Satu tahun kemudian...
"Haga Haga Haga!" seru Adisa melalui sambungan teleponnya.
"Apa sih?" tanya Haga yang sepertinya baru bangun dari tidurnya.
"Gue keterima di sekolah lo!!!" seru Adisa dan Haga langsung membulatkan matanya.
"Hah serius?!"
"Dua rius Ga!" balas Adisa.
"AH GILA!!! Kalau gue ada disana langsung gue peluk lo Ca!" ucap Haga dan Adisa terkekeh.
"Makannya cepet balik, betah banget di Canada," celetuk Adisa.
"Tunggu ya, sebentar lagi. By the way kok pengumannya malem-malem sih?"
"Emang disana jam berapa? Disini baru jam setengah delapan pagi,"
"Gila! Lupa haha, di Toronto jam setengah dua malam soalnya. Gue baru aja mau tidur Ca," jelas Haga.
"Haha sorry ya, gue seneng banget soalnya. Hasil belajar gue selama ini nggak sia-sia, ya walaupun sedikit bosen ketemu sama Mr. Griffin terus," canda Adisa.
"Kalau bosen kenapa rela begadang biar masuk sana? Kan banyak sekolah lain yang lebih bagus," balas Haga dan Adisa tak bisa berkutik lagi.
"Lo kalo debat sama gue tuh pasti kalah Ca haha,"
"Cih! Sombong banget, yaudah tidur sana. Katanya ngantuk?"
"Siapa yang bilang? Gue cuman bilang baru mau tidur,"
"Sama aja kan?" tanya Adisa.
"Beda lah! Gimana sih!"
"Ca," panggil Haga.
"Hmm," jawab Adisa dengan gumaman.
"Kangen," ucap Haga kemudian lelaki itu diam sejenak.
"Nanti kalau gue udah balik ke Jogja, gue habisin lo Ca!" seru Haga lagi lalu mematikan sambungan teleponnya dengan Adisa.
"Apasih, nggak jelas banget deh Haga kalau udah malem," gumam Adisa kemudian berjalan menuju meja belajarnya meletakkan ponselnya diatas sana.
Adisa lalu duduk di balkon kamarnya yang langsung menghadap ke balkon kamar Haga yang terlihat sangat sepi nan gelap itu. Biasanya saat Adisa sedang sedih, Ia langsung menyuruh Haga untuk duduk disana dan mendengarkan ocehannya melalui sambungan telepon. Dan terkadang juga, Haga membacakan dongeng untuk Adisa melalui Walkie Talkie nya hingga gadis tersebut mengantuk.
Namun tidak untuk beberapa minggu belakangan ini, Haga pulang ke kampung halamannya di Toronto – Canada untuk menemui sanak saudaranya disana. Sudah hampir tiga minggu rumah bercat putih tulang itu terlihat gelap, dan sudah hampir tiga minggu juga Haga tak menemani Adisa dikala gadis itu kesepian ditengah-tengah masalah keluarganya.
Saat sedang meratapi kesendiriannya, tiba-tiba ponsel dari Adisa bergetar. Adisa langsung mengambil ponselnya yang berada di meja belajarnya.
"Kalo kangen tuh bilang," gumam Adisa sebelum mengangkat panggilan teleponnya tersebut.
"Zoom Ca, di laptop. Link udah aku kirim via chat," ucap Haga kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Apasih Ga, random banget malem-malem," gumam Adisa lagi sambil terkekeh kemudian ia bergegas membuka laptopnya.
"Apa sih, malem-malem bukannya tidur," ketus Adisa.
"Lusa aku berangkat ke Indo,"
"Cepet banget?"
"Hah? Cepet kamu bilang? Heh! Gue udah mau mati disini karena kepikiran lo yang manjanya luar biasa!" seru Haga kepada Adisa.
"Lagian siapa suruh mikirin, makannya cari pacar!" ejek Adisa dan Haga menganggukkan kepalanya.
"Oh gitu ya, oke deh. Kayaknya pas masuk nanti gue harus coba cari pacar," jawab Haga.
"Tapi emang lo bisa apa jauh-jauh dari gue?"
"Loh? Sekarang ini kita berada di beda benua loh Ca, jarak kita sekarang itu 15.907 Km. Lima belas ribu sembilan ratus tujuh kilometer Ca. Lo pikir deket apa heh,"
"Ini kan karena terpaksa. Lo aja kalau pas istirahat selalu nungguin gue didepan kelas waktu SMP," jawab Adisa.
"Daripada cari cewek lain, mending ngejar gue. Yang udah pasti ada didepan rumah, eh depan mata maksudnya," goda Adisa dan Haga terbatuk mendengarnya.
"APA? Ngejar lo? Mending ngejar anjing, enak dikejar balik. Lah lo waktu itu gue kejar, malah takut,"
"Please itu udah Sembilan tahun lalu Ga, lagian lo ngejar gue pake topeng bentuk gorilla, siapa yang nggak takut coba," jawab Adisa membela dirinya.
"NAH! Makannya itu, gue lebih pilih kejar anjing daripada lo. Oh, atau lo mau jadi anjing dulu?" ejek Haga kemudian laki-laki tersebut tertawa terbahak-bahak melihat wajah Adisa.
"Ken? Are you talking with someone?" tanya seorang perempuan.
"Siapa?" tanya Adisa dengan cara berbisik.
"Oh, temen aku. Udah dulu ya Ca, besok aku telepon lagi," jawab Haga lalu mematikan sambunga teleponnya dengan sepihak.
"Ada ya temen jam dua pagi ke kamar temennya yang lawan jenis?" tanya Adisa kepada dirinya sendiri lalu menutup laptopnya dan berjalan menuju ke kasurnya.
***
Empat hari kemudian...
"Ca, yang kamu tunggu ada didepan tuh," ucap Chandra yang baru saja masuk kedalam kamar Adisa.
"Biarin," ketus Adisa lalu memunggungi Chandra.
"Kemarin aja nyariin, pas udah dateng malah nggak mau ketemu. Gimana sih anak jaman sekarang ini, yaudah Om pergi dulu ya. Nanti Haga langsung Om suruh masuk aja," jelas Chandra lalu pergi lagi meninggalkan Adisa yang terus-terusan meringkuk dibalik selimutnya.
"Mana ada cowok cewek temenan main di jam dua pagi di dalam kamar?"
"Emang Ayah doang kayaknya laki-laki yang bisa dipercaya,"
"Tapi, ketemu Ayah pun udah beberapa tahun lalu dan Dica udah lupa gimana sifat Ayah," gumam Adisa kemudian air mata itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya.
Malam harinya, Haga berniat untuk datang kerumah Adisa sambil membawakan oleh-oleh yang ia pilih langsung selama di Toronto. Kemudian laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju kerumah Adisa yang terlihat sangat sepi itu.
Membuka pintu yang terbuat dari kayu jati itu dengan perlahan, melihat kedalam rumah Adisa yang benar-benar sepi, seperti tak ada kehidupan didalamnya. Haga lalu berjalan menaiki tangga dan menuju ke kamar Adisa yang berada dilantai dua. Membuka pintu kamar sahabatnya tersebut, dan melihat Adisa yang menggunakan headphone itu sedang berkutat dengan laptopnya.
Haga lalu berjalan mendekati Adisa dan melihat apa yang dikerjakan gadis itu didalam laptopnya.
'Surat untuk Buna,' baca Haga didalam hatinya.
"Cie lagi galau ya?" ucap Haga dengan tiba-tiba sambil membuka headphone yang menyumpal telinga wanita itu.
"IH! APAAN SIH LO GA!" teriak Adisa kepada Haga dan Haga langsung bergerak mundur menjauhi Adisa.
"Hah? Kenapa?" tanya Haga yang bingung dengan sikap Adisa.
"Udah sana lo pulang aja, males gue sama lo!" ketus Adisa lalu kembali duduk menghadap kearah laptopnya.
"Hah? Kenapa sih Ca?" tanya Haga.
Adisa tak menjawab.
"Yaudah kalau lo lagi nggak mau diganggu. Ini lo gue beliin oleh-oleh dari Canada, semoga lo suka ya," ujar Haga kemudian meletakkan beberapa totebag diatas Kasur Adisa.
Adisa melirik Haga sekilas yang sedang berjalan menuju ke pintu kamarnya.
"Maaf kalau gue ganggu, gue pamit dulu ya Ca. Sleep well Ca," ujar Haga lagi kemudian ia keluar dari kamar Adisa dan tak lupa untuk menutup pintunya kembali.
Adisa lalu terdiam. Terdiam memperhatikan totebag-totebag yang berada diatas kasurnya itu. Adisa kemudian mengambil sweaternya dan berlari menuruni tangga utnuk menyusul Haga.
"Ga, thanks ya oleh-olehnya," ucap Adisa kepada Haga yang hampir memasuki rumahnya.
"Eh? Oke. Yaudah gue masuk dulu ya Ca," jawab Haga.
"Wait!" seru Adisa lalu ia berjalan mendekati Haga.
"Cewek kemarin itu, beneran temen lo atau saudara lo?" tanya Adisa dan Haga menahan tawanya.
"Oh Dia?"