Faculty of Business and Social Science Klandestein University of People – Jakarta Pusat 2021
Sepertinya Arunika Gauri harus benar-benar melupakan kehidupan damai miliknya di Klandestein University Of People's yang telah ia bangun susah payah sedari dulu setelah kejadian maha dahsyat yang baru saja menimpa dirinya kemarin. Dia juga harusnya melarikan diri saja begitu semua orang membicarakan tentang dirinya di laman portal komunitas Klandestin, kalau pun bisa dis harusnya mengajukan surat permohonan cuti kuliah kepada rektor sekalian!
Tapi bukannya me realisasikan apa yang ada dipikirannya itu lihat apa yang Arunika lakukan sekarang! Berjalan dengan mengendap-endap memasuki area Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial Klandestein University of People's seperti seorang buronan yang paling di cari. Ini semua tidak lain dan tidak bukan karena Berita palsu tentang dirinya yang terbang lebih cepat dan mungkin ya atau tidak kebenaran tertatih-tatih menyusulnya dibelakang atau mungkin bahkan gak menyusul sama sekali?
Memang sih pada kenyataannya sekarang ini kan kebohongan tersebar jauh lebih cepat, lebih jauh, lebih dalam dan lebih luas jangkauannya daripada kebenaran hal itu terjadi karena berita bohong dapat memenuhi keinginan manusia untuk hal baru – kayak menjadi bagian dari kebutuhan hidup.
Walaupun ia telah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mencolok diantara mahasiswa Klandestein yang lain dengan pakaian seperti yang biasanya ia pakai; kemeja coklat dan celana bahan hitam ditambah dengan masker yang menutupi separuh wajahnya tetap ada saja orang yang menoleh dua kali kepada Arunika, sial sekali kan hidupnya?
“Heiii Arunika Gauri!”
Baru Arunika hendak naik ke atas tangga untuk menuju ke kelas United States government and political studies yang berada di lantai dua ia mendengar panggilan yang begitu keras menyerukan namanya.
Arunika tidak tahu orang b******k mana yang memanggil namanya dengan begitu keras di tengah koridor yang sangat ramai oleh orang yang berlalu-lalang, Arunika pun juga tidak ingin tahu siapa orang sialan itu.
“Arunikaaa Gauriiiii.”
Awalnya dia hendak mengabaikan saja panggilan itu dan melipir naik ke atas namun lagi-lagi karena namanya di panggil kembali, namun kali ini dengan nada yang begitu menyebalkan, jelas dan sangat keras karena sepertinya orang sialan itu menggunakan pengeras suara akhirnya Arunika menyerah.
“Yoo Arunika gue tahu lo bakal gak denger kalau gue panggil begitu aja jadi thank you so much to Klub musik yang udah minjemin gue microphone karaoke nya kalau lo masih gak denger gue ulang lagi ya, Arunika Gauriiiii Arunikaaa Gauriiiiii!”
Arunika menggeram kesal berbalik hanya untuk melihat si b******k Fabian Airlangga menatapnya dengan senyum yang terkembang secara sempurna seolah telah menang dalam pertempuran yang membutuhkan kewarasan, kesabaran yang sangat ekstrem, dan mental yang kuat. Semua orang yang berada di koridor lagi-lagi menghentikan semua kegiatan mereka hanya untuk menonton kembali opera sabun yang tersaji di depan mereka.
Ini masih pagi damn! Dan mereka bahkan bertemu tadi malam, apakah pria itu tidak puas telah mengganggunya? apakah peringatan Arunika malam itu tidak begitu jelas juga untuk seorang Fabian Airlangga?
Terlalu banyak telinga yang mendengar dan mata yang melihat, Arunika tidak ingin kembali menjadi tontonan seperti yang terakhir kali– walaupun sekarang pun dia sepertinya telah menjadi tontonan– jadi yang dia lakukan sekarang adalah menatap Fabian Airlangga menuruti apa yang diinginkan pria itu agar semuanya cepat selesai.
Fabian menyerahkan mic nya kepada orang yang berada disampingnya lalu berjalan mendekati Arunika mereka kali ini berhadap-hadapan dengan kedua mata yang saling menatap tajam satu sama lain. bersiap untuk melayangkan genjatan senjata satu sama lain.
“Perhatian! Untuk semua orang yang merekam ini dan menyebarkannya di Laman komunitas sama saja berurusan dengan gue mengerti jadi turunkan semua ponsel lo dan get off lo mengerti?!”
Fabian berteriak dengan lantang menghentikan beberapa orang yang hendak mengarahkan kamera ponsel mereka kepada keduanya. dan ancaman itu berhasil membuat orang-orang kembali menurunkan ponsel mereka masing-masing tidak ingin terlibat masalah yang pelik dengan seorang Fabian Airlangga.
“Lo sepertinya sangat gila dengan perhatian ya?”
Pertanyaan namun lebih menyerupai sarkasme itu di lontarkan Arunika dengan geram. Fabian yang mendengar perkataan itu dari Arunika menahan senyumnya dia aslinya tidak ingin seperti ini namun entah bagaimana sekarang dia hanya ingin semua orang tahu tentang dirinya dan Arunika dan dengan begitu wanita itu tidak bisa menjauh ataupun melarikan diri darinya.
“Gue menyuruh mereka untuk tidak merekam kita padahal.” Balas Fabian dengan cepat, menyanggah tuduhan yang dilayangkan oleh Arunika.
“Tapi yang lo lakukan sekarang di hadapan semua orang tidak ada bedanya dengan mencari perhatian Fabian Airlangga.” Balas Arunika dengan penekanan di setiap kalimatnya.
“Woahh peningkatan Lo sekarang tahu nama Gue juga! ya ampun gue sangat tersanjung.” Pria itu tersenyum lebar terlalu senang, ia mengartikan bahwa Arunika setidaknya tahu siapa dirinya.
Arunika berdecak kesal, “Jadi bisa Lo hentikan semua permainan gak penting Lo sekarang karena gue gak memiliki waktu untuk bermain dengan Lo sama sekali.” Kata Arunika kesal.
“Gue gak sedang bermain, gue hanya ingin Lo mengingat karena kita masih punya urusan yang belum terselesaikan dengan baik.” Balas Fabian keras kepala.
Duh gusti! Arunika menyebarkan dirinya dalam hati, dalam menghadapi jenis syaiton seperti Fabian Airlangga.
“Gue rasa gue juga sudah pernah bilang kepada Lo dengan sangat jelas kalau kita tidak memiliki urusan tadi malam.” Arunika berkata dengan sangat tenang tanpa emosi dia harus tetap waras kalau ingin menghadapi seorang Fabian!
“Itu kan dari sisi Lo....” Fabian men jeda perkataanya ia mendekatkan wajahnya ke telinga Arunika memastikan bahwa hanya mereka yang mendengar percakapan itu, “Mengingat Lo membahas tadi malam gue merasa gue terlalu banyak memegang rahasia Lo dan itu sepertinya menjadi alasan yang cukup untuk kita berdua untuk memiliki sebuah urusan.”
Arunika tersenyum samar, “Gue juga sepertinya pernah berkata dengan Lo kalau gue gak peduli dengan apa yang akan lo lakukan.”
“Lo gak takut gue mengatakan kepada semua orang tentang Lo balapan dan simpanan lo?” Fabian tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya karena wanita di depannya ini begitu santai! dan percaya diri keberaniannya patut untuk di beri acungan jempol. normalnya kalau orang sudah tertangkap basah mereka past akan memohon untuk tidak disebarkan tapi Arunika Gauri?
“Lo ternyata bermulut besar kalau begitu, Gue peringatkan kepada Lo Fabian Airlangga gue bukan orang yang mudah Lo tindas jadi lakukan apapun yang ingin lo lakukan karena gue gak peduli, lo dengar gue gak peduli!”
Arunika mundur satu langkah lalu mengirimkan pria itu jari tengah miliknya sebelum berbalik menjauh dengan langkah seribu meninggalkan koridor membuat teriakan dan tawa membahana terdengar dari mulut si sialan Fabian yang sepertinya tidak menyangka dengan apa yang baru saja Arunika Gauri lakukan.
dia baru saja di beri jari tengah bung!!! apalagi oleh seorang wanita! tolong di catat seorang wanita!
Taman Klandestein University of People menjadi satu-satunya tempat pelarian Arunika saat ini dari banyaknya atensi yang di berikan kepada dirinya. Untuk mencapai Taman Arunika harus berjalan sangat cepat menyusuri koridor penuh mahasiswa sebelum berbelok ke ujung koridor, sepatu kets Arunika menapak rumput hijau Taman ia bergegas menyembunyikan dirinya di balik pohon besar lalu dia menghela nafas lelah menyandarkan tubuhnya di batang pohon, sepertinya dia akan kembali melewatkan kelas pertamanya.
“Gue sudah menduga kalau Lo bakal kabur kesini.”
Sebuah suara dari balik pohon membuat Arunika secara cepat menoleh ke belakang dan menemukan orang yang paling b******k di dunia tengah berdiri di dekatnya dengan lengan mengulurkan sekaleng cola untuk dirinya.
“Ini Cola gue baru beli Aman!” ujar pria itu lagi, tangannya masih menyodorkan cola.
“Ngapain Lo ada disini.”
Arunika sama sekali tidak bisa menahan nada sarkastik nya kepada Mario si biang masalah, orang yang membuat kehidupan kampusnya menjadi sangat-sangat tidak menyenangkan. Mario tidak mengindahkan perkataannya dan malah duduk di samping Arunika matanya memandang jauh ke danau buatan di depan mereka.
“Lo masih punya muka ya setelah apa yang Lo lakukan kepada gue.” Kata Arunika dengan sangat marah, Ia ingin sekali melemparkan bogeman mentahnya kepada Mario yang masih begitu sangat tenang.
“Gue gak melakukannya dengan sengaja.” Mario berkata dengan pelan, namun cukup dapat di dengar Arunika.
“Gak dengan sengaja?” tanya Arunika dengan sangat menyebalkan Mario pikir ini semua lelucon?
“Gue sangat serius, Lo boleh gak percaya dengan apa yang gue bilang sekarang tapi gue emang jujur. Gue memang awalnya gak sengaja bilang ke Fabian dan gue gak tahu kalau akan jadi seburuk ini.”
Kata Mario pria itu melihat Arunika dengan sungguh-sungguh namun hei Arunika bukan orang yang se lapang d**a itu untuk melupakan apa yang telah terjadi kepada- nya.
“...”
“Gue minta maaf, gue juga sudah berusaha mencegah Fabian namun dia tidak mendengarkan.” Mario memohon.
“Lo gak sengaja?” ulang Arunika sekali lagi.
“Ya, gue gak sengaja malam itu gue sedikit kesal saja dengan Lo.” Aku Mario pria itu benar-benar sangat jujur.
Arunika mengepalkan tangannya dan tanpa ancang-ancang ia mengayunkan bogeman itu ke wajah Mario, membuat pria yang tidak siap itu terjungkal kebelakang, dan jatuh dari kursi taman dengan suara berdebum keras.
“Eh bagaimana ini gue juga gak melakukannya dengan sengaja.” Kata Arunika pelan dengan nada yang paling menyebalkan yang ia bisa, ia lalu berdiri meninggalkan Mario begitu saja, pria itu tertawa dengan keras di belakang ku seperti orang kesetanan.
But I don’t f*****g care! pikir Arunika dalam hati sudah terlalu dongkol.