04.Keinginan Mikayla

1233 Kata
Bersiaplah setelah Samudra dinobatkan sebagai bodyguard dadakan untuk Zee!maka Sam,akan memberi banyak pelajaran karna Zee sangat merepotkan nya selama ini. Sebelum berangkat kekantor,Sam sempat menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Zee barusan,tentu saja wanita beranak satu itu menertawakan hal konyol tersebut sebelumnya,dia meminta maaf yang sebesar besarnya pada adiknya itu dalam hati,bahwa telah menyeretnya dalam urusan rumit ini. menyatukan Zee dan Sam adalah tujuan utamanya,menciptakan kedamaian pada dua orang tersayangnya itu adalah usahanya. Terlebih lagi usia hidupnya yang semakin terkikis,dia ingin sekali Zeeya menggantikan posisinya sebagai ibu dan istri bagi keluarga kecilnya,tentu saja langkah pertama ialah harus membuat Zee dan Sam semakin dekat dan akrab. Sebelum Mika benar benar pergi meninggalkan bumi yang dia pijak selama dua puluh enam tahun lamanya,keinginannya harus terpenuhi. Dirinya merasa miris mengingat penyakit yang di deritanya selama setahun belakangan ini,tidak menyangka jika kanker serviks akut stadium empat bersemayam dan menggerogoti fungsi organ tubuhnya,hal yang membuatnya sangat terpukul dan nyaris depresi. beruntungnya dia memiliki orang orang hebat disisinya. lamunan nya buyar ketika Sam berpamitan pergi ke kantor,Mika melambaikan tangannya kearah mobil yang semakin menjauh. Mika bersedih,meratapi nasib suami dan anak semata wayangnya kelak setelah kepergiannya,apa lagi putranya masih terlalu kecil untuk merasakan kehilangan seorang ibu,itulah alasan dia memiliki ide untuk menjadikan adik tirinya sebagai pengganti nya. selama ini,dia memendam keinginan itu sendirian,tidak ada satupun yang tahu jika dirinya telah mempersiapkan Zee untuk pengganti nya terlihat egois memang,karna harus melibatkan adiknya,harusnya gadis itu memilih jalan kehidupannya sendiri,apalagi dia masih muda ,tak dipungkiri pasti Zee menginginkan pria yang muda pula. meski jarak usia Zeeya dan Sam hanya terpaut enam tahun,namun tetap saja soal status juga dipertimbangkan,tidak mungkin seorang Zee menerima Sam dengsn status duda nya. Mika menghela nafas ,pikirannya kalut sejak kemarin,ada apa ?apa yang akan terjadi?apakah ini saat nya dia pergi dari dunia ini? jika iya,maka tujuan nya sekarang adalah menghampiri ibu mertuanya. **** Mika menghela nafas berat ketika baru turun dari mobil,sebelum melangkahkan kaki kedalam rumah mertuanya,dia harus benar benar siap dengan tujuan nya datang kesini. Saat membuka pintu gerbang,dilihatnya sang mertua sedang duduk dikursi santai teras rumah,sambil menemani Miller yang sedang di suapi sus Indi. "bu"Mika memeluk erat mertuanya sebelum duduk bergabung disebelahnya . "bagaimana kabar mu,sayang?"Rima mertuanya mengusap punggung menantunya dengan penuh kasih sayang. "aku baik bu,bagaimana kabar ibu?" "ibu juga baik,lihatlah!Miller sangat lincah sekarang" atensi mereka beralih pada sosok anak kecil bertubuh gempal yang sedang berlari sambil menendang bola,wajahnya tampak ceria,namun melihat itu tiba tiba hati Mika mencelos,air matanya tak mampu dibendung nya lagi,berhasil lolos dari pelupuk matanya. Rima yang menyadari itu,segera menggiring Mika masuk kedalam rumahnya, "minumlah,sayang!" Rima menyodorkan air putih. Mika menerima gelas tersebut dan meneguk isinya. "tenanglah,Mika.Jangan lagi kamu memikirkan hal hal buruk yang akan menganggu kesehatanmu" bukannya tenang,Mika semakin terisak,membuat tubuhnya dipeluk oleh sang mertua. Rima sangat menyayangi Mika,gadis yang empat tahun lalu dipinang oleh putranya,kemudian resmi menjadi menantunya,sikap dewasa dan keibuan nya membuat Rima senang dengan Mikayla. "bu,boleh aku bertanya sesuatu?"tanya Mika disela sela isak tangisnya "apa yang ingin kamu tanyakan?bertanya lah,sayang!"Rima mengusap lembut pipi Mika menghapus sisa air matanya. "jika aku sudah tiada nanti,apakah ibu akan mencari pengganti ku?" "kamu bicara apa,kamu tidak akan pergi kemana mana,kamu akan tetap disini!" Rima mulai merasakan sesak,tidak rela ketika mengingat bahwa Mika tidak berumur panjang "tapi bu,secepatnya aku akan segera pergi" tangisannya kembali pecah,kini Rima pun sama sama menangis. "aku belum bisa membahagiakan Sam dan Miller"sambungnya. "sayang,kamu harus optimis!yakinlah kamu akan mampu melawan sakit mu itu,lihatlah kami yang selalu berada di sampingmu,kami semua sayang padamu" "baiklah bu,katakanlah keajaiban ini akan terjadi,namun jika seandainya aku benar benar tiada,bersediakah ibu mengganti posisiku dengan Zeeya adikku?" bagaikan disambar petir siang bolong,Rima shock mendengar permintaan aneh Mika,Rima masih bergeming. Bukan tidak setuju,namun hal ini sulit dilakukan mengingat Zee dan Sam sama sama keras kepala dan saling membenci satu sama lain. "ibu tidak perlu khawatir,aku yakin mereka akan berdamai setelah sama sama menyadari,hanya Zee yang aku percaya bu,tidak dengan yang lain.Aku tidak ingin Sam menikahi orang yang salah sehingga berdampak buruk pada putraku,Miller" Rima mengangguk paham,diakui nya hubungan Mika dan Zee sangat harmonis layaknya saudara kandung,tapi kembali lagi kepada Zee dan Sam,apakah mereka setuju dengan keinginan Mika ini? "apa menurut ibu ideku bagus?tolong dukung aku bu,seandainya aku tidak sempat menyatukan mereka,bersediakah ibu membantuku menyatukannya ?"mata nya berbinar penuh harap,membuat Rima menghembuskan nafasnya seraya mengangguk setuju. . . . "tidak usah kak,aku bisa naik taksi" 'kau tidak lupa kan dengan janjimu tadi malam,sweety?' "tentu saja tidak,aku belum pikun untuk tetap mengingat nya"Zee mulai gusar "baiklah,tunggu lah disana!sebentar lagi Sam sampai " "kak,tapi aku_" tut...tut..tut... sambungan telpon diputus sepihak oleh Mika. "sialan"umpatnya. kalau cemberut terus begini,dia yakin kulitnya yang halus tanpa kerutan dan licin kayak perusutan itu,akan berubah menua,ah...tidak ,Zee tidak akan membiarkan itu terjadi. mobil ferrari portofino berwarna grigio silverstone berhenti didepan gadis itu,kebetulan kaca mobil terbuka lebar menampilkan sosok pengendara nya, jujur, visual kakak iparnya itu nyaris sempurna, Dirinya menatap lekat,memindai pria yang sedang duduk di kursi kemudi itu secara mendetail. otot bisepnya terbentuk sempurna apalagi dibalut dengan kaos ketat berwarna brown bahu lebar,kulit putih,matanya, hidung nya, bibirnya,oh my god....air liurnya nyaris saja menetes dengan lancar dari sudut bibirnya "mau sampai kapan jadi manekin disana?" Zee menjadi salah tingkah ketahuan memandangi Sam karna pesona pria itu,segera dia membuka handle pintu mobil dan menduduk kan pantatnya di kursi penumpang sekilas melirik Sam,lalu berdehem demi menetralisir kegugupannya "apa kamu sudah menentukan pilihan?"Sam membuka suara "hmm"jawabnya malas, "jadi?" "aku tidak siap mengurus balita" "artinya ,kau akan menerima hukuman dari Mika?" "ya..begitulah ?memangnya apa lagi?hanya dua opsi!" "sayang sekali,pilihanmu akan membuat aku kerepotan nantinya." "tidak usah protes padaku,protes saja pada istrimu itu,dia yang membuat aturannya bukan?!menyebalkan" Sam tidak menanggapinya lagi,mereka sama sama fokus pada perjalanannya "tunggu!kita mau kemana?"tak sengaja dia memegang pergelangan pria itu "menjemput Mika" "oh." "keenakan ya pegang tangan suami orang?"kedua pasang mata itu menuju pada titik yang sama. "eh.."Zee segera menarik tangannya yang tiba tiba lancang itu,dia berjanji akan memberi hukuman pada tangannya setelah ini,sementara Sam terkekeh, "kau tau konsekuensinya kan? tindakan mu barusan berpotensi menyebabkan salah paham antara aku dan istriku" "hei..aku tidak sengaja melakukannya,jangan berlebihan,awas saja ngadu yang tidak tidak papa kakak!" begitu lah mereka,tiada hari tanpa berdebat ,membuat Zee maupun Sam merasa bosan,entah kapan mereka akan segera berdamai dengan keadaan. Padahal dulu,awal Sam menikah dengan Mika,Zee adalah sosok yang baik dan penurut dimatanya,namun semenjak enam bulan setelah Zee lulus dari SMA nya kemudian masuk kependidikan yang lebih tinggi ,sifatnya mulai berubah. mungkin karna pergaulan nya atau mungkin kelakuan aslinya mulai terlihat,Zee yang sekarang sangat menjengkelkan dan pembangkang. . . . "onty..onty.."Miller menghampiri Zee yang baru saja keluar dari mobil dengan sedikit berlari, Zee dengan senang hati merentangkan kedua tangannya siap menerima tubuh gemuk anak itu dalam pelukannya. "onty mau gendong!"Miller merengek ingin segera digendong oleh Zee. gadis itu pun menggendong keponakannya lalu mengambil alih mainan yang di bawa sus Indi. mereka berdua berlalu ke taman belakang menyisakan Rima,Mika dan Sam yang masih berada di depan. "kau lihat suamiku,betapa cocoknya Zee dan Miller,terlihat seperti ibu dan anak bukan?" Sam memutar bola matanya malas,gadis yang menurutnya biasa saja dan tidak memiliki potensi apapun,selalu saja di puji oleh Mikayla "biasa saja dan lagi sayang,berhenti memuji Zee yang tidak berguna itu,aku bosan mendengarkan pujian mu padanya,yang tidak sesuai dengan kenyataan" seraya pergi ke kamar utama tempat dia tinggal dulu sebelum menikah. Mika melihat punggung suaminya itu semakin menjauh,seraya menghela nafas,tentu saja Rima menyadari itu membuat dirinya mengusap punggung tangan menantunya dengan lembut "tidak usah khawatir sayang,ibu akan membantu usahamu!" "terima kasih,bu"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN