Beri pelajaran

1099 Kata

Tak merasa malu sama sekali, Arman semakin mengeratkan genggaman tangannya. Berbeda jauh dengan Maira, ia membenamkan wajahnya di leher Arman. Wajahnya memerah menahan malu, karena disoraki orang-orang. Para saudara Maira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka saja melihat tingkah kocak Arman yang terlalu narsis dan percaya diri. Bahkan mereka juga ikut bersorak membuat suasana semakin gaduh. Setibanya Arman dan rombongan di dermaga, di sana sudah ada banyak sekali anak-anak berlarian dan bermain. Sepoi-sepoi angin, menerbangkan rambut Maira yang saat itu kebetulan hanya digerai. "Kamu cantik," bisik Arman, mendekat ke arah samping Maira, tangannya bergerak pelan menyelipkan rambut di sela-sela daun telinga. Pipi Maira bersemu merah. Pujian yang terlontar dari mulut Arman, suks

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN