian dari pelajar-pelajar itu memutuskan untuk turun tangan. Siang itu ratusan pelajar yang turut berunjuk rasa memisahkan diri dari Tienanmen dan berniat untuk menyerbu kediaman tiga bejabat yang diduga berkomplot dengan Jepang. Mereka yang memisahkan diri itu kemudian membagi kelompok tersebut menjadi tiga regu dan melakukan penyerangan serta perusakkan terhadap kediaman pejabat yang dimaksud. Dengan disulut oleh kemarahan yang terus diprovokasi, para pelajar tersebut menerobos serta menghajar para pelayan dan penghuni kediaman itu kemudian membakarnya. Tindakan ini membuat suasana semakin gempar. Kepolisian pun diterjunkan untuk menanggapi aksi kerusuhan di kediaman para pejabat itu sehingga terjadi huru-hara antara kaum pelajar dengan pihak kepolisian. Mereka yang didapati terlibat dengan kerusuhan itu segera ditangkap dan dihajar habis-habisan, namun sebagian lagi berhasil melarikan diri. Setelah dibuat babak belur tidak berdaya, pelajar-pelajar yang tertangkap segera dijebloskan ke penjara. Hari itu pun berakhir dengan menyisakan ketegangan yang tidak perlu antara pengunjuk rasa dan polisi. ================================================================================== “Kita usir orang Jepang dari tanah Cina!” “KITA USIR ORANG JEPANG DARI TANAH CINA!” “Musnahkan barang-barang dari Jepang!” “MUSNAHKAN BARANG-BARANG DARI JEPANG!” “Tinggalkan Perjanjian Versailles!” “TINGGALKAN PERJANJIAN VERSAILLES!” Demonstrasi pelajar di Beijing memasuki jilid kedua. Meskipun masih dilanda ketegangan dengan polisi, kaum cendekiawan kembali berkumpul memenuhi pusat kota. Para mahasiswa dari salah satu universitas di Beijing bahkan mengumpulkan barang-barang yang diimpor dari Jepang dan membakarnya di sebuah tanah lapang. Unjuk rasa susulan ini akhirnya menggugah simpati yang besar dari masyarakat Cina secara luas; para pedagang, pekerja, dan pelajar dari kota-kota besar turut menyuarakan penolakan terhadap penindasan yang dipersiapkan atas negeri mereka itu. Radio-radio mengudarakan peristiwa tersebut dan surat kabar mengabadikannya. “Hei, Pinghai! Aku capek, istirahat dulu yuk!” “Iya nih! Napasku sudah sesak!” timpal seorang pemuda yang tertunduk di atas lututnya. Pemuda bernama Pinghai memandang kedua temannya itu, “Baiklah, di sana ada tempat untuk berteduh. Dari pada di sini, kita duduk di sana saja.” Tiga sekawan itu pun mengajak beberapa temannya yang lain untuk ikut beristirahat. Di bawah sebatang pohon yang rindang yang agak jauh dari keramaian, sekelompok pelajar itu mengunjurkan kaki mereka masing-masing sambil meminum bekal minuman. Namun salah satu dari mereka tampak tidak membawa persediaan bekal apa pun sehingga Ia hanya bisa melihat ketika teman-temannya melepas dahaga. “Tangkap!” seru Pinghai. Sebotol minuman berisi air mendarat di genggaman pemuda tersebut, “Ah, terima kasih!” “Shenjin,” tegur Pinghai lagi pada kawannya tadi. Begitu selesai menenggak air minum dan menyeka bibirnya, pemuda yang dimaksud pun mengangkat alisnya. “Kenapa kau masih saja ikut-ikutan berunjuk rasa? Padahal asmamu bisa saja kambuh. Mana tidak bawa bekal minuman lagi!” Shenjin tersenyum, “Masa aku berdiam saja di rumah sementara kalian berlelah-lelah di sini? Iya, tidak?” ucapnya sambil mendongakkan wajah dan menepuk pundak rekan di sebelahnya. “Adikmu bagaimana? Belakangan ini juga kau sudah sering ikut dalam perkumpulan pelajar, padahal itu sumbangan-sumbangan saranmu saja sudah lebih dari cukup untuk mewakili kehadiranmu. Tidak baik meninggalkan perempuan muda sendirian.” “Ah, kau ini sudah seperti ibunya saja!” tukas salah satu rekannya, yang disambut dengan gelak yang terlontar dari mulut mereka. Terserap dalam perbincangan satu sama lain, sekumpulan pelajar itu tidak menyadari sosok-sosok yang mendekat ke arah mereka. Dari kejauhan seorang pria datang dengan langkah tergesa-gesa disusul dengan segerombolan polisi beratribut lengkap. Pria itu menyeka keringatnya dengan sapu tangan, lalu menunjuk-nunjuk ke arah para pelajar yang sedang beristirahat di bawah pohon. “Mereka yang kemarin menyerang kediaman Tuan Zhang, pasti sekarang sedang merancang rencana penyerangan lagi,” tuduhnya. Seketika gerombolan polisi itu menerjang ke arah pemuda-pemuda itu dengan pentungan di masing-masing genggaman mereka. Tanpa basa-basi Pinghai dan teman-temannya disergap serta dipukuli tanpa sempat berkata-kata. Pinghai berusaha keras melepaskan diri seraya berteriak kalau mereka tidak salah apa-apa dan hanya sedang beristirahat, namun tidak seorang pun menggubrisnya. Salah satu aparat menendang Pinghai hingga terguling lalu mengayunkan pentungannya ke udara. Shenjin mendobrak tubuh petugas itu sampai mereka terjatuh. Tindakan itu mengundang kemarahan dari aparat lainnya yang segera mencenghampiri Shenjin dan mementung kepalanya dengan sangat keras. Pemuda itu seketika hilang kesadaran dan terkapar di tanah. Dengan tubuh bonyok di sana-sini, para pelajar itu diseret dan dijebloskan ke dalam penjara kecuali Shenjin yang dibawa menuju rumah sakit. Pinghai dan teman-temannya diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh sipir penjara, selama beberapa hari mereka bahkan diberikan makan dan minum yang tidak layak dengan porsi yang sangat kecil. Kendati demikian, keluarga rekan-rekannya yang berasal dari kalangan cukup terpandang satu per satu mengunjungi penjara tersebut dan membebaskan anak mereka. Secara bergantian Pinghai memandangi teman-temannya itu saat mereka melewati ruang selnya. Sampai akhirnya teman yang terakhir pun dibebaskan setelah keluarganya memberikan uang jaminan, Pinghai yang merasa tidak bersalah berseru serta memohon belas kasihan pada keluarga temannya tersebut agar bersedia menjamin dirinya juga. Ia pun berjanji melunasi uang jaminannya kelak. Namun keluarga itu menepis lengan Pinghai seraya melarangnya untuk bergaul dengan anggota keluarga mereka. Putus asa, Pinghai tidak punya pilihan lagi selain pasrah. Setidaknya Ia berharap Shenjin tidak ikut diseret ke penjara, terlebih lagi jika sahabatnya itu bisa datang mengunjunginya. Bulan-bulan seperti neraka sudah dilalui oleh Pinghai. Tidak ada yang datang untuk sekadar menengok keadaannya; rekan-rekannya tidak, Shenjin pun tidak, bahkan calon istrinya sendiri pun tidak kelihatan batang hidungnya. Pinghai adalah anak yatim dan hanya tinggal berdua dengan ibunya. Kesehatan ibunya yang menurun drastis sejak mengidap tuberkulosis mengharuskannya untuk menjadi tulang punggung keluarga. Tidak cukup mengurangi porsi makannya, para sipir penjara bahkan beberapa kali memukulinya tanpa alasan yang jelas. Harapan pemuda itu berangsur-angsur menghilang seiring dengan ingatannya dengan semua orang yang pernah Ia kenal. Kini Ia sadar kalau Ia sendirian.   ===================================================================================== Enam bulan kemudian, November 1919. Pagi-pagi sekali seorang sipir penjara menghampiri sel Pinghai, pria itu pun membukakan kunci pintu besi tersebut. Dari pembaringannya Pinghai hanya melirik dengan tidak berdaya. “Bangun!” tegur sipir itu sambil menendang kaki sang tahanan, “Kau sudah bebas.” Sontak Pinghai terduduk dan memandangi wajah sipir tersebut, mulutnya ternganga-nganga seakan tidak percaya dengan kata-kata barusan. “Kau sudah tuli, ya!?” bentaknya, “Cepat bangun dan tinggalkan tempat ini!” Akhirnya harapan hidup Pinghai yang sudah benar-benar padam seketika terbit kembali. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang datang dari memar di sekujur tubuhnya, sang tahanan pun segera bangkit dan keluar dari pintu sel. Sipir itu mengantarkan Pinghai hingga meninggalkan bangunan penjara. Dengan hanya berbekal sehelai mantel yang diberikan cuma-cuma dan satu setel pakaian compang-camping, pemuda itu berjalan menyusuri jalanan kota Beijing seraya menghirup udara bebas setelah mati-matian bertahan hidup di neraka besi. Sayangnya Pinghai belum menyadari bahwa dewi kesialan masih tersenyum padanya. Kota Beijing kembali diliputi oleh suasana yang mencekam. Jejak-jejak kerusuhan tampak memenuhi kawasan kota, pertokoan ditutup paksa, dan tidak terlihat bekas-bekas kehadiran manusia di sisi kota tersebut. Pemandangan tersebut membuat Pinghai bertanya-tanya. Dipungutnya sepotong surat kabar, “Reformasi Budaya yang lahir dari Demonstrasi Mahasiswa: Revolusi melawan Imperialisme dan Feudalisme.” Potongan berita itu membuat Pinghai tertegun dan seketika tersungkur di atas lututnya. Cina kembali dilanda perpecahan. Untuk beberapa saat pemuda itu membisu, pikiran melanglang buana meninggalkan tempurung kepalanya yang ditumbuhi belukar rambut tidak keruan. Pinghai kembali menyusuri Beijing yang porak-poranda, tampak orang-orang membereskan puing-puing yang berserakan memenuhi jalan. Penampakan yang begitu berbeda ketika terakhir kali Ia melihat kota tersebut – sebelum dijebloskan ke dalam penjara. Tidak lagi terlihat masyakarat yang bersatu menyuarakan kemerdekaan Cina, hanya orang-orang yang tidak mempedulikan satu sama lain. Pinghai meringis, sepotong beling mengiris telapak kakinya hingga mengucurkan darah. Akhirnya Ia memutuskan untuk menghampiri sebuah gang kecil yang remang-remang, diapit oleh sepasang gedung pertokoan yang tidak luput dari huru-hara. Dari situ keluar beberapa orang pria, dengan tergesa-gesa mereka merapikan pakaian lalu lari dari tempat itu. Mata Pinghai mengamati mereka dengan bingung hingga sosok-sosok itu menghilang di balik tikungan jalan. Laki-laki itu melanjutkan langkahnya menuju gang, namun langkahnya terhenti disertai rasa kaget yang luar biasa. Di tengah gang yang gelap tampak seorang manusia terkapar tidak berdaya. Seorang gadis. Keadaannya mengenaskan; luka memar dan bekas kekerasan tertoreh pada kulitnya yang putih bersih, pakaiannya tercabik-cabik, dan di sekujur tubuhnya terlihat bercak noda-noda kebiadaban. Kendati pemandangan itu sangat menyayat hati Pinghai, ada satu kenyataan yang sungguh membuatnya hatinya remuk redam, seolah-olah seseorang mencabut jantung dari dadanya dan diremas-remas di hadapannya. Ia pun tidak dapat menahan air matanya, lendir licin membasahi kumis dan janggutnya yang tumbuh dengan brutal. Sejenak Pinghai mengira kalau sosok di hadapannya itu sudah tidak bernyawa kalau saja Ia tidak menyadari gerakan naik-turun pada dadanya yang tidak ditutupi apa pun, serta gerakan mendelik dari pupilnya. Tatapan gadis itu begitu sayu, jejak sembap memenuhi kulit mukanya; tidak ada kehidupan yang tersisa dari pancaran netranya. Hanya tersisa rasa sadrah. Laki-laki tersebut berjongkok seraya memandang dengan pilu, tidak disembunyikannya wajah yang basah kuyup akibat peluh dan air mata. Namun yang dipandangi terus saja melirik dan bergeming. Tatapan mata mereka bertautan dalam selubung masygul. “Apa yang kau tunggu lagi? Ini yang kau inginkan, ‘kan?” teguran lirih melantun dari sela-sela bibir yang pucat itu. Pinghai mengusap-usap wajahnya, “Apa!?” “Puaskan rasa hausmu atas kami... kaum yang ada di dasar kakimu.” “Shenling,” sahut pemuda itu. “Kenapa kau diam saja? Aku sudah siap.” “Shenling, dengar-“ “Tenagaku sudah punah, kau buka sendiri saja,” sambung gadis itu seraya menggeserkan sedikit kedua kakinya. “Shenling!” “Kau takut dengan rasa bersalah?” gadis itu dengan susah payah memungut bungkusan kertas minyak kecil berisi karet, “Para j*****m itu meninggalkan ini, seolah-olah mereka sudah merencanakannya.” Dengan marah Pinghai merampas benda itu dan melemparnya, “SHENLING! SADARLAH!” “Apa pedulimu?” “Ini aku, Pinghai,” laki-laki itu tidak bisa menahan rasa sesak yang terus memompa air matanya untuk mengalir, “Shenjin – kakakmu – adalah sahabatku,” Pinghai pun memukul-mukul dadanya. “Pinghai? Kriminal itu? Apa urusanmu di sini?” “Apa yang terjadi denganmu!? Ke mana kakakmu!?” Gadis itu membisu, pupilnya yang serupa dengan ikan mati memandangi awan yang bergerak melalui celah gang. Setitik kristal air mengembun pada lensa matanya, seketika air matanya tertumpah keluar. Isak mewarnai rona wajahnya nan sesaat lalu mati, mengembalikan sedikit kehidupan melalui gigitan bibirnya karena menahan cengkeraman di dalam d**a. “Kakak...” ucapnya dalam pecahan tangis. Pinghai melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh gadis itu, diangkatnya kepala gadis tersebut dan membaringkannya pada pangkuannya yang kasar. Sebuah tangisan yang memilukan melanda Shenling hingga tubuhnya bergetar hebat. Laki-laki itu membelai rambut sang gadis seraya berusaha air matanya sendiri. “Kakak...” ucap gadis itu lirih begitu kesadarannya bangkit, “...sudah meninggal.” Jawaban itu seketika memberikan pukulan baru yang tidak kalah dahsyat bagi Pinghai. Mulutnya dibiarkan kelu, seakan meminta Shenling untuk meneruskan perkataannya. “Hantaman di kepala yang membunuh kakak. Trauma pada tempurung kepalanya terlalu parah, nyawanya tidak terselamatkan.” Gadis itu perlahan menceritakan segala yang terjadi sepeninggal Shenjin. Pinghai pun menyadari kalau Shenling yang selama ini juga sebatang kara telah mengalami hidup seperti di neraka untuk sekadar berjuang menghidupi diri. Di saat yang bersamaan laki-laki itu merasakan sebuah keterikatan yang istimewa dengan gadis di pangkuannya itu. Perasaan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan nafsu fana yang terlahir antara laki-laki dan perempuan, lebih dalam dari kasih sayang seorang saudara; seakan-akan aliran nadi dan hembusan napas mereka ditakdirkan untuk seirama. “Ayo kita tinggalkan Beijing,” akhirnya Pinghai membuka mulutnya. “Ke mana? Apa yang kita akan lakukan?” “Aku memiliki seorang kenalan yang berhutang budi denganku. Dia saat ini tinggal di Qingdao. Kita bisa melakukan apa saja selama kita meninggalkan kota ini.” “Kenapa kau ingin membawaku?” Pinghai menatap mata gadis itu dari sela-sela rambutnya yang menjuntai, dalam ain berwarna cokelat cerah itu Pinghai melihat sosok dirinya, “Sebab kaulah satu-satunya yang aku percaya, dan akan terus seperti itu. Kalau kau menolak, aku akan menyeretmu.” Dengan tenaganya yang tersisa, Shenling bangkit dari pembaringan, “Tidak perlu,” jawabnya, “Sejak awal aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kota ini hanya akan meninggalkan ingatan buruk untukku.” Kedua orang itu pun memutuskan untuk berlalu dari gang tersebut. Pinghai membawa Shenling menuju kediamannya yang sangat sederhana di kawasan perumahan padat, kemunculan laki-laki itu disambut oleh buah bibir yang datang dari mulut orang-orang di sana. Mereka sudah kebal, tidak satu pun bisa menorehkan luka yang cukup sakit hingga membuat batin mereka tersentak. Di pekarangan sempit di belakang rumah Pinghai mendapat sebuah makam baru, Ia pun berdoa dan memberikan penghormatan terakhir lalu mengemas barang bawaan. Agar tidak membuat masalah di masa mendatang, Pinghai mencukur rambut-rambut yang menutupi wajahnya dan merapikan penampilannya. “Tinggalkan kesialan, songsonglah keberuntungan,” ujarnya sembari melemparkan setelan pakaian yang terbaik yang ada di dalam lemari milik mendiang ibunya. Shenling menyambut pakaian itu, membersihkan diri, dan turut menata penampilannya dengan sisa-sisa kosmetik yang tersimpan di rumah Pinghai. Dengan tabungan yang tersisa, Pinghai membeli sepasang tiket kereta api yang mengantarkan mereka dari Stasiun Zhengyangmen menuju Qingdao. Tumpahan cahaya jingga seakan mewakili perasaan sepasang manusia itu saat kereta mereka melaju meninggalkan kota Beijing, menjauhkan mereka dari noda-noda masa lalu yang telah menyetubuhi nurani mereka; janin kebiadaban itu niscaya menjelma menjadi sesosok momok yang siap menggerogoti remah-remah kemanusiaan dalam diri Pinghai dan Shenling.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN