Menunggu kabar baik

1045 Kata

Wajah ibu Arman memerah mendengar penuturan Arman. Ia tidak terima menantu satu-satunya diperlakukan seperti itu. Terlebih yang melakukannya adalah saudari kandung sendiri. "Terus, kamu diam saja menantu Mama diperlakukan seperti itu?" tanya sang ibu. "Mana mungkin aku diam Ma. Aku juga sering membela Maira, tapi mau bagaimana lagi? Memang watak saudarinya begitu, kalau bertemu sudah seperti tikus dan kucing. Mama tenang saja! Menantu Mama aman bersamaku," sanggah Arman cepat. "Mama pegang omongan kamu! Oh, iya Man, apa kamu dan Maira sudah itu?" Suara ibu Arman memelan saat menanyakan sesuatu yang sensitif. Kening Arman saling bertaut, bingung apa yang orang tuanya maksud. "Aduh, kamu ini bodoh, atau pura-pura bodoh? Itu Man, masa kamu tidak ngerti?" Lanjut sang ibu, memukul pel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN