"Man, kamu di luar? Kenapa tidak di kamar?" tanya ayah Maira, tidak sengaja melihat pintu ruang tamu terbuka.
"Eh, Ayah... Iya Yah, sedang melihat bintang," jawab Arman beralasan.
Ia tidak mungkin mengatakan alasannya berada di luar rumah malam-malam begini. Terlebih saat ia sudah kelepasan berucap yang membuat Maira tersinggung.
"Hahaha... Bintang yang mana Man? Malam ini mendung, jangankan bintang, bulan saja samar terlihat," ucap ayah Maira, menarik kursi di sampingnya.
Arman tersenyum masam mendengarnya. Alasan yang ia buat asal, ternyata dengan mudah ditebak oleh sang ayah mertua.
"Apa kamu dan Maira berdebat? Maafkan Maira, dia memang begitu orangnya. Ayah harap, kamu bisa memakluminya Man. Mungkin ini hal yang baru untuk Maira, mengingat pernikahan kalian masih sangat baru sekali," ujar ayah Maira, menepuk pundak Arman pelan disertai kekehan.
"Hehehe, iya Yah. Tidak masalah, aku bisa mengerti. Memang tidak mudah menerima orang baru, apalagi langsung berstatus suami. Aku akan perlahan masuk ke dalam kehidupan Maira," sahut Arman.
"Berdoa dan berusaha saja Man, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Lambat laun, Maira pasti menerima kamu. Dia hanya perlu waktu, mungkin dia juga trauma dengan kisah masa lalunya dulu," ucap ayah Maira, raut wajahnya mendadak sedih.
Arman menoleh, menatap dalam wajah sang ayah mertua. "Memangnya, masalah apa yang terjadi Yah? Kenapa calon suami Maira sampai kabur di hari pernikahan? apa dulunya, Maira dijodohkan?" tanya Arman.
Ayah Maira menggeleng pelan. "Mereka tidak dijodohkan. Maira dan Bima itu menikah, karena memang sudah lama berpacaran. Satu hari sebelum acara pernikahan, Maira memang bertengkar dengan Bima. Bukan hanya dengan Bima saja, tapi Dania juga ikut terlibat,"
"Dania? Wanita yang tadi keluar?" tanya Arman, mengernyitkan keningnya.
"Iya, itu Dania. Kakak perempuan Maira. Entah apa permasalahan mereka, Maira tidak pernah mau menceritakan semuanya. Ia hanya menceritakan garis besar permasalahan mereka saja. Bima juga sempat menyebut Maira tidak perawan lagi saat itu. Dan, pada akhirnya Bima menghilang saat acara," sahut ayah Maira, matanya berkaca-kaca saat menceritakan itu.
Sebagai seorang ayah yang begitu menyayangi anak perempuannya, terlebih lagi Maira adalah anak bungsu. Tentu saja merasa sedih dan sakit hati, saat putrinya diperlakukan seperti itu. Semua tamu yang datang saat acara itu mencibir bahkan bergosip yang tidak-tidak tentang Maira. Malu, tentu saja malu. Di depan banyak sekali tamu, ayah Maira harus berdiri tegap mengumumkan, jika pernikahan yang hari itu akan digelar harus dibatalkan.
"Apa Ayah dan yang lainnya tidak berusaha mencari pria bernama Bima itu? Maksudnya, apa Ayah tidak meminta penjelasannya dulu? Aku hanya kasihan dengan keluarga Ayah dan tentunya Maira. Pasti banyak sekali gosip yang tidak-tidak di luar sana," ujar Arman, merasa prihatin.
"Entahlah Man. Untuk apa lagi dicari? Sekarang pun, pria bernama Bima itu masih sering berkunjung ke rumah ini," sahut ayah Maira.
"Hah, berkunjung? Bagaimana bisa Yah? Apa dia berniat meminta Maira kembali lagi?" tanya Arman terkejut bukan main. Rasa cemburu tiba-tiba saja muncul.
Sang ayah mertua dengan cepat menggeleng. "Bukan untuk Maira dia ke sini. Melainkan untuk menemui Dania. Entah terbuat dari apa urat malu anak itu, sampai dia biasa saja datang ke sini, setelah menyakiti banyak perasaan di keluarga ini?"
"Dania? Kakak perempuan Maira? Mereka ada hubungan? Terus, kenapa Ayah ijinkan dia ke sini?" Arman memberondong ayah mertuanya dengan banyak pertanyaan.
Ayah Maira menghembuskan nafas kasar. "Ayah sudah sering menegur Dania soal ini. Tapi tetap saja anak itu tidak mempedulikannya. Alasannya karena dia mencintai Bima, begitu pula sebaliknya. Kalau sudah urusan hati, Ayah bisa apa Man? Walaupun sudah ditentang, tetap saja cinta membuat seseorang jadi buta. Sama seperti Dania, hatinya sudah buta, bahkan untuk mengingat perasaan adiknya sendiri saja dia lupa," keluh sang ayah.
Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Arman. Ia berpikir keras, bagaimana caranya agar sang istri tidak merasa sakit hati lagi setelah ini. Walaupun Maira belum mempunyai rasa terhadapnya, Arman tetap tidak akan sanggup melihat Maira bersedih, setiap kali harus bertemu Dania dan Bima di rumah itu.
"Yah, kami berdua kan sudah menikah. Ya, walaupun baru satu hari dan masih belum ada rasa di hati Maira. Tapi tetap saja status kami sudah berbeda. Apa boleh aku memboyong Maira tinggal di rumah milik kami sendiri? Maaf Yah, bukannya tidak sopan atau ingin menjauhkan Maira dari keluarganya. Hanya saja, ini demi kebaikan Maira sendiri. Terlalu sering Maira bertemu mantan kekasihnya. Maka, akan semakin sulit hati melupakannya. Rasa sakit hati itu pasti selalu ada. Terlebih yang yang jadi pasangan mantannya ada saudari sendiri," ucap Arman.
Mendengar sang putri akan diboyong sang menantu. Ayah Maira langsung menoleh ke arah Arman. "Maksud kamu pindah dari sini Man?"
Arman mengangguk mengiyakan. "Mungkin itu cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan hati Maira," sahut Arman.
"Tapi, apa rumah yang akan kalian tinggali nanti jauh? Maksudnya di luar dari kota ini?" tanya ayah Maira, merasa takut melepas putri bungsunya.
"Hehehe... Ayah tenang saja! Rumah yang akan kami tempati masih berada di kota yang sama. Mungkin hanya berjarak beberapa kilometer dari sini. Ayah jangan khawatir!" sahut Arman, meyakinkan.
Tidak ada pilihan lain lagi, selain menyetujuinya. Sekuat apapun seorang ayah menahan putrinya untuk tinggal, pasti akan kalah saat mengingat status putrinya yang sudah sah menjadi istri dari pria lain.
"Maaf ya Man, kita kan baru kenal. Ayah juga tidak terlalu tau bagaimana kamu. Memangnya benar, kamu hanya bekerja di kandang ayam? Lalu, uang mahar sebanyak itu didapat dari mana? Bukannya Ayah meremehkan kamu. Tapi, setahu ayah, gaji dari pekerja kandang ayam tidak sebanyak itu untuk bisa mengumpulkan uang tiga ratus juga pasti akan memakan waktu yang lama," Kali ini ayah Maira mempertanyakan pekerjaan Arman.
Arman terkekeh. Gara-gara ia terlalu gugup saat datang bertamu melamar Maira beberapa hari lalu. Ia sampai tidak menjelaskan lebih detail masalah pekerjaannya. Padahal ini sangat penting untuk meyakinkan hati dua mertuanya demi bisa mendapatkan sang putri. Beruntung ayah dan ibu mertuanya orang baik. Tidak memandang harta dan kedudukan, mereka mau menikahkan Arman yan merupakan orang asing.
"Sebenarnya aku ini bukan hanya pekerja kandang ayam Yah. Tapi sekaligus pemiliknya. Maaf, saat itu sampai lupa menjelaskannya. Maklum Yah, terlalu bahagia karena mau nikah," sahut Arman, nyengir tak karuan.
Melihat tingkah Arman, ayah mertuanya menggelengkan kepala saja. Tapi tak bisa ia pungkiri, ada rasa terkejut dan bangga dalam hati. Dalam hatinya terus mengucapkan syukur. Karena ia tidak salah mengambil keputusan penting untuk kelangsungan hidup putrinya kelak. Walau sifat dan sikap masih belum mengenal lebih dalam, tapi ayah Maira merasa sangat yakin, jika Arman ini baik dan berbeda jauh dari Bima-- mantan kekasih Maira dulu.