"Yang Mulia, Harris memberitahuku bahwa Pangeran....... Pangeran ada di sana Yang Mulia." Gin yang ditugaskan menjaga Istana yang dihuni para iblis yang tidak bisa bertarung segera mendatangi kamar Liffus ketika mendengar berita itu. Pria bergelar Putra Mahkota itu hanya duduk di kursi kamarnya, mendengar betapa ramai suara perang yang berkecamuk di luar sana. Ledakan demi ledakan terus terdengar. Liffus tahu dia tidak boleh diam sebagai Putra Mahkota, tapi apa melawan Luciel merupakan pilihan yang harus dia ambil? Liffus melihat mata dingin Luciel tadi. Mata dingin itu tidak mengenalinya, Luciel hanya menatap Liffus sekilas sebelum kembali membunuh iblis yang berusaha menyerangnya. Hatinya hancur. Dia tidak berguna. Melindungi Luciel sampai dia bangkit menjadi iblispun dia tidak bisa.

