Shuttle Racing Arena – Jakarta Pusat 2021
Setelah sepeninggalan Arunika Gauri dari diskusi dadakan mereka di meja bundar, Arellio Pandji Julien akhirnya mengakhiri briefing nya dengan Eclaire Team yang lain dan mempersilahkan yang lainnya untuk segera membubarkan diri.
Benjamin dan Rowan setelah dipersilahkan bubar buru-buru bergegas angkat kaki dari meja bundar itu lalu bergabung dengan orang-orang yang tengah berpesta dan menghilang diantara keriuhan orang-orang di sana.
Pria itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya – pukul sepuluh – dia meletakan gelas champagne di depan meja lalu mengangkat telapak tangannya dan tidak lama setelah itu dua orang yang berpakaian hitam rapi mendekat kearahnya.
“Ya Pak Arellio?.” Ucap sigap pria berpakaian serba hitam itu dia berdiri gak jauh dari Arellio.
“Jadwal saya besok Ken?”
Tanya Arellio dengan mata menerawang jauh, kedatangannya di Shuttle Racing malam ini setidaknya telah menunda beberapa pekerjaan yang harusnya dia lakukan malam ini. Kendrick Lesham yang merupakan Personal Asistant Arellio Julien sejak pria itu pertama kali mengembangkan Glorious Life mengangguk paham lalu membuka tablet yang selalu berada di tas tangannya butuh beberapa saat bagi pria itu membuka file di tablet itu sebelum membacakannya kepada Arellio.
“Bapak harus menghadiri beberapa meeting internal di kantor untuk membahas tender kerjasama smelter baru di Gresik, lalu jam dua melakukan wawancara dengan Forbes untuk edisi Desember, jam dua tiga puluh bertemu dengan beberapa politisi di Royale Driving jam lima sore anda harus bertemu dengan Ibu Annelyn Sasongko dari Silvetter Private Limited dan jam tujuh anda memiliki dinner meeting dengan pihak property –”
“Masih ada sampai jam tujuh Ken?” Tanya Arellio memotong perkataan sekretarisnya itu, dia tidak suka kalau harus bekerja sampai malam besok. dia menghela nafas lelah terkadang doa terlalu lelah untuk menjalani hidupnya menjadi raja pemimpin di atas segala raja pemimpin membuat dia menjadi begitu dewasa dan kesepian.
“Iya Pak, seharusnya anda dinner meeting hari ini.”
Balas Ken penuh dengan penuh keyakinan, dia harus meyakinkan Arellio kalau pria itu tidak boleh lagi menunda meeting nya atau nanti Ken lah yang mendapatkan getahnya karena kelabakan menyesuaikan Jadwal Arellio, karena demi tuhan! bagi Kendrick Arellio itu adalah salah satu wujud manusia paling sibuk yang pernah dia temui.
Arellio mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, “Emm okay tolong kamu pindah dinner nya jadi launch besok saja ya dan Saya ingin pulang sekarang, siapkan mobilnya.”
Oh Tidak– Kendrick mendesah dalam hati karena permintaan mendekati mustahil itu, jadwal Arellio Julien besok begitu sangat padat dan tidak ada jeda jadi Kendrick sangsi kalau dia dapat memindahkan begitu saja jadwal itu. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain mengabulkan perintah itu.
“Baik Pak.”
Kendrick menjawab dengan mantap, walaupun hatinya ketar-ketir ia lalu berkomunikasi dengan headsfree yang ada di telinganya mengintruksikan para bawahan mereka untuk segera menyiapkan mobil karena boss mereka akan segera turun ke bawah.
“Oiya Ken, saya ingin mengemudi sendiri saja deh.”
Kata Arellio berubah pikiran, dia mendadak hanya ingin mengemudi bersama Arunika saja malam ini.
“Baik pak akan saya siapkan mobilnya segera tolong tunggu sebentar.”
Arellio merapikan kembali pakaiannya sebelum berjalan turun menuju halaman gedung, sepanjang perjalanan banyak orang membungkuk menghormati pria itu. Jangan heran Arellio adalah Pebisnis muda yang sukses mambawa nama Glorious Life –sebuah perusahaan perhiasaan, ke kancah internasional dia juga merupakan penyokong dana terbesar nomor tiga di Shuttle Racing.
Begitu kaki jenjangnya berhasil membawanya keluar dari gedung dan berada di sayap bangunan ia secara tidak terduga melihat Arunika tengah berhadap-hadapan dengan seorang pria yang sangat tidak familiar di mata Arellio, pria itu berhenti melangkah membuat beberapa orang di belakangnya juga berhenti melangkah mereka tidak bertanya apapun hanya diam dengan posisi siap sempurna.
“Ada apa Pak?”
Tanya Ken dengan kening berkerut dalam, Arellio mengangkat telapak tangannya kembali memberi isyarat kepada pria itu untuk berhenti bertanya dan jangan mendekatinya.
“Kunci.”
Kata Arellio singkat, pria itu menerima kunci mobil yang diberikan oleh Ken lalu kembali berjalan di koridor dengan langkah sedikit keras seperti mengumumkan kedatangannya kepada dua insan itu dan ia berhasil Arunika dan pria asing itu menoleh kearahnya.
“Arunika.”
panggil Arellio dengan suara yang cukup keras untuk di dengar mereka semua. Butuh selama satu menit bagi Arellio untuk menunggu Arunika bergerak dari tempatnya berdiri dan meninggalkan pria asing itu. – dan demi tuhan Arellio tidak suka menunggu!!! namun karena ini adalah Arunika dia tidak berbicara apapun untuk protes.
“Siapa?”
Tanya Arellio begitu Arunika berhasil mendekat kedepannya.
“Kenalan.” jawab Arunika dengan pelan.
“Kenalan?”
Tanya Arellio dengan tidak yakin, dia dapat melihat kalau pria asing yang ia lihat beradu argumen dengan wanita di depannya ini.
“Ya, teman Mario.”
Karena tidak ingin memperpanjang masalah itu, Arellio mengangguk saja ia membiarkan Arunika menggandeng tangannya menuju ke mobil mereka – sebuah Volvo S90 hitam milik Arellio yang telah terparkir tidak jauh dari mereka.
“Saya sepertinya belum memuji kamu ya malam ini? you look great with that style.”
Itu adalah kalimat yang pertama kali yang didengar Arunika saat ia berhasil mendudukan dirinya di jok depan dan menutup pintu mobil. Saat mengatakan hal itu Arellio tidak bisa menyembunyikan senyuman lebar nya karena Arunika memakai semua pakaian yang ia pilihkan untuk wanita itu.
“You look great juga Pak dengan your suit.”
Dan Arunika pun juga tidak bohong saat mengatakan kalau pria itu juga sangat ganteng dengan setelan Versace yang di jahit khusus untuk pria itu, apalagi di dukung oleh wajahnya yang blasteran Indo France dan perawakan yang L Man abis! he looks so great tidak pernah ada sejarahnya pokoknya kalau pria itu tidak ganteng never in a million years.
Mendengar balasan itu Arellio mencebik kan bibirnya kesal, selama beberapa bulan terakhir ini Arellio selalu mengingatkan Arunika untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Pak dan seperti biasanya wanita itu tidak akan mendengarkan namun walaupun begitu Arellio juga akan selalu mengingatkan agar nantinya wanita itu terbiasa juga.
“Sampai kapan kamu akan memanggil saya Pak Pak terus Arunika, I tell you panggil saya Arellio saja.” Kata Arellio dengan sangat tegas
Here we go again! Perdebatan tentang nama panggilan memang tidak bisa terhindarkan selama ini.
Bagi Arunika perbedaan umur mereka yang terpaut enam tahun membuat Arunika begitu segan kepada pria itu apalagi dengan sepak terjangnya di dunia per bisnisan di Indonesia, mana berani ia memanggil Arellio dengan nama saja? Apalagi kalau di pikir-pikir mereka itu juga terhitung dengan rekan bisnis.
“Kita tidak akan pulang?”
Tanya Arunika mengalihkan pembicaraan, ia mengendik kan matanya kearah jam yang di dasbor memberitahukan kepada Arellio kalau mereka tidak pergi sekarang mereka akan sangat terlambat menuju rumah dan Arellio yang tahu kalau Arunika benar menghela nafas pasrah sebelum mengemudikan mobilnya bergabung bersama hiruk pikuk lalu lintas Jakarta yang tidak pernah sepi.
“Nika...”
Panggilan Arellio membuat Arunika yang awalnya melihat keluar jendela mobil menoleh kearah pria itu, kalau pria itu memanggil Arunika seperti itu artinya pria itu sedang sangat serius dan Arunika berharap itu bukan karena masalah tadi.
“Ya Pak?” Jawab Arunika pelan.
“Do you want to quite?” Tanya Arellio dengan hati-hati, ia sudah lama ingin menanyakan hal ini kepada Arunika namun tidak pernah menemukan waktu yang pas.
“Ha?” Arunika membelakkan matanya terkejut.
“Kamu tidak ingin berhenti menjadi driver Eclaire? belum terlambat, kamu bisa berhenti sekarang dan saya akan memberikan kamu pekerjaan lain yang legal, stabil dan tidak berbahaya.”
Kata Arellio dengan sungguh-sungguh dia sedikit menyesal karena mengenalkan Arunika di dunia seperti ini ia ingin memperbaikinya sebelum semuanya semakin terlambat.
“I am fine. Saya baik-baik saja dengan itu I luv driving, kamu tahu kan kalau saya selalu berterimakasih kepada kamu atas semua bantuan kamu selama ini.”
“Saya menyesal Nika saya –”
“Don’t, jangan membuat saya terlihat buruk dengan pilihan saya.”
Arellio menghela nafas tidak memiliki pilihan lain kalau Arunika telah mengatakan tidak maka wanita itu tidak akan mengubah keputusannya sekuat apapun Arellio memohon, ia akhirnya dengan tidak rela menyodorkan sebuah folder berisi berkas kepada Arunika yang bingung dengan maksud pria itu, “Ini apa?”
“Besok Saya perlu kamu untuk bertemu dengan beberapa rekan bisnis, pelajari mereka baik-baik ya.”
Arunika mengangguk menerima bundelan dokumen itu mempelajarinya seperti yang di perintahkan oleh Arellio sepanjang jalan menuju ke Jakarta Pusat.
“Arunika Gauri .... I’ ll tell you, after you meet them tidak ada jalan untuk kembali keputusan kamu hari ini artinya kamu adalah bagian dari Eclaire. Toi, ta vie appartient a eclaire et a la mienne.” Kata Arellio dengan nada yang sangat serius.