4

674 Kata
Ruangan itu memiliki tekanan yang begitu berat. Tidak ada pelayan maupun petinggi kerajaan yang berani masuk ke ruang tahta saat Raja mereka tengah geram. Hanya ketika pintu terbukalah Lucifer menoleh. Dia menatap anaknya lama, baru membuka mululut saat sang anak sedikit menunduk kepadanya. "Kudengar kamu membebas tugaskan senjata itu, Liffus." Suara Lucifer lah yang membuka pembicaraan pertama kali. Tatapan tajamnya menusuk Liffus, yang hanya dibalas anggukan tidak bersalah dari yang dituju. "Dia milikku sejak awal, Ayah. Kenapa aku harus merepotkan diriku untuk meminta ijin pada Ayah hanya jika aku memintanya berhenti bekerja?" Lucifer kini mengumpati sifat anaknya yang angkuh. Salahnya sendiri terlalu memanjakan Liffus, sehingga di usianya sekarang Liffus mulai berani mementang ayahnya. "Selama aku menjadi Raja maka keputusan tertinggi ada di tanganku, Liffus. Dan keputusanku ialah membuatnya bekerja seumur hidup sampai nyawanya habis," balas Lucifer dingin. "Dan kau Harris, sebagai penasihat seharusnya ka.u mengarahkan calon rajamu pada perilaku yang baik. Jangan terus diam sepeti patung begitu," lanjutnya lagi membuat Harris yang sedari tadi diam tersentak kecil. Bagaimana bisa dia bisa memarahi Liffus di depan ayahnya sendiri? Apa Lucifer ingin lehernya terbelah? "Jangan mengalihkan pembicaraan kita, Ayah. Aku mohon, lepaskan kutukan yang selama ini mengikatnya. Pengamatanku tidak salah tentangnya. Dia adalah adikku, dan bukan senjata milik kerajaan ini." Liffus menjeda ucapannya, sedikit berpikir untuk melanjutkan ucapannya. "Ada.... Sesuatu yang lain dari dirinya. Aku bisa merasakannya. Ayah akan tahu begitu melihatnya." Lucifer terdiam mendengar pengakuan langka anaknya. Pada akhirnya dia menghela nafas geram, meminta seseorang itu membawakan ‘senjata’ itu. Tidak lama kemudian, dari arah pintu muncul Bilfeth dengan Luciel dalam gendongannya. Dia telah sadar, namun tampaknya masih terlalu lemah untuk berjalan sendiri. Matanya menatap lemah semua penghuni ruang tahta yang kini memerhatikannya. Terutama Lucifer. Matanya terpaku pada sosok yang tidak pernah dia temui selama 10 tahun ini. Sosok yang terwujud sebagai renkarnasi istrinya, orang yang paling dia benci sekaligus dia sayangi selama ini. Berdustalah Lucifer jika dia bilang bahwa dia membenci istrinya. Jika bukan karena penghianatan yang dilakukan perempuan itu, Lucifer berani bersumpah bahwa ia akan tetap mencintai istrinya. Sebenarnya kurang apa Lucifer sampai istrinya dengan tega berselingkuh? Mata Lucifer membulat kaget begitu pipinya disentuh oleh tangan yang begitu hangat. Kulit Lucifer adalah kulit iblis, sehingga ia tidak bisa tahu apa itu kehangatan. Namun entah kenapa, saat Luciel menyentuhnya Lucifer dapat merasakan beban yang selama ini dia tanggung terangkat perlahan-lahan. Digantikan oleh perasaan nyaaman dan erangan kesakitan yang dikeluarkan Luciel. "Anak ini murni Ayah. Dia tidak akan segan menyembuhkan siapa pun sekalipun tidak diperintah. Dia berbeda dari yang Ayah pikirkan," bujuk Liffus. Persetan dengn harga dirinya yang hancur di sini. Ini situasi darurat, Liffus harus meyakinkan ayahnya sekarang atau Luciel akan mati cepat atau lambat. Dan untuk Lucifer sendiri, ia bimbang sekarang. Seumur hidup dia tidak pernah meragukan keputusannya, namun hanya dengan sentuhan kecil itu, kini dia mulai ragu. Dan itu semua karena seseorang yang dia anggap 'senjata'. Mungkin sebaiknya dia memperlakukannya lebih halus. Mungkin sebaiknya dia anggap Luciel sebagai anaknya sendiri. Mungkin..... Dia menggeleng cepat. Tidak mungkin sentuhan sederhana dapat mencairkan es yang selama ini dengan susah payah ia bangun untuk menutupi rasa sedihnya. Rasa sedih telah kehilangan istrinya. Orang yang dengan bodoh malah memilih bercinta dengan orang asing daripada merasa aman dalam kasih sayangnya. Namun...... Orang itu ada bersamanya sekarang. Dalam wujud anak yang polos. "Kembalikan derajat yang seharusnya ia miliki Ayah. Aku akan menutup matanya jika karena itulah Ayah tidak sudi menerimanya. Tapi jangan jadikan dia b***k lagi. Perlakuan kita sudah lebih dari cukup untuk menebus dosa ibunya selama ini." Kini Lucifer benar-benar bimbaang. Liffus benar, dia bahkan hanya menjatuhkan hukuman mati pada istri yang jauh lebih bersalah daripada anaknya. Menghela nafas panjang, Lucifer mendekati Luciel dan mulai menggumamkan sesuatu. Asap hitam keluar dari ubun-ubun Luciel hingga membuatnya tidak sadarkan diri. "Aku sudah mengangkat jeratan jiwa yang kupasangkan padanya. Dia bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya mulai sekarang." Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa terkejut dalam diam, tidak percaya bahwa rajanya akan setuju dengan semudah itu. Lucifer hanya berharap bahwa keputusan yang dia ambil tidaklah salah. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN