Clek Pintu besar itu terbuka, menampakan ruangan luas dengan jendela kamar yang tertutup rapat. Keadaan kamar itu kacau, dengan beberapa pecahan barang yang menghiasi setiap sudutnya. Tidak. Bukan itu yang menjadi fokus utama Liffus. Tapi seorang lelaki cantik yang tengah duduk sambil menatapnya dengan waspada sekarang. "Luciel-" "Keluarkan aku Kakak," potong Luciel dingin. Tangannya terborgol erat, dengan mata yang memiliki darah yang telah mengering. Liffus memncoba mendekat, perlahan. Agar Luciel tidak menggunakan kekuatannya lagi. "Tidak bisa sayang. Emosimu mempengaruhi kekuatanmu hingga-" " KELUARKAN AKU DARI TEMPAT INI SIALAN!" Crash Lonjakan kekuatan lagi-lagi menghancurkan benda apapun yang masih berbentuk. Liffus berdiri tenang, walau tidak dapat dipungkiri jika dia tida

