7

1071 Kata
"Emm...." Suara erangan. Mata merahnya menatap langsung pada langit cerah yang menyilaukan matanya. Badannya terasa sangat berat, tangannya berusaha menyingkirkan tubuh kecil yang sedari tadi menindih badannya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau tidak salah, aku...." Matanya membola, dia segera menelisik lelaki manis yang kini tertidur di sampingnya. 1 detik...... 2 detik....... Suara tawa keluar dengan mulus dari bibirnya. Dia tertawa seperti orang gila, tangannya dia gunakan untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah. "Apa yang kulakukan..." gumamnya pelan sesaat setelah tawanya reda. Matanya memandang redup sosok manis di sebelahnya. Kiamat macam apa yang membuat pemburu iblis sepertinya harus menjaga pangeran iblis seperti, siapa namanya? Ah..... Luciel. "Emmmm....." Erangan asing sukses membuat Gin terlonjak. Luciel, pangeran iblis itu telah bangun dari tidurnya. "Kakak......" Dan kini dia kembali menangis. Matanya tertutup saat Luciel merasakan perih yang menusuk dari cahaya di atasnya. Gin salah tingkah, walaupun samar, dia bisa merasakan nyeri yang menyesakan dari dalam dadanya. Dia sungguh tidak mau melihat Luciel menangis didepannya. Gin mulai merasa OOC di sini. "Kakak...." Tangisan itu mulai terdengar lagi. Gin mulai kelabakan, apa lagi saat para ibu-ibu petani mulai mendekati mereka. Dengan cepat tangannya menyimpan Luciel kedalam gendongan punggungnya. Gin sedikit heran saat tangis Luciel mulai berhenti, matanya perlahan juga mulai terbuka untuk melihat terangnya dunia. Suara isakan masih terdengar di kuping Gin, namun dia juga bisa merasakan tangan kecil mulai mengalungi lehernya. Luciel tampaknya sudah tenang sekarang. Gin hampir saja melepas tawanya begitu matanya menangkap gerakan penasaran dari Luciel. Dia mengikuti arah pandang Luciel. Ternyata dia sedang melihat air terjun yang berlokasi tidak jauh dari jalan setapak yang mereka lalui. "Belum pernah melihat air terjun sebelumnya?" tanya Gin. Luciel menggeleng, matanya masih sibuk memandangi pemandangan baru disekitarnya. "Tertarik untuk melihat lebih dekat?" tawar Gin. Luciel mengganguk cepat, ia segera turun dari gendongan begitu mereka berjalan lebih dekat. Tanpa aba-aba Luciel berlari mendekati pusat air terjun menyebabkan, Byur Dia terjatuh ke dalam aliran air sungai yang dalamnya setinggi d**a milik Luciel. Luciel yang belum pernah mengalami hal ini sebelumnya langsung panik, tangannya berusaha menggapai permukaan, yang sebenarnya sudah dia lakukan. Air matanya mulai turun kembali ketika kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Salahkan kain beludru yang mengalungi leher Luciel sabagai kerah. Pakaiannya memang sangat hangat, karena Liffus tahu, tubuh Luciel tidak kuat menahan suhu yang dingin. Tempat ini berubah menjadi sangat menakutkan untuk Luciel. Gin yang mengejarnya dari belakang segera menarik Luciel keluar dari sungai tersebut. Dalam hati dia tidak habis pikir dengan kecepatan lari Luciel. Baru kali ini dia melihat iblis dengan kecepatan lari seperti Luciel. Atau mungkin hanya perasaanya? "Hiks, Kakak..." Sebuah isakan keluar lagi dari bibir manisnya. Gin tidak habis pikir, apa yang menyebabkan pria manis ini hanya bisa mengucapkan kata-kata seperti Kakak dan Kakak sepanjang perjalanan ini. Sesayang itukah dia pada kakaknya? Pilihan terakhir yang Gin punya adalah memeluk Luciel. Membiarkan pria mungil itu merasa tenang kembali. Tubuh ringkih itu bergetar dalam pelukan Gin. Sepertinya ia kedinginan. "Sebaiknya kamu segera melepaskan pakaian berat milikmu itu. Kamu bisa sakit jika terus memakainya," lanjutnya lembut setelah Gin rasa Luciel mulai tenang dalam pelukannya. Gin heran saat Luciel hanya menatapnya polos. Luciel hanya memiringkan sedikit kepalanya sambil terus memandang Gin. Waktu berlalu dalam keheningan sebelum- "Tidak bisa...... Luciel...... Pakaian..." jelas Luciel terputus-putus. Dia seperti berusaha mencari kata yang tepat untuk mengemukakan alasannya. Gin bingung untuk beberapa saat. Apa yang sebernya ingin Luciel katakan? Gin tidak tahu arti potongan-potongan ucapan itu. Namun, ada yang aneh dari perilaku Luciel. Anak itu hanya meremas-remas pakaiannya dan mencoba menariknya dari arah yang salah. Mata Gin membola. Lelaki di depannya ini bukan anak kecil lagi, apa saja yang diajarkan para iblis itu sampai remaja seperti Luciel tidak bisa melepaskan pakaiannya sendiri? Atau mungkin...... Ini pertama kalinya Gin menemukan seorang iblis yang tidak mampu menanggalkan pakaiannya sendiri. Terkutuklah Pangeran Liffus itu. Dengan nafas berat, Gin mulai menunduk untuk membuka pakaian Luciel yang tebal dan penuh ikatan di mana-mana. Tipikal baju kerajaan. Pipinya memerah saat kulit seputih salju milik Luciel bersentuhan dengan kulitnya sendiri. Gin bahkan bisa merasakan kehangatan yang dimiliki Luciel. Liffus benar-benar tidak berbohong saat mengatakan bahwa Luciel bukanlah iblis pada umumnya. Jujur saja, menurut Gin, daripada seorang iblis Luciel lebih mirip ke sosok seorang manusia. Matanya juga begitu murni dan polos, berbeda dengan para iblis yang biasa ia temui sebelumnya. Gerakannya terhenti saat Gin telah sampai pada bagian celana milik Luciel. Dia termenung untuk sesaat, haruskah Gin juga yang membuka penutup pribadi milik laki-laki? Dia benar-benar bisa dianggap c***l jika melakukannya pada anak sepolos Luciel. Tidak mungkin, itu bisa merusak citranya di mata publik. Namun, pikirannya berkecamuk begitu melihat Luciel semakin bergetar. Air terjun memang sangat dingin di musim kemarau seperti sekarang. Dan Gin merasa sangat bodoh telah mengajak Luciel ke tempat ini. Haruskah dia merasa bersalah? Gin bisa saja membunuh Luciel sekarang. Membiarkan senjata andalan milik klan Iblis hancur di tangannya. Lagipula, anak di depannya tidak lebih dari lelaki polos yang bahkan tidak bisa menanggalkan pakaiannya sendiri. Jadi untuk apa Gin ragu? Tatapan murni Luciel-lah yang melakukannya. Gin masih memiliki kewarasan untuk menahan diri agar tidak melakukan kesalahan sebelum tahu kebenarannya. Dia belum bisa menemukan alasan mengapa iblis kuat seperti Liffus malah menitipkan adik kesayangannya pada pemburu iblis sepertinya. Liffus juga bilang suatu saat nanti Gin aakan mengingat semuanya, apa dia benar-benar memiliki hubungan dengan iblis sebelum kehilangan ingatannya? Pertentangan pikiran akhirnya dimenangi hati nuraninya. Dengan cepat dia menurunkan celana Luciel hingga anak itu kini bertelanjang bulat di depannya. Gin berbalik membelakangi Luciel, melepas jubah yang dia pakai di acara pesta tadi dan memberikannya pada Luciel yang masih terbingung melihat tingkah Gin. "Pakailah ini untuk sementara. Aku akan mengeringkan pakaianmu dengan sihirku. Gunakan waktu itu untuk beristirahat, tubuhmu tampaknya belum bisa menerima suhu dingin di musim kemarau seperti saat ini." Mata Gin masih enggan untuk menatap Luciel secara langsung. Dia langsung menepuk keningnya saat tahu Luciel bahkan tidak bisa memakai jubah sendiri. Dengan terpaksa Gin lah yang memakaikannya walaupun matanya masih sibuk melihat ke atas. Gin masih menghargai privasi seseorang. Dan di sinilah mereka, duduk bersebelahan dengan Gin yang masih sibuk mengeringkan pakaian milik Luciel. Luciel meringkuk di dekapan Gin, dia tidak mau Luciel masuk angin dengan penutup yang hanya berupa jubahnya. Selesai. Gin menatap Luciel yang tengah tertidur dalam dekapannya. Bukan hal aneh mengingat Luciel baru saja melewati hari yang panjang saat ini. Tidak ada niatan untuk membangunkan, Gin menyimpan pakaian Luciel dalam tas daruratnya sebelum menarik Luciel dalam gendongannya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN