Adisa 3

1081 Kata
"Mau apa Ca?" tanya Haga yang sedang duduk disebelah Adisa. Adisa hanya terkulai lemas dengan tangan kanan yang sedang di infus. Ya, Adisa sedang dirawat dirumah sakit akibat tidak makan apapun selama tiga hari. Dirinya sedang marah kepada keluarganya, karena ia benar-benar tak diajak pergi oleh keluarganya keluar kota, dan ditinggal sendiri bersama keluarga Haga. Adisa menggeleng. "Beneran mau apa? Aku beliin," "Pizza, Jus, sama Burger," jawab Adisa asal kemudian Haga mengangguk dengan senyum. "Adalagi?" tanya Haga yang langsung memakai hoodie dan mengambil kunci motornya. "I think that's enough," "Okay, tunggu sini ya. Aku beliin dulu," ujar Haga lalu ia pergi meninggalkan Adisa sendirian di kamar inapnya. Tak lama setelah Haga pergi meninggalkannya, Intan datang bersama Harsa dan kemudian duduk tepat disamping tempat tidur Adisa. Adisa langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidur. "Kamu sih nggak makan, sakit kan," ujar Intan. "Lagiankan kita nggak pergi untuk jalan-jalan, ada hal yang harus kita urus, dan kamu biasa sama Haga, jadi ya Oma pikir kamu lebih suka main sama dia," jelas Intan dan Adisa hanya diam mendengarkan neneknya itu berbicara. "Yaudah kamu disini dulu ya, sebentar lagi Om Chandra datang. Oma pergi dulu, sleep well," ucap Intan kemudian mengelus kepala Adisa dan pergi lagi dari ruangan tersebut. "Kalau misal Buna masih ada, apa Buna juga bakal kayak Oma?" lirih Adisa dengan air mata yang lagi-lagi mengalir dipipi tirusnya itu. *** "Dicaaaa!" seru Haga yang baru saja datang dengan membawa beberapa totebag ditangannya. Adisa yang tadinya sedang tertidur, tiba-tiba terbangun karena teriakan dari sahabat laki-lakinya yang sangat ia benci itu. "Oh God, can you shut the F up your mouth Mr. Griffin?!" ketus Adisa dengan suara lirih. "Sorry Mrs. Fyneen. I Cant," jawab Haga lalu ia duduk disamping kursi tempat tidur Adisa dan mengeluarkan semua barang bawaannya. "Ini Pizza, ini Jus rasa mangga dan strawberry, dan ini burger dengan double beef kesukaan kamu. Terus ini Mommy bikinin bubur buat kamu, jangan lupa dimakan ya, kata Mommy," jelas Haga sambil mengeluarkan satu persatu makanan dari dalam totebagnya. "Okay thank you Mom Stacy. Bahkan Mama kamu lebih perduli sama aku dibanding keluarga ku sendiri," lirih Adisa lalu berusaha untuk duduk dan memakan makanan yang sudah dibelikan oleh sahabatnya. "Ca, can you stop comparing your family with my Mom? Bagaimanapun juga, mereka yang udah merawat kamu sejak kecil, bukan Mom Stacy," jelas Haga sambil menatap dalam ke mata Adisa. "Hey boy, tapi kamu nggak tau apa yang aku rasain. Kamu cuman tau tiga dari sepuluh persen dari ceritaku. I'm intact but fragile, Ga," jelas Adisa dengan suara bergetar yang membuat Haga langsung terdiam saat mendengarnya. Haga kemudian berdiri dan langsung memeluk sahabatnya itu, dirinya tak tau bahwa Adisa ternyata menyimpan banyak masalahnya dihidupnya. "So sorry Ca, aku nggak tau ternyata kamu sekuat dan setegar itu. Tenang Ca, kamu masih punya aku, kalau butuh apa-apa kamu boleh langsung datang ke rumahku atau telepon aku. Kalau kamu butuh Mommy, langsung aja ke rumah. And if you need a Daddy, kamu bisa hubungi aku nanti kita ketemu sama Daddy aku. You are not alone, banyak yang sayang sama kamu. If you feel lonely, jangan sungkan untuk datang ke rumahku dan ngajak aku pergi. Because, i'll be there, whenever you need me." "Thank you Mr. Griffin, I'm so lucky to have a best friend like you. Love you to the moon and not coming back?" balas Adisa lalu menghapus air matanya. "Dasar! Udah itu makan dulu, aku udah capek-capek beli tau!" celetuk Haga sambil melirik kearah makanan-makanan yang menganggur disamping meja. "Tiba-tiba kenyang," jawab Adisa sambil mengelus-elus perutnya yang rata. "Ca," panggil Haga. "Ya?" "Tau nggak kenapa kalau orang sakit, pasti apapun yang diminta selalu diturutin?" tanya Haga dan Adisa menggeleng. "Nggak tau, kenapa emang?" tanya Adisa dan Haga mendekatkan wajahnya ketelinga Adisa. "Karena takut kalau itu jadi permintaan terakhirnya," jawab Haga. "IH!" seru Adisa. "Ya makannya itu dimakan," ujar Haga. "Iya-iya," balas Adisa lalu ia meminum jus yang dibelikan oleh Haga disusul dengan Pizza. *** "Kamu hari ini izin lagi?" tanya Stacy kepada Haga. "Iya, mau nungguin Dica. Kasihan nggak ada yang jagain," "Okay, tapi jangan lupa minta ganti nilai sama gurumu ya. Mommy pergi dulu," jelas Stacy kemudian mencium kening Haga dan pergi meninggalkan anak laki-lakinya dirumah sendirian. "Okey," jawab Haga kemudian ia berjalan menuju ke kamarnya. Saat sudah sampai didalam kamarnya, Haga langsung membuka laptopnya dan menghubungi Adisa dengan menggunakan panggilan video di aplikasi Line. "Hey, Morning Mrs. Fyneen. How are you?" tanya Haga kepada Adisa yang baru saja mengangkat panggilan teleponnya. "Hey, not bad. Nggak sekolah?" tanya Adisa. "Nggak, sebentar lagi aku kesana. Lagi nunggu mobilnya," "Okay, nitip boleh?" tanya Adisa. "Apa?" "Mau jus jeruk ya," "Diminum nggak? Males aku beliin kalau nggak diminum kayak kemarin," celetuk Haga dan Adisa langsung pura-pura tak mendengarnya. "Dasar! Yaudah aku rapih-rapih dulu, habis itu aku langsung kesana. Get well soon, my dearest friend," ujar Haga kemudian laki-laki tersebut langsung mematikan panggilan teleponnya. *** Saat ini, Adisa sedang menonton film melalui laptopnya dengan ditemani oleh Chandra yang sedang tertidur di sofa. Lalu tiba-tiba saja Haga datang yang membuat Adisa kaget karena suaranya yang menggelegar itu memenuhi ruangannya. "Oh my Godnes, hampir aja jantung gue jatoh!" seru Chandra yang baru saja terbangun karena kedatangan Haga itu. "Haha sorry ya, kirain Dica sendirian. Nih aku bawa oleh-oleh," ucap Haga sambil mengeluarkan bawaannya. "Sesuai request, jus jeruk dan ini aku beliin martabak, biar kamu cepet sembuh," jelas Haga. "Nanti kalau nggak aku makan, jangan disindir ya?" sindir Adisa dan Haga tersenyum tipis. "Haha bercanda itu Ca, udah makan. Makan Om Chandra," "Iya, gue bagi martabaknya ya. Oh iya Ga, tolong jagain Adisa dulu ya. Gue mau keluar sebentar," "Oke siap," Jawab Chandra kemudian pergi meninggalkan kedua remaja tersebut. "Ca, Om kamu tuh belum punya istri ya?" tanya Haga dengan suara lirih takut Chandra mendengarnya. "Hah? Udah kok, tapi mereka pisah nggak lama setelah Buna sama Ayah kecelakaan. Kenapa? Kamu mau memantaskan diri?" goda Adisa lalu terkekeh. "Kenapa kalau boleh tau?" tanya Haga kemudian Adisa menoyor kepala Haga pelan. "Kepo! Udah kayak Ibu-ibu waktu lagi belanja sayur aja," celetuk Adisa. "Aneh aja, udah ubanan sebanyak itu tapi nggak punya istri," "Hah? Emang udah ubanan?!" seru Adisa dengan mata yang hampir melompat dari tempatnya. "Belum sih hehe," "Nah kan ngaco lagi," Kemudian mereka berdua focus kepada makanan dan pikirannya masing-masing. Sepuluh menit kemudian... "Ca," "Apa?" jawab Adisa. "Inget ya kata-kata aku. Kalau sampai pas umur kamu 25 tahun dan belum nikah, aku yang bakal nikahin kamu," celetuk Haga dengan tiba-tiba yang membuat Adisa memasang wajah dungunya. "HAH?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN