Beberapa bulan kemudian...
"Ca!" panggil Haga didepan kamar Adisa.
Adisa yang sedang badmood itu bangun dengan penuh rasa malas untuk membukakan pintu kamarnya. "Ada apa sih? Ganggu aja!"
"Jalan-jalan yuk? Sekalian aku traktir karena aku lolos ujian tulis di SMA yang kamu pilihin," jelas Haga.
"Sekarang banget?"
"Ya mau nggak? Kalau nggak mau ya bagus deh! Uangku jadi utuh!" ketus Haga kemudian berjalan keluar dari kamar Adisa.
"Oke, lima belas menit lagi aku ke rumah kamu," ucap Adisa sambil menutup pintu kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi bersama Haga.
"Haha mana mungkin Dica nolak ajakan gue," gumam Haga dengan senyum miring dibibirnya lalu berjalan pergi meninggalkan kediaman keluarga Adisa.
***
Lima belas menit lebih tiga menit kemudian Adisa sudah rapih dengan balutan dress berwarna biru pastel dengan rambut yang ia kuncir kuda membuatnya cantik sempurna.
"Eh?" ujar Haga saat ingin membuka pintu rumah Adisa.
"Baru mau kesana, yuk!" ajak Adisa sambil menarik tangan Haga lalu memasuki mobil yang akan mengantarkan mereka.
"Rapih banget, udah kayak mau kencan aja," celetuk Haga.
"Hah? Biasanya juga kayak gini kan?"
"Nggak tuh, biasanya kamu cuman pakai baju tidur kalau nggak hello kitty ya doraemon," jawab Haga dan Adisa langsung memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
"Bener kan? Hahaha,"
"Iyaudah iya!"
Lalu Haga hanya diam sambil menahan tawanya.
"Ini mau kemana ya Mas? Dari tadi cuman keliling-keliling aja nih, nggak tau tujuan," celetuk Pak Tono sambil melihat kepada dua remaja tersebut melalui kaca dimobil.
"Oh? Ke Sushi Tei aja pak," jawab Haga.
"Kamu mau kan?"
"Terserah," jawab Adisa yang masih belum berani untuk menatapwajah tampan sahabatnya itu.
"Huft dasar cewek," gumam Haga lalu ia memasangkan headphonenya dikepalanya.
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di Sushi Tei.
"Ca, bangun udah sampai nih kita," ujar Haga membangunkan Adisa yang tertidur dibahunya.
"Mas, saya tunggu disini ya," ucap Pak Tono dan Haga mengangguk.
"Ca?" panggil Haga lagi sambil menepuk-nepuk pelan pipi Adisa.
"Woi!"
Setelah Haga berteriak seperti itu Adisa langsung mengerjap-erjapkan matanya sambil menatap wajah Haga.
"Rugi juga gue ngajak lo jalan kalau cuman tidur, abis ini cuci muka dulu baru kita pesen makanannya," jelas Haga lalu mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju ke toilet.
"Cepat sana, aku tunggu disini," ucap Haga lagi dan Adisa mengangguk.
Lima menit kemudian...
"Udah yuk," ajak Adisa lalu menggandeng tangan Haga.
'Duh Ca, lo ngapain sih pake gandeng-gandeng tangan gue' batin Haga didalam hatinya.
"Dingin ya tangannya, lagian sih nggak pake jaket," celetuk Adisa kemudian mereka berdua duduk disalah satu kursi yang sudah Haga pesan.
"Lagian sih lama banget dikamar mandi!"
"Loh? Apa hubungannya?" tanya Adisa bingung dan Haga langsung memalingkan wajahnya.
"Udah lupain, kamu mau pesen apa?" tanya Haga sambil membolak-balikan daftar menu, menghilangkan perasaan gugupnya.
"Shoyu ramen, Kirishima, Orange Peach Tea, Sparkling Passion Fruit Tea, Tempura Udon, sama Nabeyaki Udon," ucap Haga.
"Oke, tunggu sebentar ya," jawab pelayan tersebut dengan senyum.
"Okay, thank you ya," balas Adisa ramah.
Haga kemudian menatap Adisa sambil tersenyum bahagia menatap wajah wanita tersebut.
"Nah, kalau kayak gini kan enak, dan cocok jadi pacar aku? Ups," goda Haga dan Adisa langsung membulatkan matanya.
"Gila lo!" seru Adisa kemudian mereka berdua tertawa.
"Ca, mau berandai-andai gak," tanya Haga.
"Menghayal gitu maksud lo?"
"Iya gitu deh," jawab Haga dan kemudian Adisa mengangguk.
"Misal, Buna Adhis sama Ayah Tama masih ada maksudnya tuh lo tinggal bareng mereka, apa lo bakal kesepian kayak sekarang ini?" tanya Haga.
"Eum, maybe no? But I don't know. Tapi kata Om Chandra, dulu waktu masih utuh, gue orangnya happy banget," jelas Adisa.
"Sebenernya sekarang lo masih kelihatan periang sih, tapi nggak tau ya kalau dirumah lo vibesnya beda banget, gue lebih suka waktu kayak gini,"
"Emang iya? Perasaan sama aja," gumam Adisa.
"Kalau sama gue, lo tuh manja banget! Cerewet abis, nyebelin, ya pokoknya beda aja gitu sama temen cewek gue yang lain," jelas Haga.
"Emang kamu punya temen cewek?" tanya Adisa dan Haga tersenyum malu.
"Cuman Adisa sih kayaknya,"
"Dasar!"
"Beneran ya? Nanti SMA gue cari temen cewek lo jangan cemburu!" seru Haga dan Adisa terkekeh.
"Mana pernah seorang Adisa Fyneen Sarwapalaka cemburu?" tanya Adisa dengan percaya dirinya.
"Oh perlu bukti? Pertama, waktu aku lagi latihan upacara sama wakil ketua osis, kamu pulang-pulang nggak mau bicara sama aku, nggak mau balas chat aku, padahal itu keperluan buat sekolah. Kedua, waktu ada yang kasih cokelat dibawah kolong mejaku, kamu langsung ngomel-ngomel ke semua orang yang kamu ajak ngobrol. Ketiga—"
"Okey okey stop it! Itu nggak cemburu ya, dasar!" ucap Adisa yang sedang membela dirinya sendiri.
"Terus apa kalau nggak cemburu? Iri hati? Oh panas! Iya nggak cemburu, cuman panas aja hatinya," goda Haga sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Tau ah, males!"
"Mr. Griffin selalu menang," ucap Haga dengan bangga hati.
Kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. "Selamat menikmati."
"Thank you,"
"Makan Ca," ucap Haga kepada Adisa kemudian mereka berdua focus memakan makanannya.
***
Mereka berdua kemudian berlanjut pergi ke salah satu mall untuk mencari kebutuhan Haga untuk hari pertama masuk High School nya. Mereka berdua berjalan layaknya sepasang kekasih yang sudah kuliah, karena tubuh mereka yang bongsor itu.
"Wah, gawat nih!" celetuk Adisa saat melihat Reina berada tak jauh darinya.
"Hah? Kenapa Ca?" tanya Haga sambil melihat kearah Adisa.
"Ada temen aku, ayo cepet pergi kemana gitu," perintah Adisa dan Haga langsung menarik tangan perempuan itu memasuki sebuah toko serbaada.
"Kayaknya kita salah masuk deh," gumam Adisa dengan nada panic.
"Dia nggak akan masuk kesini kok,"
Kemudian mereka berdua berkeliling memutari toko serba ada tersebut sambil membawa beberapa jajanan yang ia ambil dari etalase. Sambil mendorong trolleynya, Adisa masuk kedalam trolley tersebut dengan dibantu oleh Haga.
"Ngikutin trend banget sih Ca," celetuk Haga.
"Ih aku capek tau!" omel Adisa dan Haga terkekeh untuk yang kesekian kalinya.
"Oalah capek toh, kirain mau ikutin trend," balas Haga dan Adisa memasang wajah badmoodnya.
"Oh iya Ca, nanti kalau kamu udah selesai ujiannya, aku mau ajak kamu ke Jakarta," ucap Haga yang membuat Adisa tersedak oleh air liurnya sendiri.
"Oh My God? Oke, nanti aku tagih janj—inya—" ucap Adisa terpotong saat melihat Reina berada tepat dihadapannya.
"Oke fix! Lo berdua pacaran, nggak usah ngelak lagi Dis. Ini udah kesebar," ujar Reina kepada Adisa dan juga Haga.
"Oh My God, apalagi ini Tuhan," gumam Haga lalu menepuk jidatnya.