10

928 Kata
"Pagi Gin...... Kamu terlihat manis sekali saat tidur. Ah.... Aku sampai tidak tega membangunkanmu," goda Nero yang dibalas tatapan tajam oleh Gin. Sedangkan untuk Luciel? Ah, dia hanya diam mengekor dibelakang Gin. Tampilannya lebih rapi sekarang, karena sebelumnya Gin sempat memandikan Luciel. Mengabaikan Nero yang terus tersenyum pada Gin, Gin lelaki itu kini malah berbalik untuk mengusap surai hitam Luciel. Tampaknya ia mulai terbiasa menerima keberadaan anak itu disampingnya. "Kamu lapar? Ini sudah lewat dari waktu sarapanmu," sesal Gin, dia tidak menyangka tubuhnya akan kembali tidur setelah memecahkan kaca tadi pagi. Apa Gin memang benar-benar selelah itu? Luciel mengganguk, tangannya segera meraih tangan Gin. Menuntunnya untuk duduk disalah satu meja. "Ah ya, Luciel. Hari ini kita akan kembali ke toko yang kemarin membuat pakaianmu. Setelah makan kita mungkin akan langsung berangkat. Apa kamu bisa?" tanya Gin memastikan. Dia tidak ingin Luciel kembali demam seperti saat makan kemarin. Lagi-lagi Luciel mengganguk. Matanya menatap antusias makanan yang dibawa oleh Nero sendiri. Hal itu sontak membuat Gin tersenyum kecil. "Makananmu telah tiba adik manis. Ah Gin..... Kamu juga tidak kalah imut saat tersenyum." Lagi-lagi godaan Nero dibalas tatapan tajam oleh Gin. Gin bersumpah, jika dia tidak ingat orang di depannya adalah senior sekaligus orang yang selalu membantunya di saat sulit, Gin pasti sudah memastikan kepala itu lepas dari lehernya. Lelaki mana yang tidak kesal disebut imut? "Namanya Luciel, Nero. Berhentilah memanggilnya seperti itu. Terdengar menjijikan sekali di telingaku," sarkas Gin. "Eh? Maafkan aku Gin.... Aku tidak sadar bahwa kamu cem-" Ctak Ucapan Nero terpotong saat tangan Gin dengan mudahnya membelah pisau yang sedari tadi dia mainkan. Salah satu kelebihannya memang kebal terhadap senjata tajam biasa. "Iya iya Gin.... Aku hanya bercanda." Gin hanya membalas dengan dengusan kesal. Memilih makan daripada meladeni Nero, Gin memulai ritual paginya. Minum kopi sambil memakan biskuit. Nero pun mengalihkan pandangannya pada Luciel yang lahap memakan makananya. "Ah... Syukurlah ternyata kamu tidak membenci makananku. Apakah rasanya pas dengan lidahmu?" tanya Nero pada Luciel, yang dibalas anggukan samar Luciel yang masih sibuk dengan makanannya. "Ah.... Kudengar anakku kembali dengan seorang anak manis di naungannya. Ternyata itu bukan rumor semata." Sebuah suara menginterupsi dari belakang. Itu adalah Hiro, yang kini melangkahkan kakinya dengan santai ke dalam bar milik Nero. Beberapa pemburu iblis menatapnya kagum, karena Hiro adalah pemimpin sekaligus orang terkuat dalam asosiasi ini. Mata Hiro terkunci pada tubuh Luciel, yang kini tengah memeluk Gin takut. Sesaat, hanya untuk sesaat Hiro dapat melihat kesamaan Luciel dengan seseorang. Seseorang yang begitu dia rindukan dan sayangi. "Halo gadis manis. Namaku Hiro, ayah angkat Gin. Bolehkah aku tahu namamu?" Luciel mendongkak sedikit. Ada sesuatu di mata Hiro yang membuat Luciel takut. Wajahnya semakin dia benamkan ke d**a bidang Gin. Hal itu sontak membuat Gin terkejut. Luciel memang minim bicara, tapi dengan Nero yang banyak bicara pun, Luciel tidak menunjukan tanda-tanda penolakan. Tapi kenapa dia takut saat melihat Hiro? Apakah insting iblisnya bekerja saat melihat Hiro? Apakah Hiro menyadari perbedaan Luciel? Tapi Liffus bilang dengan kalung itu kekuatan Luciel akan tersegel. Dia tidak lebih dari manusia biasa sekarang.Pikir Gin berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. "Namanya Luciel, Hiro. Dan dia laki-laki. Saa, kami harus permisi dulu, ada urusan yang perlu aku selesaikan," sergah Gin. Tangannya menuntun Luciel untuk mengikutinya. Meninggalkan dua manusia yang tengah memandangi mereka dengan dua pandangan dan dua pikiran yang berbeda. ***** "Kyaa!! Sudah kuduga Gin, gadis ini memang benar-benar cocok menggunakan pakaian ini!! Ah.... Aku jadi ingin memilikinya!!" jerit Froks, wanita penjahit langganan Gin. Sedangkan Gin sendiri tengah menahan marah melihat apa yang dilakukan wanita itu. Apakah dia tuli saat Gin memesan pakaian untuk laki-laki? Apa yang dipikirkan wanita aneh itu sampai memberi Luciel pakaian perempuan? Ya, author tidak salah ketik. Froks memang membuatkan Luciel baju PEREMPUAN. Baju manis yang kini dipakai oleh Luciel tanpa malu sedikit pun. Jangan salah paham, Gin yakin Luciel tidak bisa membedakan mana pakaian pria dan mana pakaian wanita. "Jangan main-main wanita aneh! aku memintamu untuk membuat baju untuk pria! Tidak bisakah kamu lihat dadanya yang rata itu?! Sial..... Dia harus menggunakan baju laknat ini setidaknya sampai kau membuat baju baru.." umpat Gin kesal. Sebuah tangan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. Itu tangan Luciel. "Suka..... Baju..... Cukup...." ujar Luciel pelan. Gin yakin Luciel tidak ingin menyusahkan Gin sekarang, tapi bagaimana bisa lelaki itu setuju untuk memakai pakaian wanita? "Kamu dengar itu Gin? Dia pun bahkan menyukai rancanganku. Aku sengaja membuat modelnya dengan 'imut' bukan 'feminim', sehingga dia masih bisa memakai pakaian ini sehari-hari. Kamu pikir aku seidiot apa sampai tidak bisa membedakan mana perempuan dan mana laki-laki? Dia mungkin memiliki rupa seperti perempuan, tapi aku masih cukup sadar bahwa dia itu laki-laki," jelas Froks bangga. Gin mendelik tajam. Persetan dengan perbedaan antara manis dan feminim. Gin benar-benar ingin membunuh Forks karena dengan bangganya dia mengatakan bahwa tubuh Luciel seperti perempuan. Tapi, itulah kenyataannya. Dengan rambut halus berkepang panjang, dan kulit putih seputih salju, siapa yang akan tahu Luciel itu laki-laki? Oh, jangan lupakan bibirnya yang merah seperti cherry, seakan menggoda para manusia untuk segera mengecapnya. Gin memijit keningnya frustasi. Setelah dipandang cukup lama, Luciel memang cocok mengenakan pakaian itu. Tidak salah Froks menjadi penjahit nomor satu di kota ini. Dia memang pandai mendesain sebuah pakaian. Tidak menemukan titik terang dalam pemikiannya, Gin menyerah. "Jika Luciel yang memintanya, aku tidak bisa menolak. Tapi jika dia sudah tidak menginginkannya, kamu harus membuatkan pakaian yang benar lain kali," peringat Gin sebelum keluar toko dengan Luciel dalam tuntunannya. "Oh ya jangan lupa, kirim pakaian yang lain ke runahku. Dan aku harap itu gratis, anggap saja bayaran karena kamu membuatku kesal," lanjut Gin sebelum benar-benar pergi kali ini. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN