Tak terasa hari yang telah lama ditunggu pun tiba, hari dimana Daviant akan menginjakkan kaki di sekolah barunya. Kini, si anak lelaki tampan terlihat tengah mengancingkan kemeja putih seragam sekolah miliknya. Memandangi pantulan wajahnya di cermin yang begitu mirip dengan fisik sang mama. Sudah lebih dari seminggu Daviant menetap di desa ini, namun sang mama tak juga datang mengunjunginya.
Apa Daviant benar-benar telah diasingkan sekarang, sedikitnya Ia tersenyum miris. Kehidupannya berubah dari seorang pangeran muda dalam sangkar menjadi orang yang diasingkan dalam sekejap, meskipun begitu sedikitnya Ia bersyukur karena merasa hidupnya saat ini memberikannya ruang nafas yang lebih baik.
Memandangi jam digitalnya sejenak, Ia masih memiliki waktu setengah jam lagi sebelum sarapan dimulai. Mata cokelat indahnya kemudian beralih menatap tas ranselnya yang berwarna hitam dan mengulurkan tangan meraihnya. Ia harus memeriksa isi tasnya memastikan tak ada yang tertinggal. Sewaktu datang ke sekolah saat mendaftar beberapa hari yang lalu, Pak Ari telah memberikannya jadwal pelajaran.
Ia mengeluarkan sesuatu yang tersimpan rapi di kantong bagian belakang tasnya, disana ada sebuah gambar polaroid yang menunjukkan Ia bersama kedua orangtuanya. Gambar yang sama persis dengan yang terpajang dalam bingkai di atas meja belajarnya. Daviant sendiri yang mencetak gambar tersebut, Ia berpikir bahwa pasti menyenangkan jika papa dan mama ikut mengantarnya ke sekolah baru meski hanya berupa sebuah gambar. Setidaknya sebuah gambar yang hilang tak akan terlalu menakutkan untuknya.
“Pa, aku sungguh akan bersekolah hari ini”, Ia usap pelan gambar sang papa disana. Akankah papa merasa bangga bila Ia bersamaku saat ini. Tak dapat Daviant pungkiri bahwa terkadang Ia pun berharap keluarganya kembali utuh. Meskipun beban sebagai pewaris tunggal begitu berat namun Ia dulu merasa cukup dengan kehadiran kedua orangtuanya. Tapi kedua penopang hidup Davi itu telah memilih jalannya masing-masing, dan Daviant belajar untuk memahami. Meski tetap Ia belum mengerti alasan sesungguhnya hingga saat ini.
Keasyikan melamun, Ia mendengar ketukan Alisa di pintu kamar. Ia dapat mendengar suara Alisa yang memintanya untuk segera keluar karena sarapan telah siap. Segera Daviant masukan kembali gambar polaroid yang masih Ia genggam dan membawa tasnya keluar kamar.
Alisa tersenyum begitu tuan mudanya tiba di meja makan, hati sang wanita ikut gembira karena pada akhirnya Ia dapat melihat Daviant dengan seragam sekolah yang membalut tubuhnya. Si anak lelaki terlihat begitu tampan dalam kemeja putih tersebut, kaki panjangnya terlihat pas dengan balutan celana bahan berwarna biru. Daviant yang baru memotong rambutnya kemarin juga semakin menambah kesan dewasa. Ah, sudah berapa tahu berlalu hingga kini si bayi kecil yang selalu Ia bacakan cerita sebelum tidur telah beranjak perlahan menjadi seorang remaja tampan.
Menyingkirkan sejenak rasa harunya, Alisa berkata, “Tuan muda, pagi ini kau akan berangkat bersama dengan Leo dan juga Keylani. Kebetulan Leo ada kelas mengajar hari ini”. Daviant mendongakkan kepala sejenak dari kegiatannya menyendok nasi, di hari pertama Ia bahkan sudah berangkat bersama gadis kecil itu. Memberikan senyuman tipis, Ia anggukan kepalanya pelan sebagai jawaban.
Alisa kembali melanjutkan perkataannya, “Saat nanti kau telah tiba di dalam kelas, cobalah untuk menyapa teman sebangkumu terlebih dahulu. Itu akan membantu tuan muda beradaptasi lebih cepat.”, Alisa mencoba memberikan nasihat singkat padanya. Daviant hanya diam menguyah makanan, setelah makanan dalam mulutnya tertelan Ia bertanya pelan, “Alisa, apakah sekolah itu menakutkan?”
“Tidak, jika kau mampu menempatkan diri dengan baik”, Alisa menjawab lugas. Melihat kebingungan di wajah Daviant, Ia kembali berkata “Tuan muda, setiap individu memiliki sifat dan sikap yang berbeda tinggal bagaimana kita menghadapi mereka”,
Mengulurkan tangannya guna meraih tangan Daviant yang berada di depannya, Alisa mencoba memberi keyakinan pada si anak lelaki “Daviant, lakukan apapun. Namun, tetaplah menjadi diri sendiri. Aku percaya nantinya kau akan dikelilingi juga oleh orang-orang baik”, Ia tutup nasehatnya dengan senyuman tulus dan usakan pelan di rambut sang anak. Daviant hanya mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
Ah, jika seperti ini Ia merasa sungguhan memiliki anak.
Gadis kecil berkepang dua itu mengerucutkan bibirnya ke depan, menatap jengah sang paman yang masih asyik mematut diri di depan cermin dan harus membuatnya menunggu lama. Padahal Ia sudah berada disini sejak setengah jam yang lalu, bahka baju seragamnya yang sebelumnya rapih kini telah berubah mengerut di beberapa bagian akibat Ia yang terus menerus bergerak sebal di kursinya.
Keylani kesal, Ia yang sudah amat sangat bersemangat pagi ini karena akan berangkat bersama Daviant malah harus menunggui sang paman berdandan kembali. Cih, padahal kami hanya akan menjemput Daviant, kenapa Ia berdandan dengan sangat total begitu.
Keylani lupa bahwa sang paman ingin tebar pesona pada si kakak cantik, yaitu Alisa.
Beberapa menit setelahnya akhirnya sang paman sadar bahwa ada seorang anak yang tengah cemberut menatapnya. Menyengir tak bersalah, Ia taruh sisirnya kembali dan segera menarik tangan Keylani untuk beranjak, “Ayo, kita berangkat!”, ajaknya. Keylani menggerutu habis-habisan di balik bahu sang paman . Liat saja nanti, aku akan membalas waktuku yang terbuang ini!, ancam si gadis kecil dalam hatinya.
Berkendara bersama sang paman mereka menuju ke rumah Daviant. Ini adalah kali pertama Keylani mengunjungi rumah kawan barunya, selama liburan kemarin Ia tak sempat bermain dengan Daviant karena dijadikan pekerja rodi dadakan oleh Ibunya. Tak berapa lama, tibalah kedua orang ini di rumah berpagar hitam. Rumah Daviant
Keylani mengelilingi pandangannya pada kawasan sekitar, Ia tak pernah bermain ke bagian barat desa ini karena berjarak sedikit lebih jauh dari rumahnya. Mata bulatnya betah memandangi sebuah perkebunan jagung yang luas, warna hijau dan kekuningannya menyatu membuat sejuk mata apalagi ditambah dengan birunya langit. Tertawa kecil Ia mendadak merasa seperti ingin benyanyi. Apa yang kupikirkan, benyanyi tiba-tiba depan rumah kawan baruku adalah tindakan memalukan.
Meskipun memalukan nyatanya Ia tetap melakukannya, bernyanyi riang di samping sang paman yang entah sedang mengetik apa pada ponselnya. Leo mengalihkan pandangan sejenak dan menemukan orang yang telah ditunggunya muncul. Ia mengangkat tangannya menyapa mereka.
“Daviant, sudah siap untuk hari pertamamu?”, tanya Leo semangat. Keylani yang mendengar suara sang paman segera menghentikan nyanyiannya, sejak tadi Ia memang asyik memandangi perkebunan jagung disana hingga tak menyadari kedatangan Daviant dan juga Kak Alisa.
Daviant hanya memberikan anggukan singkat sebagai jawaban, Ia sekilas tersenyum pada Keylani yang segera dibalas oleh cengiran lebar si anak berkepang dua tersebut.
Alisa menepuk pelan lengan Davi, menarik sesaat atensi si anak lelaki dari Keylani, “Davi, berjanjilah untuk menjaga dirimu dengan baik selama di sekolah. Jangan pernah terlibat dalam masalah karena nanti itu akan menyulitkanmu dan mama. Kau mengerti, kan?”, Alisa berpesan lembut padanya.
“Hm, aku mengerti Alisa.” Davi menyahut singkat dan terkesan tak terlalu peduli, namun Alisa percaya bahwa si anak lelaki akan mengikuti pesannya baik-baik karena Ia begitu menghormati sang mama tercinta.
“Hari ini kau juga akan pulang bersama Leo dan Keylani lagi. Temuilah Leo jika kau membutuhkan sesuatu, kau mengerti?”, Alisa kembali berpesan. “Iya, Alisa. Aku berangkat dulu. Sampai jumpa”, dikecupnya pipi sang wanita setelahnya memberi salam perpisahan.
Hal itu sontak saja membuat kedua orang yang hanya diam sejak tadi mengangakan mulutnya tak percaya. A-apa yang mereka lakukan. Mungkin itu suara hati Keylani dan juga Leo saat ini.
Menyadari tatapan tak percaya dari kedua paman dan keponakan di depannya Alisa tertawa kecil, “Berhenti menatap kami begitu. Leo antarkan Davi dan Keylani dengan selamat. Sudah pergi sana, nanti kalian terlambat”, ujar Alisa.
Alisa membantu Daviant menaiki jok belakang sepeda motor Leo, memakaikannya helm dan membenarkan tatanan rambutnya agar tak menghalangi wajah. Ia ikut senang merasakan betapa bersemangatnya sang tuan muda saat ini.
“Kak Alisa, kami berangkat. Tenang saja, aku akan menjaga Davi hari ini!”, ujar Keylani semangat sambil mengepalkan kedua tangannya. Tersenyum lembut, Alisa mengulurkan tangannya merapihkan poni depan Keylani yang sedikit berantakan tertiup angin, Ia rendahkan tubuhnya memberikan sebuah kecupan kecil di pipi halus Keylani. “Terimakasih sayang, belajarlah dengan baik hari ini ya”.
Alisa kemudian mengalihkan pandangannya pada Leo dan mengisyaratkan untuk segera berangkat, Si lelaki didepannya malah menatapnya lekat dengan kedua alis yang dinaik turunkan menggodanya, “Kau tak ingin memberikanku kecupan perpisahan juga?”, ujar Leo.
Alisa membalas dengan senyuman yang begitu manis, sangat manis hingga membuat Leo merinding. Hingga akhirnya Ia pasrah dan menyalakan mesin motornya segera melaju meninggalkan Alisa bersama kedua anak kecil di belakangnya.
Saat ini Daviant berada di ruang kepala sekolah bersama Leo, Keylani telah terlebih dahulu diantarkan ke kelasnya meski si gadis kecil merengek meminta ikut bersama. Ia akan diantarkan Pak Ari langsung menuju kelasnya dan memperkenalkan diri di hadapan teman-teman barunya.
Inilah salah satu hal yang membuat Davi gugup sedari malam, penasaran seperti apa respon kawan barunya nanti. Selang beberapa menit kemudian, Leo menghampirinya dengan membawa setumpuk kertas yang entah apa isinya.
“Daviant, ini adalah denah sekolah, katalog kurrikulum, dan formulir pembelian seragam dan buku cetak. Berikan formulir ini pada Alisa untuk ditandatangani begitu kau selesai mengisinya.”
“Baik, terimakasih”, sahut Daviant. Leo menganggukkan kepalanya dan berpamitan pada sang kepala sekolah juga menitipkan Daviant. Ia kemudian menepuk pelan pundak si anak lelaki dan bergegas pergi menuju kelas mengajarnya pagi itu.
“Mari, Nak. Kita menuju ke kelas barumu”, ajak sang kepala sekolah. Daviant mengikuti langkahnya pelan dari belakang sambil kembali memandangi lingkungan sekitar sekolah barunya. Ketika akhirnya mereka tiba di sebuah pintu berwarna putih dengan plang tertulis VIII-4, sang kepsek mengetuk pelan dan segera terdengar sahutan dari dalam.
Pak Ari membuka pintunya dan masuk, Daviant masih setia mengikutinya. Ia ikut berdiri di samping kepala sekolah dan menghadapkan pandangan pada seisi kelas ini, dapat Daviant lihat hampir seluruh murid memandangnya penasaran dan juga tertarik. Terkecuali satu orang di ujung sana yang hanya menyunggingkan senyum miring sekilas, si anak lelaki pemain bola yang Ia temui kala pendaftaran disini, Jevan.
“Ini Daviant. Dia adalah kawan baru kalian di kelas ini, bersikap baiklah padanya karena ini adalah kali pertama Daviant berada di kota ini. Dia belum terlalu paham akan kebiasaan masyarakat disini”, ujar sang kepala sekolah. “Nah, Daviant kau boleh memperkenalkan dirimu sekarang”, lanjutnya kembali.
Daviant berusaha menghilangkan sedikit kegugupannya, menarik nafas pelan kemudian mulai memperkenalkan dirinya, “Selamat pagi, namaku Daviant. Daviant Wijaya, ini memang kali pertamaku tinggal di kota ini. Aku mohon bantuannya selama aku belajar disini. Terimakasih”, Ia akhiri perkenalannya dengan sebuah senyuman manis yang membuat beberapa siswi di kelas menjerit kagum, senang akhirnya memiliki satu orang yang benar-benar tampan di kelas mereka.
Sang guru kelas berusaha menenangkan anak didiknya yang mulai ribut ingin bertanya ini itu pada siswa baru ini, “Tenang anak-anak, kalian boleh memborbardir pertanyaan pada Daviant saat jam istirahat. Sekarang Daviant, karena kursi yang tersisa hanya di bagian belakang apa kau tidak keberatan duduk disana?”, tanya gurunya ramah.
Daviant menggelengkan kepalanya dan segera beranjak menghampiri kursinya yang kebetulan berdekatan dengan jendela kelas. Cukup merasa senang karena Ia dapat sedikit menikmati terpaan angin halus dari sana.
Dilihatnya kepala sekolah yang telah berpamitan meninggalkan kelas setelah memperkenalkan dirinya tadi, kini sang guru wanita yang tadi berbicara dengannya kembali melanjutkan pelajaran di depan kelas. Ia keluarkan buku dan alat tulisnya, dengan senyum tipis yang terus berkembang menikmati moment pelajaran pertamanya di sekolah baru.