8

1359 Kata
Gin bernafas lega begitu kakinya sampai di depan tempat tinggalnya. Dia beruntung ternyata Liffus tidak menteleportasinya terlalu jauh dari lubang teleportasi. Sehingga, tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai kembali ke rumahnya. Matanya menatap heran peti besar yang tersimpan indah menghalangi pintu masuknya. Sebuah catatan terselip disitu. Dengan malas dia menarik catatan itu dari tempatnya, dengan Luciel yang masih setia berada di gendongannya, Gin mulai membaca. Aku tidak menyangka kamu begitu lambat untuk seorang pemburu iblis, Gin. Peti ini kutinggalkan untuk keperluan Luciel selama dia tinggal bersamamu. Untuk menu makan dan jadwal, kamu bisa melihatnya sendiri di dalam peti. Jangan coba-coba untuk tidak mematuhinya, tubuh Luciel sangat lemah sampai salah langkah nyawanya bisa dalam bahaya. Dan aku tidak mau hal itu sampai terjadi. Untuk sekarang Luciel hanyalah manusia biasa karena kalung yang aku berikan kepadanya. Jadi perlakukanlah dia dengan baik, mengingat dia benar-benar buta tentang dunia luar. Ah ya, aku tidak mau Luciel disentuh oleh siapa pun. Jadi jangan tinggalkan dirinya tanpa pengawasanmu walaupun hanya sebentar. Wajahnya yang manis pasti menarik perhatian banyak manusia, jadi berhati-hatilah. Sampaikan pada Luciel bahwa aku menyayanginya, dan akan menyusulnya saat semua telah terkendali disini. Ps : Luciel tidak bisa membaca ataupun menulis. Jangan menyuruhnya yang aneh-aneh atau kubunuh kau. Gin melempar surat itu dengan marah ke lantai, menyebabkan Luciel yang sudah bangun meringkuk takut dan gendongan Gin. Dia ingin turun dari gendongan Gin, namun mengingat kakinya yang masih gemetaran membuat Luciel dengan sedih hanya bisa mengurungkan niatnya. Penasaran, Gin mencoba untuk membuka peti pemberian Liffus. Tubuhnya membeku saat dia menemukan tumpukan koin emas yang memenuhi peti besar itu. Iblis itu pasti memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan kekayaan seperti ini. Mendesah lelah, Gin mendorong peti berat itu untuk menyingkir dari jalannya. Sedikit waktu dia luangkan untuk mendudukan Luciel di bangku, sebelum tangannya dengan gesit memasukan peti besar dan berat itu ke dalam rumahnya. Pekerjaan dia lanjutkan dengan naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua dan kembali dengan kaus miliknya yang paling kecil. "Dengar Luciel, aku akan mengganti pakaianmu. Pakaian kebangsaan iblis itu sudah tidak bisa digunakan lagi di sini. Jadi untuk sementara, kamu akan menggunakan pakaianku. Ini mungkin sedikit kebesaran, tapi masih bisa dipakai sampai kita pergi ke toko pakaian terdekat. Kamu paham maksud ucapanku kan?" jelas Gin panjang lebar. Luciel hanya mengganguk, membiarkan Gin sekali lagi memakaikan pakaian untuknya. Luciel bahkan tidak sadar jika wajah Gin sudah memerah sempurna sekarang. Matanya mash sibuk mengagumi berbagai hal baru yang kini tersaji di depannya. Perlahan dia mulai menerima keputusan kakaknya untuk mengungsikan Luciel sementara waktu. "Selesai." Gin menatap takjub lelaki di depannya. Kaus Gin yang masih kebesaran menampakan leher putih milik Luciel yang menggoda. Begitupun celanannya, Gin yang menyerah memakaikan Luciel celana, karena memang tidak ada yang berukuran kecil, memutuskan untuk memakaikan Luciel celana dalam baru miliknya yang belum pernah dipakai. Setidaknya itu akan menyembunyikan area pribadinya, dan hanya bersifat sementara sampai Gin membelikan Luciel pakaian baru. Tangannya kembali menggendong Luciel dalam pelukannya, berharap pose ini mengijikan Gin untuk menutupi bagian paha yang terekspos, dan membawanya untuk menemui salah seorang yang mungkin bisa ia percaya untuk memasakkan mereka makan malam untuk hari ini dan seterusnya. Mengingat Gin memang tidak bisa memasak sedari dulu. **** "SEJAK KAPAN KAMU PUNYA ANAK, GIN?!" teriakan melengking milik temannya, Nero membuat Gin mendelik tajam. Teriakan itu sukses membuat seluruh pasang mata yang berada di Bar Heaven, bar khusus para pemburu iblis menoleh padanya. Banyak dari mereka yang memasang wajah terkejut. Seorang Gin pulang dari misi sambil membawa anak, Siapa wanita yang mau bersama dengan pria dingin ini? Tunggu, Luciel terlalu tua untuk menjadi anak Gin. Jangan-jangan Gin itu pedo?! Penghuni bar mulai berteriak menyebalkan. "Akan kucabut lidahmu keluar dari tempatnya jika kamu berteriak lagi Nero," ancam Gin dingin. Dia benar-benar kesal ketika melihat Luciel kembali meringkuk di punggungnya. Anak itu ketakutan, apalagi saat melihat tidak sedikit pemburu iblis yang menatapnya dengan tatapan lapar. Membuat Luciel ingin segera kembali ke zona amannya. "Maaf,maaf." Nero hanya menunjukan senyum khasnya canggung. Gin dalam mode marah memang menyeramkan. Gin menoleh menatap para pengunjung yang masih setia memandangi Luciel, sukses membuat mereka kembali melakukan kegiatannya seperti biasa. Tatapan membunuhnya memang nomor satu. "Jadi, apa yang bisa kulakulan untukmu?" tanya Nero. Dia merupakan manajer sekaligus pemilik bar ini. Gin memajukan Luciel sediki, memberi ruang agar Nero dapat melihat sosoknya. Kemudian menyerahkan secarik kertas pada Nero. "Masaklah makanan yang tertera dalam daftar. Anak ini membutuhkannya." Mata Nero membola saat membaca menu dalam daftar yang diberikan Gin. "Makanan ini seharga seratus perak per menunya," bisiknya tertahan. Untung makanan biasa, orang-orang biasanya hanya menghabiskan sekitar sepuluh perak pernah menunya. Itu saja sudah dianggap mahal dan mewah. Namun harga makanan seratus perak itu....... Nero tahu Gin tidak pernah kekurangan uang. Tapi, membiarkan dirinya bangkrut untuk seorang anak, itu sedikit...... Bukan Gin. "Aku akan membayarmu tiap minggunya. Ini untuk minggu pertama," ucap Gin sambil menyerahkan satu kantung penuh emas. Sukses membuat Nero membuka mulutnya. Dan tingkah itu cukup membuat Gin jengkel setengah mati. "Kamu mampu kan Nero? Cepat gerakan anak buahmu sebelum aku menghancurkan bar milikmu ini," ancam Gin. Nero tersenyum getir sambil mulai berlari meninggalkan Gin yang bermuka masam. Moodnya benar-benar jelek hari ini. Gin melepaskan jaketnya untuk menutupi paha putih milik Luciel. Ia benar-benar meruntuki toko baju langganannya, yang baru bisa membuat baju di hari esok. Membuat Gin harus membawa Luciel dalam keadaan.......Errr...... Menggoda seperti sekarang. "Nero," panggil Gin pada Nero yang telihat mulai santai setelah memerintahkan setengah anak buahnya untuk mencari bahan makanan yang dibutuhkan. Mendengar seseorang memanggilnya, Nero kembali menghampiri Gin sambil tersenyum. "Apa di antara pelayanmu ada yang punya baju yang bisa dipakai anak ini untuk sementara? Aku benar-benar tidak nyaman melihat pakaiannya yang sekarang." Nero tampak berpikir sebentar, sebelum menepuk tangannya seakan teringat akan sesuatu. Tanpa mengatakan apa pun ia naik ke lantai dua, kembali dengan satu set pakaian kecil di tangannya. "Kamu beruntung karena kami belum membagikan baju untuk acara amal kepada siapa pun. Kurasa tidak masalah mengambil satu untuk anak ini, ukurannya mungkin pas. Ajaklah dia berganti di kamarku, aku juga tidak menguncinya." Gin mengganguk lega. Sekali lagi dia menggendong Luciel untuk naik ke lantai dua, meninggalkan para pemburu iblis yang berteriak riuh di belakang mereka. **** "Apa makanan itu tidak sesuai dengan seleramu?" tanya Gin ketika melihat Luciel tidak menyentuh makanannya sedikit pun setelah suapan pertama. Luciel menggeleng, nafasnya yang makin memburu disadari oleh Nero yang memang sedang duduk di sebelah Luciel. Tangannya langsung memegang dahi Luciel tanpa permisi. Matanya membola saat sadar dengan kondisi anak didepannya. "Gin, badan anak ini panas sekali! Cepat bawa dia kembali ke kamarku! Aku akan berusaha mengobatinya." Gin yang mendengar teriakan Nero langsung bangun untuk menggendong Luciel ke kamar Nero. Tidak lama setelah itu, dengan cekatan Nero segera merapal mantra sambil menempelkan tangannya di dahi Luciel. Dia dapat mendengar lenguhan pelan yang diucapkan anak itu. Waktu terlewat dalam keheningan sampai akhirnya Nero selesai setelah melihat Luciel tidur dibawah pengaruh mantranya. Pandangannya dia alihkan pada Gin yang menatap Nero butuh penjelasan. "Demamnya sudah kuhilangkan. Aku merapalkan mantra tidur untuknya agar tubuhnya dapat lebih mudah menyembuhkan diri. Untuk sementara waktu kupikir bukan kau harus membiarkannya menginap di sini Gin. Aku takut paananya kembali di malam hari. Aku bisa tidur di kamar yang lain jika kamu mau." Gin termenung mendengar saran Nero. Tidak biasanya pria yang selalu berisik itu memasang muka serius. Jika dipikir lagi, Gin ingat bahwa Liffus memang pernah mengingatkannya soal kesehatan Luciel yang mudah memburuk. Dirinya adalah seorang attacker, sehingga tinggal bersama seorang healer hebat seperti Nero mungkin bukan hal yang buruk. Liffus tidak pernah melarangnya untuk tinggal dengan orang lain kan? Gin mengganguk. "Baiklah. Maaf aku merepotkanmu Nero." Nero hanya tersenyum simpul, dirinya benar-benar betah melihat senyuman tulus milik Gin. Sampai sekarangpun ia bingung mengapa pemuda manis seperti Gin bisa menjadi the first attacker di kalangan pemburu iblis. "Kamu juga istirahatlah. Pulang dari misi pasti memakan banyak energimu." Nero terkejut saat Gin tidak menolak sentuhan lembut di rambut hitamnya. Matanya makin memberat hingga dia jatuh kepelukan Nero. Dengan hati-hati Nero menidurkan Gin diranjang sebelah tempat tidur Luciel. Ia mengambil kesempatan kecil untuk mencium pipi Gin. Matanya menatap teduh kedua manusia dihadapannya. "Ternyata kamu sudah mulai bergerak, Liffus," gumamnya pelan sebelum pergi. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN