Gin tidak bisa berhenti meruntuki kebodohannya sekarang. Sebulan telah terlewati begitu saja setelah pembelian baju, Gin mencoba menuruti saran Nero yang memintanya untuk mengajak Luciel berkeliling kota. Namun dia lupa, benar-benar lupa bahwa hari ini adalah hari festival panen, yang berarti keramaian di mana-mana, dan semua orang tahu Gin benci keramaian, apalagi keramaian itu berkedok festival.
Tangannya memegang erat tangan Luciel. Dia baru saja ingin berbalik sebelum matanya memangkap sesuatu yang lain.
Dia tahu pasti bahwa anak yang tengah dia genggam ingin pergi menikmati festival di luar sana. Percayalah, Gin baru tahu Luciel mempunyai rasa penasaran yang tinggi dan tidak takut akan keramaian.
Sungguh..... Berbeda jauh dengan dirinya.
Merasa tidak tega, dia mulai berjalan menyusuri jalan kota yang ranai akan orang. Untuk pertama Gin memang sedikit kesal. Namun, saat melihat wajah polos itu berguman senang, Gin tidak lagi bisa menahan senyumannya.
Luciel terdiam di tengah jalan. Matanya memandang penasaran stand makanan didepannya. Dia dapat mencium bau manis dari arah sana.
"Kamu mau ke sana?" tawar Gin. Luciel mengganguk sebagai jawaban.
"Aku minta permennya satu," pinta Gin pada penjaga stand yang dengan cekatan terus melayani pelanggan. Mata Luciel terus mengekor di belakangnnya, terus memerhatikan bagaimana permen itu dibuat dan kini beralih ke tangannya.
"Makanlah."
Luciel mencobanya sedikit. Matanya langsung bersinar begitu rasa manis itu lumer dimulutnya.
"Kamu suka?"
Luciel mengganguk yakin. Matanya menyiratkan terimakasih secara non verbal pada Gin.
"Gin!" Gin menoleh, mendapati Nero yang berlari ke arahnya.
Ketika dia sudah dekat, tangannya terulur untuk menyerahkan sesuatu.
"Surat perintah telah turun untukmu."
Satu tangan Gin terulur untuk mengambil surat itu. Sedangkan tangannya yang bebas dia gunakan untuk menuntun Luciel kembali ke bar bersamanya.
Sesampainya di bar, Gin hanya termenung begitu tahu isi dari surat itu.
"Kamu akan pergi?" tanya Nero
Gin mendesah lemah. "Entahlah. Di satu sisi aku tidak bisa meninggalkan Luciel. Namun di sisi lainnya, aku tidak bisa menolak permintaan organisasi, apalagi ini menyangkut perang besar yang akan segera terjadi."
Matanya mengikuti gerak-gerik Luciel yang duduk disebelahnya. Dia tampak mendengarkan, hanya kurang mengerti maksud percakapan itu. Itu terlihat jelas dari ekspresinya.
"Kamu tahu, kamu selalu bisa menitipkan Luciel padaku. Aku yang telah pensiun dari organisasi tentu memiliki waktu yang banyak untuk menjaganya," tawar Nero.
Gin menggeleng pelan. "Aku tidak bisa meninggalkannya semudah itu Nero..... Dia, dia spesial di mataku. Aku tidak bisa memahan diriku sendiri untuk terus bersamanya."
Sebuah tangan meraih tangan Gin yang terkepal. Tangan halus itu mencoba untuk mengusap punggung tangan itu perlahan. Membiarkan kedua pasang mata memperhatikannya dalam heran.
"Pergilah. Luciel baik-baik saja dengan Nero."
Ya..... Luciel memang sudah mampu berbicara dengan lancar sekarang, beterimakasih lah pada Gin dan Nero yang setia mengajarinya perlahan-lahan.
"Kamu yakin tidak apa-apa?"
Tersirat nada kekhawatiran di sana. Bersama Luciel selama ini membuatnya sadar bahwa setidaknya untuk saat ini, anak itu memang membutuhkan perlindungannya. Dia bahkan pernah menemukan Luciel yang digoda beberapa pemburu hanya kerena dirinya dan Nero lengah sebentar. Dengan wajahnya yang manis dan pakaian wanitanya, tentu saja semua orang menggangap Luciel itu seorang gadis. Parahnya lagi, entah karena polos atau bodoh, Luciel tidak melawan sedikit pun saat lelaki-lelaki itu mulai memegang tangan Luciel. Beruntunglah saat itu Gin melihat keadaan Luciel, dan menghadiahkan para pemburu itu pukulan yang membuat mereka pingsan seketika. Namun akibatnya? Luciel mendapatkan pengajaran penuh selama 7 hari.
"Luciel akan menunggu kepulangan Gin dengan baik."
Suara lembut itu berhasil meyakinkan hati Gin untuk pergi. Ke esokan harinya, dengan berat hati Gin pergi untuk menjalankan misi.
To be continued