Perbincangan malam itu berakhir dengan pembahasan siapa sebenarnya Arman. Kedua pria berbeda usia itu, masuk ke kamar masing-masing, saat jarum pendek jam dinding menunjuk ke arah angka dua belas.
"Em... Badanku sakit sekali," gumam Maira, merentangkan kedua tangannya ke arah samping.
Arman yang saat itu sedang duduk di samping Maira, terkejut kala ponsel di tangannya terjatuh akibat tersenggol tangan Maira.
"Hah, kenapa kamu ada di sini?" jerit Maira, saat tersadar di kamar itu ia tidak sendiri.
"Selamat pagi Nona cantik, sudah bangun?" tanya Arman, tanpa mempedulikan jeritan Maira yang memekakkan gendang telinganya di pagi hari.
"Tidak usah memujiku seperti itu! Tanpa diberitahu, aku juga sudah tau, kalau aku ini cantik. Yang aku tanya, kenapa kamu bisa ada di kamar ini?" sentak Maira, kesal.
"Aduh, duh... Nyonya Paripurna ini sudah lupa? atau pura-pura lupa? Bukannya kemarin pagi, kita sudah sah menjadi suami istri?" goda Arman.
Melihat tingkah Arman yang seperti itu, Maira merasa geli sendiri. Ia kembali mengingat kata-kata Arman. Saat tersadar, Maira malah menepuk keningnya pelan.
"Hei, kenapa memukul kepala sendiri? Sudah gila atau apa?" tanya Arman, merasa aneh.
"Sudahlah! Lebih baik bapak yang paling Paripurna, segera keluar dari kamar ini! Aku mau mandi," usir Maira, bergegas bangkit dari tempat tidur.
"Kalau mau mandi, ya mandi saja sana! Kenapa aku harus keluar? Karena status kita sudah sah suami istri, berarti aku tidak masalah berada di kamar ini. Toh, sebentar lagi kita akan tinggal satu rumah sendiri," Arman menolak keluar.
Maira yang tadinya ingin bergegas ke kamar mandi, langsung terdiam. "Maksud Bapak apa? Rumah siapa? Ini rumahku, dan aku akan tinggal di sini,"
Arman beranjak dari duduknya. Ia perlahan mendekati Maira. "Rumah kita sendiri, dalam beberapa hari ini, kita akan segera pindah. Rumah ini memang rumah kamu, tapi pemilik rumah ini, orang tua kamu, karena kamu sudah jadi istriku, maka kamu akan memiliki rumah sendiri," bisik Arman, kemudian berlalu begitu saja melewati Maira.
Setelah pintu kamar tertutup, Maira lantas menyusul Arman. Pagi hari begini, rumah Maira memang akan sepi. Kedua orang tuanya yang merupakan pemilik toko kain dan baju di salah satu pasar terbesar di kota itu sudah pergi sedari pagi. Hanya menyisakan Maira, Arman dan Dania.
"Eh, adik ipar sudah keluar. Gimana malam pertamanya? Apa keluar darah?" sindir Dania yang sedang duduk di meja makan.
Langkah Arman terhenti, mendengar sindiran Dania, Arman tersenyum sinis.
"Maksudnya apa?" tanya Arman.
"Aduh, masa yang begitu saja tidak paham sih? Oh iya, maaf aku lupa. Adik ipar ini kan hanya seorang penjaga kandang ayam, jadi mana mungkin pikirannya luas untuk berpikir," cibir Dania, terkekeh.
"Begini loh Adik ipar, Maira itu kan sudah pernah gagal menikah. Dan, sebab gagal itu karena Maira diketahui sudah tidak perawan lagi. Ya, pantas saja sih Bima membatalkan pernikahannya. Pria sekarang, mana ada yang mau sama bekas orang lain," sambung Dania, memperjelas.
Ekspresi Arman berubah seketika kala istrinya dihina seperti itu. Walaupun ia belum pernah melakukan malam pertama, tapi ia begitu yakin, jika sang istri tidak seperti yang dituduhkan. Tidak hanya Arman yang merasa tidak nyaman mendengarnya, Maira yang saat itu ikut menyusul Arman juga mendengarnya.
"Siapa bilang Maira tidak perawan? Buktinya tadi malam ada bercak darah di tempat tidur. Maira masih segel, masih original. Kalau itu bukan darah perawan, terus darah apa dong Kakak ipar?" sahut Arman berbohong, ia juga sengaja menekan kata-kata terakhirnya saat memanggil Dania, kakak ipar.
"Tidak mungkin!" pekik Dania, ia tak terima Arman mengatakan itu.
"Loh, kenapa teriak? Apa yang tidak mungkin? Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya mungkin saja terjadi. Apalagi masalah itu. Tidak hanya keluar darah, permainan tadi malam juga terasa sangat panas sekali. Jadi Maira itu bukan bekas orang lain," Arman semakin menjadi-jadi membohongi Dania.
"Heh, kenapa kamu menceritakan semuanya padaku? Urusan ranjang kalian, urus saja sendiri. Dasar aneh! Yah, walaupun kamu bilang Maira masih perawan atau tidak, aku tidak peduli! Dan satu lagi, kamu kan hanya penjaga kandang, kenapa mahar bisa sebanyak itu? Jangan sampai kamu meminta kedua orang tuaku melunasi hutang-hutang bekas pernikahan kamu di bank atau di rentenir! Kalau Maira yang bayar sih, bodo amat," Ketus Dania.
Sekuat tenaga Arman menahan tawanya saat mendengar Dania menuduhnya melakukan pinjaman untuk biaya pernikahan. Tapi ia enggan membahas siapa dirinya dan keluarganya. Ia memilih menyembunyikannya saja dari Dania begitu juga dari Maira dan dua iparnya yang lain. Ia hanya terbuka pada kedua mertuanya, dan itu dirasa juga sudah cukup.
"Tenang saja! Semuanya aman, kami tidak akan menyusahkan pihak manapun," sahut Arman, kemudian berlalu menuju kamar Maira.
Berlama-lama bicara dengan Dania, Arman merasa risih dan terkadang hampir terpancing emosinya. Ia tak habis pikir, ada seorang saudara yang begitu membenci saudara lainnya. Awalnya ia kira, namanya saudara itu akan saling menyayangi satu sama lain, bukan malah menjatuhkan satu sama lain.
"Kamu sudah mandi?" tanya Arman, saat memasuki kamar.
Beruntung saat Arman ingin kembali ke kamar, Maira sudah lebih dulu kembali. Saat ini memilih duduk di atas tempat tidur. Mengingat semua kata-kata yang keluar dari mulut Dania, membuat suasana hatinya memburuk.
"Nanti saja," jawab Maira, tanpa menoleh ke arah Arman.
"Kamu kenapa? ketus sekali jawabnya. Kamu marah apalagi? Bukannya aku sudah keluar dari kamar? Lalu apa lagi?" tanya Arman, memberondong Maira dengan banyak pertanyaan.
Maira menoleh menatap lekat Arman. Pandangan keduanya saling beradu. Mata indah Maira terlihat sayu, berkaca-kaca.
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Maira lirih, ia menunduk tak berani lagi menatap lekat Arman.
Arman mengerenyitkan keningnya bingung. "Bohong apa?"
"Semua yang kamu katakan pada kak Dania tadi di luar. Kenapa kamu harus berbohong? Kita tidak melakukan apapun tadi malam, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Maira, mendongak.
Ekspresi yang tadinya biasa saja, berubah terkejut. "Kamu mendengarnya?" Ia malah bertanya balik.
"Jawab saja! Kenapa harus bertanya balik? Apa alasan kamu berbohong?" tanya Maira, menunggu jawaban.
Perlahan Arman mendekati Maira. Dengan mengumpulkan keberanian penuh. Arman mengambil posisi duduk tepat di samping sang istri dan menggenggam tangannya lembut.
"Memangnya salah? Aku akui, aku memang berbohong mengatakan itu semua. Kita memang tidak melakukan apapun tadi malam. Aku juga tidak tau, kamu masih perawan atau tidak, seperti yang dikatakan kakak kamu tadi. Tapi aku tidak peduli tentang masalah itu. Tujuanku berbohong hanya satu, aku tidak mau, jika istriku dihina oleh orang lain, sedangkan aku yang berstatus suaminya saja belum mengetahui apapun. Aku tidak akan membiarkan orang lain menghina kamu, termasuk saudara kamu sendiri!" sahut Arman, serius.