"Nero..... Aku ingin beli permen," pinta Luciel sambil terus mengikuti gerak-gerik Nero yang sedang sibuk.
"Ah, tunggu sebentar ya Luciel. Selesai menyiapkan makanan ini aku akan menemanimu," jawab Nero sambil terus bergerak gesit melayani pelanggan. Entah badai apa yang terjadi kemarin, hari ini tiba-tiba saja bar Nero dipenuhi pelanggan. Mungkin penuh tidak cukup mengambarkan kondisi barnya saat ini. Super penuh, itulah kondisi bar itu sekarang. Bahkan Nero sempat meminta Luciel untuk menunggunya di kamar Luciel yang terletak di lantai 2. Namun, merasa sudah terbiasa Luciel lebih memilih duduk di bangku kasir yang masih tergolong aman sehingga Nero tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.
1 jam sudah berlalu namun masih belum ada tanda-tanda bahwa bar akan sepi. Entah Nero perlu senang ataupun kesal dengan situasinya saat ini. Dirinya yang berstatus sebagai pemilik sampai harus turun tangan untuk membantu para pekerjanya, dan itu belum selesai sampai saat ini.
Luciel yang melihatnya mulai kasihan. Dia tahu bahkan Nero bekerja cepat karena teringat permintaan Luciel sejam yang lalu.
"Nero, biarkan Luciel pergi sendiri untuk membeli permen," pinta Luciel lagi. Jika hanya toko permen, dia yakin bisa pergi sendiri. Kemarin sambil menemani Luciel keliling kota, Nero menunjukan tempat permen yang bagus pada Luciel. Dan itu berjarak tidak terlalu jauh dari bar tempatnya tinggal.
Nero yang mendengarnya langsung panik, sesegera mungkin ia berlari menghampiri Luciel.
"Eh.... Jangan.... Tunggulah sebentar lagi. Kali ini aku akan benar-benar-"
"Bos! Kumohon bantu kami menangani para pelanggan ini!"
Ucapannya terpotong saat salah seorang pekerjanya berteriak dari arah dapur. Nero menghela nafas lelah, keringat telah mengalir deras dari keningnya yang tertutup topi masak.
Luciel tersenyum memaklumi. "Toko permen tidak terlalu jauh Nero. Biarkan Luciel pergi sendiri," pintanya sekali lagi.
Belum saja Nero ingin membantah, panggilan para pekerjanya kembali terdengar. Merasa kalah, akhirnya Nero mengambil secarik kertas dan mulai menulis untuk diserahkan pada Luciel.
"Bilang pada pemilik toko bahwa kamu tinggal bersamaku. Belilah permen apa pun yang kamu suka, aku akan membayarnya nanti."
Luciel mengganguk senang, kakinya melanglah mulus keluar dari toko melewati pintu belakang. Kenapa dia lewat pintu belakang? tentu karena pintu depan masih penuh dengan pelanggan, dan Nero tidak mau melihat Luciel terhimpit di antaranya.
*****
"Datanglah lagi gadis manis! Sampaikan salamku pada Nero ya!"
Luciel mengganguk senang sebagai jawaban. Dia bersyukur karena pemilik toko permen itu begitu ramah padanya. Lupakan fakta pria tua itu menggangap Luciel sebagai seorang gadis, dia senang karena permen yang dijual disana memiliki rasa yang enak, jauh lebih enak dari yang dia makan pertama kali.
Luciel berjalan pulang dengan sekantung permen berbagai rasa dipelukannya. Dia memutuskan untuk membeli banyak sehingga nanti bisa dia bagikan kepada Nero dan para pekerjanya. Ia suka berada disekitar mereka, mereka begitu baik terhadapnya.
"Hai gadis manis...."
Luciel terus berjalan sampai salah satu tangan menarik tubuhnya dengan kasar.
"Kamu pura-pura tidak mendengar kami ya?! Dasar perempuan tidak tahu diri! Akibatmu kami harus berhenti dari pekerjaan kami. Si b*****t Gin itu, dia pasti melaporkan kejadian waktu itu pada Tuan Hiro, sehingga kami dikeluarkan begitu saja dari organisasi."
Luciel mulai merasa takut sekarang, tangannya berusaha melepas genggaman tangan lelaki yang jauh lebih besar daripada tubuhnya. Lelaki-lelaki itu adalah kumpulan yang sama dengan orang yang waktu itu berani menyentuh tangan Luciel dengan tatapan m***m. Gin sudah mengingatkannya bahwa mereka jahat. Luciel harus segera pergi jika menemukan orang seperti mereka lagi.
Salah satu dari mereka memainkan rambut Luciel lalu menciumnya dalam-dalam, menyebabkan Luciel berteriak kencang.
"Diam kau dasar Jalang! Berani berteriak lagi maka kami akan memotong lidahmu mengerti?!" ancam mereka kesal. Buliran bening mulai turun membasahi pipi Luciel. Kini mereka tengah berada di salah satu sudut gang sempit tanpa ada satupun orang yang lewat.
Trak
Mata Luciel membulat sempurna saat pakaiannya kini telah dibuka paksa oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal. Luciel baru saja akan menjerit sebelum salah satu dari mereka mengunci mulut Luciel dengan lumatan kasar. Rsanya menjijikan, ini begitu berbeda dari ciuman yang biasa ia terima dari Liffus. Mengingat Liffus, Luciel baru sadar bahwa kalung pemberian kakaknya yang tidak pernah ia lepas kini tidak mengalung indah di lehernya. Pasti terjatuh saat para lelaki ini mulai menarik paksa Luciel ke sudut gang.
"Sial, dia ini laki-laki! Tidak tahu malu sekali anak ini memakai pakaian layaknya wanita," ejek pria bertubuh besar.
Pria yang sedari tadi mencium Luciel melepaskan pangutannya. Matanya berkilat menampakan kelicikan.
"Kita bisa menjualnya ke Vista bukan? lelaki dengan muka manis sepertinya pasti akan berharga mahal di tempat seperti itu."
Vista? tempat apa itu? Luciel hanya ingin pulang sekarang.
"Sebelum itu, biarkan aku bersenang-senang dengan jalang ini."
Suara Luciel tercekat begitu tangsn para lelaki itu mulai menjamah tubuhnya dengan kasar. Dia pernah merasakan ini dengan kakaknya. Namun ini berbeda, rasanya begitu menjijikan saat mereka mulai meraba d**a Luciel.
Ctar
Mata Luciel sudah terlalu buram untuk melihat siapa yang membunuh para lelaki yang tengah menyentuhnya dengan cepat. Badannya terasa begitu berat, tubuhnya bergetar hebat sebelum menjadi gelap.
Kutemukan kau.
To be continued