"Berani ya loe nunjuk-nunjuk muka gue. Udah bosen hidup enak loe," ucap Yolanda dengan penuh penekanan.
"Kamu? Apakah ini sikap yang pantas untuk kamu lakukan pada suamimu di depan para tamu undangan? Perlukah aku mengingatkan kalau kita sedang merayakan pesta ulang tahun pernikahan yang keempat?" ujar Ardian dengan nada yang mulai merendah. Yolanda pun menghembuskan nafas beratnya. Lalu ia menghempaskan telunjuk Ardian begitu saja.
"Nggak perlu loe sok ngajarin gue. Nyokap loe sendiri yang suka gue giniin," balas Yolanda. Dari aroma alkohol yang tercium dari mulutnya. Bisa ditebak kalau Yolanda sedang dalam pengaruh minuman keras.
"Ardian! Ardian! Kamu apa-apaan sih. Jangan rusak pesta mereka. Mama butuh uang untuk arisan besok," ujar Mama Ardian sambil memukul punggung anak sulungnya itu. Dia yang sudah terpengaruh Alkohol seakan sudah putus urat malunya.
"Biarkan saja lah Kak. Kita kan disini untuk bersenang-senang. Jadi, kalau kita bisa menghibur mereka lalu diberi uang. Apa salahnya? Toh, kita sama-sama menikmatinya. Hahaha," sahut si Jordi sambil berdiri sempoyongan. Dia pun sudah mabuk berat.
"Mah, Jor. Sadar kita sedang dipermalukan," ucap Ardian mengingatkan sambil menepuk pipi keduanya pelan.
"Sudahlah, Ar. Mereka tidak akan mengikuti omongan loe. Sebab, mereka lebih butuh uang gue. Hahaha," kata Yolanda lalu tertawa penuh kemenangan.
"Gue nggak akan pernah membiarkan loe menginjak-injak harga diri keluarga gue," ucap Ardian geram sambil merangkul Mama dan Adiknya. Dengan susah payah ia pun membawa keduanya keluar dari ruangan ini lalu pulang ke rumah mereka.
Sedang Yolanda tak menahan kepergian Ardian. Ia malah melipat tangannya di depan d**a sambil menatap langkah menjauh suaminya dengan tatapan meremehkan.
"Liat aja besok. Palingan elo ngemis-ngemis lagi minta balikan sama gue. Siapa lagi wanita yang bisa menopang kehidupan keluarga elo yang sudah miskin. Heh," gumam Yolanda kemudian tersenyum licik.
Sedang di parkiran….
Blakk! Bunyi pintu mobil Jordi yang dibanting Ardian setelah ia berhasil memasukkan kedua manusia yang masih memiliki ikatan darah dengannya itu. Kemudian ia pun segera berlari ke arah pintu samping kabin kemudi mobil itu. Dan tak butuh waktu lama ia pun segera melesat dari tempat yang paling menyebalkan ini. Ia memang sengaja menggunakan mobil Jordi dan meninggalkan mobilnya, sebab mobil Jordi lebih luas untuk menampung kedua insan itu. Ketimbang mobilnya yang lebih sempit interiornya. Maklum, mobil milik Ardian adalah mobil sport yang hanya memiliki dua jok saja.
Namun, walaupun yang dikendarainya bukan mobil berkecepatan tinggi seperti mobilnya. Ardian tetap melajukannya dengan kesetanan. Tak henti-hentinya ia menginjak pedal gas dengan kuat-kuat. Sungguh, betapa ia ingin segera pergi jauh dari tempat itu.
Apa yang dilakukan Yolanda terhadap keluarganya benar-benar keterlaluan. Dia tidak pernah menyangka. Jika Yolanda akan memperlakukan Mama dan adiknya dengan sangat keji seperti itu. Mereka seakan dijadikan boneka yang bisa dia mainkan sesuka hati hanya demi uang yang ada di tangannya.
"Yolanda memang nggak punya perasaan. Bisa-bisanya ia melakukan ini pada Mama dan adikku," gumam Ardian kesal sambil terus menyetir. Saat ia sedang fokus dengan jalanan yang sudah mulai lenggang tiba-tiba Gabriel datang dan duduk di sampingnya.
Whusss!! Gabriel pun tiba-tiba muncul begitu saja. Untung Ardian sudah mulai biasa dengan kehadirannya. Jadi, ia tak kaget apalagi takut lagi.
"Kenapa kau cemberut gitu? Bukannya baru pulang dari pesta ya?" tanya Gabriel memancing. Padahal ia tau benar apa yang telah dialami oleh Ardian. Ardian pun tak langsung membalas ucapannya. Ia hanya menatap Dewa itu sekilas. Ia pun berdecak sebal.
"Ck. Aku nggak menyangka. Sumpah, aku nggak pernah menyangka keluargaku akan direndahkan seperti ini," jawab Ardian sambil menggelengkan kepalanya. Gabriel pun menarik nafas dalam-dalam lalu ia keluarkan perlahan.
"Semua orang pasti memiliki sisi buruk. Jadi, jangan terlalu berlebihan jika berharap kepada sesama manusia," balas Gabriel santai.
"Apa di dunia Dewa juga ada yang seperti itu?" tanya Ardian iseng.
"Karena kami hanya merebutkan satu kekuasaan dan selalu menghormati tetua kami. Tentu saja hal itu tidak pernah terjadi. Harta itu memang membutakan. Jadi, bijaklah menyikapi harta dan tahta yang sudah kau dapatkan," pesan Gabriel sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ardian.
"Eh, tapi pasti ada jalan keluarnya dong. Biar keluargaku nggak diinjak-injak kayak gini? Setidaknya bikin mereka kembali terhormat."
"Ada. Jelas ada."
"Apa?! Cepat katakan saja. Aku udah nggak sabar pengen hidup bahagia dengan semua orang yang aku punya sekarang," ujar Ardian sambil membayangkan jika Gabriel akan membuat Yolanda luluh hatinya dan mau menghormati keluarganya. Lalu mereka hidup bahagia selamanya.
"Semua masalahmu berasal dari dirimu sendiri. Jadi, berlatihlah menguasai dirimu sendiri sebelum kau menguasai orang lain," jawab Gabriel dengan nada penuh penekanan. Kemudian…. Whusss! Ia pun kembali menghilang.
"Maksudnya apa? Hei Dewa penolong! Jangan pergi dulu. Jawab pertanyaan gue?! Maksud perkataan elo tadi apa?!" teriak Ardian yang sudah tidak lagi mendapat jawaban dari Gabriel. "Haaahhh!!" Ardian yang merasa otaknya sudah mau pecah pun langsung menggaruk rambutnya dengan frustasi.
@@@@@
"Kenapa kamu membawa Mama dan Jordi pulang?!" ucap Mama Ardian setengah berteriak. Ia yang sudah sadar di esokan harinya pun langsung memarahi anak sulungnya itu habis-habisan.
"Iya, Kak. Kita kan jadi nggak punya uang lagi untuk membawa Papa ke rumah sakit," tambah Jordi ikut-ikutan.
"Tapi, Ma. Kelakuan mereka sudah sangat keterlaluan, Ma. Emang Mama nggak malu harus joget-joget gitu di depan para tamu, kolega bisnis dan keluarga Yolanda? Kita sudah dipermalukan, Ma?!" balas Ardian tak mau kalah.
"Tapi, kamu tidak tau apa akibatnya, kan? Mama akan kehilangan pendapatan dan Papa kamu tidak akan pernah disembuhkan," kata Mama Ardian ketus.
"Aku pun butuh uang saku dan biaya kuliah. Emang Kakak kuat mencukupi kebutuhan kita semua?" ujar Jordi tak mau kalah.
Ardian pun merasa terpojok. Melihat kondisi keuangan keluarganya yang sudah benar-benar pailit. Ditambah lagi ia pun bekerja dan mendapat uang dari perusahaan Yolanda. Membuatnya semakin terasa terjepit.
"Sudah. Sudah. Kalian jangan berantem. Ini semua salah Papa. Gara-gara bisnis Papa bangkrut kalian jadi harus menanggung semua ini," kata Papa Ardian lemah. Dengan air mata yang meleleh begitu saja.
"Tidak, Pa. Anak tidak tau diri ini harus bisa membalas budi pada kedua orang tuanya," balas Mama Ardian. "Pulanglah ke rumah Yolanda! Mintalah maaf padanya. Jangan sampai membuat wanita kaya itu lebih marah lagi. Jika kamu tidak ingin melihat keluargamu semakin menderita," tambah Mamanya sambil membelakangi Ardian.
Ardian pun merasa kesal. Keadaan ini semakin terasa tidak adil saja. Bukan dia yang salah tapi kenapa harus dia yang meminta maaf. Ardian pun masih terpaku di tempat. Hingga Mamanya berbalik badan dan berjalan mendekatinya.
"Sudahlah, Ar. Kita itu lagi butuh uang. Kita harus rela dipermalukan daripada kita tidak bisa makan. Ingat! Kehidupan kita bergantung pada kekuatanmu menghadapi Yolanda. Melunaklah Nak, demi kami semua," ucap Mama Ardian dengan nada yang mulai tenang.
Ardian pun menoleh ke arah Mamanya yang terlihat memohon. Lalu dengan perasaan yang masih campur aduk, ia pun melangkah pergi.