Sunrise Between Us 2

1993 Kata
Keylani dan sang Paman tiba di jembatan perbatasan buniwah sekitar lima belas menit kemudian, mereka turun dari sepeda dan beranjak duduk di sisi jembatan menunggu seseorang yang menurut sang paman akan ikut bersama mereka menanjak ke atas. Keylani mengayun-ayunkan kakinya sembari bernyanyi kecil, seluruh bagian tempat dimana Ia duduk saat ini terlihat gelap gulita. Hanya lampu-lampu bohlam kecil yang diletakkan di kandang kerbau menjadi sumber penerangan saat ini. Tak berapa lama dalam pandangan minimnya Ia melihat dua sepeda yang melaju pelan ke tempatnya berada, Sedikit menyipitkan mata karena Ia tak merasa mengenali model sepeda tersebut. Sebuah sinar kekuningan menyorot telak pada dua orang yang baru saja tiba. Keylani tersentak kaget, Ia kemudian menoleh ke arah belakang dan menemukan paman jahilnya tengah menyengir lebar. “Hentikan Leo, kau membuat tuan mudaku berjengit kaget.”, Suara merdu seorang wanita mengalun di telinga Keylani. Ia dongakkan sedikit wajahnya, memandang perempuan tinggi dengan rambutnya yang diikat kuda. Woah, cantik sekali. Dimana Paman Leo bertemu dengan kakak menawan ini?. “Halo, kau pasti Keylani keponakan perempuan dari pria jahil disana. Aku benar kan?”, tanya sang kakak cantik kepadanya. Keylani menganggukan kepalanya semangat dan segera meraih tangan si wanita untuk menciumnya seperti yang selalu diajarkan Ayah Ibunya ketika bertemu dengan orang yang lebih tua. “Halo kakak cantik, Apa kakak sudah lama mengenal pamanku?. Aku tak pernah melihat kakak saat kawan-kawan paman datang berkunjung”, tanyanya beruntun. Leo yang mendengar pertanyaan sok akrab dan mengandung rasa penasaran besar dari Keylani segera menyentil pelan sang keponakan, “Tentu saja kau tak pernah melihatnya bocah, Alisa tinggal di kota selama ini. Dia yang selalu mengirimkan buku-buku dengan pemandangan indah yang setiap hari kau pandangi itu.”, Jelas sang paman panjang lebar. “Ah benarkah?!, Kak Alisa yang mengirimkannya?”, mata Keylani tampak berbinar di kegelapan. Alisa dapat melihat sinar semangat disana, sama seperti ketika sang tuan mudanya Daviant menatap sepeda di depan rumah mereka untuk kali pertama. “Ya, aku yang mengirimkannya. Karena Leo selalu bercerita betapa bahagia sang keponakan ketika menatap gambar-gambar disana, bahkan terkadang dipeluk hingga jatuh tertidur”, bibirnya mengulas senyum tipis dengan tangan yang turut serta mengelus rambut halus Keylani. Keylani hanya dapat tertawa lebar mendengar penuturan perempuan cantik di depannya. Mata bulatnya sedikit mengerjap menegaskan pandangan bahwa ada seseorang yang lain di balik tubuh Alisa. Menyadari arah pandang Keylani, Alisa segera tersadar untuk memperkenalkan tuan mudanya yang entah mengapa kini justeru semakin merapatkan tubuh dan bersembunyi. Sang tuan muda bahkan mengeratkan gengaman tangannya pada baju rajutnya, membuat Alisa sedikit merasa heran, “Sekarang saatnya aku memperkenalkan seseorang. Keylani, tak apa kan bila aku turut serta membawa tuan mudaku bersama untuk menyaksikan matahari terbit?”, ujar Alisa. Mengalihkan pandangan ingin tahunya dari sosok di belakang Kak Alisa, Ia berikan gelengan kencang tanda Ia tak keberatan sama sekali. Alisa kemudian menarik seorang anak lelaki yang sedari tadi bersembunyi di balik punggungnya, menuntunnya untuk bertatap muka dengan Keylani dan Leo. Sedikit tersentak, Keylani mengangakan mulut kecilnya. d-dia kan?, dia si anak ubi rebus itu!. Keylani segera menyenggol keras-keras lengan sang paman, memintanya menunduk dekat ke telinganya. Kemudian membisikkan sesuatu, sebenarnya tak bisa disebut bisikan juga karena suara lantang Keylani tak dapat disembunyikan. “Paman, dia si anak lelaki itu. Anak lelaki yang menatap lekat ubi rebus milik nenek kemarin!”, ujar Keylani. Tak menyadari suaranya masih dapat di dengar oleh dua orang lain di depannya. Setelah Keylani meneriakkan apa yang disebut olehnya sebagai sebuah bisikan Leo menatap Keylani jengah, tangannya bergerak mengusap-usap telinganya seharusnya tak Ia turuti keinginan anak nakal ini. Sekarang telinganya terasa berdengung karena mendengar teriakannya. Ditariknya lengan kecil Keylani untuk semakin mendekat ke arah anak lelaki yang baru saja mereka bicarakan. “Nak, siapa namamu? Keylani asyik menceritakan dirimu sejak kemarin namun tak sekalipun dia menyebut namamu.”, kata sang paman berusaha mengajak bicara sang anak lelaki yang hanya diam sejak Ia pertama kali tiba di jembatan ini. Bukan Daviant yang menjawab, melainkan Alisa. Ia samar-samar terlihat menggelengkan kepalanya pada Leo. “Namanya Daviant, Leo”, ujar Alisa. “Ia anak tunggal majikanku di kota”, lanjutnya. Memahami bahwa sang anak lelaki di depannya begitu pendiam dan tertutup, Leo kemudian menganggukan kepalanya singkat. Dan mulai mengajak mereka menuju ke tujuan utama yaitu tanjakan buniwah. “Lebih baik kita tinggalkan sepeda kita disini, karena membawa sepeda menaiki tanjakan yang cukup tinggi hanya akan membuat kita bertambah lelah”, terang Leo. Daviant menatap Alisa, meminta persetujuan. Ia cukup merasa takut meninggalkan sepeda yang belum genap satu hari Ia gunakan. Melihat keraguan sang tuan muda, Alisa menganggukan kepalanya singkat. Menggumamkan kata sepeda mereka yang akan baik-baik saja untuk mereka tinggalkan sejenak. Daviant kemudian mengarahkan sepeda biru tuanya untuk bersandar pada salah satu bagian jembatan, Ia turunkan sanggaan sepedanya dan saat Ia memastikan sepedanya sudah berdiri aman Ia kembali melangkah menuju Alisa dan seorang pemuda yang tadi mengajaknya bicara. Sedikit kecanggungan Ia rasakan karena saat ini Ia berdiri dekat dengan anak perempuan bermata bulat yang tak sengaja Ia temui kemarin pagi, Daviant mengingat namanya dengan sangat jelas dalam ingatan. Keylani Anindita, Seseorang yang telah mengklaim dirinya sebagai teman di pertemuan mereka yang pertama. Berjalan perlahan di samping Alisa, Daviant sedikit mencuri-curi pandang pada gadis kecil yang berjalan semangat di depannya. Ia bahkan terlihat tak takut pada gelapnya suasana saat ini. Sedikit merasa malu akan keadaan dirinya yang bahkan tak melepaskan pegangan tangan pada baju Alisa. Matahari terbit sekitar jam lima lebih dua belas menit, dan Daviant menatap jam sport di pergelangan tangannya yang menunjukkan bahwa mereka masih memiliki waktu kurang lebih lima belas menit untuk digunakan mendaki tanjakan yang cukup tinggi ini. Meski keadaan gelap, tapi untungnya Leo telah siap sedia dengan senter di tangannya untuk menerangi langkah mereka menuju puncak. Sambil memperhatikan setiap langkah sang keponakan yang begitu aktif. Ia mengajak Alisa berbincang banyak, Alisa adalah kakak kelasnya semasa mereka bersekolah dasar di desa ini. Dari sanalah mereka dapat akrab, sebelum akhirnya Alisa dibawa Ibunya untuk tinggal bersama di kota. Tak memutuskan hubungan, mereka saling bertukar pesan melalui media sosial selama bertahun-tahun. Hingga sekitar sebulan yang lalu Alisa memintanya mencarikan sebuah rumah sederhana untuk Ia tempati bersama anak majikannya yang akan turut serta tinggal bersamanya. Leo tak suka ikut campur terlalu dalam pada urusan orang lain, maka tak banyak bertanya Ia segera mencarikan sebuah rumah yang layak untuk ditinggali dan aman untuk ditempatinya kakak kelasnya tersebut. Mengabarkan pada Alisa tak lama kemudian, Leo mulai membantu proses pemindahan barang-barang ke rumah baru tersebut. Dan setelah semua barang telah tiba, juga di benahi oleh seseorang yang mengaku sebagai orang kepercayaan bos Alisa. Maka akhirnya tibalah Alisa dan sang anak majikan ke desa ini. Leo palingkan pandangannya ke anak yang Ia tahu bernama Daviant tersebut, sedikit mengerutkan alis memandang tangan Daviant yang melekat erat pada baju Alisa. Sepertinya bocah ini merasa ketakutan, “Hey, jagoan. Berdirilah di antara aku dan Alisa. Cahaya senter ini akan lebih menerangi jalanmu”, panggil Leo. Davi sedikit terkaget, apa raut wajahku yang ketakutan terlihat jelas?. “Kenapa diam? Kemarilah!”, seru Leo kembali. Alisa menatapnya, mengerlingan mata untuk berpindah. Akhirnya Ia melangkah, berpindah posisi untuk berjalan diantara dua orang dewasa di kanan kirinya. “Paman, kenapa kau bergerak seperti keong? Cepat, atau kita tak jadi melihat mataharinya!”, Keylani berseru lantang dari depan sana. Menatap paman dan kedua orang pengikutnya yang beberapa langkah masih berada di bawahnya. Tangannya bertolak pinggang, kakinya menghentak tanah tanda Ia tak sabar. Dipikirannya sang paman tengah asyik bersenda gurau dengan kawan lamanya dan hanya Ia yang bersemangat akan matahari terbit disini. Cih, padahal Ia yang membangunkanku dengan kejam tadi, sekarang malah paman jelek itu yang berjalan begitu lamban. “Aku tak berjalan seperti keong, kau saja yang berlari seperti cheetah”, sahut sang paman. Sedikit mempercepat langkah kakinya, tak ingin sang keponakan semakin ngambek dan malah merengek meminta pulang. Tidak, tidak bisa. Ini adalah kali pertama Ia bertemu Alisa setelah sekian lama, tak akan Ia biarkan keponakan kecilnya ini mengacaukannya. “Lihat saja, aku adukan nenek Arini bahwa paman kini sedang mendekati seorang gadis dari kota bernama--”, ucapan Keylani terpotong ketika paman Leo telah berada didekatnya dan segera menutup mulut kecilnya itu. Raut wajah Leo menegang menatap Alisa yang seolah bertanya maksud dari ucapan Keylani, segera Ia alihkan pembicaraan dengan tawa kakunya, “Haha. disinilah tempat kita akan menunggu matahari terbit itu. Ayo kita duduk di saung ini”, ujar Leo. Beruntung bagi Leo, Alisa tak mempermasalahkan lebih lanjut. Sang wanita terlihat fokus membersihkan saung yang akan mereka tempati dari dedaunan dilanjutkan dengan membukakan sebotol air untuk tuan mudanya. Leo menatap gemas sang keponakan dan turut menarik perempuan kecil itu untuk duduk berjejer di saung. Karena di samping Alisa hanya tersisa jarak untuk satu orang duduk, akhirnya Keylani mengalah dan memilih duduk di samping si anak lelaki pencinta ubi rebus. Ia cukup sadar bahwa sang paman ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Kak Alisa, Paman Leo terlihat jelas menyukai kakak cantik itu. Setelah mendudukkan diri dengan nyaman sambil bergerak mengayunkan kaki, Keylani tatap anak lelaki di sampingnya. “Hey, apa kau mengingatku? Aku cucu seorang nenek yang memberikanmu ubi rebus kemarin.” Ujarnya pelan. Daviant hanya diam dan menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan si gadis kecil. Keylani baru sadar bahwa anak lelaki ini tak hanya sekedar tampan dan dingin tapi Ia juga bersifat pendiam. Karena berpikir pertanyaannya tak akan dijawab, maka Keylani memilih menyenandungkan lagu London Bridge yang baru Ia dengar dari radio milik sang paman semalam. “London bridge is falling down, falling down, falling down. London bridge is falling down my bear lady”, nyanyinya pelan. Keylani tetap senang meskipun dia baru saja diacuhkan oleh teman baru yang saat ini duduk anteng disampingnya. Ia ulangi lirik lagu yang sama hingga tiga kali. Di kali ke-empat Ia bersiap untuk bernyanyi lirik yang sama, Ia mendengar Daviant berkata pelan. “Bukan bear, melainkan fair”, ujarnya. “Ha-ah? Apa? Apa maksudnya?”, anak perempuan di depan Daviant menyahut bingung. Davi sunggingkan sedikit senyum tipisnya, “Lirik lagu yang benar adalah my fair lady bukan my bear lady. Bear itu berarti beruang”, ujarnya menjelaskan. “Ooh, hahaha. Bodohnya aku, itu berarti aku telah menyanyikan lirik yang salah sejak semalam.”, tawa Keylani berkembang. Daviant menatapnya, “Apa semalam adalah kali pertamamu mendengar lagu ini?”, tanyanya. “Iya, aku dan juga paman tengah asyik membuat kolase pemandangan saat lagu ini diputar di radio semalam. Melodinya menyenangkan meski aku tak mengetahui apa artinya.”, ucapnya ceria. Daviant sedikit terkaget mendengar penjelasan Keylani, “Untuk seseorang yang baru pertama kali mendengar dan telah mampu mengucapkan pelafalannya dengan baik sepertimu, itu sudah begitu luar biasa”, sahut Daviant kembali. Mata cokelatnya Ia bawa menatap lurus pada kepingan sehitam jelaga milik Keylani. Apakah ini hanya sekedar perasaan Daviant, namun di matanya sang anak perempuan yang duduk tepat disampingnya terlihat begitu manis. Daviant ingin terus memandangi wajahnya dan mendengar Ia berbicara. Keylani yang mendengar kalimat panjang dari Daviant untuk pertama kali tersenyum semakin lebar, semakin senang kala kalimat itu berisi pujian untuknya. Ditatapnya balik Daviant yang masih betah memandanginya, “Terimakasih Davi”, sahutan pelan Ia suarakan. Mereka saling melemparkan senyum hangat. Keylanipun tersadar bahwa Daviant tak sedingin yang Ia kira. Sepertinya kelak mereka akan cocok menjadi teman baik. “Hey, kids! Lihat! Matahari mulai terbit. Kita harus mengabadikannya!”, terdengar seruan dari Paman Leo. Mengalihkan adegan saling menatap antara dua anak manusia termuda diantara mereka. Daviant melihat matahari dengan cahaya kekuningan yang mulai menunjukkan dirinya di ujung timur sana, sinar indahnya perlahan naik menerangi sekitaran lembah dan sawah yang sebelumnya begitu gelap gulita hingga Ia merasa begitu takut saat melewatinya. Dan entah mengapa, Daviant melihat wajah Keylani diantara sinar matahari yang tengah Ia perhatikan. Keylani sehangat matahari, senyum, semangat, dan kehadirannya memberi kehangatan bagi diri Daviant. Seperti ubi rebus yang kemarin Ia terima, dan juga sinar matahari terbit yang kini tengah Ia nikmati kehangatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN