Seorang pria berumur baru saja memasuki ruangan bar yang sepi. Suara rintik hujan terdengar saat pria itu membuka pintu masuk. Seiringan dengan bunyi bel yang bergoyang pelan, matanya tertuju pada lelaki muda yang tengah menyesap minumannya dengan tenang di ujung counter yang tenang.
"Minuman yang sama dengannya."
Pria itu langsung memesan saat seorang bartener mendatangi tempat duduk yang kebetulan bersebelahan dengan lelaki muda itu.
"Pekerjaanmu sudah selesai? Kupikir sudah lama sejak aku melihatmu muncul di sini, Gin."
Tak
Pria itu, Gin telah selesai menghabiskan minumannya. Dia menyimpan gelas minumannya dengan sedikit kekuatan, menciptakan bunyi keras yang menganggu kesunyian mereka.
"Hari ini para iblis akan berpesta sebagai perayaan bulan merah. Lucifer sendiri akan menghadiri pesta besar itu, dia tidak akan melewatkan hari besar ini. Semua iblis baik yang di dunia, maupun Hellain akan diundang ke sana. Yang berarti gerbang pintu menuju Hellain akan terbuka lebar. Akan kugunakan kesempatan itu untuk menyusup masuk ke dalam istana. Tidak akan kubiarkan penyamaranku selama 2 tahun ini berakhir kesia-siaan. Sekali Lucifer mati, para iblisnya juga tidak akan berdaya," ujar Gin tiba-tiba.
Pria tua itu hanya bisa menghela nafas berat. "Tipikal dirimu. Bertindak sendiri melakukan sesuatu yang tidak biasa."
Ia meneguk kasar minumannya yang tersisa. "Kami bisa membantumu jika mau," tawarnya kemudian.
Gin menggeleng pelan. "Hanya aku yang bisa masuk ke sana tanpa disadari siapa pun. Biarkan aku menyelesaikan apa yang menjadi masalahku," ujarnya jelas. Gin menyimpan beberapa keping uang di meja, melangkah mendekati pintu keluar sebelum berhenti sebentar saat si pria tua kembali bersuara.
"Nyalakan sinyalmu jika kamu merasa dalam bahaya Gin. Kami akan datang membantumu secepat yang kami bisa. Ingatlah, kamu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri."
Bel pintu kembali berbunyi. Gin telah meninggalkan bar itu tanpa sepatah kata pun.
*****
Kakinya melangkah masuk ke dalam istana megah dengan hiasan indah di sekeliling dindingnya. Suara musik waltz terdengar dari dalam istana. Gin menyerahkan undangannya saat seorang iblis penjaga mencegahnya untuk masuk. Feriz, seorang iblis bangsawan yang memberikan undangan itu padanya. Kepada orang itulah Gin bekerja selama ini.
Penjaga itu mengganguk lalu mengijinkan Gin untuk masuk. Bertepatan dengan saat Gin tiba di tengah ruangan, suara musik tiba-tiba berhenti. Setiap iblis yang ada disana terdian memandang dua pria yang baru saja turun dari lantai 2.
"Sejahteralah Raja Lucifer, sejahteralah Pangeran Liffus."
Semua iblis menunduk khidmat. Sebelum Lucifer memberi tanda agar mereka semua berdiri tegak.
"Aku senang kalian datang ke acara perayaan bulan merah kali ini. Ini merupakan momen yang bahagia untuk kita semua, maupun bagi para penghuni dunia bawah yang lain. Di kesempatan ini juga aku ingin mengenalkan anakku pada tradisi kita secara turun menurun. Anakku telah mencapai usia dewasa kini, sudah waktunya bagi dia untuk tahu bagaimana cara kita mempertahankaan kedamaian dunia Helllain selama ini. Aku harap kalian semua tetap berada di sampingnya untuk menuntunnya menjadi raja yang baik."
Gin benci kata-kata itu dalam hatinya. Dia percaya Lucifer adalah iblis yang jahat, begitupula anak bermuka dingin yang berdiri dibelakangnya. Dia melangkah maju saat Lucifer mundur 1 langkah untuk menyimak apa yang ingin anaknya katakan.
"Nikmati pestanya."
Hanya itu yang keluar dari bibir merah delima sang anak. Karismanya menguar begitu kuat, membuat para tamu bertepuk tangan setelahnya. Pesta kembali berlanjut, Gin baru saja akan menepi sebelum seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Aku senang kamu menyempatkan diri untuk datang, Lhitz. Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang, dia yang menyarankanku untuk mengundangmu di pesta besar ini," ujar Feriz ramah. Gin hanya mengganguk, namun matanya membesar saat tahu siapa yang ada dibelakang Feriz.
"Yang Mulia Liffus tampaknya tertarik mendengar kisah kehebatanmu dalam bekerja selama ini. Dia berharap bisa bicara berdua denganmu di kesempatan kali ini."
Liffus hanya tersenyum kecil, badannya membalik sambil memberi isyarat kecil agar Gin mengikutinya. Liffus berhenti ketika telah sampai di depan sebuah pintu. Suara musik pesta tidak lagi terdengar di tempat ini, hanya kesunyianlah yang menerpa mereka berdua.
"Kakak....."
Lirihan seseorang memasuki indra pendengaran Gin. Matanya terhenti ketika sosok lelaki berambut hitam legam dengan mata yang tertutup mulai menggeliat diatas satu-satunya tempat tidur yang ada di ruangan besar tersebut. Dia menguap sebentar sebelum berusaha bangun dari tidurnya untuk duduk. Tangannya yang kecil meraba-raba udara mencoba mencari sosok yang baru saja dipanggilnya.
Liffus mendekat, pandangannya berbeda dari saat dia berada di tengah-tengah pesta. Kini matanya begitu hangat seiring dengan pelukan yang dia berikan kepada si adik.
"Luciel baru saja tidur ya? Maaf Kakak membangunkanmu," bisik Liffus lembut. Gin yang berada dibelakang Liffus sedari tadi berdiri hanya mematung melihat tingkah keduanya. Entah kenapa hatinya merasa aneh ketika dia melihat pemandangan di depannya.
"Gin."
Gin tersentak begitu Liffus memanggilnya begitu. Dari bajunya dia segera mengeluarkan senjata unik milik para pemburu iblis. Namun, sesaat kemudian tubuhnya mulai aneh. Sekeras apa pun Gin mencoba, dia tidak bisa melangkah lebih jauh untuk melukai Liffus. Tangannya bergetar, perasaannya berkecamuk antara dendam dan rasa heran karena tidak mampu bergerak lebih jauh. Sesuatu seperti menahannya untuk mewujudkan niat tersebut.
"Jangan bodoh, Gin. Kamu tahu bahwa tubuhmu tidak mungkin mungkin bisa bergerak lebih jauh untuk melawanku. Diamlah untuk sebentar dan dengarkan aku baik-baik," titah Liffus. Tubuh Gin kembali ambruk ke tanah. Rontaannya menghilang seiring kepala itu mulai mendongkak menatap Liffus tajam.
Setidaknya dia kini siap mendengarkan.
"Kamu harus membawa Luciel pergi dari tempat ini Gin. Perang mulai hidup kembali, para dewan memaksa Ayah dan aku sendiri untuk kembali menurunkan Luciel ke medan perang. Para iblis bodoh itu tidak mengindahkan peringatanku akan kesehatan Luciel. Aku tidak menyangka menjadikan Luciel salah satu Pangeran akan menjadi pisau bermata dua bagi kami. Aku yakin sekali, sekali lagi Luciel menggunakan kekuatannya dalam kondisinya yang sekarang, nyawanya bisa langsung berada dalam bahaya."
Gin tidak berkedip sama sekali. Apa Pangeran ini bodoh? Dia baru saja mengungkapkan rahasia besar pada musuhnya. Dan sekarang dia ingin Gin membawa pergi senjata terkuat mereka? Liffus paati sudah kehilangan akalnya.
"Aku akan mengirimkan keperluan Luciel ke rumahmu. Untuk sekarang segeralah kalian pergi sebelum para dewan menemukan kalian berdua. Sampai mati pun aku yakin mereka tidak akan menyetujui ide ini."
Raut wajah Liffus benar-benar serius sekarang.
Gin termanggu di tempatnya berdiri. Otaknya yang terbilang cerdas sudah tidak mampu lagi memproses apa yang sebenarnya terjadi. Dia paham, jauh di dalam hatinya dia merasa kagum atas perintah Liffus terhadapnya. Ada suatu kebanggaaan terendiri saat Liffus memintanya melakukan sesuatu.
Tapi dia bukanlah iblis. Dia tidak perlu mendengaar perintah Liffus sekalipun dia merasa sedikit iba pada pangeran kecil lain yang kini berada di dekat Liffus.
"Kakak...."
Suara kecil itu bergetar hebat. Air mata mulai tumpah membasahi pipi mulus milik Luciel. Tangannya yang ringkih berusaha menahan Liffus dengan seluruh tenaganya. Luciel benar-benar tidak rela jika Liffus akan menitipkannya pada orang lain.
Apalagi sepanjang hidupnya dia tidak pernah pergi lebih jauh dari ruangan kakaknya.
Liffus juga tidak rela jika harus membiarkan Luciel pergi. Namun, situasi siaga perang saat ini memaksanya untuk mengambil keputusan yang paling dia hindari selama ini.
Bibir Liffus terus menciumi wajah Luciel. Menghapus air mata yang terus jatuh menggunakan tangannya. Liffus harus kuat sekarang, apapun yang terjadi Luciel harus dibawa ketempat aman agar tidak ada satu mahlukpun yang bisa melukai adiknya. Baik itu manusia, maupun para iblis.
"Kakak berjanji Luciel, saat semuanya telah terkendali, Kakak akan menjemputmu secepatnya. Tapi untuk sementara....... hanya untuk sementara tinggal lah bersama dengan Gin. Dia satu-satunya harapan kita sekarang," ucap Liffus lembut.
Luciel kembali menggeleng kasar. Rantai yang mengikat tangan dan kakinya mulai berdentang kasar. Tangisnya semakin kencang, membuat Liffus terpaksa membacakan mantra tidur agar adiknya tenang untuk sementara.
Dengan tanganya yang bebas, Liffus menegeluarkan kalung berukiran indah yang dia kalungkan di leher Luciel. Matanya menatap hangat sosok yang tengah tertidur itu, memuaskan dirinya untuk melihat adiknya dibawa pergi.
Mulutnya yang merapal sesuatu menciptakan sebuah lubang besar di belakang Gin. Dengan halus Liffus menyerahkan Luciel yang berada dalam gendongannya pada Gin.
"Jaga dia untukku. Jangan biarkan siapa pun menemukannya. Dan jika saatnya telah tiba, kamu pasti mengingatku Gin."
Hal selanjutnya yang terjadi sangat cepat, sebelum Gin bisa protes berontak dari perintah Liffus, tubuhnya telah terdorong masuk ke dalam lubang hitam dan semuanya berubah gelap.
To be continued