Bab. 18 Ternyata Jordi

1041 Kata
"Terima kasih, Pak Yanuar atas kerja samanya. Semoga kerjasama ini akan terjalin dengan baik dan saling menguntungkan," ucap Ardian pada kliennya di akhir perjumpaan mereka di sebuah Cafe yang lagi hits di kalangan anak muda. Awalnya mereka berdua sepakat untuk bertemu di Restoran Heaven Foods. Namun, restoran itu ternyata sudah full booking. Jadi, mau tidak mau mereka pun bertolak ke Cafe sebelah deh. Untung saja Cafe yang biasanya digunakan untuk nongkrong para anak muda itu menyediakan ruang VVIP atau ruang pribadi untuk rapat serta pertemuan penting lainnya. Jadi, mereka bisa dengan mudah deh membicarakan kerjasama bisnis hingga menemukan kesepakatan bersama. "Sama-sama, Pak Ardian. Saya juga berharap jalinan kerja sama ini. Bisa membentuk sebuah keluarga baru yang erat. Tidak hanya untuk membicarakan bisnis tapi juga yang lainnya," balas Pak Yanuar sambil menjabat tangan Ardian. "Benar, Pak. Saya juga menginginkan hal yang sama," sahut Ardian bahagia. Karena ia bisa bertemu dengan Klien yang satu hati dengannya itu. Jadi, apapun yang ia bicarakan bisa langsung klop satu sama lain. "Kalau begitu saya permisi dulu. Ada klien lain yang harus saya temui setelah ini. Sampai jumpa lagi lain waktu," kata Pak Yanuar berpamitan. Sambil menepuk pundak Ardian pelan. "Iya, Pak. Saya mengerti. Sampai jumpa lain waktu, Pak," balas Ardian sambil terus mempertahankan senyumnya. Setelah Pak Yanuar pergi, Ardian pun menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Sedang asistennya, sedang merapikan peralatan yang baru saja digunakan untuk presentasi. Ardian pun teringat sesuatu, lalu ia segera mengangkat badannya. Kemudian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kita masih punya waktu untuk istirahat, Mel. Kalau kamu mau makan siang disini. Silahkan pesan biar nanti saya yang bayar," ucap Ardian pada si Asisten Pribadinya itu. Sejenak wanita yang dua tahun lebih muda darinya itu pun menghentikan gerakannya sesaat. "Baik, Pak. Saya rapikan ini dulu," balasnya sambil melanjutkan pekerjaannya itu. "Ya, sudah. Kalau gitu saya mau ke toilet sebentar," pamit Ardian sambil beranjak. "Baik, Pak," balas Melani yang tak digubris Ardian lagi. Karena lelaki itu sudah keluar dari ruangan berukuran empat kali delapan meter itu. Di luar Ardian pun langsung berjalan ke arah toilet pria yang disediakan oleh pihak Cafe. Saat ia sedang melewati sebuah gerombolan muda-mudi yang sepertinya sedang asyik berpesta, langkah Ardian pun seketika berhenti. Terdengar sebuah suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. "Hahaha. Gue bisa minta uang lagi sama Kakak gue. Kalian nggak tau, ya. Kakak gue punya perusahaan besar. Uang dua puluh juta mah hal kecil menurut dia," ujar seorang pemuda dengan suara yang sangat mirip seperti Jordi. Ardian pun menatap anak laki-laki yang perawakannya itu memang ia kenal. "Beruntung banget si Sherly. Punya cowok tajir melintir kayak elo. Iri deh gue cuma jadi selingkuhan," sindir seorang cewek yang ada di rangkulannya. Jordi pun berdecak. "Ck. Untuk apa sih elo iri segala. Gue kan juga selalu memberikan semua yang elo mau, kan? Jadi, loe nggak perlu iri deh," sahut Jordi kemudian mencium ujung kepala cewek itu. Ardian pun mengerutkan keningnya. Bingung. 'Bukannya jam segini seharusnya Jordi masih ada di kampus, ya,?' ujar Ardian dalam hati. 'Ternyata kemarin Mama minta uang kuliah sama gue. Cuma buat foya-foya Jordi sama temen-temennya. Sialan, gue cuma dibohongi,' tambah Ardian masih membatin. "Ehmz…. Gue makin cinta deh sama elo," ujar si cewek itu sambil memeluk tubuh Jordi dengan mesra. "Ciyee…. Oke deh untuk memperingati hari jadian kalian. Yuk! Kita bersulang!" ucap seorang cewek lain yang berada di pelukan teman Jordi. "Oke deh. Setelah ini kita langsung cap cus ke puncak, kan?" ujar teman Jordi yang lain. "Jelas dong. Gue udah booking penginapan keren di sana untuk kita bersenang-senang. Hahahaha," sahut Jordi dengan bangganya. "Hahaha," sambut teman-temannya dengan suara yang tak kalah nyaring. "Jordi!!!" ucap Ardian setengah berteriak. Dan seketika langsung membungkam tawa dari pemuda-pemudi yang sedang mengerubungi salah satu meja di Cafe itu. Jordi pun langsung beranjak dan membalikkan badannya menghadap ke arah Ardian. "Kakak," gumam Jordi nyaris tak terdengar. "Kakaknya Jordi," bisik teman cewek Jordi pada kekasih gelapnya itu. "Heem. Emang keren, ya. Kelihatannya memang banyak duitnya," sahut cewek yang tadi dibilang selingkuhan Jordi itu. "Tau gitu. Kita pacari Kakaknya aja. Hahaha," ucap cewek yang lain. Ikutan berbisik. "Hahahaha. Bener juga tuh," balas si cewek selingkuhan Jordi. "Eh, kalian bisik-bisik apa sih?" tanya teman Jordi yang kepo melihat cewek yang tadi anteng di pelukannya kini malah asyik berbisik dengan yang lain. "Ada deh. Rahasia perusahaan," balasnya asal. Sedang Jordi yang melihat Kakaknya itu mendekati meja yang sedang ia gunakan untuk berfoya-foya dengan teman-temannya. Langsung menarik sang Kakak menjauh. "Apaan sih Jor? Ngapain loe narik-narik Kakak sampai disini?" protes Ardian pada adik satu-satunya itu. "Kak? Kakak ngapain sih disini segala. Ngerusak pesta aku doang deh," balas Jordi dengan nada yang lebih tinggi ketimbang nada bicara Ardian yang sedang marah padanya. "Apa? Pesta? Bukannya kemarin Mama minta uang sama Kakak itu buat uang kuliah elo, hah? Kenapa uang itu malah elo gunain foya-foya segala. Hah?" kata Ardian dengan nada yang lebih tinggi dari Jordi. Niatnya sih ingin menekan anak itu, tapi nyatanya itu tak berpengaruh banyak pada pemuda yang umurnya terpaut lima tahun lebih muda darinya itu. "Itu bukan urusan Kakak! Kakak itu nggak usah munafik deh. Kayak Kakak nggak pernah ngabisin uang Papa aja dulu. Sekarang! Gantian aku dong yang bersenang-senang," kata Jordi dengan nada yang penuh penekanan. Setelah mengatakan itu, Jordi pun langsung balik badan dan berjalan kembali ke arah teman-temannya. "Yuk! Guys, kita cap cus sekarang," ajak Jordi sambil meraih tas ranselnya untuk dicangklongkan ke pundaknya. "Tapi, Jor. Makanan kita kan belum abis," tanya temannya bingung. "Iya, Jor. Mubazir tau'. Mana makanannya enak lagi," tambah Si cewek selingkuhan. "Ntar kita pesan yang lebih enak," balas Jordi sambil melirik Ardian yang tidak bisa berbuat apa-apa. Jordi pun tersenyum licik. Kemudian ia berjalan keluar diikuti oleh teman-teman dan selingkuhannya. Ardian pun tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu melihat adik kandungnya itu berjalan keluar dengan jalan layaknya jagoan kemudian diikuti oleh teman-temannya di belakang. 'Heh. Gue sudah menjadi Kakak yang nggak becus buat Jordi. Dan memberikan contoh yang nggak baik padanya. Kalau sekarang dia seperti itu. Semua ini adalah salah gue,' batin Ardian dalam hati. Sungguh, rasa menyesal itu baru hadir setelah bertahun-tahun lalu ia lakukan kenakalannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN