Sunrise Between Us

1802 Kata
Suara pentungan terdengar nyaring, pukulannya sedikit membangunkan warga desa yang sebagian besar masih menjemput mimpi. Termasuk si anak lelaki tampan, Daviant. Ia yang baru saja bisa tidur tiga jam yang lalu karena belum terbiasa dengan lingkungan barunya, sedikit mengerjapkan matanya. Dahinya mengernyit menatap jam digital di atas nakas, masih pukul tiga pagi. Sayup-sayup Ia dengar suara pengeras masjid, sepertinya beberapa orang di desa telah memulai aktifitasnya saat matahari bahkan belum terbit. Apa seperti ini pagi hari kehidupan di desa. Bahkan di luarpun masih sangat gelap. Pikirnya sesaat. Ia turun perlahan dari ranjang, menjejakkan kakinya pada lantai yang dingin. Sedikit merasa menggigil karena udara pagi desa yang tak main-main hingga membuatnya merasa bisa membeku kapan saja. Daviant tarik sedikit gorden jendelanya, memandang gelapnya Desa Negarayu yang hanya diterangi satu lampu besar di ujung jalan sana. Desa ini begitu indah saat matahari menyapa, tapi ketika gelap terasa sedikit menyeramkan. Hati kecilnya kembali bergumam. Puas memandangi gelapnya desa, Ia kembali melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Berpikir setidaknya tidur selama dua jam lagi akan sangat baik untuknya. Alisa melangkahkan kaki guna membangunkan sang tuan muda, berniat mengajaknya menikmati sunrise pertamanya di desa ini. Diketuk pelan kamar Daviant tuan mudanya. “Tuan muda, apa kau sudah bangun?”, panggilnya halus. Diketuknya sekali lagi pintu berwarna cokelat tua tersebut. Tak mendapat jawaban, Ia tarik handle pintu kamarnya. Menemukan sang tuan muda yang terlihat masih begitu nyaman dalam tidurnya. “Oh jelas saja tuan muda tak menjawab, Ia masih terlelap”, ujarnya pelan. Melangkah mendekati kasurnya, Alisa menepuk pelan lengan anak lelaki yang masih nyaman tertidur. “Daviant, bangunlah. Mari kita lihat keindahan sunrise pertama di desa ini”, kembali Ia berujar pelan. Alisa memang terkadang memanggil sang tuan muda dengan namanya, namun hanya di beberapa kesempatan yang Ia inginkan. Itu permintaan dari Daviant sendiri. Meski Alisa masih merasa enggan, namun Daviant tetap memaksanya. Karena Alisa adalah orang yang begitu Ia percaya setelah Ayah dan Ibunya. Kehadiran Alisa seperti seorang kakak yang tak pernah Daviant miliki. Daviant yang merasakan tepukan halus pada lengannya, akhirnya membuka matanya perlahan. Menemukan Alisa yang berdiri di sampingnya dengan senyuman, Ia kerjapkan matanya dan bangkit untuk duduk. ”Melihat sunrise?”, tanya si anak lelaki sembari mengusap mata bulatnya berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadaran yang Ia miliki. Alisa menganggukan kepalanya, tangannya meraih tangan Daviant dan menuntunnya menuju kamar mandi. “Sekarang, basuh wajahmu. Kita akan mengendarai sepeda menuju tempat terbaik untuk menatap sunrise”, ujar Alisa. Sembari membasuh mukanya, Daviant bertanya-tanya dalam hati. Selama Ia hidup sekalipun tak pernah Ia melihat bagaimana matahari terbit. Yang Ia tahu hanya ketika matahari mulai meninggi. Ia selalu bangun siang omong-omong. Ini kali pertama Ia akan menyaksikan bagaimana matahari mulai menyinari cahaya pertamanya ke bumi. Atau lebih tepatnya ke desa ini. Selesai membasuh wajahnya, segera Ia kembali ke kamar dan mengganti pakaian tidurnya dengan t-shirt putih polos dan juga celana training abu-abu tak lupa sebuah jaket dengan warna senada celananya Ia kenakan. Ditariknya sebuah kaus kaki pendek dari laci bawah lemarinya, tak menunggu lama kini kaus kaki polos berwarna putih tersebut telah membalut tungkai kakinya. Hawa desa masih terasa begitu dingin menusuk kulitnya. Ia tak mau nekat tak mengenakan pakaian hangat saat tubuhnya belum terbiasa. Selepas Ia memastikan dirinya cukup hangat, kembali Ia hampiri Alisa yang tengah menunggunya di teras. Wanita itu tak mengenakan pakaian setebal dirinya, terlihat Alisa hanya mengenakan sebuah kaos dan luaran rajut tipis. Ia juga hanya mengenakan sandal tanpa kaus kaki. “Alisa “, panggilnya ringan. Pengasuhnya sejak kecil tersebut terlihat begitu serius memainkan ponsel membuat Daviant harus memanggil namanya untuk menyadari bahwa Daviant telah siap di depannya. “Oh, maafkan aku tuan muda. Kau sudah siap?”, tanya si wanita pelan. “Seperti yang kau lihat”, jawab Daviant. Alisa tersenyum dan mengajak tuan mudanya untuk segera menghampiri dua sepeda yang telah siap di depan gerbang kayu pendek rumah mereka. Daviant naik ke atas sepeda biru tuanya, mengelus sedikit permukaan setangnya. Pelan, Ia kayuh sepedanya. Meskipun sedikit kaku, tapi Ia yakin tak akan terjatuh. “Tuan muda, apakah baik-baik saja jika saya mengajak seorang kenalan untuk ikut bersama kita melihat sunrise?”, baru sekitar lima puluh meter mereka meninggalkan rumah Alisa yang berkendara di sisinya melontarkan pertanyaan. “Tentu. Aku akan senang bertemu banyak orang baru disini”, sahutnya pelan. Alisa yang mendengarnya sedikit tersenyum, sepertinya sedikit demi sedikit sikap dingin Daviant akan mencair. Sejak kedatangannya di desa ini, Alisa menyadari bahwa mata sang tuan muda beberapa kali berkilat senang juga senyuman tipis yang mulai sering Ia pamerkan. “Kenalanku akan turut serta membawa keponakannya ikut, usia sang keponakan tak terlalu jauh darimu. Kuharap Ia dapat menjadi teman barumu disini”, kembali Alisa berkata. Diperhatikannya raut sang tuan muda yang hanya diam, tapi Alisa tahu saat ini hati sang tuan tengah berbunga. Berteman pastilah ada dalam salah satu keinginan terdalam tuan mudanya. Alisa kembali tersenyum, sepertinya keputusan Ia dan sang nyonya besar tak salah untuk membawa Daviant si sang pewaris tunggal tinggal sementara waktu di desa ini. Di sisi lain desa, Leo paman kesayangan Keylani tengah berjuang mengeluarkan sepeda tua milik almarhum ayahnya. Sedikit merasa menyesal karena mengapa tak dari dulu Ia juga sang kakak laki-laki mengeluarkan sepeda tua ini ketika Ibunya berulang kali meminta. Kini, disaat Ia ingin menggunakan Leo terpaksa harus berjuang sendirian di tengah kegelapan. Ia takut ngomong ngomong, meski telah hidup selama hampir dua puluh enam tahun di desa ini namun aura menyeramkan desa saat diselimuti kegelapan tetap membuatnya merinding. Tak berapa lama Ia berhasil mengeluarkan sepeda dari tumpukan lumbung padi di belakang rumahnya, segera saja Ia tuntun menuju pekarangan rumah. Menyandarkannya pada tempat biasa sang Ibu menjemur padi. Sekarang tersisa satu tugas tersulit lainnya, yaitu membangunkan sang keponakan nakal yang masih terlelap. Ditariknya nafas keras dan menguatkan hati untuk beranjak menghampiri kamar Keylani setiap sang gadis kecil menginap di rumah nenekknya. “Lan, Lani. Sudah jam berapa ini anak nakal?!”, ketuknya keras. Karena tak ada suara apapun dari dalam kamar sang keponakan akhirnya Ia memutuskan untuk masuk. Kembali Ia terkaget-kaget, karena si anak nakal tertidur dengan membawa buku yang berisi kolase gambar pemandangan dari berbagai belahan dunia. Leo ingat semalam sebelum tidur Ia menemani Keylani menggunting potongan artikel dari majalah Seven Wonders of World yang dikirimkan oleh seorang kawan dari kota. Ditariknya perlahan buku tersebut dari pelukan Keylani, dan meletakkannya kembali di nakas samping tempat tidur. Setelahnya, Ia terduduk diam memandangi wajah tidur sang keponakan. Meski nakal, namun Keylani adalah keponakan tersayang baginya. Karena penantian yang begitu panjang akan kelahirannya maka Keylani selalu menjadi yang tersayang di keluarga ini. Ia tumbuh menjadi anak yang ceria dan mempunyai banyak mimpi. Leo merasa bahagia, karena ditengah kekurangan keluarganya sang keponakan tercinta tetap menebar tawa bahagia. Mengerjap, Leo tersadar Ia telah memakan waktu bermenit-menit hanya untuk memandangi keponakannya. Segera Ia memulai misi membangunkan Keylani, Ia ulurkan tangannya mengarahkan tepat pada hidung kecil anak perempuan di depannya kemudian bergerak menutup jalur pernafasan sang keponakan. Keylani yang masih tertidur merasa kaget dan reflek membuka mata bulatnya, tepat di depannya Ia melihat sang paman tengah menyengir culas. Merasa bangga karena berhasil membuatnya bangun tanpa harus melakukan banyak usaha menguras tenaga. Keylani tampar tangan sang paman hingga terlepas dan beranjak bangun dari bantalnya. Ia pukulkan kepalan tangan halusnya pada lengan sang paman yang telah dengan biadab membangunkannya dari mimpi indah dimana Ia tengah mencicipi ubi rebus di dinginnya kota Helsinki. Sungguh mimpi yang begitu indah bagi Keylani. “Paman nakal, Paman jahat. Aku membencimu. Aku ingin pulang kerumah Ibu!”, serunya kesal. Sang paman hanya tertawa mendengar amukan Keylani, diraihnya tangan sang gadis kecil yang masih betah memukuli lengannya, “Yakin mau pulang, kau tak mau ikut ke buniwah?”, tanya sang paman menaik turunkan alisnya. Buniwah adalah sebuah nama desa yang langsung berbatasan dengan desa Negarayu. Jalanan menuju kesana berkelok-kelok mengelilingi persawahan dan perkebunan milik penduduk. Ada sebuah jembatan kecil yang dijadikan perbatasan yang sering juga digunakan tempat duduk-duduk para anak muda di saat sore hari. Bagian terbaik dari perjalanan ke Buniwah adalah terdapat jalanan menanjak Yng cukup tinggi diujungnya tepat setelah kita melewati jembatan. Disanalah tempat Leo akan mengajak sang keponakan melihat terbitnya matahari pagi ini. Ya meskipun pasti suasana gelap saat ini begitu menyeramkan. “Eh, buniwah? Mau apa kita kesana? Ini masih gelap kan paman?”, Keylani memandang sang paman penuh tanya. Sang paman membenarkan rambut Keylani yang berantakan karena baru terbangun dari tidurnya, “Kita akan melihat matahari terbit, bangun dan cepat ganti pakaianmu. Paman sudah mengeluarkan sepeda milik kakek”, Leo berujar gembira. Keylani yang mendengar juga ikut merasa semangat, segera Ia berlari menuju kamar mandi dan membawa serta kaus yang Ia kenakan kemarin. Tak perlu repot mengganti celana tidurnya, celana berbahan training itu sudah pas dikenakan untuk bersepeda pagi ini. Memakan waktu tak sampai tiga menit, Keylani kembali keluar dari kamar mandi. Menjumpai sang nenek yang tengah merebus air hangat dengan sebuah panci besar. Dihampirinya Nenek Arini dan dikecup kedua pipinya sebagai sapaan pagi. “Ingin pergi kemana?, Tak biasanya cucu nenek bangun sepagi ini?”, tanya sang nenek pelan. Rautnya terheran-heran memandangi tingkah tak biasa cucunya. Sebuah keajaiban Keylani dapat terbangun sebelum ayam berkokok. “Aku akan mengendarai sepeda bersama paman Leo ke buniwah, nek. Kami akan menyaksikan matahari terbit, hehe”, tawanya ceria. Sang nenek menganggukan kepala tanda mengerti, pantas saja Leo anak bungsunya sudah berada di tempat lumbung padi saat masih gelap. Ternyata Ia tengah mencoba mengeluarkan sepeda tua milik almarhum suaminya. “Baiklah, jika begitu berhati-hatilah selama perjalanan. Ingatkan pamanmu untuk tidak mengebut dan memperhatikan jalan. “ Ujar sang nenek. Keylani mengiyakan ujaran sang nenek dengan anggukan semangat. Kembali Ia berlari ke pekarangan depan menuju sang paman yang telah siap dengan sepeda ontelnya. Segera saja Ia dudukkan dirinya di boncengan belakang, memeluk pinggang paman Leo sebagai pegangan. “Paman, ayo berangkat. Berkendaralah dengan cepat!”, serunya senang melupakan nasihat dari sang nenek yang baru Ia dengar tak lebih dari lima menit sebelumnya. Leo yang mendengar untaian kata ceria dari sang keponakan tak kuasa menahan diri untuk melontarkan sebuah ejekan, “Bagaimana aku dapat mengayuh sepeda ini dengan cepat jika ada mahluk nakal seberat kerbau di boncenganku?”. Ujarnya menahan tawa. Keylani menggigit lengan paman Leo keras-keras, membuat pamannya memohon ampun. Ia kemudian memberikan perintah dengan suara kerasnya pada sang paman, “Cepat kayuh sepedanya, jika paman masih ingin bertahan hidup dari gigitan taringku!”, ujar Keylani sembari mengangkat dagunya tinggi. Betapa sombongnya anak bergigi jarang ini, kutinggalkan saja Ia di tengah sawah nanti, ancam sang paman dalam hati. Akhirnya kedua paman dan keponakan itu beranjak meninggalkan pekarangan rumah nenek Arini. Perjalanan yang menyenangkan meski ditemani gelapnya desa saat ini. Untung saja sepeda kakek Keylani dilengkapi dengan lampu senter untuk menemani perjalanan mereka, sehingga Leo dapat sedikit menajamkan pandangan di tengah kegelapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN