Gin POV
Cahaya matahari yang menyengat memaksa mataku untuk terbuka. Tidur setelah misi memang yang terbaik, membuat pening yang kurasakan sebelumnya menghilang begitu saja.
Tunggu.
Tubuhku segera terlonjak saat aku mengingat Luciel. Anak itu sedang sakit kan? Apa yang tengah kulakukan sekarang?
Mataku terhenti pada Luciel yang menggeliat bangun setelah mendengar deritan keras daru ranjang yang kupakai karena lonjakan yang kulakukan. Aku menarik nafas lega saat kulit putih miliknya tidak memerah lagi. Wajahnya pun terlihat lebih cerah hari ini. Walaupun, aku masih melihat jejak-jejak letih di sana.
"Kakak..."
Ah..... ternyata dia masih mengingau. Apa yang diajarkan iblis sialan itu sih sampai anak ini hanya mampu mengucapkan kata itu dengan lancar?
Aku beranjak dari tempat tidurku untuk mengusap pelan rambutnya. Dia mendongkak, menatapku dengan mata sayunya.
"Syukurlah panasmu sudah turun. Sebaiknya kita segera turun ke bawah, Nero bisa memasakan sesuatu untuk kita," ajakku. Dia menggeleng, aku terkejut saat Luciel mulai menangis lagi.
"Aku ingin disuapi oleh Kakak," rengeknya kecil.
Aku memandang lelah anak keras kepala di depanku. Bukankah kakaknya itu sudah bilang bahwa untuk sementara mereka tidak bisa bertemu? Kenapa anak ini bergantung sekali sih pada kakaknya?
Aku ingin memarahinya karena bersikap cengeng sebagai lelaki. Namun, tanpa sadar tanganku malah membawanya kedalam pelukan hangat. Aku bisa merasakan ia terisak diatas dadaku. Entah kenapa, melihatnya menangis begini terasa deja vu. Padahal, aku belum pernah memeluknya seperti ini sebelumnya.
"Yang Mulia Liffus akan kembali padamu, Pangeran. Tunggulah sebentar, aku akan terus mendampingimu selama dia tidak ada."
Aku tersentak, terkejut dengan apa yang kukatakan tadi. Kalimat itu memang keluar dari mulutku tanpa kusadari. Tapi, bukan aku yang menginginkannya. Perasaan ini, aku tidak tahu bagaimana bisa aku mengatakan kalimat aneh seperti tadi. Seperti, ada sosok lain yang memgendalikan tubuhku secara diam-diam. Sensasi perasaan ini sama seperti aku yang tertunduk patuh saat diperintahkan Liffus.
Luciel membangunkanku dari lamunan saat dia meremas kecil tanganku yang memeluknya.
"Apa Kakak tidak akan meninggalkanku di sini?" tanyanya penuh harap. Aku tidak yakin, siapa yang tahu pikiran iblis busuk itu?
Lagi-lagi tubuhku bergerak sendiri. Aku mengganguk mengusap pelan air mata milik Luciel. Dia tampak nyaman dengan perlakuanku, tak mengidahkan aku yang menatap semuanya dengan ekspresi aneh.
Tanpa kusadari Luciel kembali terlelap dalam pelukanku. Kupikir dia masih lelah dengan semua yang terjadi selama ini. Aku kembali menidurkannya di ranjang. Menatap wajah pucatnya yang mulai terasa tenang.
Luciel bermata biru sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Fisiknya juga lebih lemah daripada manusia biasa, aku hampir tidak menemukan adanya kekuatan iblis dalam tubuhnya. Dia terlihat jauh lebih manusia daripada aku.
Ya, daripada mata merah sialan milikku, matanya tentu saja seribu kali lebih indah ditatap. Mata yang membuat para manusia takut padaku hanya dari tatapan mata, membuatku terlihat seperti seperti salah satu bagian dari iblis busuk itu.
Crash
Lagi-lagi tatapan berjangka lama pada cermin membuatnya pecah tanpa sebab. Mungkin aku harus minta maaf pada Nero nanti, entah sudah berapa banyak kacanya yang pecah olehku. Aku sedikit beruntung Luciel tidak terbangun mendengar suara pecahan kaca yang kubuat.
Namun pertanyaan lain terlintas saat aku tengah sendirian begini.
Aku.......
Siapa aku sebenarnya?
To be continued