5

266 Kata
Mata Liffus tidak pernah beralih dari tubuh Luciel yang masih tidak sadarkan diri di kamarnya. Semenjak kejadian itu, Liffus telah memerintahkan semua pasukannya untuk mengakhiri perang yang selama ini telah terjadi. Demi kebaikan Luciel juga. Dia tidak mau adiknya terluka lagi karena menyembuhkan orang lain. Dengan taktik yang nyaris sempurna, dan Lucifer yang bahkan langsung turun dalam medan perang, mereka akhirnya memenangkan perang itu. Membuat para manusia akhirnya kembali ke dunia asalnya. Walaupun, dia harus kehilangan kesatria hebat seperti Bilfeth. Atau teman yang berisik seperti Harris. Tangannya kembali mengelus rambut Luciel. Tidak apa selama Luciel terus bersamanya. Sekarang dan selamanya. Sebuah gerakan halus membuat mata Liffus berkilat senang. Setelah lama dia menunggu, akhirnya adik yang dia nantikan bangun juga. Ayahnya memang telah mengingatkannya bahwa perlu waktu bagi Luciel untuk kembali sadar. Namun dia tidak menyangka hari itu adalah hari ini. Hari ketika kedamaian akhirnya datang ke kerajaan Hellain. "Pagi Luciel," sapanya lembut. Tangannya mengelus pelan penutup mata yang terpasang rapih di mata Luciel, yang dia gunakan untuk menghilangkan pembatas yang sempat menjadi pemisah hubungan mereka. "P...a.....g...i?" Dengan suara seraknya, Luciel mencoba untuk meniru Liffus. Sosok yang bisa ia rasakan namun tidak mampu ia lihat. Liffus mengangguk puas. "Bagus Luciel. Mulai saat ini aku akan mengajarimu segala yang kamu butuhkan untuk hidup." Kening mereka bersatu, saling bertukar kehangatan untuk beberapa waktu. "Selamat datang dalam kehidupanku Luciel," ujarnya setengah berbisik. Dia memeluk sosok kecil itu dengan senang. Jika Liffus ditanya mengenai hari paling bahagia dalam hidupnya, mungkin dia akan menjawabnya hari ini. Hari di mana akhirnya dia memiliki seseorang yang menjadi miliknya sendiri untuk selamanya. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN