Malam yang terlihat sempurna untuk Ardian. Di antara kelap-kelip lampu hias yang dipasang di beberapa sudut ballroom sebuah hotel bintang lima. Ia berdiri tepat di tengah panggung bersama seorang wanita cantik dengan gaun mewah nan mahal serta wajah berpoles make-up yang memang dipesan khusus dari seorang perias profesional. Sesekali Ardian pun melirik ke arah Yolanda yang terlihat bak seorang putri dari negeri dongeng.
"Kamu cantik banget malam ini," bisik Ardian disela-sela cuap-cuap seorang pembawa acara yang dipesan khusus untuk mengawal acara spesial mereka berdua pada malam hari ini.
"Makasih," balas Yolanda malu-malu. Namun, tatapannya masih tertuju ke arah depan. Memandangi para tamu undangan yang sebagian besar adalah klien dan kolega bisnis mereka berdua. Sedang sisanya Mama dan Adik Ardian serta kedua orang tua Yolanda.
"Baiklah, para hadirin yang terhormat. Tiba saatnya kita masuk ke acara inti. Untuk sepasang suami istri yang berbahagia. Silahkan maju beberapa langkah untuk meniup lilin yang sedang disiapkan oleh panitia," ujar si pembawa acara yang langsung dilakukan oleh Ardian dan Yolanda tanpa banyak protes. Dan dari arah dalam terlihat seorang wanita berpakaian ala pelayan di negara Korea mendorong sebuah kue tart berukuran besar sedang di ujungnya tertancap sebuah boneka lilin berbentuk sepasang pangeran dan tuan putri yang tengah berdansa dengan mesra . Si pelayan pun menyalakan lilin itu dengan segera.
"Oke. Saya hitung sampai hitungan ketiga tiup lilin itu bersamaan. Sudah siap Pak Ardian dan Ibu Yolanda?" tanya si pembawa acara pada Ardian dan Yolanda yang sudah berdiri di depan kue tart itu.
"Siap," balas Ardian dan Yolanda bersamaan.
"Wah. Kompak sekali ya. Sudah serasi. Satunya cantik dan satunya tampan. Kompak pula," puji si pembawa acara mengajak mereka berdua bercanda. Agar tidak terlalu tegang. "Baiklah. Kayaknya semua sudah tidak sabar untuk segera menyantap hidangan yang sudah tersaji. Kalau begitu silahkan Pak Ardian dan Ibu Yolanda untuk meniup lilinnya sekarang. Kita hitung bersama-sama. Satu…," lanjut si pembawa acara. Kemudian langsung disambut oleh semua hadirin yang datang.
"Dua…." Ucap semua orang yang ada di ruangan berukuran cukup luas itu minus Ardian dan Yolanda.
"Tiga…." Huft. Ardian dan Yolanda pun segera meniup lilin yang sedang menyala itu dengan bersamaan. Dan seketika ruangan yang cukup luas itu pun riuh dengan suara orang-orang bertepuk tangan.
Plok. Plok. Plok. Bunyi tepuk tangan para hadirin yang terdengar di seluruh penjuru ruangan. Sampai di ruang belakang pun masih terdengar.
"Selamat Anniversary untuk kedua mempelai. Dan untuk acara selanjutnya para hadirin dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan dengan hiburan dari guest star kita…. The Tiger Band," ucap sang pembawa acara yang kembali disambut dengan riuhnya tepuk dari semua hadirin saat menyebutkan nama band yang sedang naik daun di semua kalangan itu. "Dan sebagai pembawa acara. Tentunya saya melakukan banyak kesalahan ataupun ada kata yang kurang berkenan di para hadirin sekalian. Untuk itu saya ucapkan mohon maaf sebesar-besarnya. And let's enjoy the music…," lanjut si pembawa acara menutup perjumpaannya pada hari ini.
Seketika sebagian orang yang ada di sana pun berhamburan ke arah meja-meja yang sudah tersaji berbagai hidangan yang lezat-lezat. Dan sebagian juga ada yang malah berjoged ria di depan panggung. Menikmati irama musik pop yang mengalun indah. Sedang Ardian sedang mencari istrinya di berbagai tempat, tapi ia belum bisa menemukannya juga.
Ardian mencari Yolanda diantara orang-orang yang sedang mengambil makanan. Sambil sesekali bersalaman dengan orang-orang yang memberinya selamat, ia terus saja celingukkan ke kiri dan kanan. Namun, ia tetap saja tidak menemukan sosok istrinya itu dimana pun. Lalu Ardian pun berganti ke sisi bagian yang lain. Beberapa kali menengok kiri kanan hasilnya pun masih tetap sama. Tidak ada Yolanda.
"Ma! Mama tau dimana Yolanda?" tanya Ardian saat bertemu dengan Mama mertuanya.
"Yolanda? Mau apa lagi kamu cari dia? Belum puas kamu sama keluargamu menguras harta anak saya?" balas Mama Mertua Ardian dengan nada sengitnya.
"Ma? Kok Mama ngomongnya gitu sih. Aku kan nggak ada maksud gitu, Ma," protes Ardian.
"Heh. Nggak usah ngomong gedhe deh kamu. Liat aja tuh kelakuan ibu dan adek kamu. Murah banget hanya demi uang," kata Mama Mertua Ardian dengan nada yang meremehkan.
"Mama dan Jordi? Memangnya apa yang mereka lakukan, Ma?" tanya Ardian dengan penasaran. Mama Yolanda pun nggak langsung menjawab. Ia malah mendengus lalu berdecak.
"Ck. Saya sih malas ngomongnya. Tapi, kalau kamu beneran penasaran. Liat aja tuh di kerumunan itu!" perintahnya sambil menunjuk ke arah kerumunan depan panggung dengan dagunya. Ardian pun tak lagi banyak komentar. Ia segera berjalan ke arah kerumunan yang terlihat semakin padat itu.
"Kenapa si Ardian Ma?" tanya Papa Yolanda yang baru saja mengambilkan makanan untuk istrinya itu.
"Heh, lihat saja tingkah mereka yang semakin memalukan," balas Mama Yolanda sambil menerima mangkok yang berisi bakso bakar dari tangan suaminya.
"Harusnya kamu jangan keterlaluan gitu, Ma. Mau bagaimanapun mereka kan sudah menjadi keluarga kita," balas Papa Yolanda sambil menyendok bakso bakar di dalam mangkok yang dipegangnya.
"Ih, apa-apaan sih Papa. Ngapain sih belain mereka terus," protes Mama Yolanda.
Sedangkan Ardian yang sedang berusaha menyusup ke dalam kerumunan itu pun langsung tercengang. Saat mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Yolanda dan teman-temannya pada mama dan adiknya. Bagaimana tidak! Mama dan adik Ardian itu suruh minum alkohol oleh teman Yolanda lalu mereka diperintah untuk berjoget di tengah-tengah para tamu yang berkerumun itu. Sedangkan Yolanda sedang tertawa terbahak-bahak sambil mengibas-ngibaskan uang pecahan seratus ribuan ke arah wajahnya. Dan ketika Mama Ardian atau si Jordi mendekat ia menyerahkan lembar demi lembar uang itu. Mirip seperti biduan yang mendapat saweran.
"Ayo, Ma. Goyang lagi, yang lebih hot dong! Hahaha," ujar Yolanda mengompori. Tentu saja para tamu yang lain ikut tertawa terbahak-bahak.
Ardian pun merasa geram. Tangannya mengepal, sedangkan dadanya naik turun tak beraturan. Menahan gejolak amarah yang siap membeludak. Bak lahar gunung merapi yang siap meledak ke udara luar. Melihat harga diri keluarganya sedang diinjak-injak seperti ini.
"Yolanda cukup!!!" teriak Ardian yang langsung membuat perhatian para tamu undangan itu beralih ke arahnya. "Apa-apaan ini Yo?! Loe nggak sadar siapa dia, hah?! Ini nyokap gue, Yo? Mertua loe?! Bisa-bisanya ya loe giniin keluarga gue," lanjut Ardian sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah istrinya itu. Ardian pun tercengang saat Yolanda menggenggam telunjuknya yang sempat ia gunakan untuk menunjuknya tadi.
"Berani ya loe nunjuk-nunjuk muka gue. Udah bosen hidup enak loe," ujar Yolanda dengan nada yang penuh penekanan. Wajahnya pun memancarkan aura kemarahan yang amat sangat pada Ardian. Seakan tidak ada lagi rasa hormatnya kepada seorang suami. Sedikitpun. Manik mata Yolanda pun seakan ingin menusuk Ardian hingga menembus dadanya yang kini terasa semakin sesak.