Bab. 19 Semakin Tak Percaya

1093 Kata
"Ma, aku mau tanya? Uang yang aku kasih buat Jordi itu nggak digunakan untuk biaya kuliah, kan?" tanya Ardian yang tengah meminta penjelasan pada Mamanya lewat pesawat telepon. Sedang tangannya masih sibuk menguasai mesin mobilnya agar terus berjalan sesuai arah yang ia inginkan. "Alah, paling dia pakai buat jajan," balas Mamanya enteng. "Apa?! Jajan?! Jadi, Mama tau kalau uang itu digunakan Jordi untuk foya-foya sama teman-temannya?" tanya Ardian setengah tak percaya, kalau kedua orang yang dikasihinya malah membohonginya di belakang. "Ardian. Nggak usah heboh gitu deh. Uang dua puluh juta kan nggak banyak. Kamu kan bisa minta lagi sama istri kamu. Eh, tapi ngomong-ngomong tentang Yolanda. Gimana istri kamu itu? Dia masih marah?" tanya Mama Ardian dengan nada yang penasaran. Ardian pun tak langsung menjawab. Ia malah menghembuskan nafas beratnya. Baru kemudian menjawabnya dengan tenang. "Nggak kok, Ma. Dia biasa aja. Udah baik lagi kayak kemarin. Oh, iya Ma. Kenapa aku merasa ada yang aneh sama Yolanda ya?" ujar Ardian mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi memenuhi rongga otaknya. "Aneh gimana?" tanya Mama Ardian balik. "Ya, gitu. Kadang sikap dia baik banget sama aku. Kadang dia juga suka membentak. Awalnya di acara pesta ulang tahun pernikahan itu. Dia memperlakukan Mama dan Jordi dengan keji karena dia sedang dipengaruhi alkohol. Tapi, kayaknya enggak deh," jelas Ardian mengeluarkan analisa yang berhasil disimpulkan oleh otaknya. "Ah, masak sih. Enggak ah. Dia itu memang begitu kalau sedang mabuk. Suka seenaknya sendiri. Tapi, kalau dia sudah sadar. Dia juga langsung minta maaf kok sama Mama," ucap Mama Ardian dengan keringat dingin yang terasa memenuhi keningnya. Untung saja anak sulungnya itu tidak bisa melihat. Coba, kalau iya. Pasti dia akan segera curiga. "Memang dia sudah minta maaf sama Mama?" tanya Ardian terburu. "Ehmz…. Iya," jawab Mama Ardian berbohong. "Dia baru saja minta maaf sama Mama. Oh, iya Ar. Teman-teman Mama udah dateng nih. Mama arisan dulu ya," ucap si Mama Ardian kemudian menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu Ardian membalas ucapannya. "Eh, tunggu Ma. Aku belum selesai ngomong," ucap Ardian yang sudah tidak digubris lagi oleh Mamanya. "Ma…. Ma…. Hallo! Hallo, Ma," tambah Ardian yang hanya dibalas dengan bunyi…. Tut… tut…. "Hah!!" teriak Ardian sambil membanting ponselnya begitu saja. Sumpah, ia tidak tau apa yang di pikiran Mama dan adiknya. Bisa-bisanya mereka malah bersenang-senang dengan uang yang ia berikan untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan ini. Sedang di lain tempat, Gabriel tetap menjalankan tugasnya sebagai Dewa penolong. Walau ia tau tugasnya saat ini tidak di perhatikan oleh Raja Dewa tertinggi. Namun, kecanduannya akan tugas penting itu, bagaikan seorang manusia yang belum makan seharian. Terasa masih ada yang kurang dan tidak bisa membuatnya tenang. Mungkin karena label Dewa Penolong tetap melekat di badannya, meskipun ia sudah diasingkan dari kerajaan langit keenam. Untuk itu, Gabriel mendatangi satu per satu manusia lindungannya. Dan karena sekarang ia sedang ada di bumi. Gabriel bisa secara langsung merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh para manusia yang ia bantu. Bagi para Dewa seperti Gabriel kekuatannya akan bertambah jika ia berhasil melakukan tugasnya dengan baik dan membuat manusia tersenyum. Satu senyuman manusia setara dengan nol koma delapan belas zat kuat Dewa. Jadi, semakin banyak mereka mendapatkan senyuman. Maka semakin banyak juga energi yang mereka terima. Dan untuk hari ini entah sudah berapa kali manusia yang berhasil ditolongnya tersenyum. Mulai dari kucing seorang nenek yang nyangkut di atas pohon, uang saku anak kecil yang jatuh ke gorong-gorong dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan lainnya. Bak baterai ponsel, kini kekuatanya sudah full atau penuh. Dan ia pun berniat menggunakan kekuatannya untuk menembus pintu menuju kerajaan langit ke enam. Walau terasa mustahil karena ia dilempar ke bumi karena sebuah kesalahan, tapi ia tidak mau patah arang. Ia akan selalu berjuang untuk bisa kembali ke alamnya di lapisan langit keenam. Gabriel pun mencoba puluhan kali untuk menembus benteng yang menghalanginya untuk kembali ke tempat asalnya. Namun, tetap saja ia terhempas dengan super cepat hingga membuat lubang cukup dalam di tanah. Bahkan sampai terlihat kawah di inti bumi. "Cukup Gabriel!!" Terdengar suara yang menggelegar di langit yang terlihat tertutup awan cerah. "Jangan ceroboh!! Kau ingin mencelakakan seluruh umat manusia, hah? Bisa-bisa aku yang akan melelehkanmu dari sini," tambahnya lagi. Mendengar titah sang Raja Dewa. Gabriel pun hanya mampu menunduk dengan perasaan campur aduk. Antara lelah sebab harus terus saja berputar-putar di bumi seharian, jika saat tidur ia pun hanya bisa bergelantungan di gumpalan awan tanpa mengurangi tenaganya saat ia terbang dan hal yang lebih ia takutkan lagi yaitu kecerobohannya tadi membuat beberapa lubang yang terasa sangat panas dan membakar sehingga membahayakan setiap manusia yang melewatinya. Gabriel pun menangis sesegukan. Mengingat usahanya itu justru membuat Sang Raja menjadi semakin marah. "Maafkan, aku. Hiks. Raja. Maafkan aku. Aku hanya ingin kembali ke kerajaan langit keenam dan menjalankan perintahmu dengan teliti. Hiks," ujarnya di sela tangisnya yang sendu. Air matanya pun menetes banyak sekali. Dan setiap teresannya membentuk sebuah berlian yang berkilauan sangat indah. "Gabriel cukup!! Jangan kau rusak akal manusia pula dengan air mata berlianmu itu. Karena itu bisa menimbulkan konflik baru di antara manusia itu sendiri. Tegarlah menghadapi hukuman ini. Belajarlah dari setiap kesalahan yang sudah kau lakukan. Jika kau masih melakukan kesalahan satu kali lagi. Aku sendiri yang akan membalasnya dengan kejam," ucap suara yang menggelegar itu lagi. Gabriel pun beranjak dari keterpurukannya. "Baiklah, Dewa. Aku terlahir dari klan Dewa Penolong. Jadi, aku harus bisa menolong manusia sebanyak-banyaknya," tekad Gabriel akhirnya. Kemudian ia pun segera terbang ke angkasa lalu menukik ke bawah. Tepat di lubang menganga itu,ia segera masuk dan menambal setiap kulit bumi yang sudah ia lubangi dengan sisa kekuatannya. Kembali pada Ardian yang masih sibuk menyetir mobilnya menuju rumah mewah yang berfasilitas lengkap. Sampai di sebuah rambu lalu lintas mobilnya terhenti. Karena si lampu sedang menunjukkan warna merahnya yang melarang setiap kendaraan yang ada. Tak terkecuali kendaraan Ardian. Dengan gesit ia pun ikut memadati jalanan ibukota yang sudah ramai dengan kendaraan berpolusi itu. Saat pandangannya ia lempar keluar, tiba-tiba ia melihat seorang ibu-ibu berpakaian serba branded tengah berlari ke arahnya. Sedang di belakangnya dikejar puluhan massa yang siap menghakiminya. "Mama," gumam Ardian. Dengan cepat ia pun membuka kaca jendela di sampingnya. "Mama!!" teriaknya yang langsung membuat wanita itu memfokuskan pandangan ke arahnya. Dan tanpa basa-basi ia pun segera berlari ke arah mobil Ardian dan masuk ke dalam. "Cepat jalan, Ar!" perintah sang Mama yang membuat Ardian malah terdiam dengan kening yang berkerut sempurna. "Kenapa Mama dikejar warga?" tanyanya dengan polos. "Sudahlah, Ar. Pergi saja dulu dari sini. Sebelum mereka datang dan memukuli kita," ujar sang Mama dengan penuh ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN