"Berhenti di sini, Pak," ujar Ardian pada seorang Sopir taxi yang langsung menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah rumah mewah di salah satu kompleks perumahan elit. Ardian pun menatap rumah itu beberapa saat. Seakan ada rasa bimbang untuk melangkah masuk ke dalam rumah itu dengan segera.
"Pak, ada apa? Apa kita salah alamat?" tanya si Sopir taxi yang langsung membuyarkan lamunan Ardian.
"Oh, tidak. Tidak. Saya turun disini," balas Ardian cepat sambil membuka pintu mobil itu lalu menutupnya dengan sekali hentakan. "Ini, Pak," ucap Ardian sambil memberikan selembar uang pecahan seratus ribuan.
"Terima kasih, Pak," sahut si Sopir sebelum kembali melajukan mobilnya menjauhi rumah itu.
Sampai kendaraan umum itu menghilang di tikungan, Ardian masih termangu di tempatnya. Badannya terasa kaku untuk ia putar hingga menghadap ke arah rumah Yolanda. Kakinya pun terasa sangat berat untuk Ardian langkahkan mendekati pintu gerbang rumah mewah itu. Apalagi tangannya yang dia angkat untuk meraih bell. Seketika langsung terasa bergetar hebat juga.
Deg. Deg. Deg. Detak jantungnya pun berdebar kencang. Takut Yolanda akan segera mengusirnya saat dia melihat Ardian memasuki rumah mewahnya itu lagi. Sedang mulut Ardian pun terasa kelu. Ia bingung harus ngomong apa sama Yolanda nanti. 'Mau tidak mau gue harus merendahkan ego untuk keluarga gue. Kalau nggak demi Papa dan Mama juga biaya kuliah Jordi. Males banget gue harus menunjukkan muka di depan wanita tak berhati itu. Tapi, mau bagaimanapun aku harus tetap melakukannya,' batin Ardian membulatkan tekad. Ia pun mengambil nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan.
Setelah Ardian sudah bisa mengendalikan nafasnya. Ia segera menyentuh tombol bell yang sengaja dipasang di samping pintu gerbang. Tak butuh waktu lama seorang lelaki paruh baya membukakan pintu gerbang itu.
"Eh, Den Ardian," ucapnya.
"Iya, Pak Karjo. Istri saya sudah berangkat ke kantor?" tanya Ardian cepat-cepat.
"Belum, Den. Nyonya muda sedang sarapan di dalam," balasnya dengan sopan.
"Oke, terima kasih," sahut Ardian kemudian nyelonong masuk.
Ia pun segera berjalan ke dalam rumah. Walau jantungnya masih berdebar tak karuan, tapi ia harus segera menemui Yolanda. 'Bagaimanapun sikap yang akan dilakukannya...,' tekad Ardian. 'Ini demi keluarga loe, Ar. Demi keluarga elo,' tambah Ardian masih membatin.
"Dekati Yolanda, Ar. Rayu dia. Kalau perlu kamu memohon maaf padanya," ucap Mama Ardian tadi sebelum ia pergi.
"Tapi, Ma. Kita nggak salah. Dia yang sudah kurang ajar sama keluarga kita," balas Ardian tak mau kalah.
"Ar. Mama mohon jangan ngeyel terus. Haruskah Mama bersujud di kakimu. Agar kamu mau kembali sama Yolanda," ujar Mama Ardian memohon.
Dan percakapan mereka pun masih terasa jelas berputar-putar di benak Ardian. Sampai langkahnya sudah mendekati ruang makan serta matanya yang sudah menangkap sosok Yolanda yang tengah makan sendirian di meja makan.
"Yo," panggil Ardian pelan. Namun, berhasil menghentikan gerakan Yolanda yang tengah menikmati makanan di depannya. Wanita yang sudah rapi dengan pakaian kantornya yang terlihat elegan itu pun akhirnya menoleh.
"Ardian," balasnya sambil beranjak dari duduknya. Ia pun segera berlari ke arah Ardian lalu memeluk laki-laki itu dengan erat. Sedang Ardian yang tidak menyangkan akan mendapatkan perlakuan seperti itu masih terdiam. Syok.
"Kamu kemana aja semalem? Aku kangen tau," tambahnya sambil bergelayut manja di lengan kanan Ardian.
"Ehmz…. Semalam aku tidur di rumah Mama," balas Ardian canggung. Jujur, ia tidak menyangka Yolanda akan bersikap manis seperti ini padanya.
"Oh, gitu. Jangan diulangi lagi ya. Aku nggak bisa tidur tanpa kamu," ucap Yolanda lagi sambil memeluk erat pinggang Ardian.
"Iy… iya. Yo… soal semalam…." Ucapan Ardian pun terpotong saat telunjuk Yolanda menyentuh sepasang bibirnya yang cukup tebal.
"Hust…. Nggak usah dibahas ya. Sekarang, mending kamu mandi terus makan. Kita mau berangkat kantor bareng, kan?" kata Yolanda lembut. Sangat berbeda dengan sikap arogan Yolanda yang tadi malam. 'Mungkin semalam dia terpengaruh minuman keras. Jadi, dia bisa bersikap seperti itu,' batin Ardian yang kemudian menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ya, udah kalau gitu. Aku mandi bentar ya," pamit Ardian yang hanya mendapat senyuman dan anggukan dari Yolanda.
@@@@@@@
Seperti rencana yang sudah Yolanda dan Ardian susun sebelumnya. Mereka berangkat ke kantor bersama dengan mengendarai mobil sport baru Ardian. Di sepanjang jalan menuju kantor, tak henti-hentinya Ardian menggenggam tangan Yolanda yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kanannya. Sedang tangan Ardian yang lain, ia gunakan untuk menguasai mesin mobilnya agar bisa melaju sesuai arah yang mereka inginkan.
Cup!!! Ardian pun mengangkat tangan Yolanda lalu mencium punggung tangan wanita yang kini menjadi istrinya dengan mesra. Lalu Yolanda pun tersenyum ke arahnya.
"Aku bersyukur memiliki suami seperti kamu. I love you," ucap Yolanda lirih. Sambil mengelendot manja di lengan Ardian. Sedang Ardian tak langsung menjawab. Ia malah teringat pada kejadian tadi malam. Bagaimana Yolanda memperlakukan Mama dan Adiknya bak lumba-lumba sirkus yang bisa ia mainkan sesuka hati. Sungguh, hati Ardian masih sangat terasa sakit jika mengingatnya.
"Kok diam. Kamu nggak bahagia ya hidup sama aku?" tanya Yolanda curiga. Ardian pun gelagapan dikasih pertanyaan seperti itu.
"Oh.... Eh…. Nggak. Nggak gitu…. Ehm.. Gue…. Eh aku, aku bahagia kok hidup sama kamu. I love you too," jawab Ardian kebingungan harus jawab apa.
"Oh, kirain kamu mau bilang kalau kamu nggak bahagia hidup sama aku," ucap Yolanda. "Karena gue akan menarik semua fasilitas yang loe dan keluarga loe dapatkan dari gue. Kalau sampai loe bilang nggak bahagia hidup sama gue," tambahnya dengan nada yang sama dengan nada bicaranya semalam. Bahkan, lengan Ardian yang tadinya ia peluk mesra pun kini malah dicengkramnya erat. Sampai terasa perih karena kuku panjang Yolanda yang menusuk kulit lengannya yang hanya terbalut kemeja. Ardian pun menoleh ke arah wajah Yolanda yang berada tak jauh dari wajahnya. Dan seketika bulu kuduknya merinding saat mata yang berbulu lebat karena habis disulam seminggu yang lalu itu menatapnya dengan tajam yang menusuk. Setajam silet yang ingin menguliti tubuh Ardian.
Chiiiitt….. Ardian pun menginjak pedal rem seketika. Dan mobil pun langsung berhenti begitu saja. Saking mendadaknya ia berhenti tubuh keduanya pun sempat tersentak ke depan. Apalagi tubuh Yolanda yang tidak memakai sabuk pengaman.
"Yo, kamu tidak apa-apa?" tanya Ardian khawatir.
"Aduh. Keningku terasa perih," rintihnya sambil memegangi pelipisnya yang sedikit berdarah. Akibat benturan tadi.
"Sini biar aku obati," ujar Ardian panik.
"Nggak usah. Nggak papa kok. Aku baik-baik saja. Ini cuma luka kecil aja," balas Yolanda dengan nada yang kembali melembut. Ia pun menarik sebuah tisu di dalam kotak yang berada di samping jok kemudi Ardian. Lalu menggunakannya untuk menyeka aliran darah yang mengalir di pelipisnya. "Kamu sendiri gimana? Nggak ada yang luka, kan?" tanya Yolanda balik dengan penuh perhatian. Ardian pun tak menjawab, ia hanya menggeleng pelan. Bingung melihat sikap aneh wanita yang duduk di sampingnya itu.