Bab 9

1862 Kata
Daviant memandangi ruangan kepala sekolah dimana Ia kini berada, Ruangannya tampak rapi dan ada sebuah rak kaca yang menampilkan piala dari para siswa disini. Meskipun sekolah barunya tampak tak sebesar sekolah yang sering Ia lihat di Ibukota, namun rupanya siswa sekolah ini cukup berprestasi. Terbukti dari jejeran piala tingkat propinsi bahkan nasional yang dapat Ia lihat sekarang. “Jadi nak Daviant, selain mata pelajaran umum. Bidang apa lagi yang kau sukai?”, Sang kepala sekolah yang kemudian Daviant ketahui bernama Pak Ari bertanya padanya. Daviant menautkan jari-jarinya ragu, memandangi Alisa disampingnya yang sedang fokus membaca entah apa itu. Alisa yang menyadari tengah di tatap oleh sang tuan muda segera mengalihkan pandangannya dari lembar kertas pendaftaran. Ia anggukan kepalanya memberi isyarat Daviant untuk berkata sejujurnya, “Aku suka seni. Aku suka melukis”, sahutnya pelan. Pak Ari tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Kami memiliki ekstrakurikuler seni lukis disini. Kau dapat mendaftar untuk bergabung bersama mereka saat resmi masuk nanti”, jelas sang kepala sekolah. Mata cokelat indah Daviant berpendar terang mendengarnya. Akhirnya, setelah lewat empat belas tahun dalam hidupnya. Ia dapat dengan leluasa menjalani satu hal yang begitu Ia sukai. Daviant merasa semakin jatuh cinta dengan kota kecil ini. Setelah berpamitan dengan sang kepala sekolah, Daviant, Alisa, dan Leo memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah sejenak. Sembari mengenal lingkungan tempat belajar Daviant yang baru, Leo menjelaskan setiap ruangan yang mereka lewati. Saat mereka berkeliling, Daviant dapat melihat sekelompok anak remaja tanggung tengah berlatih sepak bola, apa aku juga memiliki kesempatan untuk bermain sepak bola kembali, nanti? , ucapnya dalam hati. “Daviant, Keylani berada satu tingkat di bawahmu. Dia berada di kelas 7-2, dan kau di kelas 8-4. Kelasmu berada di lantai satu gedung ini. Karena ini semester pertama tahun ajaran ini, biasanya akan diadakan kelas gabungan untuk beberapa kelas outdoor”, ujar Leo panjang lebar membuat Daviant mengalihkan pandangannya sejenak dari lapangan sekolah. Sekolah barunya merupakan gabungan dari SD, SMP, dan SMA. Karena sebelumnya Ia hanya melakukan homeschooling saat di Jakarta, Alisa tak berani mendaftarkannya langsung ke tahun terakhir sekolah menengah pertama. Daviant tak keberatan karena itu berarti Ia dapat menikmati masa-masa sekolahnya lebih panjang sebelum disibukkan dengan ujian kelulusan. Mendengar penjelasan Leo, Daviant menganggukkan kepala tanda mengerti, kembali mengikuti langkah Leo dan Alisa menelusuri lingkungan sekolah. Mulai dari menelusuri letak ruang kelas barunya, ruang laboratorium, kamar mandi, hingga unit kesehatan sekolah telah Daviant jelajahi bersama kedua orang dewasa di depannya. Sempat Ia berjumpa dengan beberapa anak yang memandanginya lekat-lekat, membuat Daviant sedikit gugup dan panik. Pada akhirnya, Ia percepat langkahnya menghampiri Alisa, tak lupa menundukkan kepala dalam-dalam. Merasa canggung dengan serbuan tatapan penasaran di sekitarnya. Leo yang menyadari kehadiran Daviant yang semakin merapat ke arah Ia dan Alisa, segera menoleh ke sekitar dan bergerak mundur. Ia rangkulkan lengannya pada bahu si anak lelaki dengan hangat. Sedikitnya Leo mengerti bahwa Daviant kesulitan beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yang baru. “Jangan takut, mereka akan menjadi temanmu juga nanti.”, ucap Leo menenangkan. Ditepuknya bahu si anak lelaki pelan, mencoba menenangkan keresahan yang mungkin saja masih dirasakan Daviant. Sedikit tercengang, Daviant mengangkat kepalanya dan bergumam pelan, “Teman?” , tanyanya hampir tanpa suara. “Ya, teman. Teman baru yang akan mengajakmu bermain dan belajar bersama. Kalian akan meniti masa depan kalian perlahan mulai dari sini.”, lanjut Leo dengan pose seperti orang bijak. Alisa sampai tersenyum geli mendengarnya, Tak biasanya si pemuda kekanakkan ini berbicara benar. Setelah mendengarnya, Daviant tanpa sadar menyunggingkan senyum pertamanya hari itu. Benar Ia tak seharusnya takut dan merasa gugup saat ini. Mulai dari detik ini, Ia akan merubah dirinya sedikit demi sedikit menjadi sosok yang lebih berani. Di lain sisi, Alisa merasa lega. Setelah mendengar perkataan Leo, sekarang dilihatnya mata sang tuan muda kembali bersemangat. Alisa tak tahu apa yang dipikirkan tuan mudanya sebelumnya hingga Ia terlihat panik dan gugup. Ia hanya ingin tuan mudanya merasa bahagia selama menetap di desa ini. Karena itulah janjinya pada kedua orangtua anak ini sebelumnya, menjaga Daviant untuk tetap bahagia. Leo membawa mereka berdua menuju kantin sekolah, Ia berkata ingin membelikan Keylani roti strawberry kesukaannya sebelum mereka beranjak pulang. Daviant hanya duduk diam di kursi kantin sambil memainkan jam tangannya, menunggu kedatangan Alisa dan Leo. Dilihatnya sekelompok anak yang tadi bermain sepak bola di lapangan tengah berjalan memasuki kantin, mereka terlihat ceria dan saling melempar canda. Salah satu dari segerombolan anak tersebut melangkah menuju stand penjual minuman, terlihat memesankan sesuatu untuk dia dan anggota timnya. Daviant masih asyik memperhatikan gerombolan itu, hingga salah seorang anak lelaki yang berkulit sawo matang dengan gelang perak di tangannya menangkap pandangan matanya. Si anak lelaki tersenyum ramah, dan melambaikan tangannya pada Daviant. Melafalkan tanya tanpa suara yang dapat Daviant artikan “anak baru?”. Daviant menganggukan kepala, dan si anak lelaki membalas dengan mengangkat jempolnya ke udara. Daviant dapat melihat si anak lelaki berkulit sawo matang itu tengah bergerak menuju ke mejanya, masih dengan senyum yang sama Ia julurkan tangannya mengajak Daviant bersalaman, “Namaku Jevan. Siapa namamu anak kota?”, tanyanya. Suaranya cukup berat untuk ukuran anak lelaki seumuran Daviant. Meskipun sedikit mengernyit heran dengan panggilan anak kota dalam kalimatnya, Daviant tetap menjulurkan tangannya membalas jabatan anak bernama Jevan ini, “Aku Daviant. Senang bertemu denganmu Jevan”, ucapnya. Jevan tersenyum lebar dan mendudukkan dirinya di bangku panjang seberang meja Daviant, “Kau akan masuk ke kelas mana nanti?”, tanyanya kembali. Sedikit mulai penasaran dengan anak bertampang bule di depannya ini. “8-4”, jawab Daviant singkat. “APA?!”, teriak Jevan keras. Suaranya membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka, termasuk Alisa dan Leo yang kini berada di stand minuman. Daviant memelototkan matanya menatap si anak lelaki di depannya. Kenapa Ia harus berteriak sekeras itu. Jevan yang dipelototi oleh Daviant segera menyunggingkan senyum minta maaf, “Ma-maf, aku hanya terkejut karena kita berdua akan sekelas”, jelasnya. Daviant ikut melebarkan matanya terkejut, siapa sangka anak pertama yang dikenal di seolah ini adalah calon kawan sekelasnya nanti. Jevan kembali menyunggingkan senyum lebar dan kemudian Ia bangun dari duduknya sambil menepuk pundak Daviant pelan, “Sepertinya kita akan sering saling bertemu, jangan lupa untuk menyapaku saat di kelas nanti”, ujarnya kemudian berlalu untuk kembali ke meja tempat Ia berkumpul bersama anggota timnya. Menyunggingkan senyum tipisnya, Daviant sadar bahwa anak-anak yang bersekolah disini tak semenakutkan seperti apa yang Ia kira sebelumnya. Mungkin Leo benar bahwa disini Daviant akan bertemu banyak teman yang kelak akan menemaninya melihat dunia yang sesungguhnya. Seperti apa yang ayahnya selalu bilang. Bahwa Daviant harus melihat dunia yang luas di luar sana. Tak berapa lama setelah percakapan singkatnya dengan si anak dari tim sepak bola, Alisa dan Leo datang dan mengajaknya pulang. Kedua orang dewasa itu tak mengatakan apapun saat tiba di mejanya meski Daviant yakin mereka melihatnya berbicara dengan Jevan barusan. Alisa hanya diam dan mengangsurkan sebuah minuman air jeruk dingin untuknya, sementara Leo hanya mengisyaratkan mereka untuk bergegas pulang. Ketika mereka tiba di parkiran, Leo bertanya “Alisa, Daviant. Kalian berdua tak lupa kan dengan janji makan siang dirumahku hari ini?”, “Keylani akan mengambek seharian jika kalian tak jadi singgah”, lanjutnya. Alisa menganggukan kepala sembari bergerak memasangkan helm untuk Daviant, “Tentu saja kami ingat, sebaiknya kita cepat karena hari menjadi semakin panas. Kulit Daviant akan memerah”, ujarnya kemudian. Leo menyunggingkan senyum menyebalkan mendengar perkataan Alisa, “Kalau begitu bersiaplah untuk memerah hingga kulitmu menggelap. Karena meskipun masih terasa sejuk, sinar matahari di desa ini cukup menyengat”, sahutnya panjang lebar. Alisa tahu akan hal yang satu itu, tapi Ia tetap saja tak rela kulit putih bersih milik sang tuan muda akan menggelap nanti. Ingatkan dia nanti untuk meminta nyonya besarnya mengirimkan sekarton sunscreen untuk tuan mudanya dari kota. Keylani mendengar suara mesin motor yang diparkir di pekarangan rumah. Ia segera berlari keluar rumah dan menyambut Paman Leo, Kak Alisa, dan juga Davi. Senyumnya mengembang lebar, dan segera melambaikan tangan kecilnya ke arah Davi begitu si anak lelaki menatapnya. “Alisa lihat, bocah nakal ini sudah berada disini tanpa aku harus menjemputnya.”, ujar Leo menatap Alisa yang berjalan dibelakangnya bersama Daviant. “Berapa lama kau menunggu disini, apa Ibumu tahu alasan sebenarnya kau kesini?”, tanya sang paman pada Keylani. Keylani mengernyitkan alisnya menatap sang paman, “Memang apa yang akan aku lakukan. Aku hanya ingin ikut makan bersama. Dasar paman bodoh!”, sahut Keylani. Leo kemudian segera memerangkap sang keponakan dalam kepitan lengannya, membawanya masuk ke dalam rumah tanpa memberi kesempatan Keylani untuk menyapa Daviant terlebih dahulu. “Nenek! Paman Leo berbuat jahat padaku! Nenek, Lihatlah! Aku tak bisa bernafas! Uhuk-uhuk” , si gadis kecil berteriak keras sekaligus berakting terbatuk. Menarik atensi sang nenek yang tengah menyiapkan makanan di meja makan. “Hentikan Leo, Keylani. Tak malu kah kalian menjadi bahan tontonan kedua tamu kita?”, ucap sang nenek. Matanya menangkap seorang gadis cantik bersama anak remaja lelaki yang masih berdiri di dekat pintu. Terlihat canggung untuk memasuki rumah, dan malah asyik menyaksikan momen pertengkaran antara anak bungsu dan cucu tunggalnya. “Masuklah nak, mari kita makan siang bersama. Nenek sudah menyiapkan banyak menu makanan di meja”, panggil sang nenek pada kedua tamunya. Daviant dan Alisa segera beranjak masuk dan memberi salam pada Nenek Arini. “Ah! Nenek ingat! Bukankah kau anak muda yang membantuku kala roda gerobak nenek lepas?”, tanya Nenek Arini antusias pada anak lelaki yang baru saja mencium tangannya. “Benar, Nek. Itu aku”, sahut Daviant pelan. Sang nenek tersenyum hangat, “Nenek mengingat namamu, Daviant bukan?”, tanyanya sembari menyunggingkan senyum hangat pada Daviant. Daviant menganggukan kepalanya balas tersenyum tipis karena beliau masih mengingat dirinya dengan baik. “Nenek, Davi akan bersekolah di tempat yang sama denganku. Kami akan menghabiskan banyak waktu bersama!”, si cucu perempuan yang tiba-tiba saja sudah berada di antara Nenek Arini dan Daviant menyahut dengan semangat. Nenek Arini mengelus kepalanya pelan, “Benarkah?, Itu hebat Lani. Nenek senang kau mendapat teman baru. Setidaknya yang nenek lihat, Davi ini golongan anak pintar dan tak suka membolos”, ucap sang nenek. Leo menyemburkan tawanya, sang Ibu terlihat sekali menyindir Keylani yang notabene adalah anak nakal dan suka membolos. Keylani cemberut dan beralih menggelayuti lengan Alisa, “Aku membolos ke perpustakaan. Disana juga banyak ilmu yang berserakkan.”, sahutnya percaya diri. Membuat ketiga orang dewasa di sekitarnya tertawa terbahak. Sementara Daviant hanya tersenyum tipis memandangi betapa lucunya kawan barunya. “Ibu Arini, maafkan kami merepotkanmu hingga harus menyiapkan makan siang ini sendirian. Aku juga memohon maaf karena tak ikut membantu.”, Suara Alisa kemudian mengalun lembut memecahkan tawa mereka. Nenek Arini mengalihkan pandangannya pada seorang wanita muda di belakang Daviant. Wanita yang gambar wajahnya pernah Ia lihat di ponsel putera bungsunya. “Tak apa sayang, kau pasti Alisa. Nenek pernah melihat potret wajahmu di beberapa tempat”, sahut Nenek Arini sambil menepuk pelan lengan Alisa. Perkataan sang nenek membuat Alisa bertanya-tanya, matanya beralih pada Leo yang keliatan gelagapan mengajak Keylani dan juga Daviant ke ruang makan. “Tunggu apalagi?!, Cepat Ibu kita makan siang! Anak-anak sudah menjerit kelaparan”, ujar Leo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN