Satu tahun kemudian...
"Ih beneran bisa kan? Gue juga ikut deg-degan nih," ucap Adisa melalui sambungan teleponnya.
"Bisa Ca, ini gue juga baru keluar dari dalam. Lumayan ngelag tadi sinyalnya, jadi waktunya diundur setengah jam," jelas Haga.
"Eh? Tapi lo nggak ada yang dikosongin kan? Semuanya lo isi kan Ga?"
"Iya Dica bawel, yaudah gue pulang dulu ya. Nanti kalau gue udah selesai sama semua ujian ini, lo gue ajak jalan-jalan,"
"Janji?"
"Janji, okay see you," jawab Haga lalu mematikan sambungan teleponnya.
***
Tiga minggu kemudian...
Hari ini Haga sudah selesai dengan semua drama tentang Ujian Praktek dan Sekolahnya. Dimulai dari pidato, hapalan, drama, dan bernyanyi, hingga akhirnya ia sudah selesai dan tinggal menunggu hasil nilainya keluar kemudian ia melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.
"Ca, gue mau nagih janji," ucap Haga yang sudah berdiri didepan kamar Adisa.
"Lagi ngambek dia Ga," celetuk Intan.
"Oh? Yaudah bagus deh,"
"Emang mau kemana?"
"Mau nagih janji Oma. Ini kalau aku langsung masuk nggak apa-apa?" tanya Haga.
"Coba aja, tadi pintunya dikunci,"
Setelah Intan menjawab seperti itu, Haga langsung membuka pintu kamar Adisa dan--
Klek. Pintunya tidak dikunci.
"Bujuk Adisa ya Ga, kan kamu doang yang deket sama dia," jawab Intan kemudian ia pergi meninggalkan Haga.
Haga dengan perlahan-lahan masuk ke dalam kamar perempuan tersebut, dan menemukan Adisa yang sedang duduk dimeja belajarnya dengan menggunakan headphone dikepalanya.
Haga kemudian secara diam-diam mengambil headphone yang berada di kepala Adisa.
"IH!" teriak Adisa dengan wajah yang memerah.
"Apa?" tanya Haga dengan wajah polos sambil menatap ke mata Adisa.
"Kirain siapa, mau ngapain?" tanya Adisa ketus.
"Mau nagih janji, jalan-jalan yuk?" ajak Haga dengan senyum yang membuat matanya menghilang.
"Kapan?"
"Sekarang!"
***
Sekarang, Adisa dan juga Haga sudah berada di suatu taman yang sangat luas dengan pemandangan indah tepat didepan mata mereka.
"Ca,"
"Apa?"
"Boleh minta sesuatu?" tanya Haga dan Adisa mengangguk.
"Tolong ya Ca, jangan marah-marah terus sama Oma, Eyang, dan Alex. Ya aku tau mereka 'jahat?' tapi apa pantas kamu marah dan ngambek terus sama mereka? Sedangkan mereka yang rawat kamu dari kecil, mereka yang jagain kamu sampai sebesar sekarang. Aku cuman nggak mau kamu jadi cewek emosional yang nggak sayang sama keluarganya sendiri,"
Adisa terdiam sejenak, mendengarkan semua penjelasan dari Haga Griffin itu.
"Aku nggak tau ya gimana keluarga kamu kalau dirumah, tapi aku lihatnya jadi nggak enak gitu. Tapi ya--"
"Gini Ga, ya gue emang dibesarkan sama mereka, tapi mereka selalu menomor satukan Alex sama Kak Daniel. Kak Daniel boleh sekolah diluar negeri, sedangkan gue mau satu sekolah sama lo aja harus pakai jalur beasiswa,"
"Nah! Berarti Oma lo pengen lo bisa pinter kayak Kak Daniel, dan mereka nggak mau manjain lo. Coba lo jangan lihat dari satu sudut pandang, lo lihat dari beberapa sudut pandang. Siapa tau Oma lo berlaku seperti itu bukan ke lo doang, who's know kan Ca,"
'Bener juga sih, tapi masa iya?'
"Sepenglihatan gue juga Alex kayaknya nggak terlalu dimanja sama Oma lo, dan Alex fine-fine aja kok kayaknya. Cuman dia sengaja manas-manasin lo, biar lo kesel, ngerasa nggak sih? Coba yuk jadi orang baik untuk orang-orang terdekat, pasti bisa kok,"
"Hmm, okay. I'll try," jawab Adisa lirih.
"Mau makan apa? Oh iya Ca, pilihin SMA yang bagus dong,"
"Hah? Ya lo kan bisa pilih sendiri,"
"Tapi gue mau lo yang pilihin, btw sejak kapan kita manggil lo gue?"
"Bentar--"
Flashback on.
Pada suatu hari mereka berdua sedang berada di taman belakang sekolah, membicarakan hal penting menurut Adisa.
"Masa aku disangka pacaran sama kamu sih!" ketus Adisa dengan wajah judes.
"Kenapa?"
"Gara-gara manggilnya aku kamu, kata temenku 'Mana ada jaman sekarang manggil aku kamu kalau nggak pacaran?' gitu! Kan aku jadi malu," jelas Adisa dan Haga menahan tawanya.
"Cuman gara-gara itu?" tanya Haga dan Adisa mengangguk.
"Terus kamu maunya kita manggil apa?" tanya Haga.
"Kayak yang lain, lo gue gitu,"
"Terlalu too much nggak sih? Aku juga kalau ketahuan manggil kayak gitu ke kamu kayaknya bakal dimarahin deh," gumam Haga dan Adisa terdiam sejenak.
"Oh gini, kita panggil lo gue selama di sekolah aja, gimana?" tanya Adisa dan Haga tersenyum.
"Oke, deal,"
"Oke,"
Flashback off.
"Oh My God! Kan janjinya kita manggil lo gue selama di sekolah doang, kenapa jadi keterusan sih?!" omel Haga.
"Yaudah nggak apa-apa, udah keterusan juga," sambung Adisa dan Haga langsung mencubit pelan lengan Adisa.
"Dasar! Yaudah cepet pilihin SMA yang menurut lo bagus, biar kita bisa sama-sama masuk sana," ujar Haga dan Adisa mengangguk.
"Negeri atau Swasta?"
"Mommy suruh aku lanjut yang internasional school, berarti kamu juga,"
"Okey, wait. Kamu pesen makan aja sana,"
"Haha katanya udah nyaman pakai lo gue, kenapa jadi aku kamu lagi?" goda Haga lalu ia langsung melarikan diri menjauhi Adisa.
"Mimpi apa gue punya temen kayak Haga," ketus Adisa kemudian ia kembali berkutat pada ponselnya.
Tak lama kemudian Haga sudah datang dengan membawa satu buah nampan yang berisi peralatan untuk makan dan air minum.
"Nih gue udah nemu, dari yang deket dulu ya, Yogya International High School, Ravensbourne School, King's College Jogja,"
"Kamu maunya dimana Ca?" tanya Haga.
"Hah?" jawab Adisa yang lagi-lagi seperti orang tidak punya pikiran.
"Iya lo maunya dimana? Nanti gue tinggal ikut,"
"Oh, gue? Gue sih kalau bisa di Yogya International High School, soalnya sekolahannya Kak Daniel dulu sebelum akhirnya pindah ke Amerika," jelas Adisa dan Haga mengangguk-angguk.
"Oke, besok temenin aku ambil brosurnya ya, mau ku kasih lihat ke Mommy,"
"Okey, nanti samper aja kekamar kayak biasa. You know lah,"
"Iya iya, lo kan sedikit bermasalah pendengarannya. Besok jam sepuluh ya,"
"Ini makanannya, selamat menikmati,"
"Thank you," ucap Haga dengan senyum manis kepada pelayan tersebut sedangkan Adisa hanya menatap pelayan tersebut dengan tatapan datarnya.
"Ca, lain kali biasain kalau pesen makanan bilang makasih ya, jangan judes. Mereka juga manusia, kalau mau dihargai belajar menghargai," jelas Haga dan Adisa mengangguk.
"Kayaknya kamu harus belajar banyak tentang cara berperilaku sehari-hari ya," gumam Haga lagi dibarengi dengan kekehan diakhir kalimatnya.
"Tapi aku selalu bilang makasih," cela Adisa.
"Kapan?" tanya Haga dan Adisa terdiam.
"Aku selalu perhatiin kamu ya setiap kita jalan-jalan. Mulai sekarang aku bakal ajarin kamu supaya menjadi orang baik," ujar Haga dengan senyum kemudian mengusap puncak rambut Adisa.
"Okay, thank you ya. Kayaknya ini udah terlalu keras, jadinya jadi arrogant,"
"Kan emang Dica mah dari dulu udah sombong, eh? Haha," celetuk Haga dan Adisa langsung memukul kepala laki-laki tersebut dengan sendoknya.