Hancur

2296 Kata
    Suara ketukan hak sepatu terdengar sepanjang koridor. Suasana di sekitar terasa mencekam saat Helen berjalan dengan aura tidak mengenakan di sekitarnya. Dirinya bad mood parah, efek dari heat yang besok akan datang. Hari ini dia keluar rumah setelah menghabiskan satu botol krim penghalang feromon yang harganya tidak murah itu. Feromon Arlan sudah mulai menghilang dan artinya Helen harus bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat hari ini.     Semua orang yang di lewati Helen menunduk hormat padanya, dengan dagu yang di angkat tinggi, Helen berjalan dengan angkuhnya.     Itu lah Helen, satu-satunya wanita Omega yang berhasil meraih semua hormat dari pegawai di kantor besar ini. Tidak ada yang tidak tahu siapa itu Helen di kantor ini.     Helen, sekretaris bos yang paling cekatan, cerdas, dan serba bisa. Monster, para pegawai baru menyebutnya. Cara kerja yang keras dan spartan, orang-orang pasti akan mengira Helen ini seorang Alpha wanita kalau bukan karena feromonnya.     Dunia dan pandangan menyimpang sialannya terhadap Omega. "Selamat siang, Helen." "Siang."     Helen mengangguk sekali kepada wanita muda yang duduk di sebrang mejanya sebelum akhirnya duduk di mejanya sendiri.     Gina, nama wanita itu. Sekretaris yang baru saja di pekerjakan 4 bulan lalu itu menghampiri meja Helen. Gina adalah wanita yang menyenangkan, tingkahnya konyol dan banyak omong, berbeda sekali dengan Helen yang ketus dan dingin.     Tapi Helen sangat menyukai Gina, karena Gina selalu tahu apa yang Helen butuhkan. Entah bagaimana caranya perusahaan tiba-tiba memasukan Gina saat Helen sedang merasa sangat kelelahan akibat pekerjaan yang selalu di limpahkan padanya, Helen bahkan hampir sujud syukur saat tahu akan ada sekretaris selain dirinya. "Helen Helen, tahu gak?"     Helen mengalihkan pandangannya dari komputer ke Gina yang sudah berdiri dengan semangat di sampingnya.     Helen menggeleng pelan, kemudian mengambil sebungkus coklat yang selalu dia simpan di laci meja kerjanya. Untuk memperbaiki mood sialan yang sejak tadi tidak bersahabat dengannya.     Ini juga yang Helen suka dari memiliki Gina sebagai teman kerja. Helen orang yang tidak pedulian, dia tidak akan tahu dengan apa-apa yang terjadi di antara karyawan perusahaan, dan mungkin juga karena para karyawan takut kepadanya. Tetapi sejak Gina datang, Helen serasa memiliki sumber informasi yang dengan senang hati berbicara tanpa diminta. "Katanya anak dari pemilik Derta Corp magang di sini loh." "Masa iya?" Helen membulatkan mata tidak percaya. Derta Corp adalah partner dari perusahaan tempatnya bekerja, tidak sebesar perusahaannya memang, tapi tetap satu dari 3 raja penguasa pasar negri ini.     Mengirimkan staff perusahaan untuk pertukaran memang sering mereka lakukan untuk belajar tentang dunia bisnis ini. Tapi mengirimkan anak dari bos besar merupakan hal yang jarang di lakukan. "Iyaaaaaa...." Gina tersenyum sumringah. "Tadi aku lewat divisi pemasaran, tampaaaaaaaaan sekali."     Helen memutar bola matanya malas melihat Gina dan hormonnya yang masih seperti ana remaja. "Satu lagi."     Helen menuangkan air ke dalam gelas yang ada di mejanya, bersiap mendengar gosip lain yang dimiliki Gina. "Aku di suruh kasih tahu kamu buat siap-siap. Hari ini katanya ada rapat sama staff dari kantor pusat, ada bos besar."     Brrrsttt     Helen baru saja menyemburkan air yang baru akan masuk ke tenggorokannya.     "APA?!" ..     Arlan berkendara dengan terburu-buru, di bawanya mobil butut yang selalu dia pakai untuk mengantar Helen di parkiran besar. Sangat kontras dengan mobil-mobil mewah yang ada di sekitarnya. Arlan memarkirkan mobilnya sembarangan, malang melintang di tengah jalan.     Dengan bodo amat dia melempar kuncinya ke satpam yang baru saja berlari menghampirinya. "Beresin." Ucapnya sebelum berjalan dengan tergesa ke dalam gedung.     Jam sudah menunjukan pukul 15:00, dia sudah meminta Helen untuk pulang lebih awal setelah mengambil ijin cuti heat, itu artinya dia hanya punya waktu satu jam sebelum menjemput Helen dan membeli keperluan Helen selama masa heat.     Arlan memasuki elevator paling kecil yang ada di ujung, mengeluarkan sebuah kartu sebagai akses membuka elevator yang terlihat eksklusif tersebut.     Mungkin beberapa orang yang tidak mengetahui siapa Arlan akan memandangnya dengan bingung. Seorang pria dengan tampang urakan, celana jeans dan jaket denim bisa memasuki elevator petinggi perusahaan yang mengarah langsung ke kantor direktur.     Tapi dia adalah Arlan dan tidak ada yang boleh berani mempertanyakan apa-apa tentangnya. "Ada masalah apa?" Arlan berjalan mendekat ke seorang pria tua yang sedang duduk sambil menyeruput tehnya setelah elevator tersebut terbuka di dalam ruangan yang terlihat besar dan megah.     Pria tersebut menyeruput tehnya dengan tenang, tidak peduli dengan Arlan yang dengan kesal duduk di sofa di depannya dengan tampang terengah-engah. "Ada masalah di kantor cabang pertama."     Deg.     Arlan membelalak kaget, kantor cabang pertama bagaikan jantung perusahaan sementara kantor pusat adalah otaknya.Terlebih di kantor cabang pertama ada Helen yang dengan susah payah dia lindungi. "Masalah seperti apa?" Arlan menatap pria di depannya dengan serius, sementara pria tersebut masih bersikap tenang. "Kepala divisi pengawas baru saja mengirim saya laporan tentang data dari biaya yang di gelapkan, juga data-data yang bocor ke Sierra Corp."     Arlan memejamkan matanya kuat. "Sierra...." desisnya dengan tajam. Mendengar nama Sierra Corp sudah membuatnya pusing dan mual setengah mati. Ular-ular licik itu tidak tahu kapan harus berhenti mengacau dengan dirinya. "Dalam kata lain, bisa jadi perusahaan Sierra mengirimkan beberapa mata-mata ke kantor cabang pertama."     Arlan bersandar pada tepian sofa. "Dan siapa yang bertanggung jawab akan perekrutan pegawai-pegawai baru?" Mata Arlan menggelap, siapapun yang berani memasuki para mata-mata itu akan habis olehnya. "Helena."     Arlan tertegun sejenak, memperhatikan pria tua itu mengeluarkan sebuah map dari dalam tas kerjanya. "Helena apa?" Arlan berdeham, tidak mungkin Helen yang dia kenal yang melakukannya. "Helena." Jawab pria itu sambil membuka map yang dia bawa. "Erwin, Helena apa?" Arlan mengerang, merasa frustasi. "Helena, hanya Helena." Erwin - pria tua itu- mengulurkan berkas dengan foto Helena di sana. Helena yang sangat-sangat Arlan kenal.     Tiba-tiba memori Arlan berlari ke masa lalu di saat ia pertama bertemu Helena. "Helena, hanya Helena."  Ucap Helena kecil sambil menunduk malu.     Arlan mengambil berkas yang ada di depannya, berusah agar tidak terlihat mencurigakan sebisa mungkin. Helena adalah sekretaris utama di perusahaan cabang pertama, dia tahu sekali itu, karena dia memiliki orang untuk memata-matai Helen di sana. Jadi tidak mungkin Helena melakukan pekerjaan ini juga.     Apa ada yang menyuruh Helena, apa ini alasan Helena selalu lembur? Karena mengerjakan pekerjaan yang tidak seharusnya dia lakukan?     Arlan meremas kertas biodata Helen, merasa kesal karena Helen harus melakukan pekerjaan tambahan orang-orang tidak berguna itu. "Pecat ketua HRDnya." Jawab Arlan final, meninggalkan pandangan bingung pada wajah Erwin. "Tapi-"     Arlan mengangkat tangannya, pertanda perkataannya tidak bisa dibantah. "Seorang sekretaris tidak perlu melakukan pengawasan penerimaan karyawan baru, ini tugas HRD, mereka pasti sengaja melimpahkan kesalahannya ke wanita bernama Helen ini."     Erwin mengangguk pada perkataan Arlan. "Jangan lupa rapat sore ini di kantor cabang pertama, semua orang minta kamu datang, Arlan."     Arlan memandang Erwin dengan tidak suka. "Kenapa mendadak?" Tanyanya dengan ketus. "Tidak mendadak, anda yang tidak mau periksa pesan dan angkat telpon."     Arlan kelihatan berfikir, dia bisa saja menjemput Helen dan mengantarnya pulang setelah itu pergi rapat. Sudah lama dia tidak muncul di hadapan orang-orang demi menutupi identitasnya dari Helen, dan kepemimpinannya bisa di pertanyakan karena kali ini hampir satu tahun dia melimpahkan tugasnya pada Erwin.     Sejak Helen di angkat menjadi sekretaris, Arlan jadi semakin sulit untuk menghindarinya saat ada kunjungan. Dan mengingat sikap Helen, dia yakin Helen akan memaksa untuk ikut rapat kali ini meskipun besok heatnya akan dimulai. "Jangan bilang anda mau melimpahkan semuanya ke saya lagi?"     Arlan mendongak, menatap Erwin yang sudah menatapnya dengan jengkel. "Terakhir kali, orang-orang mengira saya pimpinan perusahaan ini, dan bukan anda. Karena anda hampir tidak pernah muncul."     Arlan menghembuskan nafasnya kesal. "Bukan ide buruk juga." "Arlan." Peringat Erwin dengan serius. "Iyaaaa iyaaaaa."     Ting.     Arlan mengeluarkan handphone butut miliknya, yang isinya hanya ada nomor Helen saja dengan buru-buru. Kadang Erwin berpikir, tuan mudanya ini benar-benar memiliki kebiasaan aneh dengan mengoleksi barang-barang butut.     "Arlan, aku pulang duluan di antar Gina."     Darah Arlan berdesir saat membaca pesan Helen, itu artinya heatnya akan tiba tengah malam ini atau subuh nanti. Tapi itu artinya, Arlan bisa melakukan pekerjaannya kali ini, tanpa harus takut ketahuan oleh Helen.     Helen aman bersama Gina, meskipun belum pernah bertemu, tapi Arlan sering mendengar Helen bercerita tentang wanita mudah itu. Dan bertemu dengan Gina di kantor cabang pun tidak akan berdampak apa-apa karena mereka tidak saling kenal. "Aku pergi." "Apa?" Erwin menaikan sebelah alisnya, biasanya tidak semudah ini. "Aku pergi, kamu bisa keluar dulu kan? Saya mau ganti baju."     Arlan berdiri dari sofa, berjalan mendekati ruang gantinya dan melirik Erwin sebentar. Seolah memberi perintah agar Erwin cepat pergi meninggalkan ruangannya. "Saya permisi dulu." Erwin membungkuk sekali, mengambil tas kerjanya dan meninggalkan Arlan yang sudah sibuk memilih setelan.     Arlan berbalik, menatap pintu ruang kerjanya yang sudah tertutup rapat. "Halo? Helen?"     Arlan bersandar pada dinding, menggenggam ponsel di telinganya saat panggilan di angkat oleh Helen. Arlan harusnya yakin Helen sudah aman, tapi entah kenapa hatinya merasa tidak tenang luar biasa. "Arlan? Ada apa?"     Arlan menggerak-gerakan kakinya tidak nyaman, entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa dia harus membawa Helen ke sisinya saat itu juga. "Bener pulang sama Gina?" "Yaampuuuun, iya Arlaaaan. Aku gak mungkin pulang sendiri kaaan? Aku udah ada di mobil Gina nih. Tadi aku tiba-tiba pusing, jadi aku di suruh pulang deh. Padahal pengen banget ikut rapat."     Arlan menggigit bibirnya, merasa sedikit tenang karena Helen sudah berada di dalam ruang tertutup. "Aku gak apa Arlan, aku aman." Seolah bisa merasakan kecemasan Arlan, Helen menjawab dengan nada yang sangat menenangkan. Membuat Alan sedikit menghembuskan nafas lega. "Syukurlah, Len."     Arlan tersenyum kecil saat mendengar gumaman manis dari Helen di ujung sana. "Maaf ya gak bisa datang lebih cepat. s**u pisang? Jam 8?"     Arlan mendengar kekehan kecil dari ujung sana. "s**u pisang, roti coklat, keripik kentang dan coklat kacang. Jam 8. Film action?"     Kini giliran Arlan yang terkekeh. Arlan biasa datang membawa cemilan dan menemani Helen nonton sampai malam saat dia merasa Helen sedang down atau saat dia lupa menepati janji pada Helen, atau bahkan saat Helen di perkirakan akan mengalami heat di keesokan harinya. Mereka akan berbincang dan bercanda sampai malam, sampai Helen tertidur baru Arlan akan pulang ke rumahnya seberapa larutpun itu. "Film action." "Okey, captaiiiiin." Ujar Helen dengan riang, moodnya pasti sedang bagus karena hormonnya sedang tidak terduga, atau mungkin karena ada yang menyumpalnya dengan coklat dan s**u pisang. "Bye, Helen. Jaga diri sampe aku dateng ya." "Byeeee Arlaaaaaan."     Tut     Arlan meletakan ponsel lipat jadul miliknya ke saku jeansnya. Helen aman, berada di tempat yang aman bersama orang yang paling Helen percaya setelah dirinya. Jadi harusnya Arlan tenang saja. Tapi entah kenapa, Arlan merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal. "Gak, Helen kuat, dia paling benci di anggap lemah."     Arlan menggelengkan kepalanya, membuka jaket denimnya, memperlihatkan pundaknya yang lebar dan lengannya yang berotot. . .     Jam sudah menunjukan pukul 9, Arlan dengan buru-buru berlari di lorong gedung apartemen Helen yang sudah terlihat menyeramkan di jam segini.     Para pemegang saham dan direktur sialan itu terus saja menghalangi jalan Arlan untuk pulang. Belum lagi dia harus mengganti pakaian ke pakaian yang biasa dia kenakan saat bertemu Helen. "Helen?"     Arlan berhenti, terdiam di tempat saat melihat pintu apartemen Helen yang tidak tertutup rapat. Jantungnya berdebar sangat kencang, Helen bukan orang ceroboh yang akan memberikan kesempatan untuk penjahat melakukan aksinya.     Helen adalah orang yang rapi dan teliti.     Arlan berjalan dengan cepat ke arah pintu unit apartemen Helen. Di bukanya pintu tersebut dengan perlahan, dan hanya gelap yang dia lihat dari dalam sana. Seolah tak ada kehidupan.     "Helen?"     Siiiing     Arlan menggerang, kilatan matanya berubah merah, dan tanpa sadar taringnya keluar. Alpha di dalam dirinya merasa marah dan terancam saat dia mencium aroma Alpha lain di dalam ruangan sumpek ini.     Arlan melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari aroma Helen yang samar. "Helen?!"     Arlan berteriak, memanggil nama Helen. Hatinnya panas, rasanya seperti terbakar, kepalanya mendadak pusing dan tubuhnya bergetar karena keinginannya untuk segera menyakiti pemilik aroma Alpha tersebut. "HELEN?!"     Arlan memasuki kamar Helen, masih mencari dengan penuh amarah, saat dirinya mulai mendengar suara percikan air dari kamar mandi di samping kamar Helen. "Helen?!"     Terkunci. "Helen! Buka! Sedang bersama siapa kamu Helen?!"     Arlan menggedor-gedor pintu kamar mandi Helen dengan marah, hatinya terasa di cabik, terasa di khianati karena sahabatnya sudah menghianati prinsipnya sendiri. "Helen, aku hitung sampai tiga, kalau kamu masih gak mau buka, pintu ini aku dobrak!"     Arlan mengacak-acak rambutnya frustasi. Api di dalam dirinya masih berkobar dan Alphanya sudah sangat ingin mencabik siapapun yang sedang bersama Helen saat ini. "Satu..." Hanya suara air. "Dua...." Masih tidak ada sautan. "Tiga."     Dan dengan itu Arlan berlari untuk menendang pintu kamar mandi Helen yang terlihat sudah reot itu. "Hel-"     Arlan tertegun saat mendapati Helen terbaring di atas bathub miliknya. Dengan wajah lebam,  bibir yang berdarah, pakaian yang tercabik-cabik dan rambut yang tak karuan.     Tatapan mata Arlan terpaku pada mata Helen yang terlihat kosong, air mata mengalir di sana. Lemas, itulah yang Arlan rasakan. Hatinya seperti jatuh dari tempatnya seharusnya berada.     Arlan hancur melihat pemandangan di depannya.     Pemandangan Helen yang terkulai tak berdaya dengan keadaan mengenaskan. "Helen?" Arlan berjalan ke arah Helen dengan cepat, di genggamnya tangan Helen. "Helen? Siapa yang ngelakuin ini ke kamu, Len?"     Arlan bersumpah, jika ini bukanlah Helennya, jika Helen sedang tidak sedang dalam keadaan seperti ini, dia pasti sudah muntah karena menghirup aroma feromon Alpha yang kuat di tubuh Helen.     Di depannya, Helen hanya terdiam, matanya terbuka, tapi tidak di temukan respon apa-apa dalam dirinya. "Helen?" Arlan menggapai pipi Helen, meneliti wajahnya yang sudah lebam.     Arlan hancur melihat luka Helen.     Arlan yang seharusnya menjaga Helen agar semua ini tidak pernah terjadi, Arlan yang seharusnya selalu berada di sisi Helen saat Helen sedang membutuhkannya. Arlan yang bersalah, Arlan berdosa karena membiarkan Helen, Helennya, mengalami semua ini. "Helen... Maaf..." Arlan terisak, menangis sambil memeluk kepala Helen. Menangis dengan keras karena merasa tak berdaya melihat orang tersayangnya hancur berantakan.     Hatinya hancur.     Arlan hancur melihat Helen yang hancur. "Erwin, ambulan!" Ucapnya di telpon, sebelum mengangkat Helen keluar dari bathub untuk segera membawanya ke rumah sakit terdekat.     Arlan hancur. Tapi yang Arlan tahu, dia harus segera menyelamatkan sahabatnya yang sudah terlihat lebih dari hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN