Bab. 20 Harta Bikin Gila 1

1035 Kata
"Sudahlah, Ar. Pergi saja dulu dari sini. Sebelum mereka datang dan memukuli kita," ujar sang Mama dengan penuh ketakutan. Melihat masa yang memang semakin dekat dan lampu rambu-rambu sudah berubah kuning, Ardian pun mengikuti perintah Mamanya. Ia segera menginjak pedal gasnya lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Namun, karena mobilnya sport jadi di kecepatan sedang pun sudah sangat cepat. Bahkan melebihi kecepatan mobil-mobil lain. Setelah mereka sudah berada cukup jauh dari masa yang mengejarnya itu. Ardian pun melambatkan laju mobilnya. Lalu ia melirik ke arah Mamanya yang tengah mengatur nafas sambil memejamkan matanya. Mungkin, sedang membayangkan kejadian tadi yang sangat menegangkan memang. Namun, Ardian bingung. 'Kenapa? Mamanya tadi dikejar-kejar masa. Bukankah, ia tadi berpamitan mau arisan. Saat ku telpon tadi. Heh, ada yang aneh nih,' batin Ardian penuh curiga. "Ma," panggil Ardian pelan. Takut wanita yang masih syok dengan kejadian tadi itu langsung naik pitam. "Hem," balas si Mama tau tujuan awal Ardian memanggilnya. Tapi, ia enggan membalasnya. Lebih tepatnya malas membahasnya. "Jawab pertanyaan aku yang tadi," ucap Ardian sambil kembali fokus ke arah depan. "Pertanyaan yang mana? Kapan kamu memberikan pertanyaan untuk Mama?" balas Mama berkilah. Ardian pun berdecak. Entah sejak kapan Mamanya jadi pintar bohong seperti ini. Padahal, Mama yang ia kenal dulu adalah Mama yang penyayang dan selalu menghormati perkataan orang lain. "Ck. Pertanyaan saat Mama baru masuk mobil ini tadi. Tentang kenapa Mama bisa dikejar-kejar sama warga seperti itu?" ulang Ardian akhirnya. Tiba-tiba Mama Ardian menangis seketika. "Huhuhu…. Ini bukan salah Mama, Ar. Mama hanya korban. Huhuhu," jawab Mama Ardian dengan air mata yang terus berurai. Ardian pun semakin mempertegas kerutan di keningnya yang mulus. "Korban? Korban apa maksud Mama?" tanya Ardian lagi. "Jadi gini…." Flashback "Dia baru saja minta maaf sama Mama. Oh, iya Ar. Teman-teman Mama udah dateng nih. Mama arisan dulu ya," ucap Mama Ardian lalu menutup sambungan telepon pada anaknya yang belum selesai. "Hai, Jeng," sapa Mama Ardian setengah berteriak. Sambil melambaikan tangannya ke udara pada beberapa orang wanita yang seumuran dengannya. Para wanita setengah baya itu pun membalas lambaiannya lalu berjalan ke arah Mama Ardian yang sudah dulu sampai di Resto itu. "Siang Jeng Sandra," sapa seorang wanita yang berjalan paling depan daripada yang lainnya. Ia pun langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri Mama Ardian. "Siang, Jeng Yuli," balas Mama Ardian sambil melakukan hal yang sama. "Tumben nih paling awal datang," sindir seorang wanita yang berbaju paling nyentrik diantara semuanya. Walaupun semua baju yang mereka kenakan memang diluar batas kewajaran. Kalau dilihat sekilas mah, mereka bukan terlihat sebagai kumpulan ibu-ibu arisan, tapi lebih mirip kayak kumpulan model Fashion Week yang salah tempat. Gimana nggak salah tempat Fashion Show itu di atas red carpet bukannya di Restoran seafood kayak gini. Hihi. "Hehe. Iya dong. Hari ini aku lagi seneng banget Jeng. Liat nih! Berlian yang ku pesan udah dateng," jawab Mama Ardian sambil menunjukkan sederetan cincin berlian yang ia pakai di kelima jari kanannya. "Waw. Bagus-bagus banget, Jeng! Kamu pesen dimana? Di tempat biasa kok nggak ada, kemarin aku ke sana?" ucap salah satu wanita sosialita itu dengan mata yang terpesona. "Iya, bagus-bagus banget. Aku juga liat di langganan aku nggak sebagus ini lho," balas wanita lainnya. Mama Ardian pun masih terdiam sambil memperhatikan teman-temannya yang sedang melongo memandangi kecantikan perhiasan yang dipakainya. Bibirnya pun menyunggingkan senyum bangga yang ia tahan. Karena merasa bangga pada dirinya sendiri bisa menjadi pusat perhatian teman-temannya saat ini. "Ini mah aku dapat langganan baru. Katanya mereka memiliki alat pengukir kelas canggih. Jadi, bisa membuat berlian yang bagus-bagus kayak gini," jawab Mama Ardian menjelaskan. "Wah. Kalau gitu. Kasih nomornya dong. Saya juga mau nih kalau bagus-bagus gini," ucap si wanita yang sedari tadi hanya diam saja. Mama Ardian pun berdecak. "Ck. Kalian beneran pengen beli perhiasan kayak gini?" tanya Mama Ardian yang langsung dijawab dengan anggukan oleh ketiga wanita kelas atas itu. "Oke. Kita duduk dulu. Sambil aku jelaskan bagaimana cara belinya?" ucap Mama Ardian sambil duduk di kursi yang sedari tadi sudah menemaninya menunggu teman-temannya yang lain. Ketiga wanita itu pun langsung mengikuti gerakan Mama Ardian dengan segera. Seakan sudah tak sabar ingin segera tau bagaimana mereka bisa mendapatkan cincin bagus itu. "Cepet Jeng! Ceritakan gimana caranya kita bisa mendapatkan berlian yang kayak gitu?" ucap wanita yang tadi disebut Jeng Yuli oleh Mama Ardian itu semakin tidak sabar mendengarnya. "Jeng-Jeng semua. Ini itu berlian yang bukan sembarang berlian. Untuk mendapatkannya lita harus memiliki kartu member yang kayak gini. Harga buatnya juga agak mahal lho Jeng. Kira-kira dua puluh jutaanlah," ucap Mama Ardian sambil mengeluarkan sebuah benda mirip dan seukuran KTP dari dalam tas tangannya. "Oh, berarti kita harus buat dulu, Jeng? Mahal juga ya?" ucap wanita yang berbaju nyentrik itu. "Jeng Sofi nggak usah khawatir. Karena saya sedang baik hati dan tidak sombong. Emang biasanya sih. Hehe," ucap Mama Ardian membanggakan dirinya sendiri. "Begini saja, Jeng-Jeng semua. Bagaimana kalau kalian memang minat beli. Kalian beli sama saya saja. Biar saya yang belikan ke sana. Jadi, kalian kan hemat dua puluh juta untuk membuat kartu member seperti ini," lanjut Mama Ardian merayu. "Oh, iya Jeng. Emang bisa gitu ya?" tanya si wanita ketiga dengan polosnya. "Bisa banget, Jeng Sari. Malahan kalau kalian belinya barengan, kan jadi banyak tuh. Jadi, kita dapat diskon lho," ucap Mama Ardian antusias. "Wah, bagus tuh bagus. Jeng Sandra bawa katalognya, kan?" "Jelas dong, Jeng Yuli. Nih kalau mau milih dulu," sahut Mama Ardian sambil mengeluarkan sebuah buku bersampul tebal dengan gambar berlian yang indah-indah. "Wah, kayaknya bagus-bagus tuh," ujar Jeng Yuli sambil menerima buku itu. Saat ketiga wanita sosialita itu sedang asyik melihat-lihat gambar berlian di dalam buku itu. Tiba-tiba dua orang wanita berpakaian sekelas mereka datang. Brakk!! Bunyi meja di depan Mama Ardian saat salah satu diantara dua wanita tadi menggebraknya dengan cukup keras. Jelas saja Mama Ardian dan ketiga temannya itu terlonjak kaget. "Hei, penipu! Kembalikan uang kami berdua!" ucapnya dengan nada tinggi. "Jeng Mira. Ada apa kenapa marah-marah gini?" tanya Mama Ardian. "Kita nggak mau tau. Kembalikan uang kita sekarang!" "Jeng. Jeng Ratih. Tunggu-tunggu. Ada apa? Bukannya berliannya sudah kalian dapatkan ya. Apa salah saya?" tanya Mama Ardian semakin kebingungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN