Bab. 21 Harta Bikin Gila 2

1047 Kata
"Jeng. Jeng Ratih. Tunggu-tunggu. Ada apa? Bukannya berliannya sudah kalian dapatkan ya. Apa salah saya?" tanya Mama Ardian semakin kebingungan. "Apa salah kamu? Lihat nih! Berlian apaan nih. Baru beli kemarin sudah copot dari cincinnya. Kamu mau menipu kita ya," ucap wanita yang disebut Jeng Ratih itu sambil mengeluarkan sebuah cincin berlian yang berliannya sudah tidak lagi menempel di tempatnya. Seketika Jeng Yuli, Jeng Sofi dan Jeng Sari pun saling melempar pandang satu sama lain. Dan seketika langsung meletakkan katalog yang ada di tangan Jeng Yuli. "Nggak. Nggak mungkin. Ini pasti bukan punya saya. Lihat! Punya saya saja masih awet. Padahal saya beli lebih dulu. Ini pasti akal-akalan kalian untuk merusak kepercayaan teman-teman saya, kan?" ujar Mama Ardian mengelak. "Nggak usah ngeles deh. Lihat saja detailnya cincin itu. Kalau kamu masih nggak ngaku itu bukan cincin yang kemarin kamu kasih sama saya. Saya pastikan kamu akan masuk penjara," kata Jeng Mira sambil menunjuk-nunjuk wajah Mama Ardian dengan jari telunjuknya. "Tapi… tapi bener nih. Liat! Punya kok nggak ada masalah apa?" ujar Mama Ardian. sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari-jarinya. "Ya, iyalah. Punya kamu nggak kenapa-kenapa. Coba kamu masukkan ke dalam air. Sudah pasti bakal lepas semua itu berliannya," ucap Jeng Ratih ikut mengompori. "Jeng-Jeng semua. Jangan percaya sama wanita ini. Dia itu penipu. Kalau nggak percaya kalian bisa cek cincin ink ada di dalam katalog," kata Jeng Ratih sambil mengangkat katalog yang sudah tergeletak di atas meja begitu saja. Jeng Sari pun meraih buku itu dengan mata yang terus menatap ke arah cincin yang sudah rusak itu. Setelah membuka beberapa lembar katalog yang ada di tangannya Jeng Sari pun memperlihatkan pada kedua temannya. "Memang ada," ujarnya lirih nyaris tak terdengar. Seketika Jeng Yuli pun beranjak lalu meraih tas wanitanya sebelum berjalan menjauh dan diikuti oleh kedua temannya dari belakang. "Eh, Jeng. Jeng. Kalian mau kemana? Tolong percaya sama saya. Itu bukan perhiasan dari saya. Mereka sudah memanipulasi," ujar Mama Ardian yang sudah tidak dihiraukan oleh ketiga wanita tadi. "Eh, mau kemana kamu?" ucap Jeng Ratih sambil menghadang jalan Mama Ardian saat ia akan melangkah melewatinya. "Kalian mau apa? Berlian yang kalian mau kan sudah saya berikan?" balas Mama Ardian dengan nada bergetar. "Heh. Kita mau kamu kembalikan uang kita. Kamu itu pembohong!! Penipu!! Atau saya laporkan kamu ke polisi," ancam Jeng Ratih dengan nada yang membentak. "Tidak. Tidak. Jangan. Jangan. Saya mohon. Saya juga tidak tau kalau berlian itu palsu. Saya juga korban," ucap Mama Ardian jujur. Namun, si Jeng Ratih sudah tidak bisa menahannya lagi. Apalagi, sekarang mereka sedang bertengkar di sebuah restoran. Bisa-bisa mereka akan diusir oleh Security kalau bikin ribut di sini. Makanya, dengan cepat Mama Ardian pun ditarik oleh Jeng Mira dan Jeng Ratih dengan sekuat tenaga agar mau keluar dari ruangan itu. "Lepasin! Lepasin! Atau saya akan teriak nih," ucap Mama Ardian mulai mengancam. Sambil terus berusaha melepaskan diri dari dua wanita itu. Bukannya takut kedua wanita yang sudah penuh amarah itu malah ikutan melempar ancaman. "Teriak saja. Saya akan ceritakan pada mereka kalau kamu adalah seorang penipu yang sedang jadi buronan polisi," ancamnya yang langsung membuat nyali Mama Ardian menciut. Ia pun menghentikan gerakannya lalu berjalan keluar dengan pasrah. Setelah berada di luar restoran itu. Jeng Ratih dan Jeng Mira pun langsung menghempaskan tangan Mama Ardian. "Aduh, sakit tau," ucap Mama Ardian sambil mengusap pergelangan tangannya yang kini memerah. "Udah!! Nggak usah banyak omong. Sekarang kita mau uang kita kembali," ujar Jeng Ratih sambil menengadahkan tangannya di depan wajah Mama Ardian. Mama Ardian pun tak langsung menjawab. Ia pun berpikir keras bagaimana ia bisa kabur dari kedua wanita yang tenaganya lebih besar darinya itu. Sebab, ia pun tak punya uang sebanyak itu. 'Jika ditotal kedua wanita ini memberiku uang Seratus delapan puluh sembilan juta kemarin. Komisiku lima puluh juta sudah aku gunakan untuk membeli cincin ini. Gimana nih, caranya aku kabur dari mereka berdua,' pikir Mama Ardian sambil terus berpikir. "Sudah nggak usah kelamaan mikir. Kamu pasti punya uang di ATM, kan. Kita ke sana sekarang. Ambil uang kamu atau kita bawa kamu ke kantor polisi," ancam Jeng Mira lagi. "Iya. Iya. Saya tau. Oke deh. Kita ke ATM dulu aja," sahut Mama Ardian. Setelah ia berkata begitu kedua tangannya pun kembali dicengkram oleh kedua wanita yang kemarin pernah menjadi teman dekatnya itu. Mama Ardian pun ditarik sampai di depan sebuah ruang ATM. Segera Mama Ardian dimasukkan ke dalam ruangan itu. "Cepat!! Ambil uangnya!!" bentak Jeng Mira. "Iya. Iya," kata Mama Ardian dengan keringat yang sudah mengalir di keningnya. Ia bingung harus melakukan apa. Apalagi mengingat isi ATMnya yang hanya berisi uang lima ratus ribu rupiah. 'Duh, gimana nih? Apa yang harus aku lakukan?' batin Mama Ardian kebingungan. Apalagi saat melirik kedua wanita itu yang sedang berjaga di depan pintu ATM itu. Saat melihat seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari mesin ATM itu sedang bercakap-cakap dengan seseorang lewat ponsel pintarnya tiba-tiba. Cling! Sebuah ide pun nyangkut di otak Mama Ardian. Segera ia merogoh tas tangannya lalu mengeluarkan Smartphonenya. Ia pun mematikan ponsel itu. Sebab, jika ponsel itu tiba-tiba berbunyi padahal sedang digunakan Mama Ardian untuk pura-pura telponan. Sudah pasti Mama Ardian itu akan ketahuan dan menjadi bully-bullyan mereka berdua. Setelah semuanya sudah aman, maka Mama Ardian pun segera menempelkan ponsel pintarnya itu di telinganya. "Hallo!! Hallo, Ar! Dengar suara Mama nggak? Hah? Nggak jelas. Bentar-bentar Mama cari signal dulu," ujar Mama Ardian setengah berteriak. Ia pun membuka pintu ATM itu kemudian keluar. Karena mereka berdua percaya dengan akting Mama Ardian kedua wanita itu pun membiarkannya saja. "Hallo!! Iya. Mama butuh uang nih? Mama butuh uang?" ucap Mama Ardian dengan nada yang lebih tinggi. Sampai-sampai kedua wanita itu pun menjauhkan kepalanya. Mama Ardian pun maju beberapa langkah. Pura-puranya sedang nyari sinyal. "Iya, Mama sedang butuh duit. Nggak banyak kok cuma dua ratus juta," ucap Mama Ardian seakan Ardian bertanya seputar nominal uang terhadapnya. Mendengar kata-kata Mama Ardian tadi. Kedua wanita tadi pun saling bisik-bisik sambil senyam-senyum sendiri. Membayangkan mereka akan meminta denda beberapa juta sebagai ganti rasa kecewa mereka. Saat keduanya sedang asyik cekikikan berdua, tanpa mereka sadari Mama Ardian pun mengendap-endap berjalan menjauh, menjauh dan semakin jauh. Baru saat jarak mereka sudah benar-benar jauh ia berlari sekuat tenaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN